Kumbang sagu
| Kumbang sagu | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | |
| Filum: | |
| Kelas: | |
| Ordo: | |
| Famili: | |
| Genus: | |
| Spesies: | R. ferrugineus |
| Nama binomial | |
| Rhynchophorus ferrugineus (Olivier, 1790) | |
Kumbang sagu atau Kumbang kelapa merah atau Kumbang tanduk merah (Lat.: Rhynchophorus ferrugineus, larvanya disebut ulat sagu) adalah jenis kumbang yang tersebar luas dari India sampai Sauwa, mengikuti penyebaran inangnya. Tubuh berwarna coklat kemerahan atau hitam,sebesar kenari. Moncong panjang meruncing kemuka dan kebelakang. Larva sebesar ibu jari tangan, kadang - kadang lebih besar. Kepala kecil berwarna coklat kehitaman, kulit berkerut. Larva dan kumbang dewasa makan empulur batang sagu yang membusuk. Kepompong panjang sebesar biji durian, berwarna putih kekuningan, terbungkus anyaman serat batang sagu. Kumbang ini di temui pula pada batang kelapa, aren, salak dan kirai, karenanya sering dinamakan kumbang kelapa. Di beberapa tempat di Indonesia, larva kumbang sagu dikenal sebagai makanan lezat.[1] Kumbang Sagu merupakan salah satu serangga hama pada tanaman kelapa. Hama ini berada di pucuk tanaman kelapa mulai dari telur sampai dewasa. Masyarakat Maluku dan Suku Kamoro dari Papua biasa mengkonsumsi ulat ini dengan cara dibakar seperti sate atau dimakan mentah (hidup-hidup). Mereka meyakini bahwa ulat sagu banyak mengandung protein dan vitamin sehingga semakin banyak mereka mengkonsumsinya maka tubuh akan menjadi sehat dan perkasa.[2] Serangga ini merupakan hama untuk pohon kurma, kelapa, kelapa sawit, sagu, siwalan. aren, dan pohon palem-paleman lainnya. Serangga ini diketahui menyebabkan kerusakan besar-besaran pada tanaman kelapa pada tahun 1906 di India dan pada pohon kurma pada tahun 1918. Serangga ini masuk ke timur tengah pada tahun 1980an dan menjadi hama yang merusak perkebunan kurma.[3]
Siklus hidup
[sunting | sunting sumber]Serangga ini memiliki 5 tahap siklus hidup dimulai dari telur, larva, kepompong, pupa, dan serangga dewasa. Keseluruhan proses siklus hidup tidak bisa dilakukan di pohon lain, harus berada di dalam pohon palem-paleman.[3] Sang kumbang betina biasanya meletakkan telur-telur dibagian luka batang pohon atau luka bekas gerakan tanduk kumbang lainnya. Telur kumbang merah kelapa tersebut kemudian menetaskan larva, larva ini lalu tumbuh menjadi ulat sebelum mencapai bentuk sempurnanya menjadi kumbang dewasa. Ulat yang tumbuh di pohon sagu ini berukuran seperti ibu jari dan berwarna putih. Siklus hidup dari ulat sagu terdiri atas stadium imago dan stadium larva. Stadium imago berlangsung selama 3–6 bulan. Jumlah telur bisa mencapai 500 butir. Ukuran panjang telur 2,5 mm dengan lebar 1 mm.[4]
Telur menetas setelah 3 hari dan masuk stadium larva. Periode larva berlangsung selama 2,5–6 bulan (tergantung temperatur dan kelembapan). Setelah dewasa larva akan berhenti makan, kemudian akan mencari tempat lindung yang dingin dan lembap untuk persiapan membentuk pupa atau kepompong. Dua minggu hidup dalam kepompong, lalu bertukar rupa menjadi bentuk dewasa selama 3 minggu dan masih tinggal di dalamnya. Pada fase terakhir, akan berubah warna menjadi merah cokelat dan bagian tubuhnya telah memperlihatkan tubuh kumbang dewasa. Sebelum mencapai fase kepompong menuju kumbang dewasa, biasanya ulat sudah diambil untuk dikonsumsi.[4]
Telur
[sunting | sunting sumber]Telur memiliki panjang 2,6 mm dan lebar 1,1 mm dengan warna putih. Telur berbentuk oval dan memanjang.[3] Telur akan menetas dalam waktu 2-3 hari.[5]
Larva
[sunting | sunting sumber]Larva yang baru keluar dari telur berwarna putih kekuningan, sementara ketika sudah besar berwarna coklat kekuningan. Panjangnya 5 cm dengan lebar 2 cm. Memiliki mulut berkitin dengan kepala berwarna cokelat.[3] Serangga ini menjadi larva selama 41-78 hari dan selama itu, larva akan mengonsumsi tunas batang muda.[5]
Kepompong
[sunting | sunting sumber]Serangga ini membentuk pupa dengan panjang 6 cm dan lebar 3 cm. Kepomopong terbuat dari fiber pohon inangnya.[3]
Pupa
[sunting | sunting sumber]Pupa awalnya berwarna putih krim tetapi semakin lama warnanya akan berubah menjadi cokelat. Pupa memiliki panjang 3,5 cm dengan lebar 1,5 cm.[3] Serangga ini menjadi pupa selama 15-27 hari.[5]
