Teologi Kristen Ortodoks Timur
| Bagian dari seri tentang |
| Gereja Ortodoks Timur |
|---|
| Ikhtisar |
Teologi Ortodoks Timur adalah prinsip-prinsip teologi yang dianut oleh Gereja Ortodoks Timur. Prinsip teologi ini dicirikan dengan keyakinan kepada Allah Tritunggal, keyakinan akan Kelahiran Logos atau Allah Putra yang menjadi daging dan dikandung oleh Maria, pemaknaan terhadap Tradisi Suci, eklesiologi yang katolik, serta keyakinan terhadap Karya Keselamatan Kristus.
Ketuhanan
[sunting | sunting sumber]Tritunggal
[sunting | sunting sumber]Umat Kristen Ortodoks meyakini bahwa Tuhan Allah merupakan Tuhan yang tunggal dan di luar jangkauan manusia dan segala ciptaan-Nya (transendensi), tetapi juga merupakan Tuhan Allah yang dekat dengan segala ciptaan-Nya (imanen). Dalam menjelaskan konsep hubungan antara Tuhan Allah dengan ciptaan-Nya, teologi Gereja Ortodoks Timur membedakan zat Tuhan Allah yang kekal yang bersifat transenden dan kuasa Tuhan Allah yang bersifat azali yang merupakan cara-Nya menggapai manusia.[1]
Umat Kristen Ortodoks meyakini bahwa Tuhan Allah adalah esa dalam tiga pribadi Tritunggalnya, yakni Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus yang satu dan tidak terpisahkan.[2] Allah Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang berbeda dan memiliki kesatuan esensi yang sama, yakni azali, kekal, dan unik (tiada yang serupa dengan dia). Allah Bapa adalah kekal dan azali, Allah Putra adalah kekal dan diperanakkan dari Allah Bapa, serta Allah Roh Kudus adalah kekal dan berasal dari Allah Bapa.[3] Rangkuman doktrin ketuhanan umat Kristen Ortodoks tercantum dengan jelas pada Syahadat Iman Nikea.[4]
Kristologi
[sunting | sunting sumber]Umat Kristen Ortodoks meyakini bahwa Logos merupakan seorang pribadi yang memiliki dua hakikat, yakni sepenuhnya berhakikat ilahi dan sepenuhnya berhakikat manusiawi, Tuhan Allah yang sempurna (τέλειος Θεός) dan manusia yang sempurna (τέλειος άνθρωπος) yang bersatu dalam pribadi Yesus Kristus melalui karya kelahirannya.[5]
Umat Kristen Ortodoks pun meyakini bahwa Yesus Kristus dari Nazaret merupakan Messiah yang dijanjikan Tuhan Allah kepada umat Yahudi, Sang Juru Selamat yang menebus manusia atas dosa dan kesalahannya, Firman Allah yang lahir di antara manusia, "Putra Tunggal Allah yang diperanakkan oleh Sang Bapa sebelum segala zaman, Yang Terang dari yang terang, Allah dari allah, diperanakkan dan tidak dicipta, serta satu zat dengan Sang Bapa".[6]
Tradisi suci
[sunting | sunting sumber]Eklesiologi
[sunting | sunting sumber]Gereja Ortodoks Timur mengakui diri sebagai gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik yang didirikan langsung oleh Tuhan Yesus Kristus dan Para 12 Rasul. Gereja Ortodoks Timur pun menegaskan bahwa dirinya merupakan penjaga, pemelihara, dan pemegang teguh Tradisi Suci selama berabad-abad.
Umat Kristen Ortodoks memandang Alkitab sebagai sekumpulan naskah yang muncul dan terinspirasi dari tradisi suci itu sendiri, bukan sebaliknya. Alkitab pun dipandang oleh umat Kristen Ortodoks sebagai salah satu bagian terpenting dari tradisi suci itu sendiri, bukan merupakan satu-satunya bagian dari tradisi suci tersebut.
