Unikorn (keuangan)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Unikorn (bahasa Inggris: Unicorn) adalah perusahaan rintisan milik swasta yang nilai kapitalisasinya lebih dari $1 miliar. Istilah ini diciptakan pada tahun 2013 oleh Aileen Lee, seorang pemodal usaha. Ia memilih hewan mitos ini karena perusahaan yang sukses seperti ini tergolong langka.[1][2][3][4] Dekakorn (decacorn) adalah sebutan untuk perusahaan yang nilainya lebih dari $10 miliar,[5] sedangkan hektokorn (hectocorn) untuk perusahaan yang nilainya lebih dari $100 miliar. Mennurut TechCrunch, ada 279 unikorn hingga Maret 2018.[6] Ant Financial, Didi Chuxing, Uber, Xiaomi, Airbnb, Palantir, dan Pinterest masuk jajaran unikorn terbesar di dunia.[7] Dropbox adalah dekakorn terbaru yang menjadi perusahaan terbuka pada 23 Maret 2018.

Bill Gurley, rekanan pemodal usaha di Benchmark memprediksi pada Maret 2015 dan sebelumnya bahwa kenaikan jumlah unikorn adalah pertanda bahwa "dunia mulai spekulatif dan tidak berkelanjutan" sehingga akan memicu gelombang "unikorn mati".[8][9][10] Ia juga mengatakan bahwa alasan utama tingginya nilai unikorn adalah "banyak sekali uang" yang dapat digelontorkan ke perusahaan mereka.[11] Penelitian Universitas Stanford menunjukkan bahwa nilai rata-rata unikorn 48% lebih tinggi daripada semestinya.[12][13]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2013, ketika Aileen Lee menciptakan istilah "unicorn", baru 39 perusahaan yang tergolong unikorn.[14] Menurut penelitian Harvard Business Review, perusahaan rintisan yang didirikan antara 2012 dan 2015 nilainya bertambah dua kali lebih cepat daripada perusahaan rintisan yang didirikan antara 2000 dan 2013.[15]

Pemicu pertumbuhan cepat[sunting | sunting sumber]

Strategi tumbuh cepat[sunting | sunting sumber]

Investor dan badan pemodal usaha menggunakan strategi Get big fast (GBF) untuk menghadapi perusahaan rintisan. Menurut GBF, sebuah perusahaan rintisan mencoba ekspansi cepat melalui serangkaian putaran pendanaan besar dan pemotongan harga supaya pangsa pasarnya unggul dan pesaingnya cepat tersingkir.[16] Keuntungan yang meningkat pesat yang dijanjikan oleh strategi ini menarik perhatian semua pihak. Namun, mereka selalu mempertimbangkan meletusnya gelembung dot-com tahun 2000 dan tidak adanya keberlanjutan nilai perusahaan era Internet dalam jangka panjang.

Akuisisi perusahaan[sunting | sunting sumber]

Banyak unikorn terbentuk melalui akuisisi oleh perusahaan terbuka besar. Apabila tingkat bunga sedang rendah dan pertumbuhan melambat, banyak perusahaan seperti Apple, Facebook, dan Google mengutamakan akuisisi alih-alih penanaman modal dan pengembangan proyek investasi internal.[17] Beberapa perusahaan besar memilih memperluas operasinya dengan mengakuisisi perusahaan dengan teknologi dan model bisnis yang mapan daripada membuat sendiri.

Modal swasta[sunting | sunting sumber]

Usia rata-rata perusahaan teknologi sebelum melantai ke bursa efek saat ini adalah 11 tahun, lebih lama daripada usia rata-rata empat tahun pada 1999.[18] Dinamika baru ini berkembang berkat banyaknya modal swasta yang bisa diperoleh unikorn serta disahkannya Jumpstart our Business Startups (JOBS) Act di Amerika Serikat pada tahun 2012. Undang-undang ini mengizinkan perusahaan menambah jumlah pemegang sahamnya empat kali lipat sebelum diwajibkan membuka laporan keuangannya. Jumlah modal swasta yang ditanam di perusahaan perangkat lunak naik tiga kali lipat sejak 2013 sampai 2015.[19]

