Wayang Menak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Amir Ambyah, tokoh Wayang Menak

Wayang Menak atau disebut juga Wayang Golek Menak merupakan wayang berbentuk boneka kayu yang diyakini muncul pertama kali di daerah Kudus pada masa pemerintahan Sunan Paku Buwana II. Sumber cerita Wayang Menak berasal dari Kitab Menak, yang ditulis oleh Ki Carik Narawita menantu Waladana. atas kehendak Kanjeng Ratu Mas Balitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I pada tahun 1717 M. Saat penulisannya adalah hari Jumat, tanggal 17 bulan Rajab, tahun Dal, wuku Marakeh, mangsa Kasa, dengan sengkalan: Lenging welut rasa purun (1639 AJ atau 1717 AD)

Babon induk dari Kitab Menak berasal dari Persia, menceritakan Wong Agung Jayeng Rana atau Amir Ambyah (Amir Hamzah), paman Nabi Muhammad SAW. Isi pokok cerita adalah permusuhan antara Wong Agung Jayeng Rana yang beragama Islam dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam.

Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipura, seorang dalang dari Baturetno, Surakarta, pada zaman pemerintahan Mangkunegara VII (1916 – 1944). Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata, melainkan dari Kitab Menak. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab, pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam.

Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab dan latar belakang ceritanya juga budaya Arab, peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa, antara lain dengan memberinya kuluk, jamang, sumping, dsb. Namun, pemakaian jubah dan tutup kepala mirip orang Arab, juga dipakai untuk sebagian tokoh-tokohnya.

Asal Cerita Menak[sunting | sunting sumber]

Cerita Menak disadur dari kepustakaan Persia, judulnya Qissai Emr Hamza. Kitab ini dibuat pada zaman pemerintahan Sultan Harun Al-Rasyid (766 – 809). Sebelum sampai pada saduran bahasa Jawanya, kitab ini lebih dulu dikenal dalam kesusastraan Melayu, dengan judul Hikayat Amir Hamzah. Versi bahasa Jawanya, isi kitab itu sudah berbaur dengan cerita-cerita Panji.

Serat Menak gubahan pujangga besar Surakarta, Yasadipura I (1729 – 1802) dari Surakarta, sebenarnya bukan hanya berupa penerjemahan dari bahasa Arab Parsi ke bahasa Jawa, juga mengubah filsafat cerita itu sehingga lebih mudah dicerna oleh ma-syarakat Jawa. Lagi pula Yasadipura I bukan mener-jemahkannya langsung dari bahasa Melayu aslinya — melainkan menggubah kembali dari Kitab Menak hasil terjemahan pujangga sebelumnya, yakni dari zaman Kartasura. Pujangga penerjemah aslinya, tidak tercatat namanya.

Serat Menak Kartasura masih dekat sekali dengan Hikayat Amir Hamzah. Karya itu berbahasa Melayu yang ditengarai masih adanya kata-kata Melayu, di antaranya temen sira nora kasih, tumpesen donemu (=olehmu), sang nata dhateng turut dan Ambyah kang dipun beri (Poerbatjaraka, 1940:2). Naskah Menak Kartasura dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI, dengan nomor koleksi BG 613, ditulis pada dluwang ukuran 24×35 cm sebanyak 1.188 halaman, dalam bentuk tembang dan aksara Jawa corak keraton pada masa itu (Poerbatjaraka, 1940:9).

Pada abad ke-18, masa kapujanggan di Surakarta, Yasadipura menyusun gubahan Serat Menak bersumber dari Menak Kartasura (Pigeaud, 1967:213-214; Poerbatjaraka, 1957:168).Serat Menak gubahan Yasadipura (untuk selanjutnya disebut Menak Yasadipura), lebih diperluas.Karya itu disusun dalam bentuk tembang macapat.Teks Menak Yasadipura termasuk teks yang terpanjang, dan merupakan saduran langsung dari Menak Kartasura.Teks terdiri dari 5.200 halaman di dalam naskah.

Naskah Menak yang lain lagi adalah naskah Br.27 koleksi Perpustakaan Nasional RI, ditulis dengan aksara Pegon, berbentuk tembang. Isinya lebih kurang paralel dengan Menak Kartasura (Poerbatjaraka, 1940:53-54).Sejarah Darma PA 0020 adalah versi Serat Menak yang lebih ringkas daripada versi Yasadipura, berangkat tahun 1720 AJ atau 1794 AD.Sejarah Darma berisi cerita Menak yang utuh seperti Menak Kartasura.Menak Yasadipura terbagi menjadi episode-episode.Masing-masing merupakan satu lakon penuh.

Pada awal abad ke-17 terdapat naskah Menak (Jawa) dalam lontar sebanyak 119 lembar.Pada tahun 1627 Andrew James menyerahkan naskah itu ke Bodleian Library.Dengan demikian, dua abad sebelum Yasadipura menulis Serat Menak sastra Amir Hamzah telah masuk ke sastra Jawa (Ricklefs & Voohoeve, 1977:43, dikutip Sedyawati dkk, 2001:319).

Cerita Menak lain yang bukan cerita induk adalah Menak Pang atau Menak Sempalan. Dari cerita ini yang paling digemari adalah Rengganis dan Prabu Lara.Naskah Menak carangan banyak tersebar di Lombok dalam bentuk naskah lontar (Pigeaud, 1967, Poerbatjaraka 1940, dikutip Sedyawati dkk, 2001:323).Naskah lainnya adalah Rengganis Madura no. lontar 7, nomor 9, Rengganis Madura BG 775, dan Rengganis Sempalan Br. 531.

Persebaran Hikayat Amir Hamzah dan Cerita Menak[sunting | sunting sumber]

Hikayat Amir Hamzah ditulis dan dibaca untuk membangkitkan semangat juang bagi para prajurit yang akan maju perang. Dalam de Roma van Amir Hamza, van Ronkel melacak sejauh mana Hikayat Amir Hamzah dari sastra Melayu menyebar luas ke daerah lain dalam bahasa setempat (van Ronkel 1895, Sedyawati dkk, 2001:318).

Penyebaran di dalam sastra Jawa melalui Menak Kartasura

Hikayat Amir Hamzah berkembang menjadi Menak Yasadipura beserta Menak Pang dan Menak Sempalan lainnya.Sastra Bugis Makassar mengenal Hikayat Amir Hamzah. Sastra Sunda pun memiliki Serat Menak yang merupakan alih bahasa dari Serat Menak versi Jawa dan versi lain dengan nama Amir Hamzah (van Ronkel 1895, dikutip Sedyawti dkk: 318). Di kalangan masyarakat Sasak di Lombok, cerita Menak ditampilkan dan dikemas dalam seni pertunjukan wayang kulit Sasak dengan repertoire cerita Menak. Di Lombok cerita Menak bersumber dari naskah lontar ditulis dari bahasa Jawa dengan huruf Jejawan, ditulis sesuai de-ngan kawinannya (Sadarudin, tt), dengan tokoh cerita Wong Menak, Jayengrana, Jayeng Tinon, Jayeng Palugon, sedangkan tokoh-tokoh cerita lainnya Umar Maya, Maktal, Taptanus, Saptanus, Umarmadi dan Alam Daur.

Kedekatan dengan Cerita Panji[sunting | sunting sumber]

Cerita Menak dari segi strukturnya sama dengan cerita Panji. Kemiripan bentuk ataupun sifat dan karakter serta nama-nama tokoh cerita mengacu pada Serat Panji.Sejatinya cerita Menak adalah cerita Panji dengan tokoh cerita orang asing.Nama-nama tokoh cerita banyak kemiripannya dengan nama-nama tokoh cerita Panji, seperti Dewi Muninggar dipersamakan dengan Galuh Candrakirana, Amir Hamzah dipadankan dengan Inu Kertapati. Oleh karena itu, julukan Amir Ambyah pun dipersamakan de ngan Panji, yaitu Jayengrana, Jayeng palugon, Jayadimurti (Poerbatjaraka, 1952).

Kesamaan lainnya adalah adanya punakawan.Punakawan Panji sebanyak dua orang.Mereka adalah Jurudyan dan Prasanta, atau Jodheg dan Prasanta, atau Bancak-Doyok, Penthul-Tembem. Wong Agung Menak juga diiringi dua punakawan, yaitu Umarmaya dan Umarmadi yang merupakan perubahan lafal dari ‘Amr ibn Omayya dan ‘Amr ibn Mahdi Karib (Pigeaud 1950:238).

Begitu lekatnya sastra Menak dengan sastra Panji sehingga motif cerita dan intisarinya sama. Cerita Rengganis yang merupakan sempalan dari cerita Menak sangat diilhami oleh sastra Panji (Poerbatjaraka, 1952).

Nama-nama tokoh dalam Wayang Golek Menak juga sudah disesuaikan dengan lidah orang Jawa. Misalnya, nama Badi’ul Zaman diubah menjadi Imam Suwangsa; Omar Bin Umayah menjadi Umar Maya; Mihrnigar menjadi Dewi Retna Muninggar; Qoraishi menjadi Dewi Kuraisin, dsb.

Tokoh utamanya, Emr Hamza (Amir Hamzah) — yang dalam Wayang Golek Menak disebut Amir Ambyah atau Wong Agung Jayengrana dan banyak nama alias lainnya, bermusuhan antara lain dengan Prabu Nusirwan dari Kerajaan Medayin. Waktu itu Mekah sudah menjadi Kerajaan Islam, sedangkan Kerajaan Medayin dan banyak kerajaan lainnya, belum.

Masuknya cerita Menak ke dalam kesustraan Jawa diperkirakan pada abad ke-17 (lanjutan lihat Menak Sarehas, bab XIII). Pada abad ke-18 serat Menak versi Jawa ditulis di keraton Jawa Tengah.Penulisan pertama kali di keraton Kartasura.Naskah Menak Kartasura termasuk naskah Serat Menak yang tertua.Karya itu merupakan gubahan dari sastra Melayu Hah. Pada saat itu terjadilah proses ambil-alih. Penulisan karya gubahan dilakukan atas perintah Kanjeng Ratu Mas Blitar, permaisuri Sunan Paku Buwana I di Kartasura. Saat penulisannya adalah hari Jumat, tanggal 17 bulan Rajab, tahun Dal, wuku Marakeh, mangsa Kasa, dengan sengkalan: Lenging welut rasa purun (1639 AJ atau 1717 AD), ditulis oleh carik Narawita, menantu Waladana.

Serat Menak Kartasura masih dekat sekali dengan Hikayat Amir Hamzah. Karya itu berbahasa Melayu yang ditengarai masih adanya kata-kata Melayu, di antaranya temen sira nora kasih, tumpesen donemu (=olehmu), sang nata dhateng turut dan Ambyah kang dipun beri (Poerbatjaraka, 1940:2). Naskah Menak Kartasura dikelola oleh Perpustakaan Nasional RI, dengan nomor koleksi BG 613, ditulis pada dluwang ukuran 24×35 cm sebanyak 1.188 halaman, dalam bentuk tembang dan aksara Jawa corak keraton pada masa itu (Poerbatjaraka, 1940:9).

Pada abad ke-18, masa kapujanggan di Surakarta, Yasadipura menyusun gubahan Serat Menak bersumber dari Menak Kartasura (Pigeaud, 1967:213-214; Poerbatjaraka, 1957:168).Serat Menak gubahan Yasadipura (untuk selanjutnya disebut Menak Yasadipura), lebih diperluas.Karya itu disusun dalam bentuk tembang macapat.Teks Menak Yasadipura termasuk teks yang terpanjang, dan merupakan saduran langsung dari Menak Kartasura.Teks terdiri dari 5.200 halaman di dalam naskah.