Tradisi suci ini sendiri dalam Gereja Ortodoks Timur mencakup Pengakuan Iman Nikea, pelbagai naskah dogmatis hasil dari tujuh Konsili Oikumenis, karya tulis Para Bapa Gereja, hukum kanonik Gereja Ortodoks Timur, buku-buku liturgi, dan berbagai ikon gereja.
Kitab suci
[sunting | sunting sumber]Gereja Ortodoks Timur memandang bahwa suatu ayat tertentu dalam Alkitab dapat ditafsirkan pada level yang berbeda secara simultan. Namun, penafsiran ini tidak berdasarkan pada pemahaman pribadi (2 Petrus 1:20), tetapi didasarkan pada pemahaman dan konsensus Para Bapa Gereja dalam menafsirkan suatu ayat tertentu.[7][8]
Konsensus Para Bapa Gereja
[sunting | sunting sumber]Kekristenan Ortodoks Timur menafsirkan kebenaran berdasarkan tiga hal, yakni Kitab Suci, konsensus Para Bapa Gereja, dan karunia Roh Kudus yang terus berlangsung untuk menuntun kehidupan gereja melalui logika atau pemikiran universal gereja.
Para teolog termasyhur dari gereja sendiri sebagian besar berasal dari abad ke-4 masehi. Para teolog tersebut meliputi Para Bapa Kapadokia dan Tiga Hierark Kudus. Kekristenan Ortodoks Timur juga tidak memandang zaman Patristik sebagai zaman lampau yang telah usai, tetapi hal ini dipandang sebagai suatu kesinambungan yang berlanjut melalui suksesi rasuli melalui pelbagai orang suci dan para imam gereja sejak zaman para rasul hingga saat ini.
Dosa
[sunting | sunting sumber]Kekristenan Ortodoks Timur berpegang teguh pada keyakinan bahwa karya keselamatan Kristus tidak akan sampai pada tiap-tiap insan yang mengikuti jalan keselamatan Kristus tanpa ketulusan dan keikhlasan hati mereka. Kekristenan Ortodoks Timur memandang dosa sebagai segala tindakan yang membuat manusia gagal untuk meraih persekutuan dengan sifat ketuhanan, yakni cinta kasih. Kekristenan Ortodoks Timur tidak memandang dosa hanya semata-mata melanggar perintah ilahi.
Dengan demikian, dalam tradisi Kekristenan Ortodoks Timur, dosa bukan saja noda dalam jiwa manusia yang perlu dihapuskan, melainkan penyakit atau kegagalan dalam meraih tujuan hidup manusia yang sejatinya merupakan pemenuhan rancangan dan fungsi Ilahi seseorang sebagai ciptaan yang merupakan gambaran Tuhan Allah. Oleh karena itu, Kekristenan Ortodoks Timur berpandangan bahwa dosa pun menyiratkan dorongan untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari tujuan penciptaan manusia, alih-alih hanya rasa bersalah karena melanggar suatu perintah.
Oleh karena setiap orang memiliki pengalaman yang unik, menghilangkan kebiasaan berlaku dosa membutuhkan perhatian dan koreksi individual. Tujuan akhir dari karya keselamatan Kristus adalah untuk menjadi gambaran Tuhan Allah seutuhnya, untuk mencerminkan keserupaan dengan Tuhan Allah melalui keserupaan dengan Kristus dalam pikiran, kehidupan, dan perilaku seseorang.
Dosa asal
[sunting | sunting sumber]Gereja Ortodoks Timur memandang manusia sebagai ciptaan Tuhan Allah yang sempurna dan merupakan gambaran dari Tuhan Allah sendiri. Manusia juga diciptakan dengan kehendak bebas dan kemampuan untuk mengasihi diri serta tujuan yang perlu diikuti. Namun demikian, Adam dan Hawa memutuskan untuk tidak mematuhi perintah Tuhan Allah dengan memakan buah dari Pohon Pengetahuan Tentang yang Baik dan yang Jahat. Oleh karena tindakan tersebut, hakikat manusia yang semula sempurna dan utuh sebagai gambaran Allah menjadi hakikat yang cela, terkoyak, dan tidak utuh. Hakikat manusia yang cela, terkoyak, dan tidak utuh inilah yang dipahami oleh Gereja Ortodoks Timur sebagai bentuk dari dosa asal itu sendiri.
