Tuturan honorifik dalam bahasa Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Prefiks o (お) atau go (ご) ditambahkan pada nomina untuk memberikan kesan keindahan. Dalam gambar, tombol pilihan pada mesin dispenser: お湯 (o-yu, air panas) dan お茶 (o-cha, teh)

Tuturan honorifik dalam bahasa Jepang (敬語, keigo, bahasa honorifik) adalah ungkapan hormat yang digunakan oleh penutur dan penulis bahasa Jepang berdasarkan status sosial dan tingkat keakraban lawan bicara atau pihak ketiga yang dibicarakan.

Penggolongan[sunting | sunting sumber]

Pada umumnya, tuturan honorifik bahasa Jepang dibagi menjadi tiga jenis: sonkeigo (尊敬語, bahasa penghormatan) yang meninggikan subjek, kenjōgo (謙譲語, bahasa merendahkan diri) yang merendahkan subjek, dan teineigo (丁寧語, bahasa kesopansantunan).

Dalam linguistik Jepang masih dikenal dua jenis tuturan honorifik lainnya, yaitu: teichōgo (丁重語, bahasa kesopanan) dan bikago (美化語, bahasa penghalusan) sehingga seluruhnya terdapat 5 jenis tuturan honorifik.

Berdasarkan sifatnya, tuturan honorifik dapat dibagi menjadi dua golongan besar: sozaikeigo dan taishakeigo.

  • Sozaikeigo (素材敬語) adalah kata-kata yang dipakai oleh penutur untuk menghormati tokoh (objek) yang sedang dibincangkan.
Irassharu (いらっしゃる) pada Shachō ga irassharu (社長がいらっしゃる, Bapak Direktur ada) dan sashiageru (さしあげる) pada Shachō ni sashiageru (社長にさしあげる, Diberikan kepada direktur) digunakan untuk menghormati direktur (lawan bicara adalah direktur sendiri atau sesama rekan kerja di satu perusahaan).
  • Taishakeigo (対者敬語) adalah kata-kata yang dipakai oleh penutur sebagai ungkapan rasa hormat terhadap lawan bicara dan tanpa mempertimbangkan isi perbincangan.
Masu (ます) pada kalimat Shachō ga kimasu (社長が来ます, Direktur tiba) diucapkan untuk menghormati lawan bicara, dan tidak dipakai ketika lawan bicara adalah kawan akrab.[1]
Penggolongan
3 jenis
Penggolongan
5 jenis
Ciri khas
sonkeigo sonkeigo sozaikeigo Kata-kata yang meninggikan tindakan subjek yang sedang menjadi topik pembicaraan dibandingkan kedudukan penutur.
kenjōgo kenjōgo Kata-kata yang merendahkan tindakan penutur untuk meninggikan lawan bicara atau subjek pembicaraan yang berkedudukan lebih tinggi dari penutur
teichōgo taishakeigo Kata-kata yang meninggikan kedudukan lawan bicara yang memang sudah lebih tinggi dibandingkan kedudukan penutur.
teineigo teineigo Kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan kedudukan lawan bicara yang lebih tinggi dibandingkan penutur.
bikago - Kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan kehalusan, kesopanan, dan ketidaklangsungan.

Pada tahun 2007, Dewan Pertimbangan Budaya Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang mengeluarkan pedoman yang membagi tuturan honorifik menjadi 5 jenis.[2]

Penggolongan 5 jenis Penggolongan 3 jenis
Sonkeigo Bentuk-bentuk seperti irrasharu (いらっしゃる), ossharu (おっしゃる)
Penutur menggunakan kata-kata yang meninggikan keadaan, peristiwa, serta tindakan yang dilakukan orang ketiga atau lawan bicara.[3]
sonkeigo
Kenjōgo I Bentuk-bentuk seperti ukagau (伺う), mōshiageru (申し上げる)
Penutur menggunakan kata-kata yang merendahkan keadaan yang tindakan yang dilakukan penutur untuk meninggikan lawan bicara atau orang ketiga.
kenjōgo
Kenjōgo II
Teichōgo
Bentuk-bentuk seperti mairu (参る), mōsu (申す)
Ketika membicarakan atau menulis tentang diri sendiri atau menghadapi lawan bicara, penutur menggunakan kata-kata sopan untuk keadaan atau tindakan yang dilakukannya sendiri.
Teineigo Bentuk-bentuk desu (です), masu (ます)
Penggunaan kata-kata yang penuh kesopansantunan terhadap lawan bicara atau ketika menulis.
teineigo
Bikago Bentuk-bentuk seperti o-sake (お酒, sake), o-ryōri (お料理, masakan)
Penyebutan benda atau fenomena secara diperhalus.

