Togalu gombeyaata

Togalu gombeyaata adalah seni pertunjukan wayang khas Negara Bagian Karnataka, India. Wayang yang dipakai dalam pementasan ini tergolong sebagai wayang kulit, sesuai dengan namanya pertunjukannya dalam bahasa Kannada, togalu gombeyaata yang bermakna "permainan menggunakan boneka kulit".[1]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Togalu gombeyaata adalah salah satu dari tujuh bentuk seni wayang kulit di India Selatan. Para ahli percaya, bahwa tradisi wayang kulit di wilayah India Selatan ini nanti akan menyebar luas hingga ke Sri Lanka, Indonesia, dan daerah-daerah lain di Asia menyusul indianisasi dan masuknya Hindu-Buddha. Teks kuno seperti Mahabhasya dan Mahabharata dari abad ke-2 menunjukkan bahwa seni wayang kulit atau yang berbentuk serupa telah ada sejak milenium pertama Sebelum Masehi. Pada abad ke-2 berbagai dinasti dan kekaisaran di wilayah Karnataka menjadi patron atau pelindung bagi keberlangsungan seni wayang kulit ini.[2] Rashtrakuta mulai menjadi pelindung pada abad ke-10, Kekaisaran Vijayanagara menjadi pelindung pada aba ke-15, dan selanjutnya diteruskan oleh Kerajaan Mysore. Bentuk seni wayang ini menyebar dari Karnataka ke wilayah-wilayah lain di India, seperti Odisha dan Maharashtra selama masa pemerintahan Rashtrakuta saat mereka melakukan ekspansi dan memperluas daerah kekuasaan mereka. [3]
Puncak kesenian togalu gombeyaata adalah pada masa Kekaisaran Vijayanagara. Setelah itu, pertunjukan wayang ala Turki dikenal saat Kerajaan Bahmani berdiri. Wayang Turki memengaruhi ornamen dan gaya wayang yang dipakai pada pertunjukan togalu gombeyaata. Setelah keruntuhan Kerajaan Bahmani, dukungan terhadap seni ini menyusut secara signifikan dan pertunjukannya terbatas di desa-desa dan kompleks candi, seperti yang terlihat saat ini.[3]
Pembuatan dan bahan
[sunting | sunting sumber]Wayang yang digunakan dalam togalu gombeyaata terbuat dari kulit. Kulit kambing dan kulit rusa adalah yang paling umum digunakan, karena memiliki karakteristik transparan dan mudah menyerap warna. Kulit mentah diolah dengan menggunakan garam dan soda kaustik untuk menghilangkan rambut-rambut halus serta kotoran lainnya, sebelum akhirnya dikeringkan. Setelah kering, warna diaplikasikan pada kulit menggunakan pewarna nabati yang tersedia secara lokal. Warna-warna yang biasa digunakan adalah merah, biru, hijau dan hitam.[4]
Pasca pewarnaan, kulit kemudian dipotong menjadi bentuk yang sesuai yang disatukan menggunakan tali dan tongkat kecil. Wayang yang mewakili figur manusia dan hewan, kepala dan anggota badan disatukan sedemikian rupa sehingga dapat digerakkan dengan mudah.[5] Ukuran maksimum wayang adalah 4 x 3 kaki dan minimum 6 x 3 inci.[4] Wayang berbentuk figur manusia biasanya melambangkan tokoh-tokoh dari epos Hindu, Ramayana dan Mahabharata. Namun, dewasa ini tokoh modern, termasuk Mahatma Gandhi juga telah diperkenalkan dan dipentaskan dalam pertunjukan.[5]
Langgam
[sunting | sunting sumber]Wayang ala Karnataka bagian utara terpengaruh sekali oleh gaya Mughal, sedangkan ala Karnataka bagian selatan lebih dipengaruhi oleh gaya Vijayanagara.[6]
Panggung dan pengaturan
[sunting | sunting sumber]Secara tradisional, togalu gombeyaata dipentaskan di luar desa pada tempat yang sudah ditentukan, atau di halaman kuil.[7] Panggung disiapkan menggunakan batang bambu dan selimut berbahan wol. Kain putih semi-transparan digantung di panggung, berfungsi sebagai layar tempat gambar wayang diproyeksikan. Boneka-boneka wayang digantung pada seutas tali di belakang layar dan lampu minyak terang ditempatkan di belakang boneka sebagai sumber cahaya untuk memproyeksikan bayangan wayang ke layar. Dalang duduk di belakang layar dan menggerakkan boneka berdasarkan adegan yang dimainkan.[8] Namun, modernitas telah dikenal dalam pertunjukan tradisional ini. Sekarang panggung dibuat menggunakan bahan yang lebih kuat seperti baja. Suara diperkeras menggunakan pelantang, dan lampu busur sebagai pengganti lampu minyak.[5]
Pertunjukan
[sunting | sunting sumber]Pertunjukan biasanya dimulai pada malam hari dan berlanjut hingga fajar. Adegan yang diperankan biasanya dinukil dari epos Hindu kenamaan, seperti Ramayana,[6] Mahabharata, Purana serta beragam cerita rakyat.
