Torium

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Torium,  90Th
Thorium sample 0.1g.jpg
Sifat umum
Nama, simbol torium, Th
Pengucapan /ˈθɔəriəm/
THOHR-ee-əm
Penampilan keperakan
Torium di tabel periodik
Hydrogen (diatomic nonmetal)
Helium (noble gas)
Litium (alkali metal)
Berilium (alkaline earth metal)
Boron (metalloid)
Karbon (polyatomic nonmetal)
Nitrogen (diatomic nonmetal)
Oksigen (diatomic nonmetal)
Fluor (diatomic nonmetal)
Neon (noble gas)
Natrium (alkali metal)
Magnesium (alkaline earth metal)
Aluminium (post-transition metal)
Silikon (metalloid)
Fosfor (polyatomic nonmetal)
Belerang (polyatomic nonmetal)
Klor (diatomic nonmetal)
Argon (noble gas)
Kalium (alkali metal)
Kalsium (alkaline earth metal)
Skandium (transition metal)
Titanium (transition metal)
Vanadium (transition metal)
Kromium (transition metal)
Mangan (transition metal)
Besi (transition metal)
Kobalt (transition metal)
Nikel (transition metal)
Tembaga (transition metal)
Seng (transition metal)
Galium (post-transition metal)
Germanium (metalloid)
Arsenik (metalloid)
Selenium (polyatomic nonmetal)
Bromin (diatomic nonmetal)
Kripton (noble gas)
Rubidium (alkali metal)
Stronsium (alkaline earth metal)
Itrium (transition metal)
Zirkonium (transition metal)
Niobium (transition metal)
Molibdenum (transition metal)
Teknesium (transition metal)
Rutenium (transition metal)
Rodium (transition metal)
Paladium (transition metal)
Perak (transition metal)
Kadmium (transition metal)
Indium (post-transition metal)
Timah (post-transition metal)
Antimon (metalloid)
Telurium (metalloid)
Yodium (diatomic nonmetal)
Xenon (noble gas)
Sesium (alkali metal)
Barium (alkaline earth metal)
Lantanum (lanthanide)
Serium (lanthanide)
Praseodimium (lanthanide)
Neodimium (lanthanide)
Prometium (lanthanide)
Samarium (lanthanide)
Europium (lanthanide)
Gadolinium (lanthanide)
Terbium (lanthanide)
Disprosium (lanthanide)
Holmium (lanthanide)
Erbium (lanthanide)
Tulium (lanthanide)
Iterbium (lanthanide)
Lutesium (lanthanide)
Hafnium (transition metal)
Tantalum (transition metal)
Tungsten (transition metal)
Renium (transition metal)
Osmium (transition metal)
Iridium (transition metal)
Platinum (transition metal)
Emas (transition metal)
Raksa (transition metal)
Talium (post-transition metal)
Timbal (post-transition metal)
Bismut (post-transition metal)
Polonium (post-transition metal)
Astatin (metalloid)
Radon (noble gas)
Fransium (alkali metal)
Radium (alkaline earth metal)
Aktinium (actinide)
Torium (actinide)
Protaktinium (actinide)
Uranium (actinide)
Neptunium (actinide)
Plutonium (actinide)
Amerisium (actinide)
Kurium (actinide)
Berkelium (actinide)
Kalifornium (actinide)
Einsteinium (actinide)
Fermium (actinide)
Mendelevium (actinide)
Nobelium (actinide)
Lawrensium (actinide)
Ruterfordium (transition metal)
Dubnium (transition metal)
Seaborgium (transition metal)
Bohrium (transition metal)
Hasium (transition metal)
Meitnerium (unknown chemical properties)
Darmstadtium (unknown chemical properties)
Roentgenium (unknown chemical properties)
Kopernisium (transition metal)
Nihonium (unknown chemical properties)
Flerovium (post-transition metal)
Moskovium (unknown chemical properties)
Livermorium (unknown chemical properties)
Tenesin (unknown chemical properties)
Oganeson (unknown chemical properties)
Ce

Th

(Uqn)
aktiniumtoriumprotaktinium
Nomor atom (Z) 90
Golongan, blok golongan n/a, blok-f
Periode periode 7
Kategori unsur   aktinida
Bobot atom standar (Ar) 232.0381
Konfigurasi elektron [Rn] 6d2 7s2
per kelopak
2, 8, 18, 32, 18, 10, 2
Sifat fisika
Fase solid
Titik lebur 2115 K ​(1842 °C, ​3348 °F)
Titik didih 5061 K ​(4788 °C, ​8650 °F)
Kepadatan mendekati s.k. 11.7 g/cm3
Kalor peleburan 13.81 kJ/mol
Kalor penguapan 514 kJ/mol
Kapasitas kalor molar 26.230 J/(mol·K)
Tekanan uap
P (Pa) 1 10 100 1 k 10 k 100 k
at T (K) 2633 2907 3248 3683 4259 5055
Sifat atom
Bilangan oksidasi