Bahasa penghormatan[sunting | sunting sumber]

Bahasa penghormatan (sonkeigo) adalah kata-kata dipakai untuk meninggikan kedudukan lawan bicara ketika sedang membicarakan keadaan atau tindakan yang dilakukan lawan bicara.[4] Sonkeigo dinyatakan dengan deklinasi pada verba, verba bantu, dan adjektiva.

Deklinasi verba[sunting | sunting sumber]

  • Penggantian kata:
    • iru (いる) diganti dengan irassharu (いらっしゃる), ada (untuk orang)
    • suru (する) → nasaru (なさる)
    • taberu (食べる) → meshiagaru (召し上がる ), makan
    • miru (見る) → goranninaru (ご覧になる), melihat
    • iu (言う) → ossharu (おっしゃる), mengatakan
    • namae (名前) → onamae (お名前), nama
  • O (お) atau go (ご) ditambah ninaru (になる):
    • matsu (待つ) → omachininaru (お待ちになる), menunggu
    • kakeru (掛ける) → okakeninaru (お掛けになる), duduk
  • O (お) atau go (ご) ditambah nasaru (なさる):
    • matsu (待つ) → omachinasaru (お待ちなさる), menunggu
    • kakeru (掛ける) → okakenasaru (お掛けなさる), duduk
  • O (お) atau go (ご) ditambah desu
    • matsu (待つ) → omachi desu (お待ちです), menunggu
    • kakeru (掛ける) → okake desu (お掛けです), duduk
  • a-れ atau られ
    • matsu (待つ) → matareru (待たれる)
    • kakeru (掛ける) → kakerare (掛けられる).

Deklinasi adjektiva dan nomina adjektival[sunting | sunting sumber]

Deklinasi adjektiva dan nomina adjektival ditandai dengan penambahan prefiks o atau go:

  • isogashii (忙しい) → o-isogashii (お忙しい) sibuk
  • tabō (多忙) → go-tabō (ご多忙) sibuk

Gelar kehormatan[sunting | sunting sumber]

Gelar kehormatan atau jabatan ditambahkan di belakang nama orang, misalnya: sama (様, Tuan, Nyonya, Nona), san (さん), dono (殿, Tuan), heika (陛下, Paduka Yang Mulia), sensei (先生, guru), senpai (先輩, senior), kakka (閣下, Yang Mulia), shachō (社長, Direktur), atau buchō (部長, Kepala Bagian).

Prefiks + nomina[sunting | sunting sumber]

Prefiks o (お), go (ご), on (御), mi (み), son (尊), ki (貴), gyoku (玉) ditambahkan pada nomina milik orang lain (bukan kepunyaan penutur). Sesuai kebiasaan, kosakata asli Jepang ditambah o, sementara kosakata Sino-Jepang ditambah go. Penambahan o dan go juga dilakukan untuk mempercantik bahasa (menjadikannya sebagai bikago).

  • kuruma (車) → o-kuruma (お車), mobil
  • teishu (亭主) → go-teishu (ご亭主), suami, pemilik properti
  • kokoro (心) → okokoro (お心), migokoro (み心 atau 御心), perasaan
  • chichi (父) → gosompu (ご尊父), ayah
  • genkō (原稿) → gyokkō (玉稿), naskah
  • jitaku (自宅) → osumai (お住まい), rumah kediaman

Kata-kata khusus[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dulu, penggunaan sonkeigo diatur secara ketat berdasarkan kelas-kelas dalam masyarakat. Hingga saat ini masih didapati kata-kata yang berdasarkan tradisi dan Hukum Rumah Tangga Kekaisaran hanya dipakai untuk anggota keluarga kekaisaran dan umumnya jarang didengar atau ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

  • tanjō (誕生, kelahiran) → gotanjō (ご誕生), sekarang umum dipakai untuk kelahiran anggota keluarga kekaisaran, dulu dipakai istilah kōtan (降誕).
  • hōgyo (崩御, wafat) dipakai untuk kaisar, raja, nenek dari kaisar/raja, ibu suri, permaisuri, dan penguasa monarki lainnya.
  • gōgyo (薨御) untuk wafatnya putra mahkota
  • kōkyo (薨去) untuk wafatnya putri mahkota dan pangeran.

