Zaman Mesolithikum Akhir (Masa Bercocok Tanam)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Zaman Mesolithikum adalah masa bercocok tanam yang merupakan kelanjutan dari masa sebelumnya yaitu masa berburu dan meramu.[1] Masa bercocok tanam adalah masa setelah masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa ini dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu setelah masa kehidupan berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa ini manusia mulai berusaha untuk memelihara hewan-hewan yang dikategorikan jinak yang dapat dikembangbiakkan seperti unggas.[2]

Pada masa bercocok tanam ini mereka menebang pohon dengan menggunakan peralatan yang dibuat dari batu yang diasah atau upam sehingga bentuknya lebih halus jika dibandingkan dengan alat pada masa sebelumnya peralatan tersebut antara lain berupa kapak lonjong kapak persegi ukuran kecil yang digunakan untuk menebang pohon di hutan sedangkan kapak kapak persegi berukuran besar digunakan sebagai pacul sedangkan untuk memetik hasil panen digunakan beliung atau belincung. [2]

Pada zaman ini kehidupan manusia praaksara sudah beralih dari berburu dan mengumpulkan makanan (hunting and food gathering) ke cara hidup menghasilkan makanan atau food producing. Adanya kemampuan menghasilkan makanan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba sudah menetap secara permanen. Tempat hidup manusia purba terdapat di dekat sungai, danau, bukit dan hutan-hutan serta tempat-tempat yang di dekat dengan air. Mereka sudah tidak tinggal di gua-gua tetapi sudah menghuni rumah-rumah panggung yang dibangun secara sederhana. Rumah-rumah panggung tersebut didirikan agar dapat terhindar serangan binatang buas.[3]

Pada masa bercocok tanam kegiatan berburu masih tetap dilakukan, walaupun frekuensinya tidak sering seperti masa sebelumnya.[2]

Sistem berlandang secara berpindah ini disebut juga bergumah. Kegiatan seperti ini masih sering dijumpai di Indonesia seperti di pedalaman Papua dan Kalimantan.[1]

Manusia Purba pada Masa Bercocok Tanam[sunting | sunting sumber]

Pendukung masa bercocok tanam adalah manusia homo sapiens dari kelompok bangsa proto melayu yang datang dari Asia menuju Indonesia beberapa ribu tahun yang melalui jalan barat kebudayaan kapak persegi dan jalan timur kebudayaan kapak lonjong ketika manusia zaman praaksara mulai mengenal teknik bercocok tanam dan sudah hidup menetap di suatu tempat maka lahirlah pola kehidupan masa bercocok tanam atau bertani pada masa ini diperkirakan daerah-daerah yang ditempati manusia purba semakin meluas dan mereka sudah mampu menghasilkan bahan makanan.[3]

Sistem Sosial[sunting | sunting sumber]

Struktur sosial masyarakat purba masih sederhana berciri keseragaman (homogenitas) yang sangat tinggi. Keseragaman tersebut menyangkut berbagai aspek seperti aspek pola dan bentuk bentuk tempat tinggal. Bentuk-bentuk tempat tinggal berkaitan dengan struktur masyarakat masa bercocok tanam. Pada umumnya, bentuk-bentuk tempat tinggal (rumah) dari masa bercocok tanam berupa rumah-rumah kecil, bundar dan atapnya melekat di tanah. Pada saat ini bentuk-bentuk rumah peninggalan zaman prasejarah tersebut dapat dijumpai di pulau Timor dan Kalimantan Barat. Dalam aspek kependudukan mulai terjadi gejala pertambahan penduduk dengan cepat. Hal ini disebabkan pada masa itu mulai muncul anggapan di dalam masyarakat bahwa jumlah anggota keluarga yang banyak akan sangat menguntungkan karena tersedianya tenaga kerja yang dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan pekerjaan di bidang pertanian.[3]

Sistem Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Karena pertambahan penduduk yang menyebabkan jumlah tenaga tenaga kerja meningkat, bidang pertanian berkembang pesat. Pada bidang pertanian masyarakat mulai menanami lahan pertanian dengan jenis-jenis tanaman seperti tghhumbi-umbian dan buah-buahan. Dari jenis-jenis tanaman tanaman itu berkembang jenis-jenis tanaman lainnya seperti biji-bijian, padi-padian dan sayur-sayuran namun selain bercocok tanam manusia purba juga beternak.[3]

Pada waktu luang saat menunggu panen masyarakat purba juga mengisinya dengan berbagai usaha kerajinan rumah tangga, seperti menganyam, membuat gerabah dan mengasah alat-alat pertanian. Adanya kepandaian manusia purba dalam membuat kerajinan tangan yang mulai dirintis pada masa bercocok tanam memunculkan spesialisasi pekerjaan di bidang pertambangan yang merupakan prasyarat bagi lahir perundagian.[3]

Pada masa bercocok tanam masyarakat purba juga sudah pandai membuat perahu dari pohon-pohon besar yang dipotong-potong dan digunakan untuk menangkap ikan. Proses pembuatan perahu dilakukan dengan melubangi potongan-potongan kayu besar dengan api dan selanjutnya lubang tersebut diperdalam dengan beliung sehingga menyerupai bentuk lesung. Pada saat itu juga telah ada kegiatan perdagangan perdagangan barter yaitu dengan cara tukar menukar barang barang guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.[3]

Sistem Peralatan Hidup[sunting | sunting sumber]

Peralatan hidup yang masih dapat dijumpai saat ini dari kehidupan masa bermukim dan bercocok tanam adalah sebagai berikut:[3]

