Wangsa Banjarmasin
| Wangsa Banjarmasin وڠسا بنجرماسين | |
|---|---|
| Negara | |
| Pendiri | Lambung Mangkurat |
| Kepala saat ini | Khairul Saleh |
| Penguasa terakhir | Muhammad Seman (sultan berdaulat) |
| Gelar | |
| Tradisi | Islam Sunni |
| Turun takhta | 24 Januari 1905 |
Wangsa Banjarmasin (Jawi: وڠسا بنجرماسين) adalah keluarga bangsawan Banjar yang memerintah Negara Dipa, Negara Daha, dan Kesultanan Banjar. Selain itu, wangsa ini juga membentuk pemerintahan di kerajaan-kerajaan lain di Kalimantan dan menjalin hubungan pernikahan dengan kerajaan lain di luar Kalimantan. Wangsa ini telah menjadi simbol Banjar selama berabad-abad, dan diakui sebagai penguasa adat tradisional Kalimantan Selatan.
Sejarah awal
[sunting | sunting sumber]Negara Dipa
[sunting | sunting sumber]Menurut Hikayat Banjar sendiri, Ampu Jatmaka, Raja pertama Dipa merupakan saudagar kaya asal Kaling (di Koromandel) yang memiliki pengikut terdiri dari orang-orang Keling (Kalingga-patnam) dan Gujarat. Lambung Mangkurat, anaknya mempersiapkan sebuah perkawinan politik dengan Majapahit. Pendapat ini dikemukakan oleh Veerbek 1889:10 dan Munoz 2009:401-435.[1]
Ia merupakan anak seorang saudagar bernama Mangkubumi atau disebut Saudagar Jantam. Berdasarkan saran ayahnya, Ampu Jatmaka melakukan perjalanan untuk mencari mencari negeri yang tanahnya suam dan berbau wangi.[2] Disebutkan Keling berjarak dua bulan perjalanan laut menuju pulau Hujung Tanah (Kalimantan).[3]
Beberapa sejarawan berpendapat Ampu Jatmaka juga merupakan pengungsi dari Kediri akibat kondisi yang tidak mengenakan di Kediri pasca Pertempuran Genter abad ke-13 (1222 M).[4] Ada sejarawan yang meyakini pula perjalanan ekspedisinya ke Kalimantan merupakan kebijakan ekspansionis Hayam Wuruk yang pada tahun 1355 (ekspedisi ketiga) menyerang kerajaan Dayak Ma'anyan Nan Sarunai yang bercorak kaharingan, beberapa peninggalan pertempuran bisa ditemukan seperti pertempuran pertama terjadi tahun April 1358,[5] pertempuran kedua terjadi Desember 1362.[6] Serangan-serangan ini yang diingat dengan nama Nansarunai Usak Jawa oleh suku Dayak Ma'anyan mengakibatkan runtuhnya kerajaan Nan Sarunai.[7]
Lambung Mangkurat
[sunting | sunting sumber]Dikatakan bahwa Ampu Jatmika memiliki dua orang anak bernama Ampu Mandastana (atau Empu Mandastani) dan Lambung Mangkurat, yang dipercaya merupakan tokoh Dayak Ma'anyan bernama Dambung Mangkurap.[8] Setelah kematian Ampu Jatmika, Lambung Mangkurat menjadi raja, dan memimpin perluasan Dipa ke daerah-daerah di sekitarnya.[9][10]
Kerajaan Negara Dipa saat itu memiliki daerah-daerah bawahan yang disebut wilayah Sakai, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Mantri Sakai. Sebuah pemerintahan Sakai kira-kira sama dengan pemerintahan lalawangan (distrik) pada masa Kesultanan Banjar. Keberadaan wilayah Sakai (desa adat) yang sudah ditaklukan oleh Lambung Mangkurat meliputi wilayah dari Tanjung Puting sampai Tanjung Silat, diceritakan dalam Hikayat Banjar, (Rass:314) sebagai berikut:
Maka orang piadak ampat puluh hari ampat puluh malam, makan dan minum. Sagala Sakai sama datang: orang batang Tabalong, orang batang Barito, orang Batang Alai, orang batang Hamandit, orang batang Balangan dan batang Pitap, orang batang Biaju Kecil, orang batang Biaju Besar dan orang Sabangau, orang Mandawai sarta orang Katingan, orang Sampit sarta orang takluknya, orang Pambuang sarta orang takluknya, sakaliannya itu datang dangan parsambahannya. Sukaramailah piadak itu, ada barwayang di Dalam, di Pagongan orang barwayang wong, di Paseban orang manopeng, di Sitilohor orang marakit.[11]
Junjung Buih dan penguasa setelahnya
[sunting | sunting sumber]Puteri Junjung Buih, Maharani Negara Dipa dipercaya sebagai manifestasi Jata atau Tambun, penguasa alam bawah yang dideskripsikan sebagai naga maha raksasa penyangga bumi. Pernikahan Pangeran Suryanata yang melambangkan Pengeran Matahari dengan Putri Junjung Buih memiliki dasar di kepercayaan lokal kaharingan akan persatuan langit dan air.[9] Di ceritakan Puteri Junjung Buih merupakan anak dari Ngabehi Hileer[12] dan menjadi saudara angkat Patih Lambung Mangkurat yang dipertemukan ketika melakukan kegiatan balampah (bertapa) sebagai wanita dewasa dari dalam kumpulan buih di sungai. Berdasarkan penelitian Johannes Jacobus Ras, dia merupakan putri dari Ngabehi Hileer dan dipercayai memiliki keturunan Dayak.[11]
Raja kemudian menikahkan Junjung Buih dengan Pangeran Suryanata dari Majapahit. Hikayat Banjar menampilkan dua versi silsilah Raja-raja banjar. Hikayat Banjar resensi II menyebutkan salah seorang anak Putri junjung Buih yaitu Pangeran Aria Dewangga menikah dengan Putri Kabuwaringin, puteri dari Lambung Mangkurat (unsur pendiri negeri). Kemudian, mereka berdua yang menurunkan raja-raja dari Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Negara Daha hingga Kesultanan Banjar dan Kepangeranan Kotawaringin.[13][14][15]
Negara Daha
[sunting | sunting sumber]Menurut versi Cerita Turunan Raja-raja Banjar dan Kotawaringin alias Hikayat Banjar resensi I, Raden Sekar Sungsang, Raja pertama Daha, adalah putra dari Raden Carang Lalean (cucu Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih), sedangkan ibunya Putri Kalungsu (anak Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih). Putera-putera Raden Sakar Sungsang menurut Hikayat Banjar resensi I adalah Raden Sukarama dan Raden Bangawan. Putera tertua, Raden Sukarama menggantikannya sebagai raja dengan gelar Maharaja Sukarama. Sedangkan menurut Hikayat Banjar resensi II, Raden Sakar Sungsang memiliki dua putera yaitu Ratu Anom dan Pangeran Singa Gurda dan ia masih memiliki seorang puteri lagi bernama Ratu Lamak. Ratu Anom menggantikan Raden Sekar Sungsang sebagai raja, tetapi jabatan raja tersebut terlebih dahulu dijabat oleh kakak perempuannya yaitu Ratu Lamak.
Dari sumber Hikayat Banjar resensi I menyebutkan bahwa Maharaja Sukarama (alias Ratu Anom) mempunyai seorang puteri (sekar kedhaton) yaitu Raden Galuh Baranakan dan empat putera lainnya yaitu Pangeran Mangkubumi/Maharaja Mangkubumi (nama lahir Raden Paksa, putera tertua pengganti Sukarama), Pangeran Tumanggung (nama lahir Raden Panjang pengganti Pangeran Mangkubumi), Pangeran Bagalung (nama lahir Raden Bali, penguasa daerah Berangas) dan Pangeran Jayadewa (nama lahir Raden Mambang, putera yang hilang).[11] Pangeran Jayadewa tidak memiliki keturunan. Raden Galuh Baranakan menikah dengan Raden Mantri Alu bin Raden Bangawan melahirkan Suriansyah dari Banjar.
Pangeran Jayadewa, kemungkinan sama dengan Uria Gadung penguasa daerah Tanah Dusun yang berkedudukan di Jaar—Sanggarwasi versi suku Maanyan.[16]
Maharaja Sukarama, Raja Daha mempunyai empat orang istri dan empat orang putra dan satu orang putri. Mereka masing-masing adalah Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumenggung, Pangeran Bagalung, Pangeran Jayadewa, dan si bungsu perempuan bernama Putri Galuh Baranakan. Keempat istri raja tersebut rupanya tidak berdarah bangsawan, sehingga sang raja mengawinkan Putri Galuh Baranakan dengan putra saudaranya sendiri, Raden Bagawan, yang bernama Raden Mantri. Pasangan ini, Galuh dan Mantri kemudian melahirkan Raden Samudera. Karena berdarah murni, oleh Sukarama, Raden Samudera dianggap lebih berhak mewarisi takhta Daha daripada yang lainnya.[17] Meskipun anak-anaknya keberatan atas keputusan itu, tetapi Sukarama bersikukuh.
