Waduk Jatiluhur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Waduk Jatiluhur
NamaWaduk Ir. H. Juanda
LokasiJatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat
KegunaanSerbaguna
StatusDigunakan
Mulai dibangun1957
Mulai dioperasikan1967
Biaya konstruksiUS$230 juta
PemilikKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Kontraktor
PerancangCoyne et Bellier
Bendungan dan saluran pelimpah
Tipe bendunganUrugan
Tinggi96 m
Panjang1.220 m
Volume9.100.000 m³
Ketinggian di puncak114,5 m
MembendungSungai Citarum
Tipe pelimpahCorong
Waduk
Kapasitas aktif2.448.000.000 m³
Luas tangkapan4.500 km²
PLTA Jatiluhur
PengelolaJasa Tirta II
JenisKonvensional
Jumlah turbin6
Kapasitas terpasang187 MW

Waduk Ir. H. Juanda atau biasa disebut sebagai Waduk Jatiluhur (Aksara Sunda Baku: ᮝᮓᮥᮊ᮪ ᮏᮒᮤᮜᮥᮠᮥᮁ), adalah sebuah waduk yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (±9 km dari pusat Kota Purwakarta). Waduk ini diberi nama sesuai nama seorang pahlawan nasional, yakni Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, yang bersama Ir. Sedijatmo, gigih memperjuangkan terwujudnya pembangunan waduk ini di internal pemerintah Indonesia maupun di forum internasional.[1] Waduk ini adalah waduk terbesar di Indonesia, dengan potensi air sebesar 12,9 miliar m3/tahun dan merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia. Waduk ini dapat dikunjungi melalui Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi) dengan keluar di Gerbang Tol Jatiluhur.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pembangunan waduk ini digagas oleh W.J. van Blommestein, seorang ahli pengairan asal Belanda, guna memanfaatkan derasnya aliran Sungai Citarum untuk mengairi lahan pertanian. Sebelum waduk ini dibangun, di musim hujan, sering terjadi banjir di Bekasi dan Karawang, sehingga menyulitkan kegiatan pertanian. Selain itu, banjir juga kerap menggenangi jalan raya Jakarta - Cirebon, sehingga terkadang membuat pengguna jalan harus berhenti dan menginap di Karawang atau Cikampek. Selain untuk mengairi lahan pertanian dan mengendalikan banjir, waduk ini juga dirancang untuk dapat membangkitkan listrik melalui sebuah PLTA. Pembangunan PLTA tersebut awalnya mendapat banyak kritik, karena kapasitas terpasangnya direncanakan mencapai 125 MW, padahal kebutuhan listrik di Jakarta saat itu sebenarnya sudah dapat dipenuhi hanya dengan kapasitas terpasang sebesar 50 MW.[1]

Waduk ini kemudian mulai dibangun pada tahun 1957 dengan batu pertamanya diletakkan oleh Presiden Ir Soekarno. Waduk ini lalu diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 26 Agustus 1967. Pembangunan waduk ini menelan biaya sebesar US$230 juta. Waduk ini membuat 4 desa tergenang penuh dan 11 desa lainnya tergenang sebagian, sehingga 5.004 orang penduduk harus dipindahkan ke lokasi lain. Sebagian dipindahkan ke sekitar bendungan dan sebagian lainnya dipindahkan ke Kabupaten Karawang. Sebagian besar penduduk yang terdampak waktu itu bekerja sebagai petani.[1][2]

Waduk ini dirancang berumur layanan sampai 200 tahun, tetapi dengan selesainya pembangunan Waduk Cirata dan Waduk Saguling, umur layanan waduk ini diperkirakan mencapai 276 tahun dari tahun 1987. Untuk keperluan irigasi, juga dibangun Bendung Curug untuk membagi air yang keluar dari waduk ini ke tiga saluran irigasi, yakni Tarum Timur, Tarum Barat, dan Tarum Utara, yang masing-masing difungsikan untuk mengairi lahan pertanian seluas sekitar 80.000 hektar.[1]

Setelah selesai dibangun, waduk ini dikelola oleh sebuah perusahaan negara (PN) yang diberi nama PN Jatiluhur, yang kemudian diubah statusnya menjadi sebuah perusahaan umum (Perum) dengan nama Perum Otorita Jatiluhur pada tahun 1970, dan kemudian diubah namanya menjadi Perum Jasa Tirta II pada tahun 1999.[1]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Bendungan Jatiluhur dilihat dari Jembatan Oranye di bawah bendungan

Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh Perum Jasa Tirta II. Selain dari itu Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir yang dikelola oleh Perum Jasa Trita II.

Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperti hotel dan bungalow, bar dan restaurant, lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya. Sarana olahraga dan rekreasi air misalnya mendayung, selancar angin, kapal pesiar, ski air, boating dan lainnya.

Di perairan Danau Jatiluhur ini juga terdapat budidaya ikan keramba jaring apung, yang menjadi daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau dalam keheningan malam kita dapat memancing penuh ketenangan sambil menikmati ikan bakar. Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit Bumi yang dikelola oleh PT Indosat Tbk. (±7 km dari pusat Kota Purwakarta), sebagai alat komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service (ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya.

Panorama[sunting | sunting sumber]

Pemandangan Waduk Jatiluhur dilihat dari Gunung Parang
Bendungan Jatiluhur
Waduk Jatiluhur

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e Sinaro, Radhi (2007). Menyimak Bendungan di Indonesia (1910-2006) (dalam bahasa Indonesia). Tangerang Selatan: Bentara Adhi Cipta. ISBN 978-979-3945-23-1. 
  2. ^ Sejarah Bendungan Jatiluhur

Pranala luar[sunting | sunting sumber]