Mencegah IPO[sunting | sunting sumber]

Melalui banyak putaran pendanaan, perusahaan tidak perlu melewati proses penawaran umum perdana (IPO/initial public offering) untuk mendapat modal atau nilai yang lebih tinggi; mereka tinggal meminta modal tambahan dari investor yang sama. IPO juga berpeluang menurunkan nilai perusahaan apabila pasar menganggap nilai perusahaan tidak setinggi itu.[19] Penurunan pasca-IPO dialami oleh Square, platform pembayaran daring dan jasa keuangan, dan Trivago, mesin pencari hotel asal Jerman. Harga saham kedua perusahaan ini lebih rendah daripada harga penawaran perdana.[20][21] Ini disebabkan oleh terlalu tingginya nilai perusahaan di pasar swasta yang didongkrak oleh investor dan badan pemodal usaha. Pasar tidak setuju dengan nilai perusahaan sehingga menjatuhkan harga setiap lembar saham dari harga sebelumnya (penawaran perdana).

Investor dan perusahaan rintisan juga malas melantai ke bursa efek karena peraturannya banyak. Undang-Undang Sarbanes–Oxley menerapkan aturan yang lebih ketat setelah banyak perusahaan bangkrut di Amerika Serikat. Karena itu, perusahaan rintisan menghindari kebangkrutan dengan tidak menawarkan sahamnya ke publik.[17]

Kemajuan teknologi[sunting | sunting sumber]

Perusahaan rintisan memanfaatkan teknologi-teknologi baru yang muncul dalam sepuluh tahun terakhir untuk mendongkrak nilai perusahaan. Seiring populernya media sosial dan akses ke jutaan pengguna teknologi ini, perusahaan rintisan bisa memperbesar bisnisnya dengan sangat cepat.[17] Inovasi teknologi baru seperti telepon pintar, platform P2P, dan komputasi awan ditambah aplikasi media sosial turut membantu pertumbuhan unikorn.

Nilai[sunting | sunting sumber]

Perkembangan nilai yang membuat perusahaan rintisan menjadi unikorn dan dekakorn berbeda daripada nilai perusahaan yang sudah mapan. Nilai perusahaan mapan dihitung dari kinerja tahun-tahun sebelumnya, sedangkan nilai perusahaan rintisan dihitung dari potensi pertumbuhan dan prediksi perkembangan jangka panjang di pasarnya.[22] Nilai unikorn biasanya berasal dari putaran pendanaan dari badan-badan pemodal usaha besar yang menanamkan modal di perusahaan rintisan. Nilai perusahaan rintisan juga bisa terdongkrak ketika perusahaan yang lebih besar mengakuisisi sebuah perusahaan dengan nilai unikorn. Contohnya, ketika Unilever membeli Dollar Shave Club[23] dan Facebook membeli Instagram dengan nilai $1 miliar,[24] kedua perusahaan ini (Dollar Shave Club dan Instagram) otomatis menjadi unikorn.

Tren[sunting | sunting sumber]

Ekonomi berbagi[sunting | sunting sumber]

Ekonomi berbagi, juga disebut "konsumsi kolaboratif" atau "ekonomi sesuai permintaan", berlandaskan konsep berbagi sumber daya pribadi. Tren berbagi sumber daya ini mengubah tiga dari lima unikorn terbesar (Uber, Didi Chuxing, dan Airbnb) menjadi perusahaan rintisan paling bernilai di dunia. Resesi ekonomi mendorong konsumen untuk mengetatkan anggaran belanja. Ekonomi berbagi memungkinkan konsumen yang sedang berhemat tetap berbelanja.[25]

Perdagangan elektronik[sunting | sunting sumber]