Setelah kematian Maharaja Sukarama, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, yang menginginkan ambisi tahta, berusaha menyingkirkan Pangeran Samudera. Hal ini kemudian memicu perang saudara yang membawa Kerajaan Negara Daha pada keruntuhannya.
Era Kesultanan
[sunting | sunting sumber]Pangeran Samudera berhasil memenangkan perebutan takhta dan mendirikan kerajaan dengan ibukota di Kuin pada tahun 1520, dia menyebut kerajaannya sebagai "Banjar". Pada tahun 1526, ia memeluk Islam dan memproklamirkan diri sebagai Sultan. Pemerintahannya diwariskan kepada putranya, Rahmatullah dari Banjar.[18][19][20][21]
Hidayatullah I dari Banjar, sebagaimana yang dicatat dari kronik Dinasti Ming, melakukan reformasi kesultanan dan memperkuat wilayah-wilayah bawahan. Mustain Billah dari Banjar naik takhta pada tahun 1595 dan memindahkan ibukota ke Martapura, meskipun ia merupakan anak tertua, tetapi ia terlahir dari seorang selir, sehingga ia diduga sebagai perampas kekuasaan. Meskipun begitu, pemerintahannya mampu menutupi hal tersebut dengan kekuatan militer dan pengembangan perdagangan lada, yang menjadi komoditas utama Banjar saat itu. Pemerintahannya berakhir dengan konfliknya terhadap VOC Belanda, yang berlanjut hingga pemerintahan putranya, Inayatullah dari Banjar. Pada masa Saidullah dari Banjar, VOC menyerah, dan setuju untuk melakukan rekonsiliasi. Namun sebelum hal itu tercapai, sang Sultan meninggal dunia.[22]
Perang Saudara
[sunting | sunting sumber]Kematian Saidullah mengejutkan bangsawan-bangsawan Banjar, sementara Raden Bagus, putra mahkota masih berusia sangat muda. Raden Halit, ditunjuk sebagai sultan dengan nama Rakyatullah dari Banjar, menunggu sang putra mahkota dewasa. Ia menandatangani perjanjian damai dengan VOC, dan menjadi dekat dengan mereka. Kedekatan ini memicu konflik di antara para bangsawan, dan sebagian di antara mereka memilih untuk mendukung Pangeran Dipati Anom II, yang tidak terlalu pro-VOC. Puncaknya adalah pada tahun 1663, setelah Rakyatullah didesak untuk mengundurkan diri dan Raden Bagus dilantik menjadi sultan dengan nama Tahlilullah dari Banjar, para bangsawan anti-VOC melantik Pangeran Dipati Anom II sebagai sultan dengan nama Sultan Agung dari Banjar.[11]
Pada masa ini, Wangsa Banjarmasin terbagi menjadi dua kubu: pendukung Rakyatullah dan Tahlilullah, serta pendukung Sultan Agung. Sultan Agung menyerang Banjarmasin, dan memaksa Tahlilullah menyingkir ke Batang Alai, tempat Tahlilullah membangun basisnya yang disebut sebagai Keraton Hulu, sementara Sultan Agung menyebut basisnya sebagai Keraton Hilir. Secara umum, Sultan Agung mendapat dukungan dari Kesultanan Mataram dan Gowa, sementara Tahlilullah mendapat dukungan dari Belanda.[23] Pada 1679, Tahlilullah menyerang Banjarmasin dan berhasil mengalahkan Sultan Agung, menjadikan dirinya sebagai penguasa tunggal Banjar.
Perpecahan dinasti
[sunting | sunting sumber]Setelah kematian Tahlilullah, pemerintahan Kesultanan Banjar relatif stabil di bawah Tahmidullah I dari Banjar dan adiknya, Panembahan Kusuma Dilaga. Kusuma Dilaga memerintah sebagai Wali Sultan, menunggu Pangeran Hamidullah berusia cukup umur untuk naik takhta. Namun, setelah kematian Hamidullah pada 1734, saudaranya, Tamjidillah I yang bertindak sebagai Wali Sultan mulai berambisi terhadap takhta, dan keluarga kesultanan kemudian terpecah.
Tutus Tuha
[sunting | sunting sumber]Wangsa keturunan Hamidullah dari Banjar disebut sebagai Wangsa "Tutus Tuha" (terj. har. 'Wangsa yang tua'), karena merupakan Wangsa penguasa yang kekuasannya berjalan secara linear dari garis keturunan Sultan Suriansyah.[24][25][26] Muhammad dari Banjar merebut takhta dari pamannya, Tamjidillah I dari Wangsa Tutus Anum, namun ia berakhir meninggal diracun setelah memerintah secara singkat. Putra Muhammad, Pangeran Amir, kemudian melancarkan pemberontakan yang gagal terhadap Tahmidullah II dari Banjar, putra Tamjidillah I dan pengganti Muhammad.[27][28]
Tutus Anum
[sunting | sunting sumber]Keturunan Sultan Tamjidillah I disebut sebagai Wangsa "Tutus Anum" (terj. har. 'Wangsa yang muda'), garis keturunan Kesultanan yang memerintah hari ini adalah keturunan Tutus Anum. Pada awal berdirinya, Tamjidillah I memperkuat takhtanya dengan mengawasi Pangeran Muhammad dan menjaganya untuk tetap disisinya, meskipun kemudian hal ini tidak berhasil dan Muhammad akan mengkudeta Tamjidillah I pada 1759. Setelah Muhammad meninggal dunia, Tamjidillah I mengupayakan untuk menghapus garis keturunan Tutus Tuha dari hak suksesi takhta, yang dikecam oleh keluarga kesultanan lainnya.[29] Sepupu Muhammad dan putra Tamjidillah I, Tahmidullah II dari Banjar memperkuat kekuasannya dengan menyingkirkan putra-putra Muhammad, yang kemudian menyebabkan pemberontakan oleh Pangeran Amir.[30] Setelah pemberontakan diatasi, Tahmidullah II mencari legitimasi dari VOC Belanda dengan Proclamatie (terj. har. 'proklamasi') tahun 1787 yang menegaskan bahwa Belanda "meminjamkan" takhta kepada keturunan Tahmidullah II. Meskipun begitu, Tahmidullah II kemudian berhasil membuat Belanda meninggalkan Banjar dan mengukuhkan kekuasanya di Banjar bukan sebagai "pinjaman."[30][31]
Penyatuan
[sunting | sunting sumber]Setelah perselisihan panjang antara Wangsa Tutus Anum dan Tutus Tuha, Tahmidullah II memutuskan untuk mengakhiri konflik ini dengan menikahi Putru Lawiyah, putri dari Sultan Muhammad. Dari pernikahan mereka lahirlah Sulaiman dari Banjar, yang kemudian diakui sebagai penguasa tunggal Banjar yang sah. Keturunan Wangsa Tutus Tuha kemudian akan membantu para Sultan Tutus Anum, dan akan menjadi anggota keluarga yang setia kepada Kesultanan, seperti, Pangeran Mas'ud, putra dari Pangeran Amir, serta cucu Amir Pangeran Antasari.[32][33]
Kemunduran kesultanan
[sunting | sunting sumber]Setelah kematian Sultan Sulaiman, Belanda kembali ke Banjar dan pengganti Sulaiman, Adam dari Banjar setuju untuk berada di bawah protektorat Belanda. Karena Putra Mahkota Abdur Rahman meninggal dunia secara mendadak, maka Sultan dihadapkan dengan dua pilihan yang berat: apakah harus memilih Pangeran Hidayat yang didukung oleh bangsawan, ataukah Pangeran Tamjid, yang didukung oleh Belanda.[34][35] Perselisihan ini tidak berakhir sampai kematian Sultan Adam pada 1857, dan Pangeran Tamjid, dengan dukungan Belanda, menduduki takhta dengan nama "Tamjidillah II". Hal ini memicu perang saudara, yang disebut sebagai Perang Banjar, dengan Pangeran Hidayat yang juga diangkat sebagai Sultan dengan nama "Hidayatullah II."[36] Tamjidillah II diasingkan pada tahun 1859, tetapi konflik tidak berakhir. Belanda yang tidak terima membubarkan Kesultanan pada 1860, dan menumpas sisa-sisa perlawanan dari pengganti Hidayatullah II, Pangeran Antasari.[37][38][39]
Pasca-Keruntuhan
[sunting | sunting sumber]Setelah kematian Pangeran Antasari pada 1862, Muhammad Seman membentuk Pemerintahan Pagustian di Murung Raya, yang kemudian memerangi Belanda sampai tahun 1905.[40] Setelah terbunuhnya Muhammad Seman, Wangsa Kesultanan yang tersisa di Banjarmasin menyerah kepada Belanda kemudian tunduk di bawah administrasi Belanda. Sementara yang lain memilih untuk berpencar ke seluruh Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, menyembunyikan diri dari kejaran Belanda.[41]
Restorasi Kesultanan 2010
[sunting | sunting sumber]Pada 2010, Pangeran Khairul Saleh, dari keturunan Gusti Abubakar, seorang keturunan Sultan Sulaiman yang melarikan diri ke Murung Raya. Sejak 25 November 2012, bersamaan dengan Milad Kesultanan Banjar ke-508, ia kemudian dilantik sebagai Sultan Banjar dengan gelar "Yang Mulia Sultan Haji Khairul Saleh al-Mu'tashim Billah".[42][43] Al-Mu'tashim Billah kemudian memimpin restorasi Kesultanan sejak 2010 hingga saat ini.[44]
Administrasi
[sunting | sunting sumber]Sultan Banjar
[sunting | sunting sumber]Mangkubumi
[sunting | sunting sumber]Berikut adalah anggota Wangsa yang menyandang gelar Pangeran Mangkubumi:
- Rakyatullah dari Banjar Pangeran Dipati Mangkubumi (Raden Halit), mangkubumi Banjar pada masa Sultan Saidullah dari Banjar Saidullah 1657-1660
- Pangeran Mas Dipati, mangkubumi Banjar tahun 1660-1663.
