Tuk Karangsuwung, Lemahabang, Cirebon

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tuk Karangsuwung
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenCirebon
KecamatanLemahabang
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Tuk Karangsuwung adalah desa di kecamatan Lemahabang, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia.

Sebelum masuk ke dalam wilayah Kecamatan Lemahabang, desa ini merupakan bagian dari Kecamatan Karangsembung, Kabupaten Cirebon. Hal yang tampak dari nama desa ini. Tukkarangsuwung awalnya merupakan salah satu bagian/dusun dari Desa Karangsuwung, Kecamatan Karangsembung. Warga stempat menyebutnya sebagai "cantilan" Karangsuwung. Sejak tahun 1985, Desa Karangsuwung dimekarkan, dan Tukkarangsuwung menjadi desa mandiri. Tetapi masih termasuk Kecamatan Karangsembung.

Yang unik, meskipun termasuk wilayah Kecamatan Karangsembung, desa ini diapit oleh desa-desa lain yang berkecamatan Lemahabang, yaitu desa Leuwidingding di sebelah selatan, Desa Sindanglaut di sebelah barat, desa Sigong & Sarajaya di sebelah timur. Bahkan sebelah utara desa ini berbatasan langsung dengan desa Lemahabang—tempat pusat pemerintahan Kecamatan Lemahabang berada. Mungkin dengan pertimbangan keefektifan administrasi, pada tahun .... desa ini dimasukkan ke dalam wilayah kecamatan Lemahabang, sampai saat ini.

Hal unik lain, desa ini kerap juga disebut Depok oleh warga desa tetangganya di Desa Sindanglaut, terutama warga Blok Keliwon. Wilayah selatan-barat desa ini kerap dinamai "Umbul Tau", mungkin karena di wilayah itu banyak perajin tahu. Di wilayah selatan agak ke tengah, ada juga wilayah yang dinamai "Umbul Betet". Konon, karena di wilayah ini banyak warga yang aksentuasi bicaranya lebih cepat dan suaranya lebih nyaring dibanding warga di wilayah lain—dikonotasikan sebagai suara burung betet. Mungkin semacam julukan senda-gurau antar warga. Sekarang, wilayah Umbul Betet ini memiliki nama jalan sendiri, yaitu Jalan Tembus. Hal ini dimulai sejak di wilayah tersebut dibangun jalan-desa yang bisa menembus ke desa Leuwidingding ke arah selatan dan ke desa Sindanglaut ke arah barat.

Pada bagian utara-timur desa terdapat wilayah yang diberi nama "Sabrang Wetan". Nama ini menjelaskan bahwa wilayah tersebut ada di seberang timur sungai Singaraja yang membelah desa Tuk bagian timur. Kadang-kadang, wilayah Sabrang Wetan juga disebut Pulo Undrus. Nama yang mirip dengan Pulau Onrust, sebuah pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Tidak diketahui jelas mengapa nama ini muncul untuk dipertukarkan dengan nama Sabrang Wetan.

Masih mengenai keunikan, pada bagian utara desa ini terdapat wilayah bernama Kamplongan. Keunikannya terletak pada wilayah Kamplongan-nya sendiri. Kamplongan dibagi dua menjadi Kamplongan-Tuk, untuk wilayah yang masuk ke dalam desa Tuk dan Kamplongan-Lemahabang untuk wilayah yang masuk ke dalam desa Lemahabang.

Secara tradisional, desa ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Tuk Lor (bagian utara) dan Tuk Kidul (bagian selatan). Lintasan rel kereta api yang melintang dari timur ke barat kerap menjadi pembagi wilayah ini. Di perbatasan wilayah ini memang terdapat stasiun kereta api bernama Stasiun Sindaglaut. Desa ini tampil sebagai wilayah yang cukup religius. Hal ini tampak dari banyaknya rumah ibadah di desa ini. Terdapat dua masjid besar dan tak kurang ada 10 mushola yang tersebar di beberapa bagian wilayah yang tidak terlalu luas ini. Disebut masjid besar, karena kedua masjid ini digunakan dalam pelaksanaan ibadah salat Jumat.

Masyarakat merujuk nama tokoh yang tinggal di sekitar masjid dalam penyebutan nama kedua masjid tersebut, masjid utara kerap disebut Masjid "Kiai Fadholi" yang aslinya masjid tersebut bernama Masjid Jamee Al Falaah dan yang selatan disebut Masjid "Kiai Afadh". Masjid "Kiai Afadh" kadang juga disebut Masjid "Muara Bengkeng", merujuk nama mataair yang terdapat di dekat masjid. Dalam Bahasa Jawa, "tuk" berarti mataair. Konon dari makna "tuk" inilah nama desa ini bermula.

Masjid Kiai Afadh nuansanya lebih tradisional dibanding Masjid Kiai Fadholi. Bila di masjid Kiai Afadh, khutbah Jumat masih menggunakan murni Bahasa Arab dan tanpa pengeras suara, khutbah masjid Kiai Fadholi menggunakan campuran Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia atau Bahasa Jawa-Cirebon. Di samping itu, di Masjid Kiai Fadholi atau masjid Jamee Al Falaah juga sudah digunakan pengeras suara untuk mengumandangkan adzan maupun ceramah yang rutin diadakan setiap malam.

Manajemen kepengurusan kedua masjid inipun berbeda, Masjid "Kiai Afadh" dikarenakan terletak dilingkungan pesantren, maka pengelolaan atau kepengurusannya dibawah naungan pesantren. Sedangkan Masjid Jamee Al Falaah "Kiai Fadholi" karena masyarakat atau jamaahnya bermacam profesi dan berlatar belakang pendidikan umum maka pengurusnyapun dipilih dengan musyawarah.

Di desa ini terdapat dua buah situs makam keramat. Situs pertama adalah makam keramaat Mbah Ardisela yang terdapat di sekitar Masjid Kiai Afadh. Menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari situs ini adalah mataair (tuk) Muara Bengkeng itu. Kabarnya Mbah Ardisela (atau lengkapnya Kiai Raden Ardisela) merupakan kerabat Syech Syarif Hidayatulloh, salah seorang anggota Walisanga dari Kesultanan Cirebon. Menurut cerita para orang tua, Mbah Ardisela mengasingkan diri dari kehidupan duniawi di keraton lalu menetap di desa ini untuk mengembangkan agama Islam.

Adapun situs kedua adalah makam keramat Mbah Muqoyyim. Makam ini terdapat agak ke utara, tetapi masih di sebelah selatan rel kereta api. Bersama-sama Mbah Ardisela, Mbah Muqoyyim mengembangkan agama Islam di desa ini. Sebelum sampai di desa Tukkarangsuwung, Mbah Muqoyyim yang berasal dari Indramayu ini telah berkelana sampai ke Pulau Madura untuk berguru kepada Mbah Kholil Bangkalan.

Mbah Muqoyyim dipercaya sebagai salah satu tokoh pendiri Bunten Pesantren. Oleh karena itu, pada malam-malam tertentu, makam ini kerap diziarahi beberapa santri dari Buntet Pesantren. Para santri ini beberapa di antaranya berjalan kaki pergi-pulang menelusuri rel kereta dari lokasi pesantren mereka di Desa Mertapada Kulon Kecamatan Astanajapura.

Sejak awal tahun 1990-an, di wilayah barat desa ini didirikan sebuah Pesantren oleh KH Ichsan Abdul Aziz. Karena lokasi pesantren yang berada di garis batas dengan Desa Sindanglaut, pesantren ini diberi nama Pesantren Roudlatul Hidayah, Tuk-Sindanglaut.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]