Lompat ke isi

Tionghoa di Surakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tionghoa di Surakarta adalah komunitas etnis yang memiliki sejarah panjang dan telah memberikan kontribusi dalam berbagai aspek kehidupan kota Surakarta. Mereka dikenal memberikan peran penting dalam sejarah lokal, sosial, budaya, dan ekonomi dengan karakteristik dan perkembangan yang unik sesuai dengan dinamika setempat.[1]

Geger Pacinan
Lukisan Jawa abad ke-19 menggambarkan salah satu episode Perang Tionghoa, perang yang meletus di Jawa tahun 1741-1743

Keberadaan Tionghoa di Surakarta berawal dari konflik internal keraton pada awal abad ke-18. Mereka melakukan pemberontakan terhadap Paku Buwono II dan VOC yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi, yang dikenal sebagai peristiwa Geger Pacinan tahun 1742. Peristiwa ini menyebabkan perpindahan ibu kota kerajaan dari Kartasura ke Surakarta dan memberikan mereka izin untuk menetap di wilayah kota di sekitar Pasar Gede, di antaranya Kampung Balong di sebelah utara Sungai Pepe.[1][2][3]

Geger Pacinan merupakan salah satu kejadian bersejarah yang melibatkan pasukan gabungan Jawa dan Tionghoa yang menguasai Keraton Kartasura untuk sementara. Peristiwa ini menandai ketegangan sosial-politik antara Keraton, VOC, dan komunitas Tionghoa yang berujung pada konflik besar dan migrasi ulang pusat kerajaan ke Surakarta.[2][3]

Era Hindia Belanda

[sunting | sunting sumber]

Pada masa kolonial Hindia Belanda, orang Tionghoa diklasifikasikan dalam golongan Timur Asing yang harus tinggal terpisah dalam kampung khusus untuk memudahkan pengawasan. Keberadaan orang-orang Tionghoa di Surakarta lambat laun semakin banyak jumlahnya. Bahkan semakin penting peran masyarakat Tionghoa dalam aktivitas ekonomi. Pemerintah Kolonial Hindia Belanda kemudian mengangkat pemimpin masyarakat Tionghoa dengan pangkat mayor untuk diawasi dengan membawahi perkampungan Tionghoa (wijk), sedang berpangkat kapiten bertanggung jawab kepada mayor. Masyarakat Tionghoa di Surakarta awalnya menjalin hubungan baik dengan orang Jawa. Hanya saja hubungan tersebut mengalami keteganganterkait dengan industri batik.[1]

Awalnya Etnis Tionghoa dan Jawa bekerja sama dalam organisasi pedagang batik bernama Kong Sing yang berdiri di awal abad ke-20. Tapi kemudian orang Jawa kecewa terhadap Kong Sing yang membiarkan beberapa pedagang Tionghoa memonopoli bahan batik. Haji Samanhudi mendirikan organisasi demi melawan taktik monopoli dagang pedagang Tionghoa dengan nama Rekso Rumekso yang berseteru dengan Kong Sing. Perlawanan Rekso Rumekso melawan Kong Sing membuat polisi turun tangan. Samanhudi dan organisasinya lalu membuka diri untuk tampil resmi dengan nama Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam (SI).[4]

Rekonsiliasi

[sunting | sunting sumber]

Rekonsiliasi ini bukanlah hasil dari perjanjian tunggal pasca-Kong Sing, melainkan upaya yang terus menerus dilakukan secara formal dan berkelanjutan antara etnis Tionghoa dan Jawa di Surakarta sebagian besar terjadi melalui dua jalur utama, yaitu akulturasi budaya dan kesadaran sosial bersama. Kehidupan sosial komunitas masyarakat Tionghoa sepanjang abad ke-20 telah mengalami banyak perubahan terutama dalam upacara-upacara adat, nama, agama, kesenian, perkawinan, kematian, dan mentalitas. Perubahan tersebut disebabkan adanya perkawinan campur dengan Jawa, dan penerimaan kebijakan asimilasi masa Orde Baru. Serangkaian perubahan tersebut menunjukkan proses transformasi orang Tionghoa “menjadi Jawa”.[1]

Timlo
Timlo Solo hasil akulturasi masakan Tionghoa, Kimlo menjadi versi Jawa.