- Pangeran Mangkoe Boemi Tamjidullah 1734-1758 Sepuh dari Banjar
- Pangeran Nata Mangkoe Boemi 1761-1801 Sunan Nata Alam
- Pangeran Ismail Ratu Anum Mangku Dilaga Sukma Dilaga Ratoe Anom Mangkoe Boemi Ismail dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda,ditahan kemudian dibunuh oleh Sultan Sulaiman karena diduga akan melakukan kudeta.Jabatan mangkubumi kemudian dipegang oleh Pangeran Husein dengan gelar Pangeran Mangkubumi Nata putera Sultan Sulaiman sendiri
- Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin), mangkubumi Banjar 1823-1842
- Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Husin Pangeran Mangkubumi Nata .
- Pangeran Tamjidillah II dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda berdasarkan besluit per tanggal 13 November 1851 No. 2 untuk menggantikan Pangeran Noch Ratoe Anom Mangkoe Boemi Kentjana
- Hidayatullah II dari Banjar , dilantik oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk menggantikan Pangeran Tamjidillah II 1856 -`1860 sebagai pangeran Mangkubumi namun 1857 -September 1859 pecah Perang Gerilya berakhir September 1859 Dinobatkan Jadi Sultan Banjar. untuk Pemerintahan Mangkubumi Pangeran Wira Kasoema
- Wirakusuma II dari Banjar dilantik oleh oleh sultan Hidayatullah II dari Banjar memerintah:1859 -1862 (memerintah: 1857-1862)
- Pangeran Muhammad Said adalah mangkubumi Kesultanan Banjar (Pagustian) dan sekaligus seorang pejuang perang Banjar(memerintah: 1862-1875)
- Pangeran Perbatasari adalah mangkubumi Kesultanan Banjar (Pagustian) dan sekaligus seorang pejuang perang Banjar. (memerintah: 1875-1885)
Silsilah
[sunting | sunting sumber]| ♀ Sita Rara | ♂ Saudagar Mangkubumi (Saudagar Jantam) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Aria Malingkun | ♀ Sira Manguntur (Déwi Sekar Gading) | RAJA NEGARA DIPA ♂ Ampu Jatmaka[45] Maharaja di Candi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ Dayang Diparaja | PEMANGKU RAJA NEGARA DIPA ♂ Lambu Mangkurat (Patih Lamboeng Mangkoerat) (Ratu Kuripan)[46] | ♀ Puteri Bayam Beraja[47] | ♀ Putri Ratna Déwi[48] | ♂ Ampu Mandastana Patih Mandastana Lambu (Lambung) Djaja Wanagiri | ♂ Raja Majapahit | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Bangbang Patmaraga | ♂ Bangbang Sukmaraga | RAJA NEGARA DIPA ♂ Raden Putra Raden Suria-Nata Maharaja Suria-Nata (Pangeran Suria-Nata) (Raden Aria Gegombak Janggala Rajasa) | RAJA NEGARA DIPA ♀ Putri Junjung Buih Ratu Tunjung Buih (Putri Ratna Janggala Kadiri) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ Putri Huripan | RAJA NEGARA DIPA ♂ Maharaja Suria-Gangga-Wangsa | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ Putri Kalarang | ♂ Pangeran Suria-Wangsa | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| PEMANGKU RAJA NEGARA DIPA ♀ Putri Kalungsu (Putri Kabu Waringin) | RAJA NEGARA DIPA ♂ Maharaja Carang Laleyan (Arya Dewangsa) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| RAJA NEGARA DAHA ♂ Raden Sekar Sungsang Ki Mas Lelana Raden Sari Kaburungan Maharaja Sari Kaburungan (Pandji Agung Rama Nata) | ♀ Poetrie Ratna Minasih[49] | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Raden Bangawan | ♀ Nyai..... | ♀ Nyai..... | RAJA NEGARA DAHA ♂ Maharaja Sukarama (Pangeran Sukarama) | ♀ Nyai....... | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Raden Mantri Alu | ♀ Putri Galuh Baranakan | ♂ Pangeran Jayadewa Raden Mambang | RAJA NEGARA DAHA ♂ Pangeran Tumenggung Raden Panjang | RAJA NEGARA DAHA ♂ Maharaja Mangkubumi (Pangeran Mangkubumi) Raden Paksa | ADIPATI BERANGAS ♂ Pangeran Bagalung Raden Bali | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR I 1500-1546 ♂ Sultan Suryanullah (Sultan Suriansyah) | ♀ Ratu Sultan Suriansyah | ♂ Raden Bagawan | ♀ Dayang Sari Bulan (Putri Sari Bulan) | ♂ Raden Harja | ♀ Raden Lamarsari | ♂ Prabu Tunggul Ametung[50] | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Pangeran Anom Pangeran di Hangsana | SULTAN BANJAR II ♂ Sultan Rahmatillah | ♀ Ratu Sultan Rahmatillah | ♂ Pangeran di Laut | ♀ Putri..... | ♂RAJA DOMPU | RAJA SELEPARANG ♂ Demung Mumbul (Batara Mumbul) Prabu Turunan Prabu Purwawisesa | ♂ Pangeran Kaesari | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Raden Zakaria | ♂ Pangeran Demang | ♀ Nyai Ratu..... binti Tuan Khatib Banun | SULTAN BANJAR III ♂ Sultan Hidayatullah I[51] | ♀ Putri Nur Alam | SULTAN DOMPU II ♂ Sultan Jamaluddin | SULTAN DOMPU I ♂ Sultan Syamsuddin Ma Wa'a Tunggu | RAJA SELEPARANG ♂ Prabu Indra Jaya (Prabu Rangkesari) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Gusti Hajang binti Sultan Hidayatullah I | ♂ Pangeran Mancanagara (Raden Gulu 1) | ♂ Raden Aria Sami (Raden Warjo) | PERMAISURI BANJAR ♂ Ratu Agung binti Pangeran Demang | SULTAN BANJAR IV ♂ Sultan Mustain Billah Raden Senapati Pangeran Senapati (Gusti Kacil) | ♂ selir orang Jawa (ibunda Sultan Ri'ayatullah Pangeran Tapasena Raden Halit) | ♂ Raden Subamanggala Pangeran Mangkunagara | SULTAN GOWA ♂ Sultan ..... | ♂ Daeng .... | SULTAN BIMA m. 1620-1640 La Ka’i Sultan Abdul Kahir Mantau Wata Wadu | SULTAN DOMPU III ♂ Sultan Sirajuddin | RAJA SELEPARANG ♂ Prabu Panji Anom (Raden Mas Pakenak) | "Raja Taliwang" (♂ Dewa Lengit Ling Kertasari ?) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR V ♂ Sultan Inayatullah Pangeran Dipati Tuha | RAJA KOTAWARINGIN 1 MANGKUBUMI BANJAR ♂ Ratu Bagawan dari Kotawaringin | MANGKUBUMI BANJAR ♂ Panembahan di Darat | PANGERAN BANJAR ♂ Pangeran Dipati Antasari | PUTRI BANJAR ♀ Ratu Hayu Putri Busu | ♂Raden Timbakal Pangeran Dipati Martasari | ♀ Si Jawa | Putri Sumbawa | RAJA SELAPARANG (m. 1648-1660) ♂ Adipati Topati Dewa Maja Paruwa[52][53] | Putri Bali | RAJA TALLO VIII I Manginyarrang Daeng Makkio Karaeng Kanjilo "Sultan Abdul Jafar Muzaffar" Tumammalinga ri Timoro gelar anumerta "Tumenanga ri Tallo" Raja / Ma'gau Tallo ke-8 | SULTAN GOWA ♂ Sultan Hasanuddin | ♀ Ratu .... | ♀ I Pattimang Daeng Nissaking Karaeng Bontoje’ne (adik ipar Sultan Hasanuddin SULTAN GOWA) | SULTAN BIMA m. 1640-1682 I Ambela ♂ Sultan Abi'l Khair Sirajuddin Mantau Uma Jati[54] bin Sultan Abdul Kahir Mantau Wata Wadu b. 1629, wafat + 23-7-1682 | SULTAN