Bahasa merendahkan diri[sunting | sunting sumber]

Bahasa merendahkan diri (kenjōgo) terdiri dari dua jenis. Jenis pertama adalah kata-kata yang dipakai untuk menunjukkan kerendahan diri ketika sedang membicarakan keadaan atau tindakan yang dilakukan oleh penutur.[4] Dengan merendahkan diri, maka dengan sendirinya berarti meninggikan tindakan atau benda milik lawan bicara.

Jenis kedua kenjōgo atau disebut juga teichōgo (丁重語, bahasa kesopanan) adalah kata-kata yang dipakai untuk mengungkapkan tindakan, benda, atau keadaan sendiri secara sopan.

  • mairimasu (参ります, datang) menggantikan ikimasu (行きます, pergi)
  • moshimasu (申します) menggantikan iimasu (言います)
  • itashimasu (致します) menggantikan suru (する).

Deklinasi verba[sunting | sunting sumber]

  • Penggantian kata:
    • iku (行く, pergi) atau kiku (聞く, bertanya) diganti dengan ukagau (伺う)
    • miru (見る, melihat) diganti dengan haiken suru (拝見する)
    • suru (する) diganti dengan itasu (致す)
    • iimasu (言います, berkata) diganti dengan moshiageru (申し上げる)
    • aimasu (会います, bertemu) diganti dengan ome ni kakaru (お目にかかる)
  • O (お) atau go (ご) ditambah suru (する):
    • matsu (待つ, menunggu) menjadi omachisuru (お待ちする)
    • kakeru (掛ける, duduk) → okake suru (お掛けする)
    • sōdan (相談, konsultasi) → gosōdan suru (ご相談する)
  • O (お) atau go (ご) ditambah itadaku (頂く) atau mōshiageru (申しあげる):
    • katte morau (買ってもらう, dibeli) → o-kai itadaku (お買い頂く)
    • jitai suru (辞退する, menolak) → gojitai mōshiageru (ご辞退申し上げる)

Penggantian nomina[sunting | sunting sumber]

  • cha (茶) teh → socha (粗茶) teh kualitas buruk
  • shina (品) barang → soshina (粗品) hadiah kecil
  • okurimono (贈り物) hadiah → tsumaranai mono (つまらない物) benda tidak berharga
  • tsuma (妻) istri → gusai 愚妻 (istri saya yang bodoh), pola serupa berlaku pula untuk anak laki-laki saya (愚息, gusoku), anak perempuan saya (愚女, gujo), kakak laki-laki saya (愚兄, gukei), adik laki-laki saya (愚弟, gutei), adik perempuan saya (愚妹, gumai)
  • otto (夫) suami → yadoroku (宿六) orang tidak berguna di rumah
  • chosaku (著作) karya → seccho (拙著) karya saya yang jelek
  • riron (理論) teori → setsuron (拙論) teori saya yang tidak beralasan
  • tōsha (当社) perusahaan kami → heisha (弊社) perusahaan kami yang kecil

Prefiks + nomina[sunting | sunting sumber]

Prefiks o (お), go (ご) ditambahkan pada nomina yang memiliki tujuan.

  • tegami (手紙) surat → otegami o sashiageru (お手紙を差し上げる) mengirimkan surat
  • jitai (辞退) menolak → go-jitai o mōshiageru (ご辞退を申し上げる), berniat untuk menolak
  • renraku (連絡) hubungan → go-renraku o sashiageru (ご連絡を差し上げる), [saya] akan menghubungi Anda

Sebuah kata dapat menjadi kenjōgo atau sonkeigo bergantung pada konteksnya, misalnya:

  • Prefiks o (お) sebagai kenjōgo
    • Sensei e no otegami: surat untuk guru [dari saya]
    • Okyakusama e no go-renraku: [saya] mengontak pembeli
  • Prefiks o (お) sebagai sonkeigo
    • Sensei kara no otegami: surat dari guru
    • Okyakusama kara no go-renraku: kontak dari pembeli.

