Walmart

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Walmart, Inc.
Perusahaan Terbuka (Tbk)
Kode emitenNYSEWMT
Dow Jones Industrial Average Component
S&P 500 Component
IndustriRitel
Didirikan1962 (1962)
PendiriSam Walton
Kantor
pusat
Bentonville, Arkansas, A.S.
36°21′51″N 094°12′59″W / 36.36417°N 94.21639°W / 36.36417; -94.21639
Cabang
8.970 (2011)
Wilayah operasi
150 negara
Tokoh
kunci
Greg Penner, Ketua
Doug McMillon, Presiden/CEO
ProdukPerlengkapan, cash & carry/klub gudang, toko serba ada diskon, toko diskon, hipermarket/supercenter/supertoko, supermarket
PendapatanKenaikan US$ 446.950 miliar (2012)[1]
Kenaikan US$ 026,558 miliar (2012)[1]
Penurunan US$ 015,699 miliar (2012)[1]
Total asetKenaikan US$ 193,406 miliar (2012)[1]
Total ekuitasKenaikan US$ 071,315 miliar (2012)[1]
PemilikWalton
Karyawan
2.2 million (2012)[1]
DivisiWalmart Canada
Anak
usaha
Sam's Club, Walmex
Situs webWal-Mart Stores.com
Walmart.com
Catatan kaki / referensi
[2][3][4]

Walmart Inc. (NYSEWMT), dipasarkan dengan nama Walmart, adalah perusahaan Amerika Serikat yang mengelola jaringan toserba. Menurut Fortune Global 500 2008, Wal-Mart adalah perusahaan terbuka terbesar di dunia berdasarkan pendapatan. Didirikan oleh Sam Walton pada tahun 1962, Wal-Mart mulai mencatatkan sahamnya di Bursa Saham New York pada tahun 1972.

Wal-Mart beroperasi di Argentina, Brasil, Kanada, Meksiko (dengan nama Walmex), Puerto Riko, dan RRC. Wal-Mart pernah beroperasi di Jerman namun akhirnya tutup pada tahun 2006 karena merugi, di Britania Raya (dengan nama Asda), di Jepang (dengan nama Seiyu) dan di Indonesia dalam waktu pendek (1996-1998) dengan membuka toko di Supermal Karawaci dan Pluit Village.

Wal-Mart telah dikritik oleh beberapa kelompok masyarakat, kelompok hak kewanitaan, dan persatuan buruh, khususnya mengenai banyaknya produk-produk yang disumber dari luar negeri, rendahnya tingkat pendaftaran asuransi kesehatan karyawan, penentangan terhadap perwakilan buruh, serta dugaan diskriminasi kelamin.

Wal-Mart di Indonesia[sunting | sunting sumber]

Wal-Mart merupakan salah satu pelopor bisnis hipermarket di Indonesia (operator kedua), selain Mega-M milik PT Matahari Putra Prima Tbk. Gerai Wal-Mart ini juga merupakan yang kedua di Asia setelah Tiongkok. Kehadirannya bermula ketika kelompok Lippo menggandeng Wal-Mart AS sebagai partner untuk membangun bisnis hipermarket di Indonesia, pada 16 Agustus 1995.[5] Awalnya, Lippo sempat berusaha menggandeng Kmart, namun gagal karena Kmart tidak menyanggupi keinginan Lippo untuk membangun 5 gerai hipermarket secara cepat. Beberapa orang menganggap, mulusnya perjanjian itu dipengaruhi kedekatan James Riady dengan Bill Clinton (Presiden AS saat itu) yang memang seperti Wal-Mart berasal dari Arkansas.[6] Bisnis yang ditangani oleh anak usaha PT Multipolar Tbk, PT Multipolar Perkasa ini berencana untuk membangun 5 gerai di Jabotabek dan Surabaya, seperti di Lippo Karawaci, Pondok Indah Mall, dan Mal Kelapa Gading, dengan gerai pertama dibuka di Karawaci pada Februari 1996 dan menggunakan modal US$ 100 juta.[7] Rencananya, PT Multipolar Perkasa sebagai pemegang lisensi akan dibantu Wal-Mart AS dalam penyediaan tenaga ahli dan manajemen, dan Multipolar akan menyediakan dananya.[8] Pihak Multipolar mengklaim, kerjasama ini bisa membantu produsen Indonesia mengembangkan peluang di luar negeri.[9][10] Pada 15 Agustus 1996, gerai Wal-Mart di Indonesia pun dibuka untuk umum di Lippo Supermal Karawaci[11] seluas 16.486 meter persegi dalam 3 lantai (bernama Wal-Mart Supercenter).[12] Tidak lama setelah itu, Wal-Mart juga membuka gerai keduanya di Mega Mal Pluit, seluas 17.000 m2.[13][10] Perkembangan Wal-Mart, saat itu diklaim cukup baik.[14] Bahkan, menurut rencana, Wal-Mart berniat mengakuisisi 70% saham mayoritas di PT Multipolar Perkasa jika pemerintah sudah memperbolehkan kepemilikan mayoritas peritel asing pada 2000.[15]