4, 3, 2, 1

(oksida basa lemah)
Elektronegativitas Skala Pauling: 1.3
Jari-jari atom empiris: 179 pm
Jari-jari kovalen 206±6 pm
Lain-lain
Struktur kristalkubus acuan muka (fcc)
Struktur kristal Face-centered cubic untuk torium
Kecepatan suara batang ringan 2490 m/s (suhu 20 °C)
Ekspansi kalor 11.0 µm/(m·K) (suhu 25 °C)
Konduktivitas termal 54.0 W/(m·K)
Resistivitas listrik 147 n Ω·m (suhu 0 °C)
Arah magnet paramagnetik[1]
Modulus Young 79 GPa
Modulus Shear 31 GPa
Modulus Bulk 54 GPa
Rasio Poisson 0.27
Skala Mohs 3.0
Skala Vickers 350 MPa
Skala Brinell 400 MPa
Nomor CAS 7440-29-1
Isotop torium terstabil
Iso­top Kelim­pahan Waktu paruh (t1/2) Moda peluruhan Pro­duk
228Th sisa 1.9116 years α 224Ra
229Th syn 7340 years α 225Ra
230Th sisa 75380 years α 226Ra
231Th sisa 25.5 hours β 231Pa
232Th 100% 1.405×1010 years α 228Ra
234Th sisa 24.1 days β 234Pa
| referensi | di Wikidata

Torium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Th dan nomor atom 90. Logam torium berwarna keperakan dan bernoda hitam saat terkena udara, membentuk dioksida; unsur ini cukup keras, mudah dibentuk, dan memiliki titik lebur yang tinggi. Torium adalah aktinida elektropositif yang didominasi oleh keadaan oksidasi +4; unsur ini cukup reaktif dan bisa menyala di udara saat terbagi halus.

Semua isotop torium yang diketahui tidak stabil. Isotop yang paling stabil, 232Th, memiliki masa paruh 14,05 miliar tahun, atau sekitar umur alam semesta; unsur ini meluruh sangat lambat melalui proses peluruhan alfa, memulai rantai peluruhan yang dinamai "rangkaian torium" yang berakhir pada 208Pb yang stabil. Di alam semesta, torium dan uranium adalah dua unsur radioaktif yang masih muncul secara alami dalam jumlah banyak sebagai elemen primordial. Diperkirakan torium tiga kali lebih banyak daripada uranium di kerak bumi, dan terutama dimurnikan dari pasir monazit sebagai produk sampingan saat mengekstraksi logam langka bumi.

Torium ditemukan pada tahun 1829 oleh ahli mineral amatir Norwegia Morten Thrane Esmark dan diidentifikasi oleh ahli kimia Swedia Jöns Jacob Berzelius, yang menamainya dari Thor, dewa guntur Norwegia. Kegunaan pertamanya dikembangkan pada akhir abad ke-19. Radioaktivitas torium diakui secara luas selama dekade pertama abad ke-20. Pada paruh kedua abad ini, torium telah digantikan dalam berbagai situasi karena muncul kekhawatiran mengenai sifat radioaktifnya.

Torium sebelumnya digunakan sebagai unsur paduan dalam pengelasan TIG elektroda, sebagai bahan dalam instrumen optik dan teknologi canggih, dan sebagai sumber cahaya pada perangkat lampu gas,tapi kemudian penggunaannya semakin sedikit. Torium telah diusulkan sebagai pengganti uranium untuk bahan bakar nuklir reaktor nuklir, dan beberapa reaktor torium telah dibangun.

Sifat Umum[sunting | sunting sumber]

Torium merupakan logam aktinida radioaktif berwana keperakan terang, paramagnetik, dan agak lunak. Di dalam tabel periodik, torium berada di sebelah kanan aktinium, kiri protaktinium, dan di bawah serium. Torium murni sangat lunak, dan seperti logam pada umumnya, dapat digulung dalam keadaan dingin, ditempa, dan dibentuk. [4] Pada temperatur ruangan, logam torium memiliki struktur kristal kubus berpusat wajah (face-centered); memiliki dua bentuk lain, satu pada temperatur tinggi (lebih dari 1360 °C; kubus berpusat tubuh) dan satu lagi pada tekanan tinggi (sekitar 100 GPa; tetragonal berpusat tubuh).[4]