Perdagangan elektronik dan inovasi pasar daring perlahan membuat toko fisik tidak diperlukan lagi. Salah satu buktinya adalah jatuhnya pamor mal atau pusat perbelanjaan di Amerika Serikat. Angka penjualan di mal-mal Amerika Serikat turun dari $87,46 miliar tahun 2005 menjadi $60,65 miliar tahun 2015.[26] Munculnya perusahaan-perusahaan perdagangan elektronik seperti Amazon dan Alibaba (dua-duanya unikorn sebelum melepas saham ke publik) meniadakan kebutuhan kehadiran secara fisik. Banyak perusahaan besar yang mengamati dan mencoba beradaptasi dengan tren perdagangan elektronik. Walmart mengakuisisi Jet.com, perusahaan perdagangan elektronik Amerika Serikat, dengan nilai $3,3 miliar untuk mencoba beradaptasi dengan preferensi pelanggan.[27]

Model bisnis inovatif[sunting | sunting sumber]

Dalam ekonomi berbagi, berbagai unikorn dan perusahaan rintisan besar telah membangun model operasi yang disebut "orkestrator jaringan".[28] Menurut model bisnis ini, ada jaringan sejawat yang menciptakan nilai melalui interaksi dan saling berbagi. Orkestrator jaringan bisa menjual produk/jasa, berkolaborasi, berbagi ulasan, dan membina hubungan melalui bisnis mereka. Contoh orkestrator jaringan adalah semua perusahaan ekonomi berbagi (i.e. Uber, Airbnb), perusahaan yang mengizinkan pelanggan berbagi informasi (i.e. TripAdvisor, Yelp), dan situs jual-beli individu-ke-individu atau perusahaan-ke-individu (i.e. Amazon, Alibaba).

Data[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah data unikorn per 13 Maret 2018:[6][29]

  • Jumlah unikorn: 279
  • Nilai total semua unikorn: $1 triliun
  • Jumlah total modal yang diberikan: $205,8 miliar
  • Jumlah unikorn teknologi baru tahun 2016: 25 (turun 68% per tahun)
  • Jumlah total unikorn baru tahun 2016: 51

Unikorn terbesar[sunting | sunting sumber]

Tiga dari lima unikorn bernilai tertinggi terletak di Tiongkok. Dua lainnya bermarkas di San Francisco, California.[6]

Uber
  • Nilai saat ini: $69 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $10,7 miliar
  • Uber, sebelumnya bernama UberCab, adalah perusahaan jaringan transportasi yang memungkinkan pengguna memesan mobil untuk mengangkut mereka ke tempat lain (seperti taksi) menggunakan aplikasi telepon genggam. Uber beroperasi di 81 negara dan 581 kota.[30]
  • Tahun berdiri: 2009
  • Pendiri: Garrett Camp, Oscar Salazar, Travis Kalanick
  • Sektor industri: Transportasi
  • Kantor pusat: San Francisco, California
ANT Financial
  • Nilai saat ini: $60 miliar (Februari 2018)
  • Total modal yang ditanamkan: $4,5 miliar
  • ANT Financial, sebelumnya bernama Alipay, adalah perusahaan pembayaran yang mengoperasikan platform pembayaran Alibaba.
  • Tahun berdiri: 2014
  • Pendiri: Jack Ma
  • Sektor industri: Jasa keuangan
  • Kantor pusat: Xihu District, Hangzhou, Tiongkok
Didi Chuxing
  • Nilai saat ini: $56 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $17 Billion
  • Didi Chuxing, sebelumnya bernama Didi Kuaidi, adalah perusahaan jaringan transportasi yang memungkinkan pengguna memesan mobil untuk mengangkut mereka ke tempat lain (seperti Uber) menggunakan aplikasi telepon genggam. Didi Chuxing beroperasi di 400 kota dengan 400 juta pengguna di Tiongkok.
  • Tahun berdiri: 2012
  • Pendiri: Cheng Wei, Wu Rui, Zhang Bo
  • Sektor industri: Transportasi
  • Kantor pusat: Distrik Haidian, Beijing, Tiongkok
Xiaomi
  • Nilai saat ini: $45 miliar (Juli 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $1.1 miliar
  • Xiaomi adalah perusahaan elektronika Tiongkok sekaligus produsen telepon pintar terbesar kelima di dunia.
  • Tahun berdiri: 2010
  • Pendiri: Chuan Wang, Hong Feng, Huang Jiangji, Jiangji Wong, Lei Jun, Li Wanqiang, Lin Bin, Liu De, Wang Chuan, Zhou Guangping
  • Sektor industri: Perangkat keras
  • Kantor pusat: Distrik Haidian, Beijing, Tiongkok
Airbnb
  • Nilai saat ini: $31 miliar (Desember 2017)
  • Total modal yang ditanamkan: $3.4 miliar
  • Airbnb, adalah perusahaan pasar berbagi properti daring yang memungkinkan pengguna menginap di berbagai vila, apartemen, hostel, atau hotel. Airbnb memiliki 3 juta tempat penginapan di 65.000 kota di 191 negara.
  • Tahun berdiri: 2008
  • Pendiri: Brian Chesky, Joe Gebbia, Nathan Blecharczyk
  • Sektor industri: Penginapan & perjalanan
  • Kantor pusat: San Francisco, California

