Teungku Nyak Sandang
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Agustus 2025) |
Teungku Nyak Sandang | |
|---|---|
| Teungku Nyak Sandang bin Lamudin | |
![]() | |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 4 Februari 1927 Mukhan, Indra Jaya, Aceh Jaya |
| Meninggal | 7 April 2026 (umur 99) Lhuet, Jaya, Aceh Jaya |
| Dikenal karena |
|
| |
Teungku Nyak Sandang (4 Februari 1927 – 7 April 2026) adalah seorang tokoh asal Aceh yang dikenal sebagai salah satu penyumbang dana pembelian pesawat Seulawah RI-001, pesawat pertama milik Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.[1] Teungku Nyak Sandang, yang saat itu masih berusia 23 tahun, berinisiatif menjual kebunnya yang senilai 20 mayam emas[a]. Hasil penjualan tersebut kemudian diserahkan kepada negara yang kemudian oleh Presiden Soekarno kala itu dibelikan pesawat Seulawah RI-001.[2]
Sumbangan
[sunting | sunting sumber]Presiden Sukarno berkunjung ke Aceh pada pertengahan Juni 1948. Di Aceh, pemuda dan pengusaha dikumpulkan. Pertemuan tersebut digelar malam hari di Aceh Hotel. Sesaat sebelum makan malam, Sukarno menantang patriotisme rakyat Aceh untuk meneruskan dan melestarikan perjuangan kemerdekaan. Kala itu, Sukarno berharap malam itu juga terkumpul sejumlah dana agar dapat membeli satu unit pesawat. Para pengusaha dan tokoh-tokoh perjuangan saling melirik ketika mendengar pernyataan Bung Karno. Mereka ingin tahu siapa yang akan memulai menyumbang. Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (Gasida) M. Djuned Joesoef menjadi orang pertama yang menyumbang. Setelah itu, pengusaha lain mulai menyusul. Malam itu juga, terkumpul dana dalam jumlah cukup besar.
Selanjutnya, pengumpulan dana tersebut dikumpulkan oleh masyarakat. Abu Daud Beureueh berkunjung ke Aceh Jaya dan berpidato di halaman masjid di Calang. Masyarakat setempat dengan sukacita datang ke lokasi untuk mendengar pidato orang nomor satu di Aceh tersebut. Dalam pidatonya, Daud membakar semangat warga dan mengungkapkan Indonesia merupakan negara milik rakyat. Daud menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan pesawat agar mudah berhubungan dengan negara luar. Teungku Nyak Sandang menjadi salah satu peserta yang menghadiri pidato Daud Beureueh tersebut.[3] Setelah menghadiri pidato tersebut, Teungku Nyak Sandang—saat itu berumur 21 tahun—kemudian pulang dan menjelaskan kepada ayahnya, sambil meminta izin untuk menjual kebun seluas kurang lebih satu hektar yang berisi 40 pohon kelapa.
Teungku Nyak Sandang menjual kebun tersebut, yang saat itu dihargai 100 rupiah, atau senilai 20 mayam emas. Nilai penjualan kebun ini disimpan dalam bentuk emas karena kondisi perekonomian Indonesia saat itu yang belum stabil akibat inflasi. Hasil penjualan tersebut ia sumbangkan semuanya kepada seorang Wedana di Kota Calang. Dana tersebut kemudian diserahkan kepada Teuku Muhammad Daud Beureueh, yang kemudian diserahkan kembali kepada Presiden Sukarno. Sebagai tanda bukti, Teungku Nyak Sandang menyimpan lembaran pembelian obligasi.
Seulawah RI 001
[sunting | sunting sumber]Pesawat ini diberi nama "Seulawah", diambil dari nama sebuah gunung di perbatasan Aceh Besar dan Pidie.
Pada tanggal 28 Desember 1949, pesawat DC-3 Dakota dengan nomor registrasi RI-001 "Seulawah" terbang membawa Presiden Sukarno dari Yogyakarta ke Kemayoran untuk menghadiri acara pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Dalam kesempatan ini, Presiden Sukarno juga memberi nama perusahaan penerbangan pertama Republik Indonesia, dengan nama "Garuda Indonesia Airways". Pesawat RI-001 ini kemudian menjadi cikal bakal maskapai penerbangan Garuda Indonesia.
"Ik ben Garuda, vishnoe's vpgel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven ew eilande.[b]
— Sukarno, mengutip gubahan pujangga Raden Mas Noto Soeroto saat memberi nama "Garuda Indonesia"
Penghargaan
[sunting | sunting sumber]
Pada 25 Agustus 2025, Presiden Prabowo menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Teungku Nyak Sandang pada acara penganugerahan tanda jasa dan tanda kehormatan di Istana Negara.[4] Teungku Nyak Sandang hadir dalam acara penganugerahan tersebut menggunakan kursi roda. Presiden Prabowo kemudian berlutut di hadapan beliau untuk mengalungkan dan menyematkan tanda kehormatan. Saat pembawa acara menyebutkan jasanya dalam pengadaan pesawat pertama Republik Indonesia, seluruh hadirin serentak memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan besar Teungku Nyak Sandang.[2]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Zulfa Nadia (2022) "Sumbangan Nyak Sandang Kepada Negara Republik Indonesia Dalam Pembelian Pesawat Seulawah RI-001" Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
- 1 2 Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden (25 Agustus 2025) "Seulawah RI-001, Jejak Pengorbanan Teungku Nyak Sandang" presidenri.go.id
- ↑ Agus Setyadi (9 Maret 2018) "Cerita Makan Malam Sukarno Ajak Rakyat Aceh Patungan Beli Pesawat" Detik
- ↑ Hendra A. Setyawan (26 Agustus 2025) "Presiden Anugerahkan Tanda Kehormatan" Kompas. hal 2
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Mayam adalah satuan takaran emas tradisional yang digunakan dalam tradisi pernikahan di Aceh, khususnya sebagai bagian dari mahar atau mas kawin. Satu mayam setara dengan 3,33 gram emas murni.
- ↑ "Aku adalah Garuda. Burung milik Wisnu yang membentang sayapnya, menjulang tinggi di atas kepulauannmu."