DOMPU IV ♂ Sultan Ahmad Manuru Kilo | RAJA SELEPARANG ♂ Deneq Mas Pakel (Dewa Mraja Mas Pekel)[55] | ♂ Raden Mas Panji Tilar Negara | "Putri Taliwang" (♀ Lala Ayu Kencana Dewi) | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR VI ♂ Sultan Saidillah Pangeran Kasuma Alam | ♂ Raden Kasuma Taruna Pangeran Dipati Kasuma Mandura | ♀ Gusti Hacil | ♂ Pangeran Singamarta Raden Sutasoma | ♂ putri dari Adipati Topati Taliwang | ♂ Raden Pamekas Raden Sutarta | "Putri Taliwang" ♀ Mas Surabaya binti Raja Paruwa | PANGERAN BANJAR "Raja Banjar" ♂ Raden Subangsa Raden Marabut "Pangeran Taliwang" | "Putri Sumbawa" ♀ Mas Panghulu binti Raja Paruwa | RAJA SELEPARANG (m. 1660-1697) ♂ Raden Munda | DATU KAMUTAR SULTAN SUMBAWA (m. 1648-1668) ♂ Dewa Mas Pamayan Pemban Mas Aji Komala Maas Tjini[55][56][57][58][59] | ♂ I Nampa Daeng Niak (Nija') Karaeng Panaikang (janda Katjili Kalamata)[56][60] | ♂ Katjili Kalimata Kaitsjili Kalamatta (saudara Mandar Syah Sultan Ternate)[56] | RAJA TALLO X ♂ I Mappaijo Daeng Mannjauru Sultan Harun Al Rasyid Tumenanga ri Lampana(Taminar Lampana) (cucu Mantau Uma Jati Sirajudin Sultan Bima) | ♀ I Pangka Dampu Karaeng Bonto Matte'ne | SULTAN BIMA m. 1682-1687 Mapparabung Daeng Mattali' Karaeng Panaragang ♂ Sultan Nuruddin Abu Bakar Ali Syah Mawa'a Paju[61] b. 13-12-1651,wafat + 23-7-1687 | ♀ Daeng Mami Ruma Paduka Dompu | SULTAN DOMPU V ♂ Sultan Abdur Rasul I Manuru Dorongao | RAJA SELEPARANG ♂ Dewa Mas Kertajagat (Raden Dipati Prakosa) | ♂ Raden Untalan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR VII ♂ Sultan Amarullah Bagus Kasuma (Raden Bagus) Pangeran Suria Angsa dari Banjar | ♂ Raden Pajang Raden Suta Kasuma | ♀ Gusti Pandara | ♂ Pangeran Laya Kesuma | DATU TALIWANG "Raja Taliwang" Raden Mataram ♂ Mas Mataram (yang hilang di Tallo)[62] | SULTAN SUMBAWA III (1672/75 – 1702/05) Raden Bantan ♂ Dewa Mas Bantan Datu Loka Dewa Dalam Bawa Sultan Harunnurrasyid I | ♀ Siti Halimah Daeng Tomi Karaeng Tannisanga | ♂ Rumata Sangaji Bolo | SULTAN BIMA m. 1687-1696 ♂ Sultan Jamaluddin 'Inayat Syah Rumata Mawa'a Romo[63] b. 1673, wafat + 6-7-1696 di pengasingan Batavia | SULTAN DOMPU VI ♂ Sultan Ahmad Syah Manuru Kambu | SULTAN DOMPU VII ♂ Sultan Usman Manuru Goa | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN NEGARA ♂ Panembahan Kusuma Dilaga[64] | SULTAN (KAYU TANGI) BANJAR VIII ♂ Sultan Tahmidullah 1 Sultan Suria Alam dari Banjar Panembahan Kuning[65][66] | ♂ Pangeran Laya Kesuma | RAJA BONE XX m. 1724-1749 ♀ We Bataritoja Datu Talaga Arung Timurung Sultanah Zainab Zulkiyahtuddin | DATU TALIWANG SULTAN SUMBAWA IV (1702-17..) ♂ Mas Madina Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I | ♀ I Rakkia Karaeng Kanjenne Addatuang Sidenreng VI Arung Berru VII (m. 1720 - 1740) | DATU JEREWEH Mas Palembang ♂ Dewa Maja Jereweh | ♀ Karaeng Bontoje'ne | ♀ Dewa Isa Karaeng Barong Patola | ♂ Daeng Mamuntuli Arung Kadjoe bin Arung Teko dari Bone | DATU SERAN PEMANGKU SULTAN SUMBAWA (1723-1725) ♂ Raja Tua Datu Bala Sawo Dewa Loka Ling Sampar | ♀ Ince' Bagus | SULTAN BIMA m. 1696-1731 Mapatalli' Syaad Syah ♂ Sultan Hasanuddin Muhammad Ali Syah Rumata Mantau Bata Baharu (Bou)[67] b. 7-9-1689, wafat + 23-1-1731 bin Sultan Jamaluddin 'Inayat Syah Rumata Mawa'a Romo | ♀ Dewa Iya Datu Balasao Datu Tengah (Karaeng Bonto Pa'ja)[68] | ♂ Datu Budi | SULTAN DOMPU X ♂ Sultan Syamsuddin Manuru Sampela | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Mangku Delaga (Pangeran Sepuh) pangerang Souria delaga[69] | SULTAN BANJAR IX.a (m. 1730 - 1734) ♂ Sultan il-Hamidillah (Koning Dachmet Door) Sultan Kuning Pangeran Dipati Sena | WALI SULTAN BANJAR
♂ Sultan Tamjidillah I Panembahan Sepuh Panembahan Kesuma Alam Pangeran Kesuma Ningrat | Pangeran Wira Kasuma 01 | PANGERAN BANJAR "Raja Banjar" ♂ Datu Aria | DATU TALIWANG "Raja Taliwang" ♂ Gusti Amin | KARAENG BONTOLANGKASA 6 ♂ I Mappasempa' Daeng Mamaro Opu Mangnguluang | SULTANAH SUMBAWA VII ♀ Sultanah Siti Aisyah Datu Bini[70] | DATU TALIWANG SULTAN SUMBAWA VI ♂ Sultan Muhammad Kaharuddin I Datu Susun | PERMAISURI BINAMU ♀ Karaeng Baine Binamu We Tenri Ico Dai Karaeng Mangarabombang Datu Pampang | RAJA BINAMU (JENEPONTO) XI m. 1796-1814 ♂ I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompoa Ri Binamu | DATU JEREWEH ♂ Aka-eo-dienie[60] Sultan Hasanuddin[71] (keponakan Santombong Datoe Goenoeng, raja Selaparang) | ♂ Abdullah/Datu Dollah Yang "Hilang"/Meninggal (Muslimin) Di Selaparang Rumata Mambora Ipa Bali | ♀ PADUKA TALLO' (Mambora di Tallo) Datu Siti Maryam | ♂ Manuru Daha [72]Rumata Mantau Uma Kapenta (b. 1706, + 17 atau 27 Mei 1748) SULTAN BIMA VI m. 1731-1748 Abdul Muslimin Ali Syah Abdullah Sulaiman Ali Syah ♂ Sultan Alauddin Muhammad Syah Zillullah fi al-'Alam [60][73][74] | ♂ Datu Seppe | SULTAN DOMPU XI ♂ Sultan Abdur-Rahman Manuru Kempo | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Pangeran Mas Aria Sukma/Kusuma | DATU TALIWANG ♂ Gusti Aceh | SULTAN SUMBAWA IX 1762-1765 ♂ Gusti Mesir Abdurrahman (Sultan Abdurrahman) Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II Datu Pengantin Datu Pangeran Taliwang | RAJA PERMAISURI SUMBAWA ♀ Siti Khadijah Datu Bonto Paja (Karaeng Bonto Masugi) | RAJA TALLO MANGKUBUMI GOWA ♂ I Manyombali Daeng Patompo Karaeng Barang Mamase Raja Tallo Mangkubumi Gowa | ♂ I Lotting Shalahuddin Daeng Marakka TuMalompoa ri Data | ♀ Putri..... | ♂ Dea Adipati Lalu Kaidah Mele Habirah Lalu Jamelela Dea Koasa Unter Iwes | ♀ Lala Saragialu Daeng Talebang Karaeng Talebang | ♂ Pangeran Dipati (Pangeran Dipati Desa Bumi) (bin Sultan Tahlil Raja Banjar) | DATU SERAN SULTAN SUMBAWA XIV m. 1777-1791 ♂ Sultan Harun Ar Rasyid II (Hasan Rasyid) Datu Budi (Badeh) Lalu Mahmud | PUTRI SERAN ♀ Ran Tambas Lala Tambas binti Datu Seran | SULTAN BIMA VIII m. 1751-1773 Sri Nawa ♂ Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah Rumata Mawa'a Taho[75] b. 10-6-1735, wafat + 31-8-1773[76] | SULTAN SUMBAWA VIII 1761-1752 ♂ Sultan Lalu Onye Datu Ungkap Sermin Dewa Lengit Ling Dima | SULTAN DOMPU XII ♂ Sultan Abdul Wahab Ma Wa'a Ca'u | SULTAN DOMPU XIII ♂ Sultan Abdullah Ma Wa'a Saninu | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Gusti Wiramanggala | SULTAN BANJAR X.A. Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah Muhammad dari Banjar | ♀ Ratu Sultan Muhammad | SULTAN BANJAR X.B 1761-1801 ♂ Sunan Nata Alam Panembahan Batu Sultan Tahhmid Illah II Sunan Sulaiman Saidullah 1 (b. 1727,[77] | MANGKUBUMI BANJAR (m.1762-1787) ♂ Pangeran Prabujaya / Pangeran Mangkudilaga | ♀ Ratoe Laija (Ratu Laya)[78] | SULTAN SUMBAWA X 1765 ♂ Dewa Masmawa Sultan Mahmud (yang besar badannya) | RAJA TALLO MANGKUBUMI GOWA ♂ I Mahmud Daeng Sila Karaeng Beroanging Raja Tallo Mangkubumi Gowa | ♂ I Tamparang Daeng Taesa Karaengta Cilallang | ♂ Karaëng Manipi Datu Bonto Mangape | ♀ Lala Intan Ratu Nong Sasir | ♂ Pangeran Kasuma Nagara | ♀ Ratu Kasuma Nagara | SULTANAH SUMBAWA XII m. 1791-1795 ♀ Sultanah Shafiyatuddin Daeng Massiki | Raja Paduka Sumbawa ♀ Datu Sagiri | SULTAN BIMA IX m. 1773-1817 ♂ Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah Zillullah fi al-'Alam [79] Mantau Asi Saninu[80] (b. 1762, wafat + 14-7-1817)[81] | ♂ Lalu Abdullah Syahbandar | SULTAN DOMPU XVII ♂ Sultan AbdurRasul II | SULTAN DOMPU XVI ♂ Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin I | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Datu Kabul | WAKIL PUTRA MAHKOTA (SULTAN BANJAR XI.A.2) ♂ Pangeran Amir (Sultan Amir) | PUTRA MAHKOTA (SULTAN BANJAR XI.A.1) Sri Pangeran Abdullah (Amirul Mukminin Abdullah) | ♀ Ratu Siti Air Mas | ADIPATI BANUA LIMA ♂ Kiai Adipati Singasari | ♀ Lala Siti Fatimah | SULTAN SUMBAWA ♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin II | ♀ Lala Amatolah | ♂ Pangeran Mangku | ♀ Ratu Mangku | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Kiai Ngabehi Jaya Negara (Pambakal Karim) | ♀ Alooh Oengka | ♂ Tumenggung Dipa Nata | ♂ Kiai Temenggung Warga Nata | ♀ Nyai Ratu Sepuh Nyai Ratna Njahi Ratoe Intan Sarie | SULTAN BANJAR XI.B. Sulaiman dari Banjar[82] | MANGKUBUMI BANJAR ♂ Ratoe Anom Ismail Ratu Anom Mangkubumi Sukma Dilaga | SULTAN SUMBAWA ♂ Dewa Masmawa Sultan Lalu Mesir | SULTAN SUMBAWA ♂ Dewa Masmawa Sultan Lalu Muhammad Amaroe'llah | KEPALA SELA SELILAU-KUSAMBI ♂ Pangeran Haji Muhammad | ♀ Ratu Haji Muhammad | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ Nyai Sutadipa | ♀ Nyai Rami | ♂ Pangeran Kasir | ♀ Nyai Ratu Koemala Sarie | SULTAN BANJAR ♂ Sultan Adam | MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin) | Nyai Intan (saudari Kiai Adipatie Danoe Radja) | ♂ Pangeran Sungging Anum | ♀ Ratu Sungging Anum | ♂ Pangeran Perbatasari | ♀ Ratu Haji Musa (binti Sultan Sulaiman Raja Banjar) | RAJA KUSAN BATULICIN BANGKALAAN ♂ Pangeran Haji Musa (wafat dalam tahanan Belanda) | ♀ Nyai...... | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ADIPATI BANUA LIMA Kiai Adipatie Danoe Radja | Nyai Aminah | Pangeran Djantara Kasoema | Ratu Djantara Kasoema (anak Nyai Peah) | SULTAN MUDA BANJAR ♂ Sulthan Moeda Abdoel Rachman (Pangeran Ratu) | ♀ Ratoe Sulthan Abdoel Rachman (Ratoe Siti) anak Nyai Intan[82] | ♂ Pangeran Amir (anak Nyai sepuh) | ♂ Pangeran Kasoema Ningrat (anak Nyai Udningasih) | ♀ Gusti Abun Sari | RAJA KUSAN BATULICIN PULAU LAUT ♂ Pangeran Abdoel Kadir | KEPALA BATULICIN ♂ Pangeran Pandji (wafat di Batavia) | ♀ Adji Landasan (binti Adji Djawa bin Adji Mandoera) | MANGKUBUMI KUSAN BATULICIN ♂ Gusti Jamaluddin | RAJA KUSAN BATULICIN ♂ Pangeran Muhammad Nafis (ditahan di Batavia) | RAJA PULAU LAUT ♂ Pangeran Djaija Samitra | ♀ Nyai Ambak (adik Nyai Ratu Kamala Sari) | ♀ Ratu Safura | ♂ Hadjie Achmad Muftie | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR ♂ Pangeran Ratu Sultan Tamjidillah II al-Watsiq Billah | ♂ Pangeran Sjerief Oemar | ♀ Ratoe Sjerief Oemar | ♀ Goestie Sitie Ayer Maas binti Pangeran Tahhmid bin Sultan Sulaiman | SULTAN BANJAR ♂ Pangeran Mangkubumi Sultan Hidayatullah II Halil Illah (Gusti Andarun) | ♀ Nyai Rahamah | ♀ Ratoe Djaya Kesoema (Ratoe Rampit) | ♂ Pangeran Djaya Kesoema (Radin Toeyong) bin Pangeran Amir bin Pangeran Mangkoe Boemi Nata | ♂ Goesti Sopie | ♀ Nyai... | RAJA PULAU LAUT ♂ Pangeran Brangta Kasoema | ♀ Putri Hasiah (binti Pangeran Antasari) | ♂ Pangeran Wira Kasoema | ♀ Ratoe Wira Kasoema | ♂ Pangeran Kasoema Giri (Goesti Abdoellah) | ♂ Gusti Ahmad | ♂ Gusti Aman | ♂ Pangeran Abdurrasul | ♂ Gusti Bagu | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Pangeran Amin | ♀ Poetri Boelan | ♂ Pangeran Kesoema Indra bin Pangeran Kassir bin Sultan Sulaiman | ♀ Ratoe Kesoema Indra | ♀ Goesti Serief Banoen | ♂ Pangeran Muhammad | ♀ Ratoe Saléha | ♂ Pangeran Mohhamad Ali Bassa (Goesti Isa) | ♀ Ratu Besse (binti Adji Daha/Mandoera) | RAJA PULAU LAUT ♂ Pangeran Amir Husin Kasuma | ♂ Pangeran Ali | ♀ Ratu Intan | ♂ Goesti M. Basoe | Gusti Mulia | Gusti Udan | ♂ Pangeran Arga Kasuma | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ... | ♂ Pangeran Mohhamad Hanafia | ♂ Pangeran Shashra Kesuma (anak Nyai Noerain) | ♂ Pangeran Abdullah | ♀ Ratu Halimah | ♀ Ratu Tajeng | RAJA PULAU LAUT ♂ Pangeran M. Aminullah | ♂ Pangeran Mohammad Noor | ♂ Goesti Abdoellah | ♂ patih Gusti Ahmad M | ♀ Putri Hj. Zubaedah binti Pangeran Arga Kasuma | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| .... | ♂ Gusti Dawud | ♀ R.A. Zakiyah | ♂ Gusti Amin | ♀ Putri Jahra Kasoema | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| .... | ♂ Raden Yusuf Dawud | ♀ Ning Munifah | Gusti Rohana | Gusti Chaldoen | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| .... | ♂ Ismail Hasyim | Gusti Helyadi | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Hubungan
[sunting | sunting sumber]Hubungan dengan Wangsa Sumbawa
[sunting | sunting sumber]Hubungan Wangsa Banjarmasin dengan Wangsa Kesultanan Sumbawa tertulis dalam buku Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde volume 14 (1864:503):[78]
Omtrent de lans Kaliblah wordt het navolgende verhaald. Zij behoorde vroeger tot de rijkswapens van den Sultan van Sumbawa. Een dezer Sultans nu was in het huwelijk getreden met Ratoe Laija, eene zuster van Sultan Tahmid Ilah II van Bandjermasin. Uit dat huwelijk is de Sulthan Mohamad, die later over Sumbawa geregeerd heeft geboren.