Akan tetapi, tidak lama kemudian, hubungan Wal-Mart dan Lippo pun memburuk, terutama setelah Lippo mengakuisisi induk Mega-M, PT Matahari Putra Prima pada Maret 1997. Lippo dianggap jauh lebih fokus pada Matahari dan Mega-M dibanding Wal-Mart yang seharusnya keduanya bersaing.[16] Selain itu, dengan akuisisi Matahari Putra Prima sebagai pengelola Mega-M, Wal-Mart khawatir rivalnya itu akan mengetahui rahasia bisnisnya, yang berarti hal tersebut telah melanggar kesepakatan mereka di awal.[17] Persengketaan keduanya pun memanas, dengan pada Februari 1998, Multipolar menggugat Wal-Mart senilai US$ 98,8 juta dengan alasan manajemen Wal-Mart tidak berkompetensi, seperti memanipulasi inventaris, anggaran, kemudian membuat tagihan dan klaim palsu, dan pegawainya dari AS telah menyelewengkan anggaran perusahaan.[5][10] Wal-Mart juga dituduh melanggar kesepakatan keduanya dengan ikut campur di luar hal-hal teknis,[8] hendak memutuskan hubungan keduanya pada Februari 1998,[15] dan mengganggu keuangan Multipolar dengan membengkaknya biaya pengelolaan.[5][18] Sebaliknya, Wal-Mart menuduh Multipolar (Lippo) telah menunggak biaya lisensi Wal-Mart di Indonesia,[17] dan menganggap bahwa Lippo memaksa Wal-Mart untuk diatur sesuka mereka, seperti asal menaikkan harga.[15] Memang, tidak bisa dipungkiri karena dua gerai Mega-M berada di tempat yang sama dengan gerai Wal-Mart, maka persaingan kedua gerai hipermarket tersebut menjadi panas dan terjadi perang harga.[19] Bahkan, demi mengalahkan Mega-M, Wal-Mart dikabarkan pernah menurunkan harga hampir 3 kali demi bersaing dengannya.[20][10]

Pada Mei 1998, salah satu gerai Wal-Mart dibakar dan dijarah perusuh dalam kerusuhan Mei 1998, tepatnya di Lippo Supermal.[15] Ditambah adanya sengketa antara Lippo dan Wal-Mart dan menurunnya penjualan dalam krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu sehingga tercatat merugi senilai US$ 2 juta/bulan,[21] hipermarket yang saat itu hanya memiliki 2 cabang di Lippo Supermal Karawaci dan Mega Mal Pluit[22] ini akhirnya ditutup dan berarti angkat kaki dari Indonesia. Bahkan tetap ada masalah lagi setelah Wal-Mart ditutup, dimana pada 5 Juni 1998, karyawan dari dua gerai Wal-Mart berunjuk rasa terkait kejelasan status mereka sebagai karyawan, karena mereka terus-menerus menganggur tanpa kejelasan setelah dua gerainya ditutup.[10][17] Tidak lama kemudian, Lippo (lewat anak usahanya, PT Matahari Putra Prima) juga menutup rival Wal-Mart, Mega-M, meskipun akhirnya sejak 2004 (dan sampai saat ini) kembali memulai bisnis hipermarketnya, yang dikenal dengan nama Hypermart. Hypermart sempat dirumorkan akan diakuisisi oleh Wal-Mart pada 2010, namun ditolak manajemen PT Matahari Putra Prima Tbk.[23][24] Selain itu, rumor "kembalinya" Wal-Mart juga sempat muncul pada akhir 2011, namun ditunda karena pemulihan pasca krisis ekonomi 2008.[25]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Televisi dan film[sunting | sunting sumber]

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Charles Fishman. The Wal-Mart Effect: How the World's Most Powerful Company Really Works—and How It's Transforming the American Economy (2006).ISBN 978-1-59420-076-2.
  • Paul Ingram, Lori Qingyuan Yue, and Hayagreeva Rao. "Trouble in Store: Probes, Protests, and Store Openings by Wal‐Mart, 1998–2007," American Journal of Sociology July 2010, Vol. 116, No. 1: pp 53–92. DOI:10.1086/653596.
  • Nelson Lichtenstein. The Retail Revolution: How Wal-Mart Created a Brave New World of Business (2009). ISBN 978-0-8050-7966-1.
  • Sandra Stringer Vance and Roy V. Scott. Wal-Mart: A History of Sam Walton's Retail Phenomenon (Twayne's Evolution of Modern Business Series) (1997), academic study. ISBN 978-0-8057-9832-6.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]