Dewasa
[sunting | sunting sumber]Ketika serangga dewasa, serangga ini memiliki panjang 3,5 cm dan lebar 1,2 cm.[3]
Pengendalian
[sunting | sunting sumber]Serangga ini merupakan hama untuk sebagian besar tanaman palma. Tanaman muda yang terinfeksi bagian pangkal atau titik tumbuh tanaman tersebut akan terbentuk lubang akibat serangan serangga ini sehingga pelepah daun rusak dan terkulai. Pada tanaman dewasa, serangga ini akan menyerang pelepah muda yang belum terbuka. Lubang bekas serangan serangga ini akan keluar lendir berwarna merah kecoklatan.[5] Serangan serangga ini sangat sulit untuk dikendalikan. Beberapa metode pengendalian dibutuhkan agar serangan serangga ini terkendali.[3]
Pengendalian secara biologis
[sunting | sunting sumber]Pengendalian secara biologis dilakukan dengan menggunakan musuh alami serangga ini. Musuh alami serangga ini diantaranya melalui virus Cytoplasmic polyhedrosis virus yang menyerang hama ini ketika masih menjadi larva.[6] Selain virus tadi, musuh serangga ini yang menyerang ketika larva adalah nematoda Heterorhabditis indicus,[7] Serangga Scolia erratica[8] dan Chelisoches morio.[9] Spesies yang menyerang serangga ini ketika dewasa adalah nematoda Praecocilenchus ferruginophorus[10] dan serangga Hypoaspis.[11] Musuh lainnya adalah Steinernema carpocapsae, Steinernema riobravis, dan jamur Metarhizium pingshaense.[5]
Pengendalian menggunakan pestisida
[sunting | sunting sumber]Pengendalian untuk mencegah kumbang sagu betina untuk bertelur adalah dengan menyiram bekas luka/sayatan yang terdapat pada kepala sari bunga dengan pestisida. Bekas luka pada kepala sari bunga merupakan tempat favorit serangga ini untuk bertelur. Apabila sudah terjadi infeksi maka tindakan yang dilakukan adalah memotong bagian bunga yang terinfeksi dan lakukan suspensi insektisida. Jika yang terkena bagian batang, maka bagian yang terkena harus dibersihkan dan diberi campuran lumpur dan pestisida.[3]
Pemanfaatan
[sunting | sunting sumber]Ulat sagu bentuknya berwarna putih dan terlihat gemuk. Bagi masyarakat Papua khususnya yang tinggal di kawasan pesisir, ulat sagu merupakan menu makanan favorit. Ulat sagu merupakan kuliner favorit sejak masa prasejarah.[12]
Ulat sagu didapatkan dari batang pohon sagu yang tua dan biasanya sudah tumbang. Bagian dalam batang pohon sagu ini penuh dengan zat tepung yang menjadi makanan ulat sagu. Ulat sagu dipercaya mengandung banyak manfaat. Karena mengandung protein tinggi, bebas kolesterol, dan dapat membantu mengurangi hama pada tanaman.[12]
Ulat sagu memiliki kandungan protein tetapi sebagian besar adalah lemak. 100 gr ulat sagu mengandung 181 kalori dengan 6,1 gr protein dan 13,1 gr lemak.[12]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ (Indonesia) Hassan Shadily Ensiklopedi Indonesia Jilid ke-4. 1984. Jakarta: Ictiar Baru- Van Hoeve dan Elsevier Publishing Projects.
- ↑ (Indonesia) "Sate Ulat Kumbang Sagu". Kumbang sagu. Diarsipkan dari asli tanggal 2014-06-27. Diakses tanggal 24 Juni 2014.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Encyclopedia of entomology. Capinera, John L. (Edisi 2nd ed). Dordrecht: Springer. 2008. ISBN 978-1-4020-6359-6. OCLC 288440300. Pemeliharaan CS1: Lain-lain (link)
- 1 2 "Ulat Sagu, Penghuni Pohon Sagu yang Lezat Rasanya". Greeners.Co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-03-28.
- 1 2 3 4 5 "Hama Rhynchoporus ferrugineus Oliver Pada Tanaman Kelapa – Balai Penelitian Tanaman Palma". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-07-21. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Cytoplasmic polyhedrosis virus (CPV)". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Heterorhabditis indicus". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Scolia erratica". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Chelisoches morio (black, earwing (USA))". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Praecocilenchus ferruginophorus". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- ↑ "Hypoaspis". www.cabi.org. Diakses tanggal 2020-07-21.
- 1 2 3 Farhan, Afif Farhan, Afif. "Mengapa Orang Papua Makan Ulat Sagu?". detikTravel. Diakses tanggal 2020-03-28. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)