Naskah Menak yang lain lagi adalah naskah Br.27 koleksi Perpustakaan Nasional RI, ditulis dengan aksara Pegon, berbentuk tembang. Isinya lebih kurang paralel dengan Menak Kartasura (Poerbatjaraka, 1940:53-54).Sejarah Darma PA 0020 adalah versi Serat Menak yang lebih ringkas daripada versi Yasadipura, berangkat tahun 1720 AJ atau 1794 AD.Sejarah Darma berisi cerita Menak yang utuh seperti Menak Kartasura.Menak Yasadipura terbagi menjadi episode-episode.Masing-masing merupakan satu lakon penuh.

Pada awal abad ke-17 terdapat naskah Menak (Jawa) dalam lontar sebanyak 119 lembar.Pada tahun 1627 Andrew James menyerahkan naskah itu ke Bodleian Library.Dengan demikian, dua abad sebelum Yasadipura menulis Serat Menak sastra Amir Hamzah telah masuk ke sastra Jawa (Ricklefs & Voohoeve, 1977:43, dikutip Sedyawati dkk, 2001:319).

Cerita Menak lain yang bukan cerita induk adalah Menak Pang atau Menak Sempalan. Dari cerita ini yang paling digemari adalah Rengganis dan Prabu Lara.Naskah Menak carangan banyak tersebar di Lombok dalam bentuk naskah lontar (Pigeaud, 1967, Poerbatjaraka 1940, dikutip Sedyawati dkk, 2001:323).Naskah lainnya adalah Rengganis Madura no. lontar 7, nomor 9, Rengganis Madura BG 775, dan Rengganis Sempalan Br. 531.

Persebaran Hikayat Amir Hamzah dan Cerita Menak

Hikayat Amir Hamzah ditulis dan dibaca untuk membangkitkan semangat juang bagi para prajurit yang akan maju perang. Dalam de Roma van Amir Hamza, van Ronkel melacak sejauh mana Hikayat Amir Hamzah dari sastra Melayu menyebar luas ke daerah lain dalam bahasa setempat (van Ronkel 1895, Sedyawati dkk, 2001:318).

Penyebaran di dalam sastra Jawa melalui Menak Kartasura

Hikayat Amir Hamzah berkembang menjadi Menak Yasadipura beserta Menak Pang dan Menak Sempalan lainnya.Sastra Bugis Makassar mengenal Hikayat Amir Hamzah. Sastra Sunda pun memiliki Serat Menak yang merupakan alih bahasa dari Serat Menak versi Jawa dan versi lain dengan nama Amir Hamzah (van Ronkel 1895, dikutip Sedyawti dkk: 318). Di kalangan masyarakat Sasak di Lombok, cerita Menak ditampilkan dan dikemas dalam seni pertunjukan wayang kulit Sasak dengan repertoire cerita Menak. Di Lombok cerita Menak bersumber dari naskah lontar ditulis dari bahasa Jawa dengan huruf Jejawan, ditulis sesuai de-ngan kawinannya (Sadarudin, tt), dengan tokoh cerita Wong Menak, Jayengrana, Jayeng Tinon, Jayeng Palugon, sedangkan tokoh-tokoh cerita lainnya Umar Maya, Maktal, Taptanus, Saptanus, Umarmadi dan Alam Daur.

Kedekatan dengan Cerita Panji

Cerita Menak dari segi strukturnya sama dengan cerita Panji. Kemiripan bentuk ataupun sifat dan karakter serta nama-nama tokoh cerita mengacu pada Serat Panji.Sejatinya cerita Menak adalah cerita Panji dengan tokoh cerita orang asing.Nama-nama tokoh cerita banyak kemiripannya dengan nama-nama tokoh cerita Panji, seperti Dewi Muninggar dipersamakan dengan Galuh Candrakirana, Amir Hamzah dipadankan dengan Inu Kertapati. Oleh karena itu, julukan Amir Ambyah pun dipersamakan de ngan Panji, yaitu Jayengrana, Jayeng palugon, Jayadimurti (Poerbatjaraka, 1952).

Kesamaan lainnya adalah adanya punakawan.Punakawan Panji sebanyak dua orang.Mereka adalah Jurudyan dan Prasanta, atau Jodheg dan Prasanta, atau Bancak-Doyok, Penthul-Tembem. Wong Agung Menak juga diiringi dua punakawan, yaitu Umarmaya dan Umarmadi yang merupakan perubahan lafal dari ‘Amr ibn Omayya dan ‘Amr ibn Mahdi Karib (Pigeaud 1950:238).

Begitu lekatnya sastra Menak dengan sastra Panji sehingga motif cerita dan intisarinya sama. Cerita Rengganis yang merupakan sempalan dari cerita Menak sangat diilhami oleh sastra Panji (Poerbatjaraka, 1952).

Padanan tokoh cerita wayang Menak dengan tokoh cerita wayang Purwa[sunting | sunting sumber]

Ada sejumlah tokoh cerita wayang Menak yang persamaan (padanan) dengan tokoh cerita wayang Purwa. Inilah nama-nama tokoh cerita wayang Menak yang menunjukkan padanan itu: Bekti Jamal (Abiyasa), Aklas (Sengkuni), Betal Jemur (Abiyasa), Nursewan (Suyudana), Patih Bestak (Duma), Umarmaya (Narada), Amir Ambyah (Arjuna), Maktal (Narayana), Tamtanus (Setyaki), Lamdahur (Werkudara), Umarmadi (Burisrawa), Jobin (Seteja), Bahman (Bogadenta), Maryunani (Irawan), Muninggar (Sembadra) Sudarawerti (Srikandhi), Sirtupilaeli (Larasati), Lelasara (Srikandhi), Adaninggar (Banowati) dan Imam Suwangsa (Angkawijaya).

Dikarenakan berbagai dalih, wayang Golek Menak dan sastra Menak sekarang ini dalam kondisi mati suri, hidup tak hendak mati tak mau.Masyarakat pendukung/peminat wayang golek Menak mulai kurang berminat menonton pertunjukan tradisional.Pertunjukan pun jarang dilakukan, tanggapan sepi.Kelanjutannya seniman penyaji menjadi lesu, daya berkreasi mundur.Hadirnya Sekolah Tinggi Seni dan Institut Seni sedikit banyak menahan laju perjalananan seni pertunjukan tradisional menuju ambang kepunahan.

Tokoh dalam Wayang Menak[sunting | sunting sumber]

  • Wong Agung Jayeng Rana / Amir Ambyah Raja Kerajaan Kuparman
  • Prabu Sarehas Raja Medayin ayah Prabu Kobatsah
  • Prabu Kobatsah Raja Medayin ayah Prabu Nursewan
  • Prabu Nursewan Raja Kerajaan Medayin
  • Patih Abujantir
  • Patih Aklaswajir
  • Patih Bestak
  • Ki Nimdahu Juru Masak Istana
  • Raden Lukman Hakim
  • Raden Bekti Jamal
  • Raden Betal Jemur
  • Umar Maya
  • Umar Madi
  • Sultan Agung Jayusman Samsulrijal
  • Prabu Lamdahur Raja Selam atau Serandil
  • Prabu Menak Kajun Raja Negara Parang Akik
  • Prabu Hong Te Te Raja Negara Mongolia
  • Tamtanus dan Samtanus Panglima perang Negara Yunan
  • Dewi Retna Muninggar
  • Dewi Marpinjun
  • Dewi Ismayawati
  • Dewi Kelaswara
  • Dewi Sudarawreti
  • Dewi Sekarkedathon

Penerbitan Cerita Menak[sunting | sunting sumber]

Penerbitan cerita Menak atau penerbitan yang berkaitan dengan sastra Menak di antaranya adalah Serat Menak (Volks Leatuur 1832), Serat Menak I-VIII (Winter 1854), Serat Menak Purwakandha, Serat Menak I-VIII (Jayasubrata 1883-1889), De Roman van Amir Hamza (van Ronkel 1895), Serat Menak Yasadipura, tembang macapat, aksara Jawa, 24 judul sebanyak 46 jilid (Balai Pustaka 1933), dan Serat Menak Yasadipura, alih aksara dari edisi aksara Jawa, Balai Pustaka 1933.

1. Menak Sareas.

2. Menak Lare: 1-4.

3.Menak Sêrandil.

4. Menak Sulub: 1-2.

5. Menak Ngajrak.

6. Menak Dêmis.

7. Menak Kaos.

8. Menak Kuristam.

9. Menak Biraji.

10. Menak Kanin.

11. Menak Gandrung.

12. Menak Kanjun.

13. Menak Kôndhabumi.

14. Menak Kuwari.

15. Menak Cina: 1-5.

16. Menak Mukub.

17. Menak Malebari: 1-4.

18. Menak Purwakôndha: 1-3.

19. Menak Kustup: 1-2.

20. Menak Tasmitèn.

21. Menak Pirkaras.

22. Menak Kalakodrat: 1-2.

23. Menak Sorangan: 1-2.

24. Menak Jamintoran: 1-2.

25. Menak Jaminambar: 1-3.

26. Menak Talsamat.

27. Menak Lakad: 1-3

Ringkasan Cerita[sunting | sunting sumber]

01 Menak Sarehas[sunting | sunting sumber]

Sarehas raja Medayin, karena ingin memperoleh kesaktian ia bertapa di dasar laut. Karena ketekunannya, datang Nabi Kilir menemuinya dan menganugerahi kulit kayu yang berkhasiat dapat menjadikan orang bijaksana dan mengerti segala bahasa makluk hidup. Oleh Prabu Sarehas, kulit kayu tersebut diberikan kepada Ki Nimdahu, juru masak istana agar diolah menjadi kueh apem.

Sesuatu yang tak terduga terjadi. Setelah apem masak, langsung dimakan oleh Lukmanakim, anak Nimdahu, sedangkan Prabu Sarehas diberi apem biasa. Karena itu setelah makan apem, Prabu Sarehas tetap saja seperti semula, tidak memiliki kesaktian apapun. Sebaliknya Lukmanakim kemudian menjadi orang bijaksana dan mengerti bahasa segala makluk hidup.

Lukmanakim kemudian mendapat berbagai ilmu dari Raja Jin, yang ditulisnya hingga menjadi kitab dan dinamakan Adam Makna. Diantara khasiat ilmunya Ia dapat menghidupkan orang mati dan menjadikan muda orang tua. Kemudian kitab itu yang dua per tiga bagian direbut Jabarail, sepertiga bagian dibuang jatuh ke laut, sepertiga bagian lagi dilemparkan dan jatuh di negara Ngajarak diterima oleh Asanasil.

Beberapa tahun kemudian, Lukmanakim meninggal. Ia mempunyai seorang Putra bernama Bektijamal. Tak lama kemudian Prabu Sarehas juga meninggal dan digantikan oleh putranya Kobatsah. Sedangkan patihnya, Abujantir digantikan oleh Aklaswajir. Bektijamal mempunyai seorang putra, bernama Betaljamur. Ia itulah yang menerima warisan sisa kitab Adam Makna setelah Bektijamal mati dibunuh Patih Aklaswajir karena berebut harta karun, sehingga Betaljemur menjadi orang yang pandai lagi bijaksana.

Patih Aklaswajir berputra tiga orang, dua putri dan seorang putra lelaki yang diberi nama Bestak. Putri yang sulung diperistri putra Raja Ngabesi, sedangkan adiknya menjadi istri Betaljemur. Beberapa tahun kemudian ketika Raja Kobatsah meninggal, Yayi putranya menggantikannya menjadi Raja Medayin dan bergelar Prabu Nusirwan. Bestak diangkat menjadi patihnya, sedangkan Betaljemur dijadikan penasehat negara Medayin.

