Tigalingga, Dairi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tigalingga
Kecamatan Tigalingga, Dairi.jpg
Kantor Kecamatan Tigalingga
(Peta Lokasi) Kecamatan Tigalingga, Dairi.svg
Peta lokasi Kecamatan Tigalingga
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Utara
KabupatenDairi
Pemerintahan
 • CamatTimbul Sahala Tamba, SH[1]
Populasi
 • Total24.428 jiwa
 • Kepadatan197/km2 (510/sq mi)
Kode pos
22252
Kode Kemendagri12.11.03 Edit the value on Wikidata
Luas197,00 km²
Desa/kelurahan14 desa

Tigalingga adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Dairi, provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Ibukota kecamatan berada di desa Tigalingga.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Foto udara desa Tigalingga

Tigalingga adalah salah satu wilayah perbatasan yang oleh penguasa Belanda dulu disebut sebagai Onderdistrik van Karo Kampung. Kawasan ini meliputi lima kenegrian yakni Tigalingga, Tanah Pinem, Pegagan Hilir, Juhar Kidupen Manik, dan Lau Juhar. Dinamai Karo Kampung karena kulturnya mayoritas Karo dan kawasan ini merupakan wilayah Karo yang masuk wilayah Dairi akibat demarkasi oleh Belanda. Pada tahun 2003, kecamatan Tigalingga dimekarkan menjadi kecamatan Gunung Sitember.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Dalam Sensus Penduduk Indonesia 2020, jumlah penduduk kecamatan ini sebanyak 24.428 jiwa.[2]

Suku[sunting | sunting sumber]

Tugu perjuangan Tigalingga

Penduduk kabupaten Dairi, pada umumnya merupakan etnis Batak Dairi, dan ada juga sebahagian besar lainnya berasal dari suku Batak Karo dan Batak Toba, serta sebagian kecil Batak Angkola dan Batak Simalungun. Beberapa suku pendatang yang umumnya berada di ibukota kabupaten, seperti suku Aceh, Jawa, Minangkabau, dan suku lainnya.

Sementara di kecamatan Tigalingga adalah kecamatan yang multi-etnis, mayoritas penduduknya merupakan Suku Toba, disusul oleh Suku Karo, Suku Pakpak, Suku Simalungun, dan terdapat juga minoritas penduduk dari Suku Jawa.

Marga yang mendominasi di Kecamatan Tigalingga beragam dan berasal dari lintas etnis; terdapat empat kelompok marga yang mencapai lebih dari 6% dari penduduk Kecamatan Tigalingga yaitu:

Sedangkan marga dari Suku Pakpak berjumlah mencapai sekitar 10,86% dari total penduduk Kecamatan Tigalingga, dimana marga terbanyak adalah Manik, Berutu, Sagala, Maibang, Padang, dan Lingga.[4]

Agama[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Dairi mencatat bahwa 82,13% penduduk kecamatan ini memeluk agama Kristen, dimana Protestan 72,77% dan Katolik 9,36%. Kemudian sebagian besar lagi memeluk agama Islam yakni 17,86% dan Hindu 0,01%.[5][6] Untuk sarana rumah ibadah, terdapat 77 gereja Protestan, 12 gereja Katolik dan 13 masjid.[2]

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Sumber penghasilan utama penduduk di kecamatan Tigalingga adalah di sektor pertanian dan perkebunan rakyat. Hasil bumi musiman yang terkenal dari Kecamatan Tigalingga adalah buah durian. Kecamatan Tigalingga memiliki 1 unit pasar yang bernama Pekan Tigalingga berlokasi di Desa Tigalingga dan beroperasi setiap hari kamis.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tidak termasuk marga Ginting
  2. ^ Tidak digabung dalam persatuan marga Nai Ambaton (Parna)
  3. ^ Tidak termasuk marga Angkat, Bintang, Capah, Gajahmanik, Kudadiri, Sinamo, dan Ujung

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Pejabat Kecamatan di Kabupaten Dairi". www.dairikab.go.id. Diakses tanggal 22 Mei 2021. 
  2. ^ a b c "Kabupaten Dairi Dalam Angka 2021" (pdf). www.dairikab.bps.go.id. hlm. 8, 68, 156. Diakses tanggal 21 Mei 2021. 
  3. ^ Data diolah dari Daftar Pemilih Pemilu 2019 Kecamatan Tigalingga
  4. ^ Data diolah dari Daftar Pemilih Pemilu 2019 Kecamatan Tigalingga
  5. ^ "Visualisasi Data Kependuduakan - Kementerian Dalam Negeri 2020". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 21 Mei 2021. 
  6. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Dairi". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 21 Mei 2021.