Kekristenan Ortodoks Timur tidak memandang dosa asal sebagai dosa yang manusia wariskan akibat perbuatan Adam dan Hawa melanggar perintah Tuhan Allah tersebut. Kekristenan Ortodoks Timur secara tegas menolak pemahaman tersebut karena konsep tersebut berbanding terbalik dengan tradisi suci yang menganggap bahwa berlaku dosa berasal dari pilihan manusia dan bukan diwariskan dari generasi sebelumnya (Yehezkiel 18:20).[9]
Surga dan Neraka
[sunting | sunting sumber]Gereja Ortodoks Timur dengan gereja-gereja Kekristenan Timur lainnya mengajarkan bahwa seusai kematian manusia akan berada di dalam hadirat Tuhan Allah, baik mereka yang beroleh keselamatan atau pun mereka yang tersesat. Setiap insan yang beroleh keselamatan akan merasakannya sebagai pencerahan, kedamaian, peristirahatan, dan kesukacitaan yang kekal. Sementara itu, setiap insan yang tersesat akan merasakannya sebagai kegelapan, kegelisahan, kesengsaraan, dan siksaan yang kekal.[10]
Tidak seperti pandangan Kekristenan Barat umumnya, Gereja Ortodoks Timur tidak memandang surga dan neraka sebagai dua tempat yang menjadi tujuan akhir manusia setelah kematian. Kedatangan terakhir Kristus nantinya menjadi penghakiman bagi setiap manusia yang pernah menapak di muka bumi. Kehadiran dan keberadaan Kristus pada saat kedatangan terakhir itulah yang menjadi penghakiman bagi manusia. Manusia yang beroleh keselamatan akan merasakan kehadirannya sebagai kegembiraan dan sukacita, sedangkan manusia yang tersesat akan merasakan keberadaannya sebagai suatu yang menyiksa, menyengsarakan, dan menyesakkan.[11]
Setan
[sunting | sunting sumber]Kekristenan Ortodoks Timur berpandangan bahwa setan adalah salah satu dari tiga musuh utama manusia, yakni dosa dan kematian. Gereja Ortodoks Timur memiliki pandangan yang serupa seperti gereja-gereja barat yakni keyakinan bahwa setan atau iblis merupakan malaikat Allah yang membangkang dan jatuh ke dalam kesesatan. Setan bersama para pasukannya berkeliaran di alam dunia ini dengan tujuan merusak segala hal baik yang ada pada setiap ciptaan Tuhan Allah.[12]
Karya keselamatan
[sunting | sunting sumber]
Dalam Kekristenan Ortodoks Timur, karya keselamatan dipahami sebagai sebuah proses yang manusia alami untuk diselamatkan dari dosa, kematian, dan kesengsaraan neraka. Gereja Ortodoks Timur meyakini bahwa ajaran dan praktiknya menggambarkan jalan yang lurus untuk meraih karunia keselamatan Tuhan Allah. Namun, keyakinan tersebut tidak menjadi dasar bahwa sesorang harus menjadi seorang Kristen Ortodoks untuk meraih karunia keselamatan itu sendiri. Kekristenan Ortodoks Timur memercayai bahwa Tuhan Allah adalah Tuhan Yang Mahakasih terhadap segala sesuatu. Selain itu, Kekristenan Ortodoks Timur meyakini bahwa tidak ada yang dapat dilakukan oleh seseorang (Ortodoks maupun non-Ortodoks) untuk meraih karunia keselamatan tersebut karena pemberian karunia keselamatan Tuhan itu adalah hak prerogatif Tuhan Allah sendiri.