Logam torium memiliki modulus kompresi (ukuran ketahanan terhadap kompresi dari bahan) sebesar 54 GPa, hampir sama seperti timah (58,2 GPa). Aluminium sebesar 75,2 GPa; tembaga 137,8 GPa; dan baja ringan sebesar 160-169 GPa.[5] Kekerasan torium adalah sama kerasnya dengan baja ringan, sehingga ketika dipanaskan torium dapat digulung menjadi lembaran ditarik menjadi kawat.[6]

Berat jenis torium mendekati setengah dari berat jenis uranium dan plutonium, lebih keras dari keduanya.[6] Torium menjadi superkonduktif di bawah suhu 1,4 K.[4] Titik leleh torium sebesar 1.750 °C berada di atas aktinium (1.227 °C) dan protaktinium (1568 °C). Di awal susunan unsur periode 7, dari francium sampai dengan torium, titik leleh unsur-unsur tersebut meningkat (seperti halnya periode lain), karena jumlah elektron setiap atom yang terdelokasi memberikan kontribusi yang meningkat dari satu di francium ke empat di torium, mengarah pada daya tarik yang lebih besar antara elektron-elektron dan ion logam sehingga beban mereka meningkat dari satu menjadi empat. Setelah torium, ada kecenderungan penurunan baru titik leleh torium menjadi plutonium, ketika jumlah elektron f meningkat dari sekitar 0,4 menjadi sekitar 6: kecenderungan ini dikarenakan meningkatnya pencampuran orbit 5f dan 6d dan pembentukan ikatan langsung yang mengakibatkan struktur kristal lebih kompleks dan melemahkan ikatan logam.[6][7] (Perhitungan elektron f untuk torium adalah non-integer karena 5f–6d saling tumpang tindih).[7] Diantara aktinida-aktinida hingga kalifornium, yang dapat dipelajari setidaknya dalam jumlah miligram, torium memiliki titik leleh dan titik didih tertinggi dan kepadatan terendah kedua; hanya aktinium yang lebih ringan.[b] Titik didih torium adalah 4.788 °C termasuk dalam lima tertinggi diantara semua unsur yang telah diketahui titik didihnya.[c]

Sifat-sifat torium sangat bervariasi tergantung pada tingkat pengotor dalam sampel. Pengotor utama biasanya torium dioksida (ThO2); bahkan spesimen torium yang paling murni biasanya mengandung dioksida sekitar sepersepuluh persen (0,1 %).[4] Pengukuran-pengukuran eksperimental untuk densitasnya memberikan nilai antara 11,5 dan 11,66 g/cm3: nilai tersebut sedikit lebih rendah dari nilai teoritis yang diharapkan, yaitu 11,7 g/cm3, dihitung dari parameter kisi torium, mungkin karena rongga-rongga mikroskopis terbentuk dalam logam ketika dicetak.[4] Nilai-nilai ini berada di antara unsur lain di sekitarnya seperti: aktinium (10.1 g/cm3) dan protaktinium (15.4 g/cm3), bagian dari tren di awal aktinida awal. [4]

Torium dapat berbentuk paduan logam/alloy dengan logam lainnya. Penambahan proporsi kecil torium meningkatkan kekuatan mekanika magnesium, dan paduan torium-aluminium telah dianggap sebagai cara untuk menyimpan torium dalam usulan reaktor nuklir torium di masa depan. Torium membentuk campuran eutektik dengan kromium dan uranium, dan benar-benar tercampur baik dalam bentuk materi padat maupun cair dengan congener lebih ringan dari serium.[4]

Isotop[sunting | sunting sumber]

Berkas:280px-Decay Chain Thorium.svg.png
Bagan rantai peluruhan Torium (232Th) derajat 4n, umumnya disebut "Seri Torium".

Kecuali dua unsur, teknisium (unsur 43) dan promethium (unsur 61), semua unsur hingga bismuth (unsur 83) memiliki satu isotop yang praktis stabil. Semua unsur dari polonium (unsur 84) ke atas semua isotop-isotopnya radioaktif. 232Th merupakan salah satu dari tiga nuklida selain bismuth (dua lainnya adalah 235U dan 238U) yang memiliki umur paruh dalam ukuran milyaran tahun; umur paruhnya 14,05 milyar tahun, sekitar tiga kali umur bumi dan sedikit lebih tua dari umur alam semesta. Delapan puluh persen torium yang ada pada saat pembentukan bumi masih bertahan hingga sekarang. [10][11][12] 232Th merupakan satu-satunya isotop torium yang ada dalam jumlah memadai di alam. Stabilitasnya disebabkan oleh kulit inti tertutupnya dengan 142 neutron.[13][14] Torium memiliki karakteristik komposisi isotop terestrial, dengan berat atom 232,0377(4). Torium merupakan salah satu dari tiga unsur radioaktif yang terjadi dalam jumlah cukup besar di bumi untuk penentuan berat atom standar.[1]

