Tujuh cawan murka Allah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
"The Giving of the Seven Bowls of Wrath" ("Pemberian tujuh cawan murka Allah") / "The First Six Plagues" ("Enam malapetaka pertama"), Wahyu 16:1-16. Matthias Gerung, c. 1531
"Fifth Bowl, the Seven-headed Beast" ("Cawan Kelima, Binatang berkepala tujuh"). Escorial Beatus

Tujuh cawan murka Allah (bahasa Inggris: Seven bowls) adalah serangkaian malapetaka yang ditulis dalam Wahyu 16.[1] Termasuk dalam penglihatan mengenai akhir zaman yang dilihat oleh rasul Yohanes dan dicatat dalam kitab Wahyu kepada Yohanes mengenai Wahyu Yesus Kristus. Yohanes melihat tujuh malaikat yang diberi tujuh cawan murka Allah, masing-masing berisi penghakiman Allah atas dunia kepada mereka yang menolak Allah dan mengikuti Antikristus setelah dibunyikannya tujuh sangkakala.[2]

Catatan Alkitab[sunting | sunting sumber]

Cawan Pertama[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang pertama menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.[3]

Cawan Kedua[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.[4]

Cawan Ketiga[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. Kemudian malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: "Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini. Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!" Dan mezbah itu berkata: "Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu."[5]

Cawan Keempat[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang keempat menumpahkan cawannya ke atas matahari, dan kepadanya diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Dan manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah yang berkuasa atas malapetaka-malapetaka itu dan mereka tidak bertobat untuk memuliakan Dia.[6]

Cawan Kelima[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang kelima menumpahkan cawannya ke atas takhta binatang itu dan kerajaannya menjadi gelap, dan mereka menggigit lidah mereka karena kesakitan, dan mereka menghujat Allah yang di sorga karena kesakitan dan karena bisul mereka, tetapi mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka.[7]

Cawan Keenam[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang keenam menumpahkan cawannya ke atas sungai yang besar, sungai Efrat, lalu keringlah airnya, supaya siaplah jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur. Dan dari mulut naga dan dari mulut binatang dan dari mulut nabi palsu itu keluar tiga roh najis yang menyerupai katak. Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa. Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani disebut Harmagedon.[8]

Cawan Ketujuh[sunting | sunting sumber]

Malaikat yang ketujuh menumpahkan cawannya ke angkasa. Dan dari dalam Bait Suci kedengaranlah suara yang nyaring dari takhta itu, katanya: "Sudah terlaksana." Maka memancarlah kilat dan menderulah bunyi guruh, dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat seperti belum pernah terjadi sejak manusia ada di atas bumi. Begitu hebatnya gempa bumi itu. Lalu terbelahlah kota besar itu menjadi tiga bagian dan runtuhlah kota-kota bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Maka teringatlah Allah akan Babel yang besar itu untuk memberikan kepadanya cawan yang penuh dengan anggur kegeraman murka-Nya. Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung. Dan hujan es besar, seberat seratus pon, jatuh dari langit menimpa manusia, dan manusia menghujat Allah karena malapetaka hujan es itu, sebab malapetaka itu sangat dahsyat.[9]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wahyu 16
  2. ^ Wahyu 11:15-16:21
  3. ^ Wahyu 16:2
  4. ^ Wahyu 16:3
  5. ^ Wahyu 16:4-7
  6. ^ Wahyu 16:8-9
  7. ^ Wahyu 16:10-11
  8. ^ Wahyu 16:12-16
  9. ^ Wahyu 16:17-21