Meskipun karunia keselamatan ini adalah hak prerogatif Tuhan Allah, Kekristenan Ortodoks Timur pun meyakini bahwa karya karunia ini perlu diterima secara sadar oleh manusia agar karya keselamatan Tuhan Allah ini terjadi. Tuhan Allah tidak memaksakan karya keselamatan ini diterima oleh manusia karena hakikat manusia yang memiliki kehendak bebas untuk memilih menerima atau menolak karunia keselamatan itu sendiri. Untuk memperoleh karunia keselamatan ini, manusia harus bekerja sama dengan Tuhan dalam suatu sinergi yang dengannya seluruh keberadaannya, termasuk kehendak, usaha, perilaku, dan tindakannya, selaras dengan kehendak ilahi.
Kematian dan kebangkitan Kristus
[sunting | sunting sumber]Menurut teologi Kekristen Timur, berdasarkan pemahaman tentang penebusan dosa sebagaimana yang dikemukakan oleh Ireneus, kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus adalah bentuk penebusan dosa. Kematian dan kebangkitannya ini memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan Allah, yang penuh kasih kepada umat manusia, serta membuka kemungkinan teosis, yakni menjadi manusia seperti yang Tuhan Allah telah gambarkan. Keselamatan dipandang sebagai keikutsertaan dalam pembaruan kodrat manusia itu sendiri melalui Firman Allah yang kekal yang mengambil bentuk manusia sepenuhnya.
Berbeda dengan pandangan Kekristenan Barat, Kekristenan Ortodoks Timur memandang bahwa kematian dan kebangkitan Kristus bukan bertujuan untuk menenangkan kemurkaan Allah Bapa terhadap manusia atau untuk mencegah kemurkaan Tuhan Allah atas orang berdosa, melainkan untuk mengalahkan dan menghancurkan dosa dan kematian itu sendiri, sehingga setiap insan yang jatuh dan tersesat secara rohani dapat diubah secara ilahiah menjadi manusia yang sesuai dengan gambaran Tuhan Allah Pencipta segala sesuatu.[13]
Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Theokritoff, Elizabeth (2010) [2008]. "Part I: Doctrine and Tradition - Creator and creation". Dalam Cunningham, Mary B.; Theokritoff, Elizabeth (ed.). The Cambridge Companion to Orthodox Christian Theology. Cambridge and New York: Cambridge University Press. hlm. 63–77. doi:10.1017/CCOL9780521864848.005. ISBN 9781139001977.
- ↑ Ware 1993, hlm. 67-69.
- ↑ Lossky, V. The Mystical Theology of the Eastern Orthodox Church.
- ↑ Ware 1993, hlm. 202.
- ↑ Louth, Andrew (2007). "The Place of Theosis in Orthodox Theology". Dalam Christensen, Michael J.; Wittung, Jeffery A. (ed.). Partakers of the Divine Nature: The History and Development of Deification in the Christian Traditions. Madison, New Jersey and Vancouver, British Columbia: Fairleigh Dickinson University Press. hlm. 32–44. ISBN 978-0-8386-4111-8. LCCN 2006017877.
- ↑ Syahadat Iman Nikea
- ↑ Kallistos (Ware), Bishop (1963). The Orthodox Church. London: Penguin Books (dipublikasikan 1964). hlm. 204, ff. ISBN 0-14-020592-6.
- ↑ Pomazansky, Protopresbyter Michael, Orthodox Dogmatic Theology, vol. 1984 [English trans.] (Edisi Rev. by author, 1973), Platina, California: Saint Herman of Alaska Brotherhood, hlm. 61, LOC # 84-051294
- ↑ Romanides, John S. (2002). Ancestral Sin. Ridgewood, NJ: Zephyr Pub. ISBN 0-9707303-1-4.
- ↑ Heaven, Hell, and the Afterlife According to the Bible, an Orthodox account
- ↑ "Kerajaan Allah: Sorga dan Neraka" (dalam bahasa Inggris). Orthodox Church in America. Diakses tanggal 10 Agustus 2025.
- ↑ "Spiritualitas Gereja Ortodoks Timur: Setan/Iblis" (dalam bahasa Inggris). Orthodox Church in America. Diakses tanggal 10 Agustus 2025.
- ↑ Carlton 1997, hlm. 139–146.