Berikut ini terkait dengan tombak Kaliblah. Tombak ini dulu milik senjata nasional Sultan Sumbawa. Salah satu Sultan ini sekarang menikah dengan Ratoe Laija, saudara perempuan dari Sultan Tahmid Illah II dari Bandjermasin. Buah dari pernikahan itu adalah Sulthan Mohamad, yang kemudian memerintah atas Sumbawa.
Templat:FamilytreeTemplat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:Family tree/step2Templat:FamilytreeTemplat:Familytree
| SULTAN BANJAR I 1520-1546 ♂ Sultan Suriansyah | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Tuan Khatib Banun | ♂ Pangeran Anom Pangeran di Hangsana | SULTAN BANJAR II ♂ Sultan Rahmatullah | ♂ Pangeran di Laut | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Nyai....... | ♀ Nyai Ratu ..... | SULTAN BANJAR III ♂ Sultan Hidayatullah I | ♀ Putri Nur Alam | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Kiai Tumenggung Raksanagara (Kiai Tanu Raksa) | SULTAN BANJAR IV ♂ Sultan Mustain Billah Raden Senapati | ♂ Raden Subamanggala Pangeran Mangkunagara | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR V ♂ Sultan Inayatullah Pangeran Dipati Tuha I | Panembahan di Darat | Pangeran Dipati Antasari | RAJA KOTAWARINGIN 1 ♂ Ratu Bagawan dari Kotawaringin | ♀ Ratu Hayu Putri Busu | ♂ Raden Timbakal Pangeran Dipati Martasari | ♀ Si Jawa | RAJA SUMBAWA-SELEPARANG (Kamutar 4) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR VI ♂ Sultan Saidullah Raden (Pangeran) Kasuma Alam | ♂ Raden Kasuma Lelana Sultan Agung dari Banjar Pangeran Surya Nata 02 Pangeran Dipati Anom 02 Pangeran Surya Nata 02 (saudara sepersusuan Raden Subangsa) | RAJA KOTAWARINGIN 2 ♂ Ratu Amas (beristeri Puteri Galuh Hasanah binti Pangeran Adipati Tapa Sana) | ♂ Raden Kasuma Taruna Pangeran Dipati Kasuma Mandura | ♂ Pangeran Singamarta Raden Sutasoma | PUTRI TALIWANG ♀ Mas Surabaya | PANGERAN TALIWANG 01 ♂ Raden Subangsa Raden Marabut | PUTRI SUMBAWA ♀ Dewa Mas Panghulu | SULTAN SUMBAWA I ♂ Dewa Mas Pamayam Mas Cinni | ♂ I Mappaijo Daeng Mannjauru Sultan Harun Al Rasyid Tumenanga ri Lampana (Raja Tallo ke-10 ) | ♀ Ratu...... | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR VII ♂ Raden Bagus Sultan Amarullah Bagus Kasuma Pangeran Suria Angsa dari Banjar Raden Bagus Sultan Tahlil-Allah[83] | ♂ Pangeran Dipati | ♂ Raden Buyut Kasuma Banjar (beristeri Gusti Cabang binti Raden Balah Pangeran Dipati Wiranata bin Panembahan di Darat) | ♂ Raden Pajang Raden Suta Kasuma | ♀ Gusti Pandara | DATU TALIWANG (Karaeng Taliwang) ♂ Raden Mataram Amas Mattaram (Maes Materan) | SULTAN SUMBAWA III (1672/75 – 1702/05) ♂ Dewa Mas Bantan (Maes Bantam) Sultan Harunnurrasyid I Datu Loka | ♀ Halimah Daeng Tomi Karaeng Tannisanga | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR VIII ♂ Sultan Tahmidullah Pangeran Suria Alam dari Banjar Panembahan Tengah | ♀ Putri Piting | DATU TALIWANG ♂ Gusti Amin | DATU TALIWANG SULTAN SUMBAWA IV (1702-17..) ♂ Amas Madina Sultan Jalaluddin Muhammad Syah I | ♀ I Rakkia Karaeng Kanjenne Addatuang Sidenreng VI Arung Berru VII (m. 1720 - 1740) | DATU JEREWEH Mas Palembang ♂ Dewa Maja Jereweh | ♀ Karaeng Bontoje'ne | ♀ Dewa Isa Karaeng Barong Patola | ♂ Daeng Mamuntuli Arung Kadjoe bin Arung Teko dari Bone | DATU SERAN PEMANGKU SULTAN SUMBAWA (1723-1725) ♂ Raja Tua Datu Bala Sawo Dewa Loka Ling Sampar | ♂ Datu Budi | ♀ Dewa Iya Datu Balasawo Datu Tengah | SULTAN BIMA Sultan Hasanuddin Muhammad Ali Syah | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Dipati Mangkubumi Pangeran Mangku Delaga Pangeran Dipati Suria Delaga | SULTAN BANJAR IX.a. ♂ Sultan Hamidullah Panembahan Kuning | SULTAN BANJAR IX.b. m. 1734-1759 ♂ Sultan Tamjidillah I Sultan Sepuh dari Banjar | PANGERAN BANJAR ♂ Datu Aria | DATU TALIWANG ♂ Pangeran Laya Kesuma | KARAENG BONTOLANGKASA 06 ♂ I Mappasempa' Ahmad Daeng Mamaro Opu Mangnguluang | SULTANAH SUMBAWA VII ♀ Sultanah Siti Aisyah Karaeng Bontowa 02 | DATU TALIWANG SULTAN SUMBAWA VI ♂ Sultan Muhammad Kaharuddin I | PERMAISURI BINAMU ♀ Karaeng Baine Binamu We Tenri Ico Dai Karaeng Mangarabombang Datu Pampang | RAJA BINAMU (JENEPONTO) XI m. 1796-1814 ♂ I Bebasa Daeng Lalo Karaeng Lompoa Ri Binamu | ♀ Putri | DATU JEREWEH ♂ ALAUDDIN / HASANUDDIN | DATU SERAN Dewa Mas Pakil Dewa Lengan Seran | ♀ Putri | ♂ Datu Seppe | ♀ Datu Siti Maryam | ♂ Datu Dollah (Abdullah) | ♂ Manuru Daha Abdul Muslimin Ali Syah | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ saudari Arung Terawei | SULTAN BANJAR X.a. ♂ Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah (Muhammadillah) Tahmidu Billah Tahmidillah 01 Tamjidillah 02 | ♀ Ratu Sultan Muhammad[84] | DATU TALIWANG ♂ Gusti Aceh | SULTAN SUMBAWA IX 1762-1765 ♂ Gusti Mesir Abdurrahman Sultan Muhammad Jalaluddin Syah II | RAJA PERMAISURI SUMBAWA ♀ Siti Khadijah Datu Bonto Paja | ♂ I Lotting Shalahuddin Daeng Marakka TuMalompoa ri Data | ♀ Putri..... | ♂ Dea Adipati Lalu Kaidah Mele Habirah Lalu Jamelela Dea Koasa Unter Iwes | ♀ Lala Saragialu Daeng Talebang | DATU SERAN SULTAN SUMBAWA XIV m. 1777-1791 ♂ Sultan Harun Ar Rasyid II Datu Budi Lalu Mahmud | ♀ Ran Tambas Lala Tambas | SULTAN SUMBAWA VIII 1761-1752 ♂ Sultan Lalu Onye Datu Ungkap Sermin Dewa Lengit Ling Dima | ♂ Lalu Muntadarman Datu Bajing Datu Alas | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♀ Putri Lawiyah | SULTAN BANJAR X.b. ♂ Sultan Tahmidillah 2 (Panembahan Batu) | ♀ Ratu Syarifah Aminah | ♀ Ratoe Laija (Ratu Laya) | SULTAN SUMBAWA X 1765 ♂ Dewa Masmawa Sultan Mahmud | ♂ I Tamparang Daeng Taesa Karaeng Cilallang | ♂ Karaeng Manippi Datu Bonto Mangape | ♀ Lala Intan Ratu Nong Sasir | ♀ Datu Giri | SULTAN BIMA IX m. 1773-1817 ♂ Sultan Abdul Hamid Muhammad Syah Mantau Asi Saninu | SULTANAH SUMBAWA XII m. 1791-1795 ♀ Sultanah Shafiyatuddin Daeng Massiki | ♂ Lalu Abdullah Syahbandar | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR XI.a.2. ♂ Pangeran Amir (Sultan Amir) | SULTAN BANJAR XI.a.1. ♂ Sri Pangeran Abdullah (Amirul Mukminin Abdullah) | ♀ Ratu Siti Air Mas | SULTAN BANJAR XI.b. ♂ Sultan Sulaiman Rahmatullah | ♀ Njahi Ratoe Intan Sarie Nyai Ratu Sepuh binti Kiai Adipati Singasari[85] | MANGKUBUMI BANJAR ♂ Sultan Ratoe Anom Ismail Ratu Anom Mangkubumi Sukma Dilaga | SULTAN SUMBAWA XIII ♂ Sultan Muhammad Kaharuddin II | ♀ Lala Amatollah | ♀ Ratu..... | SULTAN BIMA X m. 1818-1854 ♂ Sultan Ismail Muhammad Syah, Rumata Mawa’a Alus, Mantau Dana Sigi | ♂ Lalu Cela Tureli Belo | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ♂ Pangeran Mas'ud | ♀ Gusti Khadijah | ♂ Pangeran Tahmid | MANGKUBUMI BANJAR ♂ Pangeran Mangkoe Boemi Nata (Pangeran Husin) | SULTAN BANJAR ♂ Sultan Adam | ♀ Nyai Ratu Kamala Sari | ♂ Datu Bonto Mangape | SULTAN SUMBAWA XIV ♂ Sultan Lalu Mesir | ♂ Dewa Masmawa Sultan Muhammad Amaroe'llah | ♀ Lala Rante Patola binti M. Anwar Abdul Nabi | ♀ Lala Dendo binti Syahbandar Lalu Abdullah | ♂ Muhammad Yakub Ruma Kapenta Wadu | SULTAN BIMA XI m. 1854-1868 ♂ Sultan Abdullah Muhammad Syah Rumata Mawa’a Adil | PERMAISURI BIMA ♀ Siti Saleha Bumi Pertiga | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| SULTAN BANJAR ♂ Gusti Inu Kartapati Pangeran Antasari Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin | ♀ Ratoe Antasari (binti Sultan Adam) | ♀ Ratoe Sitie Mariama (anak Nyai Intan - saudari Adipatie Danoe Radja) | SULTAN MUDA BANJAR ♂ Pangeran Ratu Pangeran Sultan Muda Abdur-Rahman | ♀ Nyai Besar Aminah (Nyai Dawang) | DATU TALIWANG ♂ Daeng Mesir | ♀ Datu Balasari | ♂ Raja Muda: Daeng Mas Kuncir Datu Lolo | ♂ Daeng Padusung Mappasusung | ♀ Daeng Ante Datu Singasari | MANGKUBUMI BIMA ♂ Muhammad Qurais bin Muhammad Hidir Raja Bicara Bima | PERMAISURI BIMA ♀ Sitti Fatimah binti Lalu Yusuf Ruma Sakuru | SULTAN BIMA XIII m. 1881-1915 ♂ Sultan Ibrahim Rumata Mawa’a Taho Perange | PERMAISURI DOMPU ♀ Ratu......... | SULTAN DOMPU XX ♂ Sultan Muhammad Sirajuddin | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Munoz, P.M.; Tim Media Abadi (2009). Kerajaan-kerajaan awal kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia: perkembangan sejarah dan budaya Asia Tenggara (Jaman pra sejarah - abad xvi). Mitra abadi. Diakses tanggal 2022-02-20.
- ↑ "Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (2)". jejakrekam.com. 2018-11-02. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-28. Diakses tanggal 2022-10-28.
- ↑ (Prancis)von Siebold, Philipp Franz (1847). Le moniteur des Indes orientales et occidentales: recueil de mémoires et de notices scientifiques et industriels... concernant les possessions néerlandaises d'Asie et d'Amérique. Belinfante frères. hlm. 164.
- ↑ "Candi Agung, Negara Dipa dalam Perspektif Dokumen Tanah Jawa (1)". jejakrekam.com. 2018-11-01. Diarsipkan dari asli tanggal 2022-10-28. Diakses tanggal 2022-10-28.
- ↑ Kusmartono dan Widianto (1998) berdasarkan analisis penanggalan radiokarbon arang pada tahun 1996 yang diyakini korban pasukan Majapahit ( korban perang dibakar dan dikubur di tempat yg bernama Tambak ) di Tambak Wasi dan Candi Agung, Amuntai, yang memberikan tanggal April 1358.
- ↑ Effrata, Effrata (2021-02-27). "JEJAK NANSARUNAI DAN TANTANGAN GLOBALISASI". JURNAL SOCIOPOLITICO. 3 (1): 26–33. doi:10.54683/sociopolitico.v3i1.38. ISSN 2656-1026. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-08. Diakses tanggal 2022-02-20.
- ↑ "Nansarunai Ditaklukkan dengan Tiga Misi Militer Majapahit". jejakrekam.com. 2018-02-24. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-03-08. Diakses tanggal 2022-02-20.
- ↑ Susanto, A. Budi (2007). Masihkah Indonesia. Kanisius. hlm. 216. ISBN 978-9792116571. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-01. Diakses tanggal 2011-09-06. ISBN 978-979-21-1657-1
- 1 2 Pikriadi, Nor (2014-10-10). "Perjalanan Kesultanan Banjar dari Legitimasi Politik hingga Indentitas Kultural". Naditira Widya. 8 (2). Diarsipkan dari asli tanggal 2019-04-29. Diakses tanggal 2022-10-28.
- ↑ Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernamaSadono Endriawan 2021 - 1 2 3 4 (Melayu)Johannes Jacobus Ras, Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh, Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka, Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia 1990. Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; nama "hikayat banjar" didefinisikan berulang dengan isi berbeda - ↑ Poetri Djoendjoeng Boewih (Belanda) Notulen van de Directievergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. 1866. hlm. 148.
- ↑ Poetri Djoendjoeng Boeih (Belanda) (1860)Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. hlm. 94.
- ↑ Poetri Djoendjoeng Boeih (Belanda) (1867)De tijdspiegel. Fuhri. hlm. 152.
- ↑ Putri Junjung Buih (Inggris) The Javanese Candi: function and meaning. Volume 17. Studies in Asian art and archaeology. BRILL. 1995. hlm. 19. ISBN 9004102159. ISBN 978-90-04-10215-6
- ↑ HUBUNGAN RAJA-RAJA BANJAR DAN PENGETUA KAMPUNG JAAR-SANGGARWASI
- ↑ Norprikriadi (2014). PERJALANAN KESULTANAN BANJAR: DARI LEGITIMASI POLITIK KE IDENTITAS KULTURAL. hlm. 81.
- ↑ (Belanda)J. Pijnappel (1854). Beschrijving van het westelijke gedeelte van de zuid- en oosterafdeeling van Borneo: (De afdeeling Sampit en de zuidkust). Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kantor Wilayah Propinsi Nusa Tenggara Barat, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Nusa Tenggara Barat.
- ↑ (Belanda) Willem Adriaan Rees, De bandjermasinsche krijg van 1859-1863, Volume 2, D. A. Thieme, 1865
- ↑ (Belanda) Lembaga Kebudajaan Indonesia, Notulen van de algemeene en directie-vergaderingen, Volume 3-6, G. Kolff, 1866
- ↑ (Indonesia)Poesponegoro (1992). Sejarah nasional Indonesia: Nusantara pada abad ke-18 dan ke-19. Indonesia: PT Balai Pustaka. ISBN 979-407-410-1. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-01-04. Diakses tanggal 2011-03-27. ; ; ISBN 978-979-407-410-7
- ↑ Noorlander, Johannes Cornelis (1935). Bandjarmasin en de Compagnie in de tweede helft der 18de eeuw (dalam bahasa Belanda). M. Dubbeldeman.
- ↑ Souza, George Bryan (2004). The Survival of Empire: Portuguese Trade and Society in China and the South China Sea 1630-1754 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 126. ISBN 0-521-53135-7. ISBN 9780521531351
- ↑ De Indische gids (dalam bahasa Belanda). Vol. 23. J. H. de Bussy. 1901. hlm. 925.
- ↑ van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863 (dalam bahasa Belanda). Vol. 1. D. A. Thieme. hlm. 7.
- ↑ Kartodirdjo, Sartono (1973). Sejarah perlawanan-perlawanan terhadap kolonialisme. Pusat Sejarah ABRI. hlm. 7.
- ↑ (Indonesia) Rachman, M. Fadjroel (2007). Bulan jingga dalam kepala: novel. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 41. ISBN 9792228764.ISBN 9789792228762
- ↑ (Inggris) Soekmono, Soekmono (1981). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 3. Kanisius,. ISBN 9794132918. Diarsipkan dari asli tanggal 2015-01-19. Diakses tanggal 2010-08-18. ; Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)ISBN 978-979-413-291-3 Diarsipkan 2015-01-19 di Wayback Machine.
- ↑ Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1864). "Notulen van de Algemeene en Directie-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappenn" (dalam bahasa Belanda). 1. Lange & Company: 315.
