Tentang Kamu (novel)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tentang Kamu
Tentang Kamu sampul.jpeg
PengarangTere Liye
Negara Indonesia
BahasaIndonesia
Genre
PenerbitRepublika
Tanggal terbit
Oktober 2016
Halaman524 halaman
ISBNISBN 978-602-082-234-1

Tentang Kamu adalah sebuah novel perjalanan hidup karya Tere Liye, Diterbitkan pertama kali tahun 2016.[1] Tentang kamu adalah sebuah novel yang menceritakan perjuangan Zaman, seorang pengacara muda dari Thompson & Co, untuk mengurus warisan Sri Ningsih. Sri Ningsih adalah seorang wanita asal Indonesia yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris. Kematiannya itu dapat menjadi masalah karena Sri Ningsih meninggalkan harta warisan yang nilainya sangat besar.[2]

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Novel Tere Liye yang bejudul “Tentang Kamu” ini merupakan sebuah novel yang bercerita tentang seorang pengacara muda bernama Zaman Zulkarnain yang berasal dari Pulau Jawa, Indonesia. Setelah selesai menyelesaikan kuliahnya di London, Zaman bekerja di salah satu firma hukum London Thompson & Co. Zaman mendapat tugas untuk mencari ahli waris seorang perempuan yang bernama Sri Ningsih, perempuan yang berasal dari Pulau Bungin, Sumbawa, Indonesia. Sri Ningsih memiliki saham 1% pada salah satu perusahaan multinasional yang di hitung dalam rupiah warisan tersebut berjumlah senilai 19 triliyun rupiah. Namun, Zaman memiliki kendala yakni tentang Informasi mengenai Sri Ningsih yang sangat terbatas, sehingga mengharuskan Zaman untuk menelusuri kehidupan Sri Ningsih. Zaman memulai perjalanan nya dari tempat lahir Sri Ningsih di Pulau Bungin. Di sanalah Zaman bertemu dengan teman Sri Ningsih semasa dia kecil yang bernama Ode. Ode lah yang menceritakan perjalanan hidup Sri Ningsih ketika tinggak di Pulau Bungin. Ibu Sri Ningsih yang bernama Rahayu meninggal dunia ketika hendak melahitkan Sri Ningsih, selepas meninggalnya Rahayu ibu dari Sri Ningsih ayahnya Nugroho jatuh cinta dengan seorang gadis cantik di Pulau Bungin yang bernama Nusi Maratta sehingga ayah nya Nugroho menikah lagi untuk yang kedua kalinya. Pada waktu itu Nugroho pergi untuk mengantarkan barang dengan beberapa anak buah nya. Setelah selang beberapa hari setelah keberangkatan Nugroho untuk mengantarkan barang, salah seorang datang ke Pulau Bungin dan membawa kabar bahwasanya kapal Nugroho telah kara di lautan karena tidak sanggup untuk menghadapi ombak yang besar. Selepas kepergian Nugroho, ibu tiri Sri Ningsih berubah menjadi galak dan sering memukulnya sehingga menyebabkan tubuh Sri Ningsih luka dan memar-memar. Yang lebih sadis lagi adalah pada saat itu rumah Sri Ningsih mengalami kebakaran yang menyebabkan Sri Ningsih tidak memiliki harta benda apapun. Ibu tirinya meninggal pada saat terjadinya kebakaran. Sri Ningsih meupakan seorang yang pekerja keras terlihat dari pengalaman-pengalaman yang pernah ia alami. Dari mulai bekerja sebagai seorang guru, pedagang kaki lima dengan gerobak, membuka rental mobil, pekerja pabrik, hingga pada puncaknya membuka pabrik sabun nya sendiri dengan merk ‘Nurahayu’. Semuanya ia lakukan di Jakarta hingga akhirnya ia memutuskan pergi ke London dan menukar pabriknya dengan kepemilikan 1% saham multinasional sebagai gantinya. Di London Sri Ningsih bekerja sebagai sopir bus 2 tingkat yang berwarna merah. Di sanalah Sri Ningsih menemukan kekasihnya yang berkebangsaan turki. Sri Ningsih menikah dan sempat mempunyai 2 anak namun hanya dalam jangka waktu beberapa jam. Akibat perbedaan rhesus antara Sri Ningsih dan suaminya. Kebahagiaan Sri Ningsih berlangsung tidak begitu lama. Ia kembali lagi endapat cobaan dengan kematian sang suami tercinta. Dengan kematian suaminya Sri Ningsih memutuskan untuk tinggal di panti jompo yang terletak di Paris, dan juga merupakan perjalanan hidup terakhir Sri Ningsih. Perjalanan panjang yang melelahkan hingga ia harus meninggalkan semuanya. Bersembunyi dan tinggal di panti jompo. Sebelum meninggal Sri Ningsih sempat membuat surat wasiat untuk pembagian harta warisan yang ia miliki. Akhirnya Zaman dapat menyelesaikan tugas nya untuk mendapatkan ahli waris dari seorang Sri Ningsih.[3]

