Yawadwipa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Peta Yawadwipa (Jawa) dekat Swarnadwipa (Sumatra), sekitar tahun 1812.

Yawadwipa (IAST: yāvaka dvīpa; bahasa Jawa: ꦪꦮꦢ꧀ꦮꦶꦥ, translit. yawadwipa, har. 'pulau jelai') adalah dwipa ("pulau") dari dunia darat, seperti yang dibayangkan dalam kosmologi Hindu, dan Buddhisme, yang merupakan ranah tempat manusia biasa hidup.

Kata yāvadvīpa secara harfiah merujuk pada "pulau jelai". yāva berarti jelai (Hordeum vulgare), di mana jelai adalah anggota suku padi-padian (Poaceae). Di dalamnya termasuk tumbuhan seperti padi, gandum, jagung, jelai, jewawut, serta sorgum (cantel). Dvīpa memiliki arti "pulau".

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Asal mula nama "Jawa" dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama yavadvip(a) (dvipa berarti "pulau", dan yava berarti "jelai" atau juga "biji-bijian").[1][2] Apakah biji-bijian ini merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi, keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada masa sebelum masuknya pengaruh India.[3] Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti "jauh".[1] Yavadvipa disebut dalam epik asal India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip ("Pulau Jawa") untuk mencari Dewi Shinta.[4] Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau).

Dugaan lain ialah bahwa kata "Jawa" berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, Awa atau Yawa (Mirip dengan kata Awa'i (Awaiki) atau Hawa'i (Hawaiki) yang digunakan di Polynesia, terutama Hawaii) yang berarti "rumah".[5]

Pulau bernama Iabadiu atau Jabadiu disebutkan dalam karya Ptolemy bernama Geographia yang dibuat sekitar 150 masehi di Kekaisaran Romawi. Iabadiu dikatakan berarti "pulau jelai", juga kaya akan emas, dan mempunyai kota perak bernama Argyra di ujung Baratnya. Nama ini mengindikasikan Jawa,[6] dan kelihatannya berasal dari nama Hindu Java-dvipa (Yawadvipa).

Berita tahunan dari Songshu dan Liangshu menyebut Jawa sebagai She-po (abad ke-5 M), He-ling (tahun 640-818 M), lalu menyebutnya She-po lagi sampai masa Dinasti Yuan (1271-1368), dimana mereka mulai menyebut Zhao-Wa.[7] Menurut catatan Ma Huan (yaitu Yingya Shenlan), orang China menyebut Jawa sebagai Chao-Wa, dan dulunya pulau ini disebut She-pó atau Zabag (She-bó).[8] Saat John dari Marignolli (1338-1353) pulang dari China ke Avignon, ia singgah di Kerajaan Saba, yang ia bilang memiliki banyak gajah dan dipimpin oleh ratu; nama Saba ini bisa jadi adalah interpretasinya untuk Zabag She-bó.[9] Kata "Saba" sendiri berasal dari kata bahasa Jawa kawi yaitu Saba yang berarti "pertemuan" atau "rapat". Dengan demikian kata itu dapat diartikan sebagai "tempat bertemu".[10] Menurut Fahmi Basya, kata tersebut berarti "tempat bertemu", "tempat berkumpul", atau "tempat berkumpulnya bangsa-bangsa".[11]

Historiografi[sunting | sunting sumber]

Dalam epos Ramayana yang ditulis oleh Walmiki disebutkan nama Yavadvipa, atau Pulau Yawa (jelai). Yavadvipa atau Bhumijava (tanah Jawa) yang bersejarah. Menurut Dr. B. Ch. Chhabra dalam jurnal M.B.R.A.S., Jilid XV, bahagian 3, m.s. 79, kebiasaan bangsa India kuno untuk menyebut nama tempat sesuai dengan hasil bumi, umpamanya jewawut dalam bahasa Sanskrit yawa menyebabkan Pulau Jewawut disebut yawadwipa (pulau Jawa), orang Kamboja (Khmer) menyebut mereka sebagai Chvea, orang Cina menyebut sebagai Shepo, Chopo atau Chao-wa, orang Arab menyebut sebagai Jawi atau Jawah, dan orang Melayu menyebutnya sebagai Bhumijawa. Orang Jawa asli paling sering menyebut tanah dan negara mereka hanya sebagai Jawa (Jawi). Para ahli setuju, epos yang ditulis oleh Walmiki itu terjadi sekurangnya pada abad ke 5 hingga abad ke-4 sebelum masehi.

Toponin yang sama dengan Yavadvipa yakni Iabadiou kembali ditemukan dalam atlas buatan Claudius Ptolomeus Geographike Gypehegesis yang ditulis sekitar abad 150 masehi. Ptolomeus menyusun atlasnya dengan mengutip pendahulunya seperti Marinus dari Tyre.

Dalam Geographike itu disebut, zaman itu kapal-kapal dari Aleksandria di Laut Mediterania sudah berlayar secara rutin dari Teluk Persia menuju Bandar Baybaza di Cambay, India dan Majuri di Kochin, India Selatan.

Ptolomes menyebut dari sanalah kapal-kapal tersebut melanjutkan pelayaran ke bandar-bandar di pantai timur India hingga ke kepulauan Aurea Chersonnesus. Di kepulauan itu kapal-kapal bakal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan termasuk Iabadiou.

Ptolomeus juga menulis Zabai, sebuah tempat yang disebutnya berjarak 20 hari perjalanan dari Aurea Chersonnesus. Ia juga menyebut sebuah tempat lain bernama Argyre yang terletak di ujung barat Iabadiou. Argyre atau Argyros dalam bahasa Yunani kuno yang berarti kota perak.

Sejarawan Sartono Kartodirdjo, menduga Argyre yang dimaksud oleh Ptolemeus itu adalah ‘terjemahan’ dari Merak yang memang terletak di sebelah barat Pulau Jawa.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Raffles, Thomas E.: "The History of Java". Oxford University Press, 1965 . Page 3
  2. ^ Malay Words of Sanskrit Origin
  3. ^ Raffles, Thomas E.: " The History of Java". Oxford University Press, 1965. Page 2
  4. ^ History of Ancient India Kapur, Kamlesh
  5. ^ Hatley, R., Schiller, J., Lucas, A., Martin-Schiller, B., (1984). "Mapping cultural regions of Java" in: Other Javas away from the kraton. pp. 1–32.
  6. ^ J. Oliver Thomson (2013). History of Ancient Geography. Cambridge University Press. hlm. 316–317. ISBN 9781107689923. 
  7. ^ Denys Lombard (1990). The Javanese Crossroads: Essay of global history. 
  8. ^ Mills, J.V.G. (1970). Ying-yai Sheng-lan: The Overall Survey of the Ocean Shores [1433]. Cambridge: Cambridge University Press.
  9. ^ Yule, Sir Henry (1913). Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China vol. II. London: The Hakluyt Society.
  10. ^ Maharsi. Kamus Jawa Kawi Indonesia. Pura Pustaka. 
  11. ^ Basya, Fahmi (2014). Indonesia Negeri Saba. Jakarta: Zahira. ISBN 978-602-1139-48-6.