02 Menak Lare[sunting | sunting sumber]

Di mekah, Jumiril mengabdikan diri kepada Baginda Hasim, Adipati Mekah. Ia diangkat sebagai patih dan diambil menantu oleh Baginda Hasim, dikawinkan dengan Sitimahya. Dari perkawinan ini, lahirlah Umarmaya. Ketika Baginda Hasim wafat, Abdulmutalib, putranya diangkat menjadi Adipati Mekah. Abdulmutalib mempunyai seorang putra yang bernama Amir Hambyah. Sejak kecil Hambyah dan Umarmaya bersahabat karib dan selalu bersama –sama. Kekuatan Amir Ambyah luar biasa tidak ada yang menyamai. Ia dapat mencabut pohon kurma dengan mudah nya ketika berebut buah dengan Umarmaya.

Amir Ambyah juga ahli dalam berperang. Mahir dalam memainkan senjata panah, pedang dan cemeti. Ia juga mempunyai kesaktian berupa petak dan perang mengangkat Tubuh lawan, lalu dbanting. Suatu saat, Di sebuah istana di tengah hutan, Amir Ambyah dan Umarmaya Menemukan kuda Kalisahak ,kuda peninggalan Nabi Iskak lengkap dengan segala perlengkapan perang.

Suatu hari ketika Abdulmutalib pergi ke negeri Yaman untuk menyerahkan upeti, Amir Ambyah dan Umarmaya turut serta. Di tengah perjalanan mereka diserang Maktal, putra raja Ngalabani. Amir Ambyah melawan. Dalam perkelahian Maktal kalah dan tunduk pada Amir Ambyah. Raja Yaman pun akhirnya juga tunduk pada Amir Ambyah. Amir Ambyah juga memenangkan sayembara yang diadakan oleh Umandhitahim, putri raja Yaman. Namun oleh Amir Ambyah, Umandhitahim diserahkan kepada Tohkaran, putra raja Ngabesah.

Ketika Mekah kedatangan musuh dari Kebar di bawah pimpinan raja putra Huksam, Amir Ambyah segera datang menghadapi musuh. Dalam pertempuran itu Huksam tewas. Demikian pula ketika Umarmadi, raja Kohkarib menyerang Mekah, ia pun kalah dan akhirnya tunduk pada Amir Ambyah.

Mendengar tentang keperkasaan Amir Ambyah, Prabu Nusirwan dari Medayin mengirim utusan untuk memanggil Amir Ambyah. Namun diperjalanan utusan tersebut diserang oleh Umarmaya dan Umarmadi. Prabu Nusirwan lalu meminta tolong kepada Betaljemur agar Amir Ambyah datang ke Medayin. Betal jemur lalu mengutus Wahas, putranya untuk menemui Amir Ambyah, disertai surat dan dikirimi payung pusaka bernama Tunggulnaga.

Amir Ambyah datang menghadap ke Medayin dengan mengendarai kuda Kalisahak, serta diiringi oleh para raja dan paras atria. Di perjalanan, Amir Ambyah berhasil membunuh binatang hutan bernama Wabru yang banyak menimbulkan kerusakan di Medayin. Amir Ambyah kemudian memerintahkan Maktal untuk mendahului ke Medayin dan menyerahkan Wabru kepada Raja Nusirwan. Setibanya di Medayin, oleh Prabu Nusirwan Maktal diadu kesaktian melawan Hirjam, Panglima Medayin. Ternyata Hirjam kalah. Prabu Nusirwan kemudian menyambut kedatangan Amir Ambyah dengan segenap tentaranya di Medayin.

Pada saat itu Prabu Nusirwan dengan permaisurinya telah dikaruniai 5 orang putra, 2 putri dan 3 pria, yaitu Dewi Retna Muninggar, Dewi Marpinjun, Herman, Hurmus dan Semakun. Banyak raja dan para kesatria yang hendak mempersunting Muninggar. Raja Kistaham dan Kobat, anaknya sangat membenci Amir Ambyah. Selain Amir Ambyah dan Umarmaya diambil sebagai putra angkat Betaljemur, Amir Ambyah juga sangat disayang oleh Raja Nusirwan.

Selain itu, Muninggar menaruh hati pada Amir Ambyah. Akhirnya terjadilah perkelahian antara Kistahan dan Kobat melawan Amir Ambyah. Kistaham dan Kobat kalah. Mereka kemudian melarikan diri minta perlindungan Raja Jobin dari negara Kaos.

Suatu ketika Halkamah, raja Kebar, menyerang Medayin. Prabu Nusirwan memerintahkan Amir Ambyah untuk menghadapinya. Dalam pertempuran yang seru itu, Halkamah tewas. Kedudukannya kemudian digantikan oleh Yusupati yang telah takluk kepada Amir Ambyah. Pesta besar diselenggarakan di Istana Medayin untuk menyambut kemenangan Amir Ambyah. Pada waktu itulaah Amir Ambyah berkenalan dengan Muninggar. Mereka berdua saling jatuh cinta dan mengikrarkan janji naik ke pelaminan sebagai jejaka dan perawa

03 Menak Serandil[sunting | sunting sumber]

Sadalsah, raja Selam atau Serandil, memperistri Basirin putri Bakarabunisyah, keturunan Nabi Idris. Mereka mempunyai seorang putra bernama Lamdahur. Pada waktu Lamdahur belum dewasa, raja Saldasah wafat dan digantikan oleh Sahalsah, adiknya yang mempunyai anak bernama Jibul. Setelah dewasa Lamdahur mempunyai perawakan yang tinggi besar, gagah perkasa dan sakti. Khawatir kalau-kalau Lamdahur akan menuntut tahta kerajaan, Sahalsah menangkap Lamdahur dan dipenjarakannya. Tersebutlah di negeri Nglaka, Dewi Prabandini putri raja Nglaka bermimpi bersuamikan Lamdahur. Ia lalu pergi mencari Lamdahur dan menemukannya di dalam penjara di Serandil. Lamdahur dikeluarkaan dari penjara dan diajak ke Nglaka, kawin dengan Dewi Prabandini,dan dinobatkan menjadi raja di Nglaka. Beberapa waktu kemudian Lamdahur mengerahkan pasukan menyerang Serandil. Dalam peperangan itu Raja Sahalsah kalah dan tunduk. Ia kemudian diangkat menjadi raja di Negara Sulebar, sedangkan Serandil di kuasai oleh Lamdahur.

Suatu ketika timbul keinginan Lamdahur hendak menyerang Medayin. Prabu Nusirwan yang tahu rencana tersebut, segera minta bantuan Amir Ambyah, yang segera berangkaat ke Serandil. Pada waktu itu, Umarmaya mimpi bertemu Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Iskak dan Nabi Sulaeman, semua menganugerahi kesaktian, antara lain Kasang yang dapat mengabulkan semua apa yang menjadi keinginannya, tahu separoh bahasa dunia, sehingga ia bisa menjadi juru bahasa sebanyak 260 negara, dan dapat berganti rupa apa saja sesuai kehendaknya. Sahalsah, raja Sulebar yang membantu Lamdahur, akhirnya tunduk pada Amir Ambyah. Umarmaya kemudian diutus Amir Ambyah untuk menantang Lamdahur. Pertempuran terjadi di hutan. Lamdahur kalah, dan menyatakan tunduk pada Amir Ambyah.

Tersebutlah, Raja Kistaham yang ingin membunuh Amir Ambyah. Ia kemudian mengirimkan dua wanita penghibur, Jamsikin dan Samsikin supaya meracuni Amir ambyah. Umarmaya yang waspada, berhasil membunuh kedua wanita penghibur tersebut, dan berhasil memperoleh obat penawar racun bagi Amir Ambyah dari Nukman, pendeta di Tagelur. Kistaham kemudian diserang Lamdahur, dan lari kembali ke Medayin, melapor kepada Prabu Nusirwan bahwa Ambyah telah tewas dan mengusulkan agar Muninggar dikawinkan dengan raja Bangid. Umarmaya, Lamdahur dan Amir Ambyah segera menyusul pergi ke Medayin. Kistaham ketika mendengar Amir Ambyah masih hidup dan akan datang ke Medayin, pergi melarikan diri hendak minta bantuan ke Negara Kaos. Sedangkan Raja Bangid ditangkap oleh Umarmaya dan Lamdahur, kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Keinginan Prabu Nusirwan untuk segera menikahkan Muninggar dengan Amir Ambyah, dicegah oleh Bestak, yang mengirimkan utusan untuk membunuh Amir Ambyah, tetapi gagal. Bestak mencari akal, ia mohon agar Muninggar disembunyikan dan diberitakan kalau Muninggar telah bunuh diri. Siasat ini dimaksudkan agar Amir Ambyah ikut mati karena sedih. Usaha inipun gagal, karena Umarmaya dan Lamdahur berhasil membongkar kuburan palsu yang diberitakan sebagai kuburannya Muninggar.

Amir Ambyah marah, tetapi kemarahannya itu dibelokkan Bestak untuk menghadapi raja-raja yang hendak melawan Medayin, yaitu Yunan, Ngerum dan Mesir. Amir Ambyah berjanji, tidak akan mengawini Muninggar sebelum raja-raja itu tunduk. Amir Ambyah dan pasukannya segera berangkat disertai Raja Karun sebagai penunjuk jalan, yang tanpa setahu Amir Ambyah telah mendapat perintah rahasia dari patih Bestak agar meracuninya. Namun usaha keji itu mengalami kegagalan. Karena Raja Karun hanya sebagai orang suruhan, maka Amir Ambyah memaafkannya.

Ke Arab. Amir Ambyah lalu menyerang Raja Jobin. Pertempuran berkobar hebat di Bakdiatar. Dalam pertempuran trsebut, kening Amir Ambyah tertusuk pedang Jobin. Ia segera dilarikan ke Arab, dan diobati Umarmaya sampai sembuh. Pasukan Medayin segera mengepung Arab, yang membuat Arab kekurangan pangan. Untunglah Muninggar berhasil mencari gandum ke Medayin. Umarmaya pun berhasil masuk ke perkemahan pasukan Medayin, meracuni Prabu Nusirwan, patih Bestak dan Jobin. Dalam keadaan tak sadarkan diri, mereka diserahkan kepada Amir Ambyah, tapi Amir Ambyah menolaknya. Umarmaya membawanya kembali ke perkemahan, tetapi diperjalanan mereka dicukur, dipermalukan dan disakiti.

04 Menak Sulub[sunting | sunting sumber]

Kedatangan pasukan Amir Ambyah di Negara Yunan disambut oleh pasukan Yunan dibawah panglima perangnya, Tamtanus dan Samtanus. Perang seru terjadi dan berakhir dengan kemenangan Amir Ambyah. Tamtanus dan Samtanus mengaku kalah dan tunduk. Namun Raja Karun berbalik memihak Raja Yunan. Amir Ambyah tertangkap oleh perangkap Raja Karun,tetapi dapat dibebaskan oleh Umarmaya. Akhirnya Raja Yunan tunduk pada Amir Ambyah. Sementara Raja Karun berhasil ditangkap oleh Amir Ambyah dan dibunuh. Tamtanus kemudian dinobatkan sebagai Raja Yunan. Setelah itu Amir Ambyah dan pasukannya melanjutkan perjalanan ke Mesir dan Ngerum.