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Rodriguez, Salvador (September 3, 2015). "The Real Reason Everyone Calls Billion-Dollar Startups 'Unicorns'". International Business Times. IBT Media Inc. Diakses tanggal January 3, 2017. 
  2. ^ Lee, Aileen (2013). "Welcome To The Unicorn Club: Learning From Billion-Dollar Startups". TechCrunch. Diakses tanggal 26 December 2015. 39 companies belong to what we call the 'Unicorn Club' (by our definition, U.S.-based software companies started since 2003 and valued at over $1 billion by public or private market investors)... about .07 percent of venture-backed consumer and enterprise software startups 
  3. ^ Griffith, Erin & Primack, Dan (2015). "The Age of Unicorns". Fortune.com. Diakses tanggal 26 December 2015. Subtitle: The billion-dollar tech startup was supposed to be the stuff of myth. Now they seem to be... everywhere. 
  4. ^ Chohan, Usman (2016). "It's Hard to Hate a Unicorn, Until it Gores You". The Conversation. Diakses tanggal 26 October 2016. 
  5. ^ Roberts, Daniel & Nusca, Andrew (2015). "The Unicorn List". Fortune. Diakses tanggal 26 December 2015. 
  6. ^ a b c CrunchBase. "The CrunchBase Unicorn Leaderboard | TechCrunch". TechCrunch (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-03-06. 
  7. ^ Frier, Sarah & Newcomer, Eric (2015). "The Fuzzy, Insane Math That's Creating So Many Billion-Dollar Tech Companies". Bloomberg L.P. Diakses tanggal 26 December 2015. Subtitle: Startups achieve astronomical valuations in exchange for protecting new investors... Snapchat, the photo-messaging app raising cash at a $15 billion valuation, probably isn't actually worth more than Clorox or Campbell Soup. So where did investors come up with that enormous headline number? 
  8. ^ Winkler, Rolfe (2015). "Bill Gurley Sees Silicon Valley on a Dangerous Path". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 26 December 2015. ((Perlu berlangganan (help)). Subtitle: Subtitle: Venture capitalist says companies hurt themselves by trying to delay going public 
  9. ^ Blodget, Henry (2008). "Tech: How To Survive Great Depression 2.0 Without Firing Everyone". Business Insider. Diakses tanggal 26 December 2015. It seems every serious venture capital firm has now had a chat with its portfolio companies about how it[']s time to fire people... VC-extraordinaire Bill Gurley's Benchmark has had the same chat with its companies, but Bill tells peHUB that there's actually an alternative to canning half your company: Move to San Jose 
  10. ^ Griffith, Erin (2015). "Bill Gurley Predicts 'Dead Unicorns' in Startup-Land this Year". Fortune. Diakses tanggal 26 December 2015. Subtitle: A crash would affect more than just startups. ... Bill Gurley, the prominent investor behind Uber and Snapchat, has been sounding the tech bubble alarm for months now. He's preached about the dangerous appetite for risk in the market, the alarmingly high burn rates and the excess of capital sloshing around in Silicon Valley. “There is no fear in Silicon Valley right now,” he said. “A complete absence of fear.” He added that more people are employed by money-losing companies in Silicon Valley than ever before. Will there be a crash? “I do think you’ll see some dead unicorns this year,” he said, using the term used to describe startups with valuations higher than $1 billion. 
