Tondano (kota)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kota Tondano
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Utara
KabupatenMinahasa
KecamatanTondano Utara
Tondano Timur
Tondano Barat
Tondano Selatan
Luas
 • Total81,00 km2 (31,27 sq mi)
Populasi
 • Total67.235
 • Kepadatan830,06/km2 (2,149,8/sq mi)
Desa Tondano tahun 1900-1920

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Kata Tondano merupakan gabungan kata Tou dalam bahasa Tombulu yang memiliki arti orang dan Rano yang artinya air. BIla mengacu dari kedua kata ini, maka Tondano memiliki makna sebagai masyarakat atau penduduk yang tinggal disekitar air yang masyrakatnya saat itu memang tinggal di sekitar Danau Tondano yang juga diperkirakan mendapatkan namanya dari istilah ini.[2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Masa sebelum pendudukan Belanda[sunting | sunting sumber]

Wilayah Tondano pada abad 1800-an terbagi menjadi dua walak, yaitu Tondano Toulimambot dan TondanoTouliang yang akhirnya baru disatukan pada tanggal 20 Agustus 1809 dengan Jacob Supit yang bertugas sebagai kepala walak untuk meredam pertengkaran masyarakat Tondano saat itu.[3]

Masa pendudukan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1920, nama Tondano diganti menjadi Toulour pada tahun 1920 hingga 1966. Kata Toulour merupakan penggabungan makna dari kata Tou dalam bahasa Tombulu yang bermakna orang dan Lour yang bermakna danau, jadi Toulour bermakna anak danau.[4]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kota Tondano memiliki luas wilayah 81,00 km2, dan pada tahun 2020 memiliki jumlah penduduk sebanyak 67.235 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 34.074 jiwa dan perempuan 33.161 jiwa, dengan kepadatan penduduk 830,06 jiwa/km2.[1]

Kecamatan Penduduk
(2020)
Tondano Selatan 17.281
Tondano Barat 21.405
Tondano Utara 12.959
Tondano Timur 15.590
Kota Tondano 67.235

Suku[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan suku, pada umumnya penduduk kabupaten Minahasa termasuk di kota Tondano, berasal dari suku Minahasa sebagai penduduk asli wilayah tersebut.[5] Adapaun suku lain, pada umumnya berasal dari suku Sangir, Talaud, Gorontalo, Bolaang Mongondow, dan suku pendatang lainnya, seperti Jawa, Bugis, dan aasl Papua.

Agama[sunting | sunting sumber]

Dalam bidang keagamaan, masyarakat kota Tondano memiliki beragam kepercayaan. Data Kementerian Dalam Negeri tahun 2020 mencatat bahwa mayoritas penduduk Tondano memeluk agama Kristen yakni 89,80% dimana Protestan 85,08% dan Katolik 4,72%. Sebahagian lagi memeluk agama Islam yakni 10,01%, kemudian Kepercayaan 0,13%, Hindu 0,03%, Budha 0,02% dan Konghucu 0,01%[1] Rumah ibadah yang ada di kota ini yakni terdapat 136 bangunan gereja Protestan, 7 bangunan masjid, 6 bangunan gereja Katolik, dan 2 bangunan Pura.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c "Visualisasi Data Kependuduakan - Kementerian Dalam Negeri 2020". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 16 Februari 2021. 
  2. ^ Wenas, Jessy (2007). Sejarah dan kebudayaan Minahasa. Jakarta: Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. hlm. 15. 
  3. ^ Marzuki, Irfanuddin Wahid (1 Juli 2019). "Tondano Masa Kolonial: Kota Kolonial Berwajah Tradisional". Tumotowa. 2 (1): 13–22. doi:10.24832/tmt.v2i1.27. ISSN 2722-7693. 
  4. ^ Watuseke, F.S. (1987). "Tondano and not toulour". Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 143 (4): 552–554. ISSN 0006-2294. 
  5. ^ "Asal Muasal Suku Minahasa di Sulawesi Utara". www.tribunmanadowiki.tribunnews.com. Diakses tanggal 17 Februari 2021. 
  6. ^ "Jumlah Tempat Ibadah Menurut Kecamatan". www.minahasakab.bps.go.id. Diakses tanggal 17 Februari 2021.