Amir Ambyah dan pasukannya berhasil menundukkan Ngerum. Tetapi ketikan menyerang mesir, Amir Ambyah terperangkap dan dipenjarakan di Pulau Sulub. Tamtanus dan Maktal berusaha melepaskan Amir Ambyah.

Sementara itu, Jarahbanum, putri raja Mesir penguasa pulau Sulub mendapat firasat agar bersuamikan Maktal. Ia segera bertemu dengan Maktal yang sedang mencari Amir Ambyah. Terjadi permufakatan, Maktal akan memperistri Jarahbanum asalkan ia bisa membantu membebaskan Amir Ambyah dari penjara. Permintaan itu berhasil dipenuhi oleh Jarahbanum. Amir Ambyah bebas dan perangpun berkobar kembali. Raja Mesir yang tak mau tunduk, akhirnya mati dibunuh Amir Ambyah. Sebagai gantinya Asanasir, adiknya diangkat sebagai Raja Mesir. Sebagai balas budi, Asanasir menyerahkan putrinya, Sekar kedhaton untuk diperistri Amir Ambyah. Terjadilah perkawinan kembar, Amir Ambyah dengan Sekar Kedhaton, dan Maktal dengan Jarahbanum.

Sementara itu Kistaham mendatangi Raja Jobin di negeri Kaos, minta bantuan mengalahkan Amir Ambyah. Jobin bersedia asal dikawinkan dengan Muninggar. Permintaan disanggupi, tetapi ditangguhkan dulu, dan Jobin dimintanya tinggal diperistirahatan.

Amir Ambyah segera kembali ke Medayin, langsung dating ke Istana mengawini Muninggar, dan terus membawanya

05 Menak Ngrajak[sunting | sunting sumber]

Di Negara Ngajrak, Taminasar, raja jin kalah berperang melawan raksasa. Berdasarkan kitab Adam Makna, Asanasil mengusulkan pada Taminasar agar minta bantuan kepada Amir Ambyah. Usul tersebut diterima, dan patih Asanasil bersama anaknya, Sadatsatir diperintaahkan berangkat ke Arab. Sesampainya di Arab, mereka berdua menyaksikan Mekah di kepung pasukan Medayin. Mereka segera menemui Amir Ambyah daaan meminta ijin untuk memerangi pasukan Medayin. Amir Ambyah mengijinkan. Kedua jin tersebut lalu mengamuk, membuat pasukan Medayin berantakan dan lari tunggang langgang.

Amir Ambyah kemudian pergi ke Ngajrak. Di kota Emas, Amir Ambyah ditemui Nabi Kilir yang memberikan pelajaran cara melawan raksasa. Berkat pelajaran tersebut, akhirnya Amir Ambyah berhasil menumpas pasukan para raksasa.

Raja jin Taminasar sangat berterimakasih kepada Amir Ambyah. Ia menghadiahi cemeti wasiat peninggalan Nabi Sulaeman, serta mengangkat Amir Amyah sebagai menantunya, dinikahkan dengan putrinya, Dewi Ismayawati. Dari perkawinan ini lahir seorang putri yang diberi nama Dewi Kuraisin.

Selama Amir Ambyah tinggal di Ngajrak, Mekah kembali dikepung pasukan Medayin. Dewi Muninggar dan pasukan pengawalnya berhasil diselamatkan oleh Betaljemur, diungsikan kenegara Katijah. Mendengar hal itu, Amir Ambyah minta ijin Taminasar kembali ke Arab. Di perjalanan ia bertemu Nabi Kilir yang menganugrahinya pusaka. Selama dalam Perjalan, Amir Ambyah selalu berperang melawan para raksasa. Untunglah patih Asanasil dan Kuraisin segera menyasul, mengikuti dan membantunya.

Suatu ketika Amir Ambyah bertemu raksasa bernama Rames, yang berhasil membawa terbang Amir Ambyah dan Melemparkannya ke tengah laut. Amir Ambyah berhasil ditolong malaekat. Ketika bertemu lagi dengan Rames, Rames meminta maaf dan diampuni Amir Ambyah, oleh Amir Ambyah, Rames dikawinkan dengan sesama raksasa, dan mempunyai anak berujut kuda yang diberi nama Sekardiyu, yang setelah besar menjadikuda tunggangan Amir Ambyah. Sementara itu, Rames yang selalu berusaha akan membunuh Amir Ambyah, akhirnya tewas karena disepak oleh Sekardiyu, anaknya sendiri. Amir Ambyah pun meneruskan perjalanannya, dan bertemu dengan Ayub dan Balul yang memberitahukan bahwa Negara Arab dikepung musuh.

Sementara itu bahaya kekurangan makanan menimpa negara Katijah. Umarmadi berusaha mencari makanan ke Negara Karsinah. Ia kemudian diambil menantu oleh raja Karsinah dan dinobatkan menjadi raja. Tiba-tiba putri raja Karsinah meninggal. Menurut adat Negara tersebut, suami harus ikut dikuburkan. Umarmadi tidak mau, ia disergap dan ditangkap banyak orang. Untunglah Amir Ambyah tiba di negara Karsinah dan menolong Umarmadi. Adat di Negara tersebut pun diperbaharui, setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke Katijah dan bertemu dengan Muninggar

06 Menak Demis[sunting | sunting sumber]

Begitu mendengar kedatangan kembali Amir Ambyah, Raja Nusirwan dan Raja Jobin segera melarikan diri ke negara Demis. Amir Ambyah kemudian mengutus Umarmaya untuk menantang raja Demis. Tantangan tersebut diterima oleh raja Demis. Umarmaya kemudian menggunakan pusaka siluman, patih Bestak dan raja Jobin dipukuli, sedangkan mahkota raja Demis direbutnya, lalu diserahkan ke Amir Ambyah.

Perang pun berkobar antara pasukan Demis melawan pasukan Arab. Dalam peperangan tersebut Amir Ambyah terluka lalu muncul ke negeri Katijah. Pada saat yang kriti, muncul Maryunani, putra Amir Ambyah dengan Dewi Sekarkedhaton, datang membantu raja Demis. Untuk menghadapi raja Demis, Amir Ambyah memberikan kuda Kalisalak kepada Maryunani.

Hati Muninggar sangat kecewa begitu tahu Amir Ambyah telah mempunyai anak sebelum mengawini dirinya yang berarti Amir Ambyah telah mengingkari janjinya. Umarmaya berusaha menjelaskan pada Muninggar bahwa perkawinan Amir Amyah dengan Sekarkedhaton hanya terjadi dalam mimpi. Tapi Muninggar tetap tidak percaya. Terjadilah pertengkaran dengan Amir Ambyah. Muninggar diusirnya, agar pergi ke negeri Bangid, karena raja Bangid dahulu ingin memperistrinya

Menghadapi kenyataan itu, Umarmaya laku bersepakat dengan Maktal untuk membunuh raja Bangid. Membawa Muninggar ke Bangid dan menyuruh Maktal menjaganya. Umarmaya kemudian kembali menemui Amir Ambyah, membujuknya agar jangan memarahi Muninggar. Akibatnya, Umarmaya pun diusirnya. Ia segera meninggalkan Amir Ambyah pergi ke negeri Bangid.

Tersebutlah, pada suatu ketika Amir Ambyah pergi berburu dan tersesat sampai ke negeri Bangid. Dan bertemu dengaan Umarmaya. Amir Ambyah lalu dibawa masuk ke istana dan dipertemukan dengan Muninggar. Mereka rujuk kembali. Pasukan segera disiapkan untuk menyerang raja Jobin yang lari ke negeri Kuristam.

07 Menak Kaos[sunting | sunting sumber]

Sebelum menyerang negeri Kuristam, Amir Ambyah lebih dulu pergi ke Medayin menghadap Raja Nursewan untuk mohon ijin mengawini Muninggar. Raja Nursewan merestuinya, dan terjadilah perkawinan yang ke dua antara Amir Ambyah dengan Muninggar. Setelah itu barulah Amir Ambyah pamit untuk menyerang Kuristam dan menangkap raja Jobin.

Di perjalanan pasukan Ambyah bertemu dengan pasukan negeri Kaos yang bermaksud pergi ke Kuristam untuk menyusul raja Jobin. Karena tujuan mereka berlawanan, pertempuranpun tak dapat dihindarkan. Pasukan Kaos kalah dan tunduk. Putri raja Jobin kemudian diperistri Maryunani, sedangkan istri Jobin diambil istri oleh Umarmadi. Negara Kaos segera diduduki Amir Ambyah, dan Maryunani diangkat menjadi raja Kaos

Dikisahkan, pada saat itu Muninggar telah berputra laki-laki yang diberi nama Kobatsarehas. Beberapa tahun kemudian Maryunani juga berputra seorang laki-laki yang diberi nama Ibnu Umar, Yang setelah dewasa diangkat sebagai raja Kaos mengganti Maryunani.

08 Menak Kuristam[sunting | sunting sumber]

Berita didudukinya Negara Kaos oleh Amir Ambyah, didengar pula oleh raja Jobin. Ia segera memberitahukan kepada raja Nursewan, bahwa Bahman, raja Kuristam sanggup membinasakan Amir Ambyah, dan mengharapkan kedatangan raja Nursewan ke Kuristam. Atas anjuran patih Bestak, Nusirwan akhirnya pergi ke Kuristam.

Raja Bahman segera menantang Amir Ambyah dan memberitahukan kalau raja Nursiwan telah berada di Kuristam. Amir Ambyah menerima tantangan tersebut dan mengerahkan pasukan menyerang Kuristam. Sebelum berangkat, Kobatsarehas lebih dulu dinobatkan menjadi raja.

Pertempuran berkobar dengan hebatnya, yang berakhir dengan kemenangan pasukan Amir Ambyah. Raja Bahman tunduk, demikian pula raja Jobin. Raja Nusirwan segera kembali ke Medayin, sedangkan Amir Ambyah dan pasukannya kembali ke Kaos.

Mengetahui kegagalan raja Kuristam mengalahkan Amir Ambyah, patih Bestak segera minta bantuan Sadatkabulumar, raja Abesi, yang langsung mengirim pasukan mengepung Mekah.

Mendengar Mekah dikepung pasukan Abesi, Amir Ambyah dan Umarmaya segera meninggalkan Kaos menuju Mekah. Pertempuran berkobar. Pasukan Abesi kalah dan Sadatkabulumar menyatakan tunduk pada Amir Ambyah.

Merasa dirinya tertipu dan diperalat, Sadatkabulumar menangkap raja Nusirwan, dan dipejara di Negara Abesi. Padahal sesungguhnya Nusirwan tidak tau apa-apa, semua itu karena ulah patih Bestak.

Dari Mekah, Amir Ambyah kemudian menyerang Negara Kuparman. Nurham, raja Kuparman tewas dalam pertempuran, pasukan menyerang dan negara Kuparman diduduki Amir Ambyah. Sejak saat itu Amir Ambyah mendapat gelar Sultan Kuparman.

Beberapa waktu kemudian, Kaladaran, raja Indi mengerahkan pasukannya untuk menyerang kuparman, namun ia tewas dalam peperangan dan pasukannya tunduk pada Amir Ambyah. Sementara itu Gulangge, raja Negara Rokam, yang mendengar keluhuran budi Amir Ambyah ingin bertemu dengan Amir Ambyah. Dalam perjalanan ke Kuparman bertemu dengan raja Kikail dari Negara Parangawu, yang bermaksud menyerang Negara Kuparman. Karena tujuan berbeda perangpun tak bisa dielakkan. Amir Ambyah yang mendenar berita pertempuran tersebut segera mengirim pasukan untuk membantu raja Gulangge, yang akhirnya dapat mengalahkan raja Ki kail dan memukul mundur pasukan parangawu. Dengan selamat raja Gulangge sampai di negeri Kuparman, dan diterima baik oleh Amir Ambyah.