Bahasa kesopanan[sunting | sunting sumber]

Bahasa kesopanan (teichōgo) dipakai ketika lawan bicara berkedudukan lebih tinggi dari penutur. Ciri khasnya adalah pada kalimat berakhiran dengan masu (ます). Oleh karena itu, sebagian besar dari teichōgo juga tergolong kenjōgo. Namun kalimat berakhiran dengan oru (おる) atau orimasu (おります) hanya dipakai pada teichōgo:

  • Ima, jitaku ni iru 今、自宅にいる。(Sekarang, [saya] berada di rumah.)
Digantikan dengan kalimat sopan: Ima, jitaku ni imasu 今、自宅にいます。 atau Ima, jitaku ni orimasu 今、自宅におります。
  • Shucchō de Osaka ni itta 出張で大阪に行った。 ([Saya] melakukan perjalanan dinas ke Osaka.)
Digantikan dengan kalimat sopan: Shucchō de Osaka ni ikimashita (出張で大阪に行きました。) atau Shucchō de Osaka ni mairimashita (出張で大阪に参りました。)
  • Yamada to iu 山田と言う。Nama saya Yamada.
Digantikan kalimat sopan: Yamada to iimasu (山田といいます。) atau Yamada to mōshimasu (山田と申します。).

Bahasa kesopansantunan[sunting | sunting sumber]

Bahasa kesopansantunan (teineigo) adalah kata-kata sopan yang diucapkan untuk menghormati lawan bicara setelah mempertimbangkan kedudukan lawan bicara yang lebih tinggi, ditandai dengan kalimat berakhiran desu (です), shimasu (します), atau degozaimasu (でございます).[4]

  • Masu (ます) melihat
    • miru (見る) → mimasu (見ます) keinginan
    • mita (見た) → mimashita (見ました) kala lampau
    • minai (見ない) → mimasen (見ません) negasi
    • miyō (見よう) → mimashō (見ましょう) ajakan
  • Desu (です)
    • Adjektiva
      • isogashii (忙しい, sibuk) diganti menjadi isogashii desu (忙しいです) kala kini
      • isogashikatta (忙しかった) → isogashikatta desu (忙しかったです) kala lampau
      • isogashikunai (忙しくない) → isogashiku arimasen (忙しくありません) negasi
      • isogashidarō (忙しいだろう) → isogashiideshō (忙しいでしょう) probabilitas
    • Nomina adjektival
      • kirei da (きれいだ, indah) diganti menjadi kirei desu (きれいです) kala kini
      • kirei datta (きれいだった) → kirei deshita (きれいでした) kala lampau
      • kirei dewanai (きれいではない) → kirei dewa arimasen (きれいではありません) negasi
      • kirei darō (きれいだろう) → kirei deshō (きれいでしょう) probabilitas
    • Nomina + kopula
      • gakusei da (学生だ, siswa) → gakusei desu (学生です) kala kini
      • gakusei datta (学生だった) → gakusei deshita (学生でした) kala lampau
      • gakusei dewanai (学生ではない) → gakusei dewa arimasen (学生ではありません) negasi
      • gakusei darō (学生だろう) → gakusei deshō (学生でしょう) probabilitas

Bahasa penghalusan[sunting | sunting sumber]

Bahasa penghalusan (bikago) adalah bahasa yang digunakan penutur untuk memberikan kesan keindahan pada lawan bicara. Pada umumnya bikago ditandai penambahan prefiks o (お) atau go (ご) pada nomina atau perubahan kosakata.

  • Prefiks o (お) atau go (ご) + nomina
    • mise (店) menjadi omise (お店, toko)
    • cha (茶) → ocha (お茶, teh)
    • kashi (菓子) → okashi (お菓子, kue, penganan)
    • ryōri (お料理) → oryōri (お料理, masakan)
    • shokuji (食事) → oshokuji (お食事, hidangan, makanan)
    • nomimono (飲み物) → onomimono (お飲み物, minuman)
    • kane (金) → okane (お金, uang)
    • gehin (下品) → ogehin (お下品, vulgar)
  • Penggantian kata
    • meshi (めし, nasi), diucapkan oleh laki-laki → gohan (ごはん, nasi), diucapkan oleh perempuan
    • hara (腹, perut), diucapkan oleh laki-laki → onaka (おなか, perut), diucapkan oleh perempuan
    • benjo (便所, kakus) → otearai (お手洗い, toilet)

Kata-kata yang tergolong bikago dapat dibagi menjadi:

  • kata-kata yang umum dipakai
  • kata-kata yang digunakan oleh penutur laki-laki atau penutur perempuan
  • kata-kata yang jarang dipakai.

Kosakata bikago banyak yang berasal dari nyōbō kotoba.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.nihongokyoshi.co.jp/manbou_data/a5524151.html 敬語
  2. ^ 敬語の指針PDF文化審議会答申平成19年2月2日
  3. ^ "文化審議会「敬語の指針」(答申)について". Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology. Diakses tanggal 2012-01-05. 
  4. ^ a b c 表現技法: ビジネスマナーと文章技法. SCC. 2010. hlm. 84–85. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]