- 1 2 Usman, A. Gazali (1994). Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi Perdagangan dan Agama Islam. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat Press.
- ↑ (Indonesia) Hindia- Belanda (1965). Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian antara Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860. Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat.
- ↑ Bruining & Wijt (1872). Militair tijdschrift (dalam bahasa Belanda). Vol. 3. hlm. 554.
- ↑ J. P. Schoemaker (1894). Nederlandsch-Indische krijgsverhalen (dalam bahasa Belanda). hlm. 44. ;
- ↑ (Belanda) (1866)De gids. Vol. 30. G. J. A. Beijerinck. hlm. 47.
- ↑ (Indonesia) Sejarah nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. PT Balai Pustaka. 1992. ISBN 979-407-409-8. [pranala nonaktif permanen]ISBN 978-979-407-409-1
- ↑ Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar. hlm. 38.
- ↑ (Indonesia) Mengenal Pahlawan Indonesia (ed. Revisi). Kawan Pustaka. ISBN 979-757-278-1. Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)ISBN 978-979-757-278-5
- ↑ "Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-01-11. Diakses tanggal 2009-12-22.
- ↑ Basuni, Ahmad (1986). Pangeran Antasari: pahlawan kemerdekaan nasional dari Kalimantan. Bina Ilmu. hlm. 57.
- ↑ Sjamsuddin, Helius (2001). Pegustian & Temenggung Akar Sosial, Politik, Etnis, dan Dinasti Perlawanan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah 1859–1906. Balai Pustaka & Penerbit Ombak. hlm. 120. ISBN 979666626X. ISBN 978-979-666-626-3
- ↑ (Belanda) de Heere, G. A. N. Scheltema (1863). Staatsblad van Nederlandisch Indië. Ter Drukkerij van A. D. Schinkel. hlm. 118.
- ↑ http://banjarmasin.tribunnews.com/2012/11/25/gelar-khairul-saleh-berubah-jadi-sultan-banjar
- ↑ Khairul Saleh dikukuhkan jadi Sultan Banjar
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-05-27. Diakses tanggal 2015-05-27.
- ↑ Dalam naskah hikayat Tutur Candi (Hikajat hal kadjadian negri Bandjermasin) disebut Ampoe Djatmika
- ↑ Dalam naskah hikayat Tutur Candi, Lambung Mangkurat memiliki adik bungsu perempuan bernama Déwi Kariang Boengsoe
- ↑ Nama isteri tua Lambung Mangkurat disebutkan dalam naskah hikayat Tutur Candi atau Hikayat Banjar Resensi II yaitu Tuan Puteri Bayam Beraja, anak dari Ratu Gagelang
- ↑ Nama isteri Ampu Mandastana disebutkan dalam naskah hikayat Tutur Candi atau Hikayat Banjar Resensi II yaitu disebut putri Ratna Déwi, anak dari Ratoe Palembang Sari
- ↑ Dalam naskah hikayat Tutur Candi disebut Puteri Ratna Minasih (anak dari Patih Lau), melahirkan anak sulung perempuan bernama Puteri Ratna Sari, berikutnya dua anak laki-laki yaitu Raden Menteri dan Raden Santang
- ↑ https://dokumen.tips/documents/silsilah-raja-selaparangdocx.html
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-01-11. Diakses tanggal 2020-11-05.
- ↑ Hägerdal, Hans (2001). Hindu rulers, Muslim subjects: Lombok and Bali in the seventeenth and eighteenth centuries (dalam bahasa Inggris). Indonesia: White Lotus Press. hlm. 96. ISBN 9747534118. ISBN 9789747534115
- ↑ Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde (dalam bahasa Inggris). Vol. 154. M. Nijhoff. 1998. hlm. 74.
- ↑ "Yang mempunyai rumah jati"
- 1 2 Ubb, Ahmad (22 Agu 2013). Senjata Pusaka Bugis. Indonesia: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 192. ISBN 9792277293. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) ISBN 9789792277296
- 1 2 3 Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). M. Nijhoff. 1880. hlm. 157.
- ↑ Utrecht, Ernst (1962). Sedjarah hukum internasional di Bali dan Lombok: pertjobaan sebuah studi hukum internasional regional di Indonesia. Indonesia: Sumur Bandung. hlm. 94.
- ↑ Anthropologica (dalam bahasa Belanda). Vol. 28. M. Nijhoff. 1880. hlm. 110.
- ↑ Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Vol. 27–28. M. Nijhoff. 1879. hlm. 114.
- 1 2 3 Susanto Zuhdi, Triana Wulandari (1 Januari 1997). Tawalinuddin Haris (ed.). Kerajaan Tradisional di Indonesia : BIMA. Indonesia: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 55.
- ↑ "Yang membawa payung"
- ↑ "Mencari Surat-Surat :: Sejarah Nusantara". Arsip Nasional Republik Indonesia. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-23. Diakses tanggal 2020-07-23.
- ↑ "Yang membawa mulut/laras"
- ↑ Gordon, Bruce R. (2018-01-11). "Southeast Asia: the Islands". CoreComm Internet - Start. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-01-11. Diakses tanggal 2018-09-16.
- ↑ Annabel Teh Gallop (2002). "Malay Seal Inscriptions: A Study in Islamic Epigraphy from Southeast Asia" (dalam bahasa Inggris). 3. University of London: 447.
- ↑ Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1864). "Notulen van de Algemeene en Directie-vergaderingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappenn" (dalam bahasa Belanda). 1. Lange & Company: 315.
- ↑ Gelar anumerta artinya "Yang mempunyai kubur baru"
- ↑ Rachmat Salahuddin, Sitti Maryam (1999). Henri Chambert-Loir (ed.). Bo' Sangaji Kai: catatan kerajaan Bima. Indonesia: Ecole française d'Extrême-Orient : Yayasan Obor Indonesia, 1999. hlm. 56. ISBN 9794613398. ISBN 9789794613399
- ↑ https://sinarbulannews.files.wordpress.com/2011/01/silsilah-sultan-adam.jpg
- ↑ Mantja, Lalu (1984). Sumbawa pada masa dulu: suatu tinjauan sejarah. Indonesia: Rinta. hlm. 121.
- ↑ Islamic Narrative and Authority in Southeast Asia: From the 16th to the 21st Century (dalam bahasa Inggris). Indonesia: Springer. 11 Jun 2007. hlm. 96. ISBN 0230605087. Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) ISBN 9780230605084
- ↑ Gelar anumerta artinya "Yang berdiam di Daha", yakni desa di selatan kota Dompu
- ↑ Chambert-Loir, Henri (Juli 2004). Henri Chambert-Loir (ed.). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah (Edisi 2). Jl. Palmerah Selatan No. 21, Jakarta 10270, Indonesia: (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121. ISBN 9799100119. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal dan tahun (link) ISBN 978-979-9100-11-5
- ↑ Aliudin Mahyudin, Siti Nurbaiti (2004). Silsilah dari Bima. Indonesia: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah. hlm. 35.
- ↑ Gelar anumerta artinya "Yang membawa kebaikan"
- ↑ M. Hilir Ismail (2004). Peran Kesultanan Bima dalam perjalanan sejarah Nusantara. Indonesia: Lengge bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan the Ford Foundation. hlm. 263. ISBN 9793544112. ISBN 9789793544113
- ↑ van Rees, Willem Adriaan (1865). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: met portretten, platen en een terreinkaart (dalam bahasa Belanda). Vol. 1. D. A. Thieme. hlm. 8.
- 1 2 "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 14. Batavia: Lange & Company, Martinus Nijhoff. 1864: 503. ; Kesalahan pengutipan: Tanda
<ref>tidak sah; nama "Tijdschrift14" didefinisikan berulang dengan isi berbeda - ↑ Raja sebagai "bayangan Tuhan di dunia", ini adalah ide dari Islam yang persianate
- ↑ Gelar anumerta artinya "Yang mempunyai istana cermin"
- ↑ Chambert-Loir, Henri (2010). Iman dan Diplomasi. Jl. Palmerah Selatan No. 21, Jakarta 10270, Indonesia: (KPG) Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 1297. ISBN 9799102375. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link) ISBN 9789799102379
- 1 2 Willem Adriaan Rees (1867). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: nader toegelicht (dalam bahasa Belanda). Dutch East Indies: D.A. Thieme. hlm. 22.
- ↑ von Siebold, Philipp Franz (1847). "Le moniteur des Indes orientales et occidentales: recueil de mémoires et de notices scientifiques et industriels... concernant les possessions néerlandaises d'Asie et d'Amérique" (dalam bahasa Prancis). Belinfante frères: 166. ; ;
- ↑ A. MEIJER (Jonkheer.) (1872). Militair tijdschrift (dalam bahasa Belanda). Bruining & Wijt. hlm. 554.
- ↑ Willem Adriaan Rees (1867). De bandjermasinsche krijg van 1859-1863: nader toegelicht (dalam bahasa Belanda). Dutch East Indies: D.A. Thieme. hlm. 21.