09 Menak Biraji[sunting | sunting sumber]

Begitu dengar Aspandriya, raja Negara Biraji ingin mengalahkaan dirinya, Amir Ambyah mendahului menyerang Biraji. Darudriya, raja Bangit diperintahkan menantang Biraji, Darundriya bertemu dengan Sribengat. Keduanya saling jatuh cinta, dan kemudian Sribengat dilarikaan darundriya.

Pertempuran berkobar antara pasukan Biraji melawan pasukan Kuparman. Baladikum, raja Negara Ngambarsirat, saaudara raja Aspandriya datang membantu pasukan Biraji, membuat pasukan Amir Ambyah terdesak. Untunglah pendeta Maskum, kakek Maktal datang menolong dan membuat pasukan Kuparman unggul kembali. Negara Biraji pun dapat ditaklukkan. Begitu perang selesai, Amir Ambyah pulang ke Mekah, dan memerintah untuk memboyong anak istrinya Kaos.

Di Kaos, patih Bestak dan raja Jobin menyebarkan kabar bohong, bahwa Amir Ambyah tewas dalam pertempuran di Biraji. Raja Bahman dibujuk agar berbalik haluan, dan Hirman, anak raja Nusirwan dinobatkan menjadi raja Kaos. Akibatnya negara Kaos menjadi kacau. Pasukan Amir Ambyah memecah belah, karena ada yang berbalik haluan dan ada yang tetap setia. Akibatnya terjadi pertempuran diantara mereka sendiri. Dalam situasi yang tak menentu itu, Kalajohar, raja putri Pirkari, yang juga adik perempuan raja Jobin, Membantu pasukan yang setia pada Amir Ambyah.

Raja Lamdahur dan Pirngadi, putranya maju perang melawan para penberontak. Sementara itu Muninggar mengirim berita kepada Amir Ambyah di mekah tentang terjadinya kekisruhan di Kaos. Di Mekah Amir Ambyah sendiri juga bermimpi terjadinya perang besar di Negara Kaos. Ia segera mengutus Umarmaya ke Negara Kaos. Di Kaos raja Bahman yang merasa dipermainkan Bestak, lalu menangkapnya dan menyakitinya.

10 Menak Kanin[sunting | sunting sumber]

Umarmaya tiba kembali di Mekah, memberitahukan di negara Kaos memang terjadi pertempuran. Amir Ambyah segera mengerahkan pasukan langsung menyerbu Kaos. Pertempuran berkobar semakin seru. Pada pertempuran itu, raja Bahman yang semula tunduk pada Amir Ambyah, berbalik berkhianat, dan menyerang Amir Ambyah dengan pedangnya dari belakang, menyebabkan Amir Ambyah terluka berat. Untunglah kuda Sekarduwijan ( Sekardiyu ) bersikap trengginas, membawa lari Amir Ambyah keluar dari medan pertempuran, pergi ke desa Surukan. Di desa tersebut, Amir Ambyah dirawat oleh Sahsiar dan ibunya.

Berita tewasnya Amir Ambyah tersebar luas. Umarmaya yang tidak percaya berusaha mencarinya dan menemukan Amir Ambyah di desa Surukan. Amir Ambyah kemudian memerintahkan Umarmaya untuk mengungsikan anak istrinya dan mengundurkan pasukan. Pada kesempatan itu, Amir Ambyah mengangkat Sahsiar sebagai kepala desa Surukan. Setelah kesehatannya pulih kembali, Amir Ambyah kembali mengerahkan pasukan untuk menyerbu Kaos. Akhir pertempuran, Raja Bahman tewas ditangan Maryunani, sedangkan raja Hirman dan Jobin melarikan diri. Karena mengkhawatirkan keselamatan Amir Ambyah, suaminya, Ismayawati dan Kuraisin, putrinya pergi menengok Amir Ambyah ke negeri Kaos. Setelah beberapa lama tinggal di Kaos, mereka berdua kembali ke Ngajrak.

Sementara itu raja Hirman dan jobin mengungsi ke negara Kuwari. Maryunani yang terus mengejarnya tersesat sampai dinegeri Pirkari, dan bertemu dengan Kalajohar. Raja putri Negara Pirkari ini ingin bersuamikan Maryunani, tapi Maryunani menolak karena Kalajohar masih ada hubungan garis mertua ( istri maryunani kemenakan Kalajohar ). Secara nyelimpe Kalajohar kemudian membunuh Maryunani. Sekarkedhaton, ibu Maryunani, Akhirnya meninggal karena sedih. Amir Ambyah yang marah, kemudian menyerang dan menundukkan Negara Kuwari dan Pirkari.

11 Menak Gandrung[sunting | sunting sumber]

Begitu Negara Kuwari jatuh ketangan Amir Ambyah, raja Hirman dan raja Jobin lari ke Medayin. Raja Hirman sangat sedih begitu mendengar kabar, ayahnya raja Nusirwan dipenjarakan di Negara Abesi. Atas usul Betaljemur, ibunda raja Hirnam, yaitu permaisuri Medayin meminta tolong Amir Ambyah untuk membawa pulang raja Nusirwan ke Medayin. Permintaan itu disanggupi oleh Amir Ambyah yang langsung pergi ke Abesi bersama Maktal.

Amir Ambyah berhasil membebaskan raja Nusirwan dari penjara. Ia segera dibawa keluar dan ditinggalkan di pintu gerbang karena Amir Ambyah akan mencari kudanya, Sekarduwijan. Takterduka ia terperosok masuk ke telaga berbisa. Sadatkabulumar, raja Abesi yang mengira Amir Ambyah telah tewas, segera menangkap Maktal dan diikat pada sebatang pohon. Sadatkabulumar kemudian mengajak raja Nusirwan kembali ke Medayin dan bersama-sama menyerang negeri Kaos.

Umarmaya yang menyusul ke Abesi, berhasil membebaskan Amir Ambyah dari telaga berbisa dan melepaskan tali ikatan Maktal. Kuda Sekarduwijan mengamuk dan menghancurkan pasukan Abesi. Kadarisman, putra raja Abesi tunduk pada Amir Ambyah, dan menyatakan kesanggupannya untuk menangkap raja Nusirwan. Amir Ambyah, Umarmaya dan Maktal segera kembali ke Kaos.

Dengan pasukan pencuri sakti yang sanggup menghancurkan pasukan Amir Ambyah, Sadakabulumar dan Jobin berangkat dari Medayin menuju Kaos. Pada malam hari, Pada malam hari, mereka behasil membunuh Kobatsarehas. Dewi muninggar yang hendak mebela putranya dibunuh pula oleh Jobin. Bukan main marahnya Amir Ambyah begitu medengar kematian anak istrinya. Ia segera menangkap dan membunuh Sadatkabulumar dan Jobin.

Akibat kematihan Muninggar dan Kobatsarehas, Amir Ambyah menderita sakit ingatan. Para raja bawahan disuruhnya pulang ke negara masing-masing. Hanya Maktal yang tidak boleh berpisah. Ia diajak menunggui makam Muninggar dan Kobatsarehas.

12 Menak Kanjun[sunting | sunting sumber]

Begitu mendengar berita kehancuran pasukan Amir Ambyah, Kanjun, raja parangakik bermaksut menghancurkan sekaligus. Ia kemudian mengajak beberapa raja dan satriya untuk mengepung Mekah. Ijras salah seorang bawahan raja Kanjun menyatakan kesanggupannya untuk menbunuh Amir Ambyah. Dengan berganti rupa menjadi seorang darwis (petugas kuburan) lalu turut serta menunggui makam Muninggar dan berhasil meracuni Amir Ambyah dan Maktal. Dalam keadaan pinsan, Amir Ambyah dan Maktal diserahkan kepada raja Kanjun. Mereka berdua disiksa dan Mekah dikepung. Raja Kanjun kemudian memohon kehadiran raja Nusirwan untuk menyaksikan kehancuran Amir Ambyah dan kota Mekah.

Tersebutlah, Umarmaya yang sedang bertapa di pulau Adam, begitu mendengar Mekah dikepung musuh, ia langsung pergi ke Mekah. Kemarahan Umarmaya meledak begitu mengetahui ayahnya, Patih Jumiril tewas dibunuh raja Kalbat. Ia langsung menangkap raja Kalbat dan membunuhnya. Umarmaya juga berhasil menemukan Maktal yang dalam keadan terikat, dan melepaskannya. Kemudian mereka mengerahkan pasukan dan mengamuk. Ijras di bunuh dan pasukan lawan dipukul mundur.

Ditempat terpisah Sudarawreti, adik raja Kanjun dan Rabingu, putri raja Karsinah, keduanya merupakan prajurit wanita yang ulung dan sakti, secara bersamaan keduanya saling bermimpi bersuami Amir Ambyah, lalu pergi mencarinya. Di perjalanan mereka bertemu dan berempur hebat. Keduanya sama-sama sakti dan menaiki burung Garuda. Karena tidak ada yang kalah dan yang menang, mereka akhirnya berdamai, dan bersama-sama akan mencari Amir Ambyah.

Sudarawreti dan Rabingu berhasil menemukan dan membebaskan Amir Ambyah dari sekapan Raja Kanjun, dan membawanya ke negeri Parangakik. Sudarawreti kemudian menyerahkan senjata gada kepada Amir Ambyah untuk membalas dendam terhadap raja Kanjun. Amir Ambyah kemudian menyuruh Maktal menyiapkan pasukan dan segera menuju Mekah menggempur musuh. Perangpun berkobar. Raja Kanjun tertangkap dan akhirnya di bunuh sendiri oleh Sudarawreti, sementara pasukan Parangakik cerai-berai. Raja Nusirwan pulang ke Medayin, sedangkan Amir Ambyah ke Mekah mengawini Dewi Sudarawreti dan Rabingu, baru kemudian ke Kuparman.

13 Menak Kandabumi[sunting | sunting sumber]

Dewi Sudarawreti dan Dewi Rabingu diutus Amir Ambyah meninjau ke Medayin. Mereka bertemu dengan Marpinjun (adik Muninggar) yang menyatakan hendak mengabdikan diri kepada Amir Ambyah. Ketika Sudara Wreti dan Rabingu kembali ke Kuparma, keinginan Marpinjun disampaikan pada Amir Ambyah. Amir Ambyah kemudian menugaskan Maktal untuk pergi ke Medayin melamar Marpinjun.

Kedatangan Maktal di Medayin bersamaam dengan kedatangan Banakamsi, raja Kandabumi yang juga melamar Marpinjun. Pertempuran pun terjadi antara pasukan Kuparman melawan pasukan Kandabumi. Saat perang berlangsung, Dewi Kuraisin, putri Amir Ambyah dengan Ismayawati dari Ngajrak datang bersama Sudarawreti dan Rabingu. Mereka mendapat tugas untuk membantu Maktal.

Ketika Kuraisin, Sudarawreti dan Rabingu memasuki istana Medayin hendak menjemput Marpinjun, mereka bertemu dengan Banawati, putri raja Kandabumi yang juga ingin menjemput Marpinjun. Perkelahian pun terjadi, Banawati kalah. Ia dan Marpinjun kemudian dibawa ketiga putri Kuparman itu ke kubu Maktal. Banakamsi dengan pasukannya mengejarnya, yang langsung berhadapan dengan pasukan Maktal. Banakamsi kalah dan segenap pasukannya tunduk.