Cerita dalam novel ini berfokus pada Sri Ningsih. Seorang perempuan dengan hati yang tulus, pekerja keras, sabar, dan penyayang. Namun Sri Ningsih tidak menceritakan perjalanan hidupnya sendiri. Kisahnya diulik oleh Zaman Zulkarnaen dari satu orang ke orang lain. Menggabungkan berbagai puzzle yang masih acak-acakan. Secara umum, Zaman hanya sebagai pion untuk menceritakan tangguhnya seorang Sri Ningsih.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Tokoh Utama
  • Zaman Zulkarnaen
  • Sri Ningsih
Tokoh Lainnya
  • Tokoh dari Thompson & Co
  • Sir Thompson
  • Eric Morning
  • Encik Razak
  • Keluarga Sri Ningsih
  • Nugroho
  • Rahayu
  • Nusi Maratta
  • Tilamuta
  • Hakan Karim
  • Keluarga Zaman
  • Ibu Zaman
  • Hans Zulkarnaen
  • Tokoh di Pesantren
  • Nur’aini
  • Sulastri/Ningrum
  • Wahid
  • Kiai Ma’sum dan istrinya
  • Mas Arifin
  • Mas Musoh
  • Pak Anwar
  • Keluarga Rajendra Khan
  • Rajendra Khan
  • Ibu dan ayah Rajendra Khan
  • Tanya
  • Amrita
  • Paman dan bibi Rajendra Khan
  • Tokoh dari Panti Jompo
  • Aimee
  • Beatrice
  • Maximillen
  • Tokoh dari Pulau Bungin
  • Kepala kampung dan istrinya
  • Pak tua/Ode
  • Lainnya
  • Tuan Guru Bajang
  • Catherine
  • Deschamps
  • Profesor Oxford
  • La Golo
  • Sueb
  • Cathy
  • Lucy
  • Franciszek
  • Eddy
  • Monsieur Alfonse
  • Anita
  • Sarwo
  • Murni

Kutipan[sunting | sunting sumber]

"Setiap janji sesederhana apa pun itu, memiliki kehormatan"
"Aku ingin punya hati seperti milik Sri Ningsih. Tidak pernah membenci walau sedebu. Tidak pernah berprasangka buruk walau setetes."
"Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apalagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga kita tahu bahwa kita ada pada batas akhirnya? Berapa kali kita harus menerima kenyataan bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Aku sekarang tau jawabanya. terima kasih atas pelajaran tentang keteguhan. Aku tau sekarang. Pertanyaan paling penting adalah bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x lagi."
"Tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan. Karena saat kita lupa, masih ada sisi-sisi yang mengingatnya. Boleh jadi selama ini kita terus menyibukkan diri, karena sejatinya aku sedang mengenyahkan masa lalu itu"
"Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru."
“Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu. Itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, tetapi cintalah yang akan menemukan kita."
"Terima kasih. nasihat lama itu benar sekali. Aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi."
"Masa lalu, rasa sakit, masa depan, mimpi-mimpi, semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan."
"Karena bila berbicara tentang penerimaan yang tulus, hanya yang bersangkutanyalah yang tau seberapa ikhlas dia telah berdamai dengan sesuatu."
"Mencintaimu telah memberikanku keberanian, dan dicintai olehmu telah memberikanku kekuatan."
"Selalu menyenangkan mempunyai seseorang yang menunggu diri.”

Referensi[sunting | sunting sumber]