Inti torium rentan terhadap peluruhan alfa karena gaya nuklir kuat tidak dapat mengatasi tolakan elektromagnetik di antara proton-proton mereka. Peluruhan alfa dari 232Th memulai rantai peluruhan 4n yang meliputi isotop dengan nomor massa yang dapat dibagi oleh 4 (disebut juga deret torium sesuai dengan nama progenitornya). Rangkaian peluruhan alfa dan beta berturut-turut dimulai dengan peluruhan 232Th ke 228Ra dan berakhir pada 208Pb.[10] Sampel torium atau senyawa-senyawanya akan mengandung jejak dari anak-anak luruh ini, yaitu isotop-isotop thallium, lead, bismuth, polonium, radon, radium, dan actinium. Sampel torium alam dapat dimurnikan secara kimia untuk mengekstrak nuklida anak luruh yang berguna, seperti 212Pb, yang digunakan dalam kedokteran nuklir untuk terapi kanker.[16][17]  232Th juga mengalami fisi spontan selain peluruhan alfa dan telah meninggalkan bukti-bukti peristiwa tersebut di dalam mineral-mineralnya (seperti jebakan gas xenon yang terbentuk sebagai salah satu hasil fisi), tetapi umur paruh parsial dari proses ini sangat besar di atas 1021 tahun dan peluruhan alfa mendominasi.

Tiga puluh radioisotop torium telah dikarakterisasi, dari nomor masa 209 hingga 238. Yang paling stabil (setelah 232Th) adalah 230Th dengan waktu paruh 75.380  tahun, 229Th dengan waktu paruh 7.340 tahun, 228Th dengan waktu paruh 1,92 tahun, 234Th dengan waktu paruh 24,10 hari, dan 227Th dengan waktu paruh 18,68 hari. Semua isotop-isotop ini terjadi di alam sebagai jejak radioisotop karena keberadaan mereka dalam rantai peluruhan 232Th, 235U, 238U, dan 237Np: Yang terakhir telah lama punah di alam karena waktu paruh yang pendek (2,14 juta tahun), tetapi terus diproduksi dalam jumlah sangat kecil sekali akibat proses tangkapan neutron di bijih uranium. Isotop-isotop torium yang lain memiliki waktu paruh kurang dari 30 hari dan sebagian besarnya kurang dari 10 menit. [10]

Di laut dalam, isotop 230Th mencapai hingga 0,04% torium alam. Ini disebabkan oleh induk 238U yang larut dalam air namun 230Th tak larut dan mengendap ke dalam sedimen. Bijih uranium dengan konsentrasi torium yang rendah dapat dimurnikan untuk menghasilkan sampel torium ukuran gram yang lebih dari seperempatnya adalah isotop 230Th, karena 230Th merupakan salah satu anak luruh dari 238U.[18] The International Union of Pure and Applied Chemistry (IUPAC) mengkalisifikasikan kembali torium sebagai unsur binuklida pada tahun 2013; yang sebelumnya dinyatakan sebagai unsur mononuklida.[1]

Thorium memiliki 3 isomer nuklir (atau keadaan metastabil), 216m1Th, 216m2Th, dan 229mTh. 229mTh memiliki energi eksitasi terendah dari isomer-isomer tersebut,[21] terukur pada 7.6 ± 0.5 eV. Energi ini begitu rendah sehingga ketika menjalani transisi isomeric, radiasi gamma yang dipancarkannya dalam daerah ultraviolet.[22][23][d]

Isotop-isotop torium yang berbeda memiliki sifat kimia yang sama tetapi sifat fisikanya sedikit berbeda: sebagai contoh, densitas dari 228Th, 229Th, 230Th, dan 232Th murni berturut-turut adalah 11.5, 11.6, 11.6, and 11.7 g/cm3.[25] Isotop 229Th adalah dapat dipecah dengan masa kritis telanjangnya 2839 kg, walaupun dengan reflektor besi nilai ini turun menjadi 994 kg.[25][e]232Th tidak dapat dipecah, melainkan fertil karena dapat dirubah menjadi fisil 233U dengan tangkapan neutron dan diikuti oleh peluruhan beta.[25][26]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Magnetic susceptibility of the elements and inorganic compounds, in Handbook of Chemistry and Physics 81st edition, CRC press.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]