  11. ^ Rob Price (2018). "Legendary investor Bill Gurley says that there's a 'systematic problem in Silicon Valley' because it's too easy to get cash". Business Insider. Diakses tanggal 12 March 2018. There's so much easy money in the tech industry, entrepreneurs can afford not to be accountable to their investors. That "excessive amount of money," he says, can inflate a startup's valuation — even if they don't deserve it. 
  12. ^ Gornall and Strebulaev (2018). "Squaring Venture Capital Valuations with Reality". Stanford University Working Paper. Diakses tanggal 11 March 2018. We develop a valuation model for venture capital-backed companies and apply it to 135 U.S. unicorns -- private companies with reported valuations above $1 billion. We value unicorns using financial terms from legal filings and find reported unicorn post-money valuations average 48% above fair value, with 13 being more than 100% above. 
  13. ^ Sorkin, Andrew (2017). "How Valuable Is a Unicorn? Maybe Not as Much as It Claims to Be". New York Times. Diakses tanggal 11 March 2018. The average unicorn is worth half the headline price tag that is put out after each new valuation. 
  14. ^ Fan, Jennifer S. "Regulating Unicorns: Disclosure and the New Private Economy." BCL Rev. 57 (2016): 583.
  15. ^ "How Unicorns Grow". Harvard Business Review. Diakses tanggal 2017-03-30. 
  16. ^ Sterman, J. D., Henderson, R., Beinhocker, E. D., & Newman, L. I. (2007). Getting big too fast: Strategic dynamics with increasing returns and bounded rationality. Management Science, 53(4), 683-696.
  17. ^ a b c Howe, Neil. "What's Feeding The Growth Of The Billion-Dollar 'Unicorn' Startups?". Forbes. Diakses tanggal 2017-03-30. 
  18. ^ "To fly, to fall, to fly again". The Economist. 2015-07-25. ISSN 0013-0613. Diakses tanggal 2017-03-30. 
  19. ^ a b "Grow fast or die slow: Why unicorns are staying private". McKinsey & Company (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-30. 
  20. ^ Demos, Telis; Driebusch, Corrie (2015-11-19). "Square's $9-a-Share Price Deals Blow to IPO Market". Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 2017-03-31. 
  21. ^ Balakrishnan, Anita (2016-12-16). "Trivago IPO opens at $11.20 after pricing at $11, below its expected range". CNBC. Diakses tanggal 2017-03-31. 
  22. ^ "Valuing high-tech companies". McKinsey & Company (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-30. 
  23. ^ "Unilever Buys Dollar Shave Club for $1 Billion". Fortune. Diakses tanggal 2017-03-30. 
  24. ^ Raice, Shayndi; Ante, Spencer E. (2012-04-10). "Insta-Rich: $1 Billion for Instagram". Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 2017-03-30. 
  25. ^ Newlands, Murray (July 17, 2015). "The Sharing Economy: Why it Works and How to Join". Forbes. Diakses tanggal March 31, 2017. 
  26. ^ Ho, Ky Trang. "How To Profit From The Death Of Malls In America". Forbes. Diakses tanggal 2017-03-31. 
  27. ^ Nassauer, Sarah (2016-08-08). "Wal-Mart to Acquire Jet.com for $3.3 Billion in Cash, Stock". Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 2017-03-31. 
  28. ^ "Rise of the Unicorns". Zinnov Thoughts (dalam bahasa Inggris). 2015-08-27. Diakses tanggal 2017-04-01. 
  29. ^ Lunden, Ingrid. "CB Insights: 3,358 tech exits in 2016, 'unicorn births' down 68%". TechCrunch. Diakses tanggal 2018-03-06. 
  30. ^ "Uber Cities". uberestimator.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-03-31.