Salah satu hasil proses akulturasi ini adalah hidangan-hidangan yang menggabungkan kekayaan rasa lokal dengan sentuhan khas Tionghoa, menciptakan kuliner yang tidak hanya lezat, tetapi juga menggambarkan harmoni dua budaya besar. Beberapa hasil akulturasi ini adalah Timlo yang berupa masakan sup berkuah bening yang berisi potongan daging ayam, sosis solo, dan telur. Hidangan ini merupakan adaptasi dari sup kimlo yang diperkenalkan oleh pedagang Tionghoa di Solo yang awalnya menggunakan daging babi. Sebagai akulturasi Tionghoa-Jawa daging digantikan dengan ayam, menjadikannya lebih sesuai dengan selera lokal. Serabi Notosuman juga merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa-Jawa yang memiliki cita rasa manis gurih. Wedang tahu, atau Tahok (istilah yang dikenal di Semarang), atau Tauhue (istilah yang dikenal dalam dialek Hokkian) adalah minuman hangat berbahan dasar tahu dengan kuah jahe manis. [5][6]

Grebeg Sudiro

[sunting | sunting sumber]

'Grebeg' dalam tradisi Jawa, merujuk pada perayaan rutin dan ucapan syukur untuk memperingati peristiwa penting. Sementara 'Sudiro' diambil dari Kampung Sudiroprajan di sekitar Pasar Gede. Tradisi ini awalnya untuk memperingati ulang tahun Pasar Gede Hardjonagoro, digagas oleh warga etnis Tionghoa dan Jawa di Kampung Sudiroprajan. Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, dikenal sebagai Kampung Pecinan karena dihuni banyak etnis Tionghoa. Wilayah ini mencakup Kampung Kepanjen, Balong, Mijen, Ngampil, Samaan, Ketandan, Limolasan, dan Balong Lengkong. Grebeg Sudiro adalah tradisi yang menggambarkan pembauran budaya Jawa dan Tionghoa. Tradisi ini lahir pada tahun 2007 di Sudiroprajan, Solo diinisiasi oleh Oei Bengki, Sarjono Lelono Putro, dan Kamajaya.[7]

Grebeg Sudiro diselenggarakan tiap perayaan tahun baru Imlek di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo. Akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Jawa terjadi di Kelurahan Sudiroprajan berlangsung sejak lama dan terjadi secara alami melalui interaksi, perkawinan, hingga akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dengan Jawa di kampung itu. Grebeg Sudiro diawali dengan acara Umbul Mantram atau kirab mengelilingi Kelurahan Sudiroprajan hingga Pasar Gede.[8]

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 Media, Kompas Cyber (2021-02-22). "Aktivitas Ekonomi Masyarakat Tionghoa di Surakarta Awal Abad 20". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-11-18.
  2. 1 2 Dzikri, Abi Mu'ammar. "Kisah Sunan Kuning dalam Geger Pacinan dan Perebutan Kartasura". tirto.id. Diakses tanggal 2025-11-18.
  3. 1 2 Azizah, Ulvia Nur. "Sejarah Tragedi Geger Pecinan 1740 Beserta Dampak dan Kronologinya". detikjateng. Diakses tanggal 2025-11-18.
  4. M, Petrik. "Kisah Haji Samanhudi, Juragan Batik Pendiri Sarekat Islam". CNBC Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-18.
  5. Prabowo, Ronald Seger (2025-01-14). "5 Kuliner di Solo Hasil Akulturasi Budaya Jawa-Tionghoa". Suara Surakarta.
  6. "Tofu, a Healthy Traditional Food in China". www.cits.net. Diakses tanggal 2025-11-18.
  7. Azizah, Ulvia Nur. "Apa Itu Grebeg Sudiro? Wujud Akulturasi Tionghoa-Jawa di Solo". detikjateng. Diakses tanggal 2025-11-18.
  8. Putra, Agil Trisetiawan. "Sejarah Grebeg Sudiro, Simbol Akulturasi Budaya Jawa-China di Solo". detikjateng. Diakses tanggal 2025-11-18.