Dewi Kurasin kembali ke Kuparman memberi taukan kemenangan tesebut kepeda ayahnya. Amir Ambyah kemudian mengutus raja Mesir dan raja Yunan pergi ke Medayin sebagai wakilnya menikah dengan Marpinjun. Pada saat yang bersamaan Maktal pun mengawini Banawati.

Setelah pernikahan selesai, mereka semua kembali ke Kuparman. Namun di perjalanan mereka disergap Bandawas, raja raksasa dari Jabalkap. Bandawas dapat dibinasakan, dan rombonganpun selamat sampai ke Kuparman. Beberapa waktu kemudian, Sudarawreti melahirkan seorang putra dan diberi nama Jayusman, disusul kemudian oleh kelahiran putra Amir Ambyah dari Dewi Rabingu yang diberi nama Ruslan.

14. Menak Kuwari[sunting | sunting sumber]

Amir Ambyah mengangkat Samsir, saudara Banawati menjadi raja di Kandabumi. Suatu ketika Negara Kandabumi diserang dari Negara Kuwari. Patih Bestak meminta bantuan Raja Kemar dari Kuwari untuk membinasakan Amir Ambyah. Permintaan tersebut disanggupi raja Kemar. Bestak dan Nursewan lalu berlindung di negeri Kuwari.

Amir Ambyah segera mengirimkan pasukan ke Kandabumi dan memukul mundur pasukan Kuwari. Kini sebaliknya pasukan Kuparman yang mengepung pasukan Kuwari. Amir Ambyah pun menyusul ke Kuwari. Dalam pada itu Marpinjun telah melahirkan putra lelaki yang diberi nama Rustamaji.

Pertempuran di Kuwari berlangsung dengan hebat. Raja Kemar akhirnya dapat dikalahkan dan menyatakan tunduk kepada Amir Ambyah. Sebagai bukti tunduk, ia menyerahkan adiknya, Dewi Kisbandi untuk diperistri Amir Ambyah. Begitu Kuwari dapat di duduki Amir Ambyah , raja Nusirwan segera mengungsi ke Negara Yujana. Pasukan Kuparman terus mengejarnya yang mengakibatkan timbulnya pertempuran antara pasukan Yujana melawan pasukan Kuparman.

15. Menak Cina[sunting | sunting sumber]

Hongtete, raja Cina, mempunyai dua orang putri. Adaninggar dan Widaninggar. Adaninggar sangat tergila-gila pada Amir Ambyah, lalu pergi mencarinya. Ia pergi ke Negara Yujana, menyerahkan diri pada raja Medayin. Kepada semua orang ia mewartakan sebagai calon istri Raja Nusirwan. Taktik ini ia tempuhuntuk menarik perhatian Amir Ambyah yang ia yakini akan jatuh cinta kepadanya begitu melihat kecantikan. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, karena Amir Ambyah bahkan menganggapnya sebagai ibu calon mertua.

Adaninggar seorang prajurit terpilih bersenjata lengkap, panah, talikentular (semacam selendang sakti), ia juga dapat menghilang. Begitu besar keinginannya untuk menjadi istri Amir Ambyah, sehingga pada suatu malam dengan kesaktiannya ia berhasil menculik Amir Ambyah dan membawanya ke dalam sebuah goa di sebuah pegunungan. Dengan terus terang ia menyatakan cintanya pada Amir Ambyah, namun Amir Ambyah tak menanggapinya, karena tetap menganggap Adaninggar sebagai ibu calon mertua.

Adaninggar tak dapat menahan gejolak hati dan kemarahannya menghadapi sikap Amir Ambyah. Begitu gemasnya, Amir Ambyah, orang yang sangat dicintainya dan telah diikat tak berdaya itu disiksanya dengan cambukan-cambukan. Namun Amir Ambyah tetap pada pendiriannya, memanggil “ibu” kepada Adaninggar dan tetap menyembahnya layaknya seorang menantu.

Kuswendar, raja negara Yujana, ketika mendengar Amir Ambyah hilang, segera menyiagakan pasukan, menyerang pasukan Kuparman. Dalam penyerangan tersebut, Rustamaji tewas. Untunglah Umarmaya berhasil menemukan dan membebaskan amir Ambyah dari dalam goa, lalu maju perang bersama. Pasukan Yujana dapat dikalahkan, dan reaja Kusnendar menyatakan takluk pada Amir Ambyah. Sedangkan raja Nusirwan lari mengungsi ke negara Kaelani.

Adaninggar tetap berusaha mengambil hati Amir Ambyah. Ia mengadukan nasibnya dan meminta perlindungan kepada istri-istri Amir Ambyah, terutama pada Sudarawreti dan Rabingu. Kedua putri tersebut bersedia melindungi Adaninggar karena memaklumi rasa hatinya, karena mereka pernah pula mengalami nasib yang sama. Ketika Amir Ambyah menyerang negara Kaelani dan di tengah jalan diserang raksasa dari Jabalkap, raksasa-raksasa itu dibinasakan oleh Adaninggar.

Menghadapi serangan pasukan Amir Ambyah, pasukan Kaelani disiagakan dibawah pimpinan Kelaswara putri raja Kelanjali. Kelaswara merupakan seorang prajurit wanita yang tangguh, kuat dan dapat mengangkat kedua ekor gajah dengan kedua tangannya. Oleh karena itu ia tersohor sebagai prajurit wanita tanpa tanding. Terjadilah pertempuran yang seru antara Amir Ambyah melawan Kelaswara. Amir ambyah tertangkap dan dibawa ke istana Kaelani. Namun di dalam istana, oleh Umarmaya ia dikawinkan dengan Kelaswara. Kejadian ini menimbulkan kemarahan raja Kelanjali. Ia langsung menyerang Amir Ambyah, tapi kalah dan akhirnya tunduk di bawah pimpinan Amir Ambyah.

Para istri Amir Ambyah tidak senag hatinya mendengar berita perkawinan Amir Ambyah dengan Kelaswara. Pada waktu malam hari, Adaninggar masuk ke dalam istana Kaelani. Ia melihat Kelaswara sedang tidur, lalu ditariknya keluar. Terjadilah perkelahian yang sengit antara dua prajurit wanita yang sama-sama sakti. Namun karena tak menduga akan kedatangan musuh, kelaswara agak repot juga menghadapi Adaninggar. Ketika semua senjatanya tak mempan terhadap tubuh Adaninggar, Kelaswara masuk ke dalam kamar pengantin, mengambil senjata Lusaka dan kembali menghadapi Adaninggar. Pusaka itu langsung dilemparkan Kelaswara, menembus dada kiri Adaninggar yang roboh dan mati seketika. Sudarawreti dan Rabingu hendak membela Adaninggar, tapi Kelaswara cepat meminta maaf dan menghiburnya. Jenazah Adaninggar kemudian dimakamkan di Negara Parangakik.

Mendengar kematian Adaninggar, raja Nusirwan bermaksud pergi ke Negara Cina untuk mengadukan peristiwa tersebut kepada raja Hongtete. Dengan menyamar sebagai saudagar, Nusirwan pergi ke Negara Cina. Namun nasib sial menimpanya. Sampai di Negara Mukub seluruh harta bendanya habis dirampas Bintibahram, raja Mukub.

Mengkhawatirkan keselamatan suaminya, permaisuri Negara Medayin meminta tolong Amir Ambyah untuk menyususl raja Nusirwan. Amir Ambyah berangkat ke Negara Cina. Sampai di Negara Mukub, Amir Ambyah menaklukan Bintibahram, kemudian diajaknya bersama-sama pergi ke Cina.

Setibanya di Negara Cina, raja Nusirwan menumpang pada janda penjual roti. Dengan cara menyamar, Amir Ambyah dan Bintibahram juga tinggal pada janda penjual roti itu juga. Sementara itu Hongtete juga telah mendengar kematian putrinya, Adaninggar di Negara Kaelani. Ia amat cedí dan setiap hari melakukan pemujaan pada dewa api. Amir Ambyah yang berhasil memasuki istana Hongtete, segera mengeluarkan Mukzizat, memadamkan api pemujaan Hongtete. Raja Hongtete akhirnya tunduk kepada Amir Ambyah.

16. Menak Malebari[sunting | sunting sumber]

Dari Negara Cina, Amir Ambyah mengirimkan surat lamaran e Negara Malebari untuk melamar Dewi Kusmaryati, putri raja Malebari untuk dinikahkan dengan Jayusman, putra Amir Ambyah dengan Dewi Sudarawreti. Lamaran diterima.Sudarawreti dan Jayusman berangkat dari Kaelani ke Malebari, sedangkan Amir Ambyah berangkat dari negara Cina.

Sementara itu, Kiswapangindrus, raja negara Sindhangbarang keturunan raksasa Jabalkab, juga calamar Kusmaryati. Namun ditolak. Ia kemudian meminta bantuan kepada Jablullawal, raja negara Dhayaksengari. Oleh Jablullawal, Kiswapangindrus disuruh bertapa labih dahulu sebelum berlawanan dengan Amir Ambyah.

Tersebutlah,Amir Ambyah telah tiba di Malebari, sedangkan raja Nusirwan langsung pulang ke Medayin. Sayid Ibnuumar, putra Maryunani (cucu Amir Ambyah) berangkat dari kaos menuju ke Malebari. Namun ia tersesat sampai di Negara Sindhangbarang dan ditangkap patih Bardas. Oleh patih Bardas, Sayid Ibnuumar dibawa ke puncak gunung dan dicta pada sebuah pohon. Amir Ambyah yang mendapat laporan hilangnya Sayid Ibnuumar segera mencari ke Sindhangbarang. Ia berhasil menemukan Sayid Ibnuumar dan membunuh patih Bardas. Setelah itu Amir Ambyah kembali ke Malebari untuk menikahkan Jayusman dengan Kusmaryati.

Di Negara Kaelani, Dewi Kelaswara melahirkan seorang putra laki-laki. Namun ajal menjemputnya. Ia meninggal dunia setelah putranya lahir. Oleh kakeknya, Raja Kelanjali, bayi tersebut dibuang ke laut, tetapi berhasil ditemukan oleh Ismayati dan dibawa ke Negara Ngajrak.Oleh Ismayati bayi tersebut diberi nama Imam Suwongso.

Mendengar nasib yang menimpa istri dan putranya, Amir Ambyah segera mengerahkan pasukan ke Negara Kaelani. Negara Kaelani berhasil ditundukkan, sedangkan Raja Kelanjali meninggal dunia karena cedí merasa berdosa telah melabuh cucunya ke laut. Begitu perang selesai, Amir Ambyah pergi ke Pulau Barzas untuk berziarah ke makam Nabi Adam.

Kepergian Amir Ambyah ini dimanfaatkan oleh raja Sindhangbarang dan raja Dhayaksengari untuk mengerahkan pasukan menyerang Malebari. Pertempuran pun berkobar dengan seru. Sementara itu Imam, putra Kelaswara yang diasuh Ismayati di Negara Ngajrak telah umbuh dewasa. Ia banyak memiliki kesaktian. Ketika mendengar di Malebari terjadi peperangan, ia minta ijin hendak mencoba kesaktiannya. Keberangkatannya ke Malebnari diiringkan oleh Dewi Kuraisin. Di Malebari, Imam bergabung dengan pasukan Dhayaksengari, sehingga ia berlawanan dengan pasukan Amir Ambyah.