Beliung Persegi[sunting | sunting sumber]

Beliung persegi berbentuk seperti cangkul dengan ukuran 4–25 cm. Alat itu dibuat dari batuan kalsedon, agat, chert, dan juspis. Tipe umum beliung persegi adalah beliung dengan variasinya yang berupa beliung bahu, beliung tangga, beliung atap, beliung biola dan beliung penarah. Daerah penemuan beliung persegi meliputi hampir seluruh Indonesia, terutama di bagian barat. Alat semacam itu juga ditemukan di Malaysia, Thailand, Kampuchea, Vietnam, China dan Taiwan.[3] Sedangkan di Indonesia, beliung persegi ditemukan di wilayah Nusa Tenggara, pulau Sumatra, pulau Jawa, dan Sulawesi.[4]

Kapak Lonjong[sunting | sunting sumber]

Kapak lonjong dibuat dari batu kali jenis nefrit yang telah diasah lebih halus daripada kapak persegi. Daerah penemuannya terbatas di wilayah bagian timur Indonesia. Hal itu sesuai dengan penelitian Van Heekeren dan W.F. Van Beers yang mengatakan bahwa di Kalumpang, Sulawesi Utara sudah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong. Penemuan itu ditaksir sangat muda, yaitu pada 600-1000 tahun yang lalu. Di Irian (Papua) juga ditemukan kapak lonjong.[3]

Mata Panah[sunting | sunting sumber]

Mata panah ini digunakan untuk berburu, memanah dan menangkap ikan dengan bentuk seperti gergaji yang terbuat dari tulang.[4] Mata panah ini ditemukan pada masa bermukim dan bercocok tanam. Daerah penemuan yang penting ialah Pacitan (Jawa Timur) dan Toala (Sulawesi Selatan). Mata panah bergerigi dan bilah dari kebudayaan Toala ditemukan di Toala Sulawesi Selatan.[3]

Gerabah dan Perhiasan[sunting | sunting sumber]

Hasil penelitian membuktikan bahwa alat-alat gerabah sudah mulai dibuat pada masa bermukim dan bercocok tanam, tetapi pembuatannya masih kasar dan sederhana. Alat gerabah itu pertama kali digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan minuman, kemudian berkembang digunakan sebagai alat memasak. Bersamaan dengan itu, barang perhiasan juga mulai dibuat. Misalnya, gelang dari batuan kalsedon manik-manik dari tanah liat, kalung dari kulit kerang dan lukisan berwarna warni. Aneka lukisan itu dapat dijumpai dalam masyarakat pedalaman misalnya di Toraja dan Papua.[3]

Sistem Religi[sunting | sunting sumber]

Manusia prasejarah pada masa bermukim dan bercocok tanam sudah mengenal suatu kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Mereka percaya terhadap hal-hal yang menakutkan atau serba hebat. Selain itu mereka juga memuja roh nenek moyangnya kadangkala kalau melihat pohon yang besar tinggi dan rimbun manusia merasa ngeri. Manusia purba menganggap bahwa kegiatan itu disebabkan pohon itu ada yang menghuni.[3]

Begitupun terhadap batu besar serta binatang yang besar atau menakutkan mereka juga memujanya kekuatan alam yang besar seperti petir, topan, banjir dan gunung meletus yang di anggap menakutkan dan mengerikan juga dipuja. Jika terjadi letusan gunung berapi mereka beranggapan bahwa yang menguasai gunung sedang murka.[3]

Sistem kepercayaan masyarakat pada masa bermukim dan bercocok tanam dapat dibedakan atas dua hal:[3]

Animisme[sunting | sunting sumber]

Adalah paham kepercayaan yang meyakini bahwa roh mendiami  benda-benda tertentu. Contoh paham animisme ini adalah upacara syukuran panen dengan memanggil roh pertanian.[5]

Dinamisme[sunting | sunting sumber]

Dinamisme adalah paham kepercayaan yang meyakini bahwa ada kekuatan gaib pada benda-benda tertentu.[5] Misalkan saja menaruh hormat kepada pohon, batu besar, gunung, dan jimat.[3]

Praktek religi dan kepercayaan berupa pemujaan arwah para leluhur masih dianut oleh suku-suku pedalaman di Indonesia misalnya suku bangsa Dayak di Kalimantan yang masih mempraktekkan ritual ritual animisme dan dinamisme.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "Portal Sejarah Indonesia dan Dunia: Corak Kehidupan Manusia Purba Pada Masa Bercocok Tanam". Portal Sejarah Indonesia dan Dunia. Diakses tanggal 2020-05-10. 
  2. ^ a b c Basri, Asrul; Zulkarnain, Irwan; Lisabilla, Nusi; Moerdiyanti, Retno (2001). Mengenal Tradisi Bercocok Tanam di Indonesia. Jakarta: Museum Nasional. 
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Targiyatmi, Eko (2014). Sejarah Pembelajaran Sejarah Interaktif. Solo: Platinum. ISBN 978-602-257-577-1. 
  4. ^ a b "Masa Bercocok Tanam - Pengertian, Ciri, Corak dan Jenis | dosenpintar". dosenpintar.com. Diakses tanggal 2020-05-10. 
  5. ^ a b "Portal Sejarah Indonesia dan Dunia: Apa Perbedaan Kepercayaan Animisme dengan Dinamisme?". Portal Sejarah Indonesia dan Dunia. Diakses tanggal 2020-05-10.