Pertunjukan biasanya dimulai dengan memanjatkan doa kepada arca Dewa Ganesha yang diletakkan di bawah pohon, dikelilingi oleh burung merak, ayam jantan dan burung beo yang disertai oleh Dewi Saraswati (dewi patron ilmu pengetahuan), badut Killikyeta dan pasangannya Bagarakka.[7]
Para dalang turut menyediakan suara untuk boneka wayang dan musik pengiring disediakan melalui memainkan mukha-veena (veena yang dimainkan dengan mulut) atau harmonium . Boneka-boneka wayang dipegang atau dijunjung dengan batang bambu secara vertikal yang ukurannya pas. Tongkat atau junjung yang lebih tipis diikatkan ke bagian-bagian yang dapat digerakkan dari figur tersebut, terutama lengan dan kepala.
Keadaan saat ini
[sunting | sunting sumber]Togalu gombeyaata saat ini telah dipelajari atau diteliti oleh Karnataka Chitrakala Parishath, sebuah institusi budaya di Karnataka. Institusi ini memiliki banyak koleksi boneka wayang, yang termasuk sebagai koleksi permanen museum tersebut.[9] Sebelum tahun 2006, tercatat ada 300 keluarga pewayang di Karnataka dan 14.000 jiwa di antaranya bergantung secara ekonomi pada pembuatan dan pertunjukan wayang ini.[6]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Chadar Badar, seni pertunjukan masyarakat Santhali di India
- Gopalila, seni pertunjukan dari Odisha
- Kathputli (boneka), seni pertunjukan Rajasthan,
- Nokkuvidya pavakali, seni pertunjukan Kerala
- Rabana Chhaya, seni pertunjukan dari Odisha
- Sakhi kandhei, seni pertunjukan dari Odisha
- Tholpavakoothu, seni pertunjukan dari Kerala dan Tami Nadu
- Tholu bommalata, seni pertunjukan dari Andhra Pradesh, India
- Wayang, seni pertunjukan Indonesia yang terinspirasi oleh boneka India
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ A description of togalu gombeyaata is provided by Staff Correspondent (3 Januari 2005). "Create atmosphere to develop rural theatre". The Hindu. Chennai, India. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Januari 2005. Diakses tanggal 3 Januari 2005.
- ↑ Surendra Pai (10 Oktober 2025). "'Togalu Gombeyaata': Keeping Karnataka's shadow puppetry art alive in the digital age". DH: Deccan Herald. The Printers Mysore Ltd. Diakses tanggal 27 November 2025.
- 1 2 Kopariha, Kuhu (2020-06-09). "Exploring the South Indian Tradition of Shadow Puppetry". Sarmaya (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-03.
- 1 2 A description of togalu gombeyaata is provided by "Shadow Puppets". Online Webpage of PuppetIndia.com. 2001 Puppetindia.com. Diarsipkan dari asli tanggal 29 September 2007. Diakses tanggal 29 April 2007.
- 1 2 3 K.L. Kamat. "Kamat Goes to a Puppet Show". Online Webpage of Kamat's Potpourri. 1996-2007 Kamat's Potpourri. Diakses tanggal 29 April 2007.
- 1 2 3 Gosh, Sampa; Banerjee, Utpal (2006). Indian Puppets. Abhinav Publications. hlm. 61. ISBN 9788170174356. Diakses tanggal 27 November 2025.
- 1 2 "Togalu Gombeyata". World Encyclopedia of Puppetry Arts (dalam bahasa American English). 8 April 2016. Diakses tanggal 3 Desember 2022.
- ↑ K.L. Kamat. "Leather Puppets of India". Online Webpage of Kamat's Potpourri. 1996-2007 Kamat's Potpourri. Diakses tanggal 29 April 2007.
- ↑ "Leather Puppet Museum". chitrakalaparishath.org. Chitrakala Parishath. Diakses tanggal 27 November 2025.