Kesaktian Imam tak tertandingi oleh lawan-lawannya. Ia selalu menang dalam perkelahian. Akhirnya Amir Ambyah maju sendiri menghadapi Imam. Perkelahian pun berlangsung dengan seru. Ketika Imam berhasil ditangkap oleh Amir Ambyah dan akan dibanting, Dewi Kuraisin datang mencegahnya. Sambil bersujud di kaki Amir Ambyah, ayahnya ia menjelaskan bahwa Imam adalah putra Amir Ambyah sendiri dengan Dewi Kelaswara yang sejak bayi tinggal di Ngajrak. Mendengar penjelasan Kuraisin, Imam pun segera bersujud di kaki ayahnya meminta maaf. Amir Ambyah lalu memperkenalkan Imam kepada sanak saudaranya, dan menyerahkan negara Kaelani kepadanya

Peperangan diteruskan dan berakhir dengan tewasnya raja Kiswapangindrus dari Sindhangbarang dan raja Jablullawal dari Dhayaksengari. Dengan tewasnya raja mereka, maka pasukan Sindhangbarang dan Dhayaksengari menyerah tunduk pada Amir Ambyah. Jayusman kemudian dinobatkan menjadi raja di Malebari dan bergelarSultan Agung Jayusman Samsumurijal. Kelak ia berputra seorang laki-laki yang diberi nama Sayidiman. Seusai penobatan Jayusman, Amir Ambyah dan raja Bawadiman, ayah Kusmaryati, pergi ke pulau Barzah di wilayah Malebari untuk hidup sebagai pendeta. Namun beberapa waktu kemudian, amir Ambyah meninggalkan pulau Barzah kembali ke Kuparman dengan segenap pasukannya.

Mengetahui Amir Ambyah dan pasukannya tidak berada di Mekah, Kuwarihusman, raja negara polad, mengepung Meca. Namun mengalami kekalahan dan tunduk pada pasukan Amir Anjilin, adik Amir Ambyah. Negara Malebari juga dikepung pasukan dari negara Kubarsi. Sultan Jayusman segera mengirimkan utusan ke Kuparman untuk memberitahu Amir Ambyah. Amir Ambyah segera mengutus Semangun dan Hirman-keduanya putra raja Nusirwan, untuk memimpin pasukan membantu ke Malebari, disertai oleh Patih Bestak. Tetapi sesampainya di malebari , Bestak berhasil membujuk Hirman dan Semangun untuk berbalik melawan Amir Ambyah, dan memihak pada pasukan Kubarsi menyerang Malebari. Kadarwati, adik raja Kubari, memimpin prajurit wanita maju ke medan perang. Ia dihadapi oleh Sudarawreti dan Rabingu. Kadarwati dapat ditangkap, ia menyerah dan kemudian dikawinkan dengan Kelan.

Sementara itu, Amir Anjilin setelah dapat mengalahkan pasukan dari Negara Polad, segera mengerahkan pasukan menuju ke Malebari. Karena tujuannya ingin mencoba kesaktian Amir Ambyah, maka sampai di Malebari, Amir Anjilin langsung menyerang pasukan Kuparman. Amir Ambyah tampil menghadapi Amir Anjilin, dan pertempuran pun terjadi. Tapi lama-lama Amir Anjilin memberitahu kepada Amir Ambyah, bahwa ia sesungguhnya putra dari Mekah. Mereka akhirnya berdamai, dan peperangan di hentikan.

Di Kubarsi, Maliyatkustur, raja Kubarsi mendapat kesanggupan bantuan dari Rukyatilpolad, raja negara Talsiah. Raja Nusirwan juga telah berada di Kubarsi karena bujukan patih Bestak. Dengan bantuan dari Negara Talsiah, pasukan Kubarsi kembali terlibat pertempuran dengan pasukan Malebari. Dalam pertempuran tersebut, Wrahatkustur, raja muda Kubarsi dapat ditangkap oleh Kelan.

Pertempuran juga terjadi di Negara Karsinah. Negara tersbut dikepung pasukan Nusaprenggi dan Prenjut. Amir Ambyah segera mengirim pasukan bantuan dibawah pimpinan Ruslan. Pasukan Nusaprenggi dan Prenjuk dapat dipukul mundur, dan melarikan diri ke negara Dermis. Johariningsiyah, saudara perempuan raja Nusaprenggi yang berhasil ditahan pasukan Kuparman, kemudian diambil istri oleh Ruslan. Kemudian Ruslan diangkat sebagai raja muda di Karsinah, dan bergelar Ruslan Danurussamsi.

Perang pun berlangsung kembali di Malebari. Namun dapat diatasi oleh Ruslan dan Jayusman. Mereka berhasil mengalahkan pasukan Kubarsi dan menangkap raja Maliyatkustur.

Sementara itu di negara Burudangin, raja Tasangsulngalam menyelenggarakan sayembara untuk memperebutkan dua putri sekaligus. Yaitu Dewi Isnaningsih, adik raja dan Dewi Jetunkamarrukmi, putri raja sendiri. Mendengar sayembara itu, Sayid Ibnuumar, raja Kaos (cucu Amir Ambyah) pergi ke Burudangin. Diikuti kemudian oleh Amir Ambyah dan Umarmaya.

Tiba di Burudangin, Ibnuumar bertemu dengan Jetunkamarrukmi dan terjadilah peperangan. Jetunkamarrukmi kalah. Ibnuumar dipersilahkan masuk ke kraton Burudangin, dinikahkan dengan Jetunkamarrukmi. Tak antara lama, Amir Ambyah dan Umarmaya tiba di Burudangin. Terjadilah pertempuran dengan raja Tusangulngalam. Pertempuran tersebut dimenangkan Amir Ambyah. Tusangulngalam kemudian menyerahkan Dewi Isnaningsih kepada Amir Ambyah.

Di Malebari perang masih terus berlangsung. Dalam perang yang berkepanjangan itu, pasukan Kuparman dapat dikalahkan pasukan negara Talsiyah. Untunglah pada saat kritis, Amir Ambyah datang dari Burudangin. Ia berhasil menangkap Rukyatilpolad, raja Talsiyah dan dijebloskan kedalam penjara. Sedangkan pasukan Talsiyah dipukul mundur. Mengetahui kekalahan pasukan Talsiyah, raja Nusirwan melarikan diri, mengungsi ke negara Talkanda.

Umarmaya yang sangat membenci Rukyatilpolad, masuk ke dalam penjara dan membunuh raja Talsiyah tersebut. Tindakan ini membuat Amir Ambyah marah. Umarmaya dipukuli dan diusir. Umarmaya pergi dengan janji akan membalas dendam perlakuan Amir Ambyah. Suatu saat ketika Amir Ambyah sedang tidur, disumpitnya dengan sumpit berbisa hingga pingsan, kemudian dipukuli. Setelah Amir Ambyah sadar ia segera menangkap Umarmaya. Ketika hendak dibanting datang Seh Wahas dan Seh Bawadiman mengingatkan Amir Ambyah. Akhirnya Amir Ambyah dan Umarmaya kembali berbaik hati.

Beberapa waktu kemudian Amir Ambyah menikahkan Rustamaji, putranya dengan Dewi Marpinjun, dengan Kadamingsih, putri raja pendeta di Medhangpupus. Amir Ambyah juga menikahkan Hasimhuwari, putranya dengan Retna Kusbandi, dengan Umiswanjari, putri raja Syahsiar. Kedua pasangan pengantin itu kemudian diboyong ke negara Kuparman.

Raja Nusirwan pun telah tiba di negara Purwakanda. Raja Purwakanda kemudian mengutus Marikangen, seorang raseksi pergi ke Kuparman untuk menggoda Rustamaji. Marikangen beralih rupa menjadi wanita cantik, dan berhasil diperistri Rustamaji. Dari perkawinan ini lahirlah putra lelaki yang diberi nama Kalalmak. Sedangkan dengan Dewi Kadamingsih, Rustamaji juga telah dikaruniai seorang putra yang diberi nama Atasaji.

17. Menak Purwakanda[sunting | sunting sumber]

Raja Purwakanda mengutus patih jedi menantang ke Kuparman. Di Kuparman, patih Jedi melihat kitab Adam Makna dan menurunya, sehingga ia mengetahui riwayat Amir Ambyah. Hal itu ia laporkan kepada rajanya, membuat raja Purwakanda marah kepada patih Bestak yang telah mempermainkannya. Patih Bestak ditangkap dan dipenjarakan. Amir Ambyah yang menerima tantangan, segera mengerahkan pasukan untuk menyerang purwakanda. Pertempuran seru terjadi. Prajurit dan Raja Purwakanda kalah dan tunduk pada Amir Ambyah.

Seusai peperangan, Amir Ambyah dibawa malaekat ke dalam goa di gunung Munada. Di tempat tersebut ia dipertemukan dengan Seh Waridin. Setelah mereka berbincang-bincang, Seh Waridin moksa (lenyap dengan badab wadaqnya). Sepeninggal Seh Waridin muncul Umarmaya di goa Munada menyusul Amir Ambyah Sementara itu di negara Kuparman, Markangen merajuk dan memohon kepada suaminya, raja Rustamaji, agar Kadamingsih da putranya, Atasaji disingkirkan ke hutan. Permohonan ini dipenuhi oleh Rustamaji yang sudah terperangkap mantra sakti Marikangen. Sepeninggal Atasaji dan ibunya, tindakan kejam dan sewenang-wenang Kalalmak semakin menjadi-jadi. Akibatnya banyak anak buahnya yang lari ke hutan dan berlindung pada Atasaji.

Suatu hari ketika Kalalmak berburu ke hutan, ia diserang oleh anak buah Atasaji. Kalalmak kalah, dan lari memohon bantuan ibunya. Marikangen segera mengerahkan pasukan menyerang Atasaji. Dalam pertempran tersebut, Atasaji kalah dan terdesak sampai di negara Parangakik. Sudarawreti mengetahui cucunya dalam kesulitan egera memberi bantuan. Akhirnya Kalalmak dan Marikangen tewas dalam pertempuran, dan berubah kembali ke wujud semula sebagai raksasa.

Sementara itu Kadarwati yang mendapat tugas mencari Amir Ambyah, di perjalanan bertemu dengan pasukan Gumiwang, bawahan raja Purwakanda. Pertempuran tak bisa dihindarkan. Raja Gumiwang tewas dalam pertempuran, sedangkan putrinya, Dewi Rukanti menjadi tawanan pasukan Kuparman. Kadarwati akhirnya berhasil bertemu dengan Amir Ambyah. Amir Ambyah kemudian memerintahkan Dewi Rukanti dikawinkan dengan Semakun, adik Muninggar (berarti adik ipar Amir Ambyah ). Seusai perkawinan, mereka semua kembali ke Kuparman. Di Kuparman, Dewi Isnaningsih, istri Amir Ambyah telah berputra laki-laki dan diberi nama Hasimkatamsi. Demikian pula Jetumkamarrukmi, istri Sayid Ibnuumar juga telah berputra laki-laki diberi nama Arismunandar.

Perang pun kembali pecah di Purwakanda karena raja Purwakanda mendapat bantuan dari raja Kasrukum dari negara Kosarsah. Pasukan gabungan itu segera menyerang pasukan kuparman, hingga pasukan Kuparman terdesak. Malapetaka juga menimpa Amir Ambyah. Ia terkena ilmu raja Kasrukum hingga matanza menjadi buta. Namun berkat pertolongan pendeta Seh Kakimmaridin, mata Amir Ambyah dapat disembuhkan.

