Tripurantaka
| Tripurantaka | |
|---|---|
| Nama lain | Tripurari |
| Gender | pria |
| Afiliasi | Siwa |
| Kediaman | Bhurloka atau Kailasa |
| Simbol | busur pinaka, trisula |
| Senjata | panah pasupati, busur pinaka |
| Wahana | kereta perang Pertiwi |
| Hari | Senin |
| Pemujaan | |
| Dipuja umat | Hindu |
| Aliran | Saiwa |
| Perayaan | Kartik Purnima |
| Keluarga | |
| Istri | Tripurasundari |
Tripurantaka (Dewanagari: त्रिपुरांतक; IAST: Tripurāntaka) atau Tripurari adalah salah satu gelar dari Dewa Siwa dalam agama Hindu yang berperan sebagai penghancur tiga kota. Kisahnya termaktub dalam beberapa sastra Purana. Dikisahkan bahwa Siwa pernah menghancurkan tiga kota kaum asura (demon atau musuh para dewa) yang disebut Tripura, dengan satu anak panah. Setelah kehancuran Tripura, maka Siwa pun menyandang gelar Tripurantaka.[1]
Legenda
[sunting | sunting sumber]Menurut kitab Padmapurana, raksasa Taraka (Tarakasura) memiliki tiga putra bernama Tarakaksa, Kamalaksa (atau Wirayawana), dan Widyumali. Mereka bertiga melakukan tapa brata kepada Dewa Brahma hingga memperoleh anugerah berupa tiga kota melayang ("Tripura") yang dirancang Mayasura, masing-masing berbahan emas, perak, dan besi.[2] Setelah memperoleh anugerah, mereka bertiga disebut "Tripurasura". Mereka menciptakan huru-hara di dunia, menganggu kedamaian para dewa dan resi. Kekacauan tersebut dilaporkan kepada Dewa Siwa (dewa pelebur) dengan harapan sang dewa segera membinasakan Tripurasura beserta Tripura. Namun Siwa menolak sebab mereka dianggap tidak melakukan kejahatan berat. Akhirnya, Dewa Wisnu mengutus seseorang yang tampak seperti petapa—diiringi empat orang muridnya―untuk menyebarkan ajaran anti-Weda kepada Tripurasura. Mereka pun beralih keyakinan dan mengabaikan pemujaan kepada Siwa.[3]
Setelah Tripurasura murtad, Siwa memutuskan untuk memberi hukuman. Dia menyiapkan senjata dan kereta perang dengan bantuan para dewa dan dewi. Dewi Pertiwi menjadi kereta perangnya, dengan roda dari Dewa Surya dan Candra. Busur panahnya dari Gunung Meru dengan Naga Basuki sebagai tali busurnya. Dewa Brahma bertindak sebagai kusir keretanya. Dengan batang anak panah dari Dewa Wisnu, dia melayangkan serangan ke Tripura agar kota tersebut luluh lantak.[4]
Setelah panah melesat ke Tripura, tiba-tiba Siwa sadar bahwa dia lupa melindungi Mayasura, pengikutnya yang setia, yang telah merancang Tripura dan berada di kota tersebut. Lembu Nandini (pengikut Siwa lainnya) segera terbang melebihi kecepatan anak panah yang dilepaskan Siwa, untuk memberi tahu Mayasura bahwa Tripura akan hancur. Mayasura pun menyelamatkan diri secepat kilat, meninggalkan Tripura yang seketika menjadi abu setelah kena panah Siwa. Setelah kehancuran Tripura, maka Siwa pun menyandang gelar "Tripurantaka" yang berarti "penghancur tiga kota".
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ A History of Ancient and Early Medieval India. hlm. 560.
- ↑ Chandra, Suresh (1998). Encyclopaedia of Hindu Gods and Goddesses (dalam bahasa Inggris). Sarup & Sons. hlm. 342. ISBN 978-81-7625-039-9.
- ↑ Krishna, Nanditha (2007-10-16). The Book of Demons (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. hlm. 152. ISBN 978-93-5118-144-6.
- ↑ Chugh, Lalit (2017-05-23). Karnataka's Rich Heritage – Temple Sculptures & Dancing Apsaras: An Amalgam of Hindu Mythology, Natyasastra and Silpasastra (dalam bahasa Inggris). Notion Press. hlm. 85. ISBN 978-1-947137-36-3.