Kini Hasimkatamsi dan Arismunandar maju ke medan perang. Mereka dapat menangkap patih Jedi, takluk, lalu diserahkan kepada Amir Ambyah. Raja Kasrukun kemudian minta bantuan raja Kulhibadir, dari negara Betarti. Perangpun berkecamuk kembali. Namun akhirnya pasukan Kuparman Berhasil mengalahkan pasukan lawan. Raja Purwakanda, raja Kosarsah dan raja Betarti tewas dalam pertempuran. Sedangkan raja Nusirwan dan segenap pasukannya lari minta bantuan ke negara Ngambar Kustub.

18. Menak Kustub[sunting | sunting sumber]

Sebelum kembali ke Kuparman, Amir Ambyah mengangkat Pirngadi, putra raja Lamdahur menjadi raja di Purwakanda. Sedangkan Semakun dirajakan di negara Gumiwang. Amir Ambyah juga menugaskan Semakun untuk menyusul raja Nusirwan ke ngambar Kustub. Namun Batiakbar, raja Ngambar Kustub mempertahankan Nusirwan untuk tetap berada di negaranya. Terjadilah peperangan. Prajurit Ngambar Kustub yang terdesak, masuk dan bertahan di dalam kota.

Amir Ambyah menyuruh Kadarwati dengan pasukannya menyusul ke Ngambar Kustub. Kedatangan Kadarwati dan pasukannya disambut oleh pasukan wanita Ngambar Kustub dibawah pimpinan Dewi Ngumyumhadikin, adik raja Bariakbar. Akhir peperangan, Dewi Ngumyumhadikin dan pasukannya tunduk pada pasukan Kadarwati. Raja Bariakbar dan raja Nusirwan berhasil lolos, lari minta perlindungan ke negara Tasmiten.

Tak berapa lama kemudian, Amir Ambyah menyusul ke Ngambar Kustub. Ia segera menikahkan Hasim Katamsi dengan Dewi Ngumyumhadikin. Kemudian menyerang negara Tasmiten dan berhasil mengalahkan pasukan Tasmiten. Raja Johan Pirmar mengaku tunduk pada Amir Ambyah. Dewi Permani, putri raja Johanpirman kemudian dinikahkan dengan Arismunandar. Raja nusirwan berhasil meloloskan diri ke negara Pirkaras, meminta perlindugan raja Banukarjis. Namun selalu diikuti pasukan Kuparman dibawah pimpinan raja Kuskekel. Sementara itu patih Bestak mengirim utusanuntuk meminta bantuan Salsal, raja negara Kalakodrat. Umarmaya yang merasa jengkel terhadap kelakuan Bestak yang tak jera-jeranya mengupayakan kematian Amir Ambyah, segera ke Medayin menyamar sebagai tukang masak. Patih Bestak disembelih lalu dimasak dan dipersembahkan kepada raja Nusirwan yang menikmati dengan lezat. Setelah Nusirwan mengetahui yang dimakan adalah daging patih Bestak, ia lalu sakit dan akhirnya meninggal. Umarmaya kemudian meninggalkan negara Medayin.

19 Menak Kalakodrat[sunting | sunting sumber]

Hirman, putra Nusirwan dinobatkan oleh amir Ambyah menjadi raja Medayin dan Bahtiar, anak Bestak dijadikan patih. Sementara Hurmus, adik himan dijadikan raja di negara Ngawuawu. Tak jauh berbeda dengan tabiat orang tuanya, Patih Bestak, bahtiar berhasil membujuk Hirman untuk berbalik haluan melawan Amir Ambyah. Pasukan Medayin bersama dengan pasukan Kalakodrat kemudian mengepung Mekah. Amir Ambyah segera mengerahkan pasukan ke Mekah, dan pertempuran pun pecah. Pasukan Kalakodrat kalah, mereka melarikan diri kembali ke negaranya. Raja Hirman pun ikut lari ke negara Kalakodrat. Raja Salsal yang merasa ditipu oleh Bahtiar, segera menangkap patih Medayin itu dan dijebloskan ke penjara. Raja Hirman yang tidak tahan tinggal di Kalakodrat, akhirnya meninggalkan negara tersebut dan menyerahkan diri kepada Amir Ambyah. Amir Ambyah kemudian mengerahkan pasukan menyerang Kalakodrat. Raja Salsal kalah, lalu tunduk pada Amir Ambyah.

20 Menak Sorangan[sunting | sunting sumber]

Hunukmarjaban, panglima Kalakodrat tidak mau tunduk kepada Amir Ambyah. Ia bersama Bahtiar lari minta bantuan ke negara Sorangan. Pasukan Kuparman terus mengejar ke sorangan. Rustamaji, putra Amir Ambyah dengan Dewi Marpinjun yang maju perang melawan Gajimandalikahuktur, raja Sorangan akhirnya gugur dalam pertempuran. Jenasahnya di makamkan di Kuparman. Atasaji kemudian menggantikan ayahandanya menjadi raja.

Sementara itu Sayid Ibnu umar yang sedang berburu di hutan bertemu dengan Raja Marjaban dan Bahtiar. Ibnuumar terperangkap, lalu ditangkap diikat dan kemudian diserahkan kepada raja Gulangge di negara Rokan. Raja Ibnuumar akhirnya mendapat penghormatan, sedangkan Bahtiar ditangkap dan dipenjarakan.

Mengetahui raja Ibnuumar berada di Rokan, prajurit Kuparman dipimpin Pangeran Kelan dan raja Burudangin menyusul ke negara Rokam. Raja Gulangge ingin mencoba kesaktian Amir Ambyah. Amir Ambyah pun segera pergi ke Rokam setelah lebih dulu menundukkan negara Sorangan dan membunuh raja Gajimandalikahuktur. Amir Ambyah segera berperang melawan raja Gulangge. Raja Gulangge kalah dan menyatakan tunduk pada Amir Ambyah. Bakhtiar yang berhasil keluar dari penjara, bersama anak raja Marjaban melarikan diri ke negara Jaminambar.

21 Menak Jamintron[sunting | sunting sumber]

Tersebutlah di negara Jamintoran, Dewi Julusulasikin putri raja Sadarngalam tenderita sakit. Raja mendapat wangsit, bahwa putrinya dapat sembuh bila mandi di telaga Iskandar di taman Jaminarab. Dengan disertai pasukan pengawal, Julusulasikin pergi ke negara Jaminarab.

Sementara itu Pangeran Kelan yang sedang berburu tersesat sampai di Jaminarab dan bertemu dengan Julusulasikin. Kelan kemudian diajak pulang ke Jamintoran, yang atas kehendak raja Sudarngalam dipertunangkan dengan Julusulasikin. Belum lama Kelan berada di Jamintoran, Raja Kaharngalam dari negara Rulmuluk, bawahan Jamintoran membangkang. Kelan lalu pergi ke Rulmuluk. Terjadilah peperangan. Raja Kaharngalam kalah, lalu tunduk.

22 Menak Jaminambar[sunting | sunting sumber]

Amir Ambyah mengutus Umarmaya untuk mencari Pangeran Kelan. Perjalanan Umarmaya sampai di negara Jaminambar dengan raja bernama Rabussamawati. Raja Jaminambar ini mengaku sama dengan Tuhan, Sedangkan raja-raja bawahannya sebagai malaekat. Umarmaya tinggal sebentar di negara tersebut lalu melanjutkan perjalanan ke Jamintoran, bertemu raja Sidarngalam dan Pangeran Kelan.

Umarmaya kemudian kembali ke Rokam dan memberitahukan kepada Amir Ambyah mengenai keadaan di negara Jaminambar. Amir Ambyah segera mengerahkan pasukan untuk menyerang Jaminambar. Rabussawati juga telah mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serangan lawan. Pertempuran pun berkobar dengan Hebat. Dengan bantuan pasukan Jamintoran, pasukan Kuparman berhasil mengalahkan pasukan Jaminambar. Raja Rabussawati tewas dalam peperangan.

Setelah Jaminambar tunduk, Amir Ambyah lalu datang ke Jamintoran, menikahkan Pangeran Kelan dengan Dewi Jurusulasikin.

23 Menak Talsamat[sunting | sunting sumber]

Amir Ambyah kedatangan pendeta dari Ngajam yang baru saja mengembara dari tanah Arab. Pendeta itu menceritakan kelahiran Nabi Muhammad, dan bahwa syariat Nabi Ibrahim diganti dengan syariat Nabi Muhammad. Amir Ambyah amat tertarik hatinya hendak bersujud pada Nabi Muhammad, tetapi ia hendak menetapi kewajibannya dulu sebagai prajurit Allah menumpas pendurhaka dunia.

Amir Ambyah lalu menyerang negara Mukabumi, Pildandani dan Talsamat. Negara-negara tersebut berhasil itundukkan, namun prajurit Amir Ambyah banyak yang gugur dalam peperangan. Menurut raja Gulangge, telah tidak ada lagi negara yang pantas diserang. Maka Amir Ambyah lalu pulang ke Medinah, hendak menjadi sahabat Nabi Muhammad. Prajurit yang masih hidup, diperintahkan turut serta.

24 Menak Lakat[sunting | sunting sumber]

Kedatangan Amir Ambyah di Medinah disambut dengan penghormatan oleh Nabi Muhammad. Amir Ambyah dan para pengiring lalu berganti syariat. Baru beberapa waktu Amir Ambyah berada di Medinah, raja Hirman dari Medayin mengerahkan pasukan mengepung Medinah hendak membinasakan Nabi Muhammad. Amir Ambyah kembali maju perang dan menghancurkan pasukan Medayin. Raja Hirman lari minta bantuan ke negara Lakat. Raja Lakat kemudian mengirikan pasukan untuk mengepung Medinah. Terjadilah pertempuran antara pasukan Lakat melawan pasukan Arab.

Pada saat perang berkecamuk, Raja Jenggi dan pasukannya datang membantu pasukan Lakat. Dalam pertempuran tersebut Amir Ambyah gugur karena siasat raja Jenggi. Nabi Muhammad berhasil lolos, kemudian bersembunyi di dalam goa, sementara pasukan Arab bercerai berai.

Pada wakti itu Baginda Ngali, panglima pasukan Arab sedang sakit. Begitu mendengar bahwa pamanda Amir Ambyah gugur di medan perang dan Nabi Muhammad lolos, seketika sembuh dari sakitnya, lalu maju berperang. Ia berhasil menangkap raja Lakat dan menundukkan pasukannya. Sedangkan raja Jenggi melarikan diri.

Sementara itu Dewi Kuraisin, putri Amir Ambyah dengan Dewi Ismayawati dari Ngajrak, menyusul ke Medinah langsung menghadap Fátimah, istri Nabi Muhammad. Setelah diberitahu bahwa Amir Ambyah dan Nabi Muhammad telah lama maju perang, ia segera menyusulnya. Setelah bertemu Nabi Muhammad dan diberitahu kalau ayahandanya, AMir Ambyah telah augur di medan perang ketika melawan raja Jenggi, Kuraisin jatuh pingsan. Setelah sadar, Kuraisin minta ijin untuk melawan raja Jenggi.

Dalam suatu pertempuran, Kuraisin berhasil mengalahkan raja Jenggi, mengikatnya dan menyerahkan kepada Nabi Muhammad. Raja Lakat dan raja Jenggi tidak dihukum mati. Mereka berdua hanya dicukur rambutnya da diharapkan bersedia berbakti kepada Allah Subhanahu Wa Taalla. Selang beberapa waktu kemudian, raja Hirman pun tunduk pada Nabi muhammad. Atas kehendak Nabi Muhammad, dewi Kuraisin dinikahkan dengan Baginda Ngali. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra laki-laki diberi nama Muhammad Kanapiyah, yang setelah dewasa menjadi raja di Ngajrak.(AP22042018)