Lompat ke isi

Tarigan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tarigan
Aksara Batak
Nama margaTarigan
Nama/
penulisan
alternatif
Terigan
Kekerabatan
Kerabat
marga
Turunan
  • Tarigan Tua
  • Tarigan Jampang
  • Tarigan Gersang
  • Tarigan Ganagana
  • Tarigan Pekan
  • Tarigan Tambak
  • Tarigan Purba
  • Tarigan Sibero
  • Tarigan Silangit
  • Tarigan Karandem
  • Tarigan Tegur
  • Tarigan Tambun
  • Tarigan Sahing
  • Tarigan Bondong
  • Tarigan Gerneng
  • Tarigan Cingkes
  • Tarigan Tendang
Asal
SukuBatak
EtnisBatak Karo
Daerah asalTaneh Karo

Tarigan (Surat Karo: ᯗᯒᯪᯎᯉ᯳) adalah salah satu dari lima marga induk Karo yang disebut sebagai Merga Silima.[1]

Kisah Rakyat Mengenai Tarigan

[sunting | sunting sumber]

Marga Tarigan ini tadinya berdiam di sebuah Gunung, yang kini berubah menjadi Danau Toba.[2] Mereka disebut sebagai bangsa Umang.[2] Pada suatu hari, istri manusia Umang Tarigan ini mengeluarkan banyak darah saat melahirkan.[2] Darah ini tiba-tiba menjadi kabut, dan kemudian jadilah sebuah danau.[2] Cerita ini menggambarkan terjadinya Danau Toba dan migrasi orang Tarigan dari daerah tersebut ke Purba Tua, Cingkes, dan Tungtung Batu.[2] Tiga orang keturunan marga Tarigan kemudian sampai ke Tongging yang waktu itu diserang oleh burung Sigurda-gurda berkepala tujuh.[2] Untuk itu Tarigan, memasang seorang anak gadis menjadi umpan guna membunuh burung Sigurda-gurda tersebut.[2]

Di bawah gadis itu digalilah lubang tempat sebagai benteng marga Tarigan.[2] Ketika burung Sigurda-gurda datang dan hendak menerkam anak gadis itu, maka Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menyumpit (eltep) kepala burung garuda itu.[2] Enam kepala kena sumpit, akan tetapi satu kepala tesembunyi di balik dahan kayu.[2] Salah seorang marga Tarigan ini lalu memanjat pohon dan menusuk kepala itu dengan pisau.[2] Melalui kisah ini, marga Tarigan dikenal tangguh dan dapat mengalahkan musuh.[2]

Beberapa generasi setelah kejadian ini, tiga orang keturunan marga Tarigan ini diberi nama menurut keahliannya masing-masing, yakni:[3]

  • Tarigan Pertendong (ahli telepati).[3]
  • Pengeltep (ahli menyumpit).[3]
  • Pernangkih-nangkih (ahli panjat).[3]

Tarigan pengeltep kawin dengan beru Ginting Manik.[2] Diadakanlah pembagian wilayah antara penghulu Tongging dengan Tarigan Pengeltep.[2] Tarigan menyumpitkan eltepnya sampai ke Tongtong Batu.[2] Tarigan lalu pergi kesana, dan itulah sebabnya pendiri kampung (Simantek Kuta) di Sidikalang dan sekitarnya adalah Tarigan Gersang.[2] Tarigan Pertendong dan Tarigan Pernangkih-nangkih tinggal di Tongging dan keturunannya kemudian mejadi Tarigan Purba, Sibero, dan Cingkes, baik yang di Toba maupun yang di Simalungun.[2] Beberapa generasi kemudian berangkatlah dua orang marga Tarigan dari Tongtong Batu ke Juhar, yang kemudian di Juhar dikenal sebagai Tarigan Sibayak dan Tarigan Jambor Lateng.[2] Tarigan Sebayak mempunyai nama rurun Batu (laki-laki) dan Pagit (perempuan).[2] Sementara nama rurun Tarigan Jambor Lateng adalah Tarik (laki-laki) dan Lumbung (perempuan).[2] Kemudian datang pulalah Tarigan Rumah Jahe dengan nama rurun Kawas (laki-laki) dan Dombat (perempuan).[2]

Submarga Tarigan

[sunting | sunting sumber]

Marga Tarigan terdiri dari beberapa sub-marga, di antaranya adalah:[4]

Desa Lingga asal marga Tarigan Sibero

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. (Indonesia)Ginting, Malem Ukur. 2008. Adat Karo.Medan: Sirulo.
  2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 (Indonesia)Bangun, Roberto. 1989. Mengenal orang Karo.Jakarta: Yayasan Pendidikan Bangun.
  3. 1 2 3 4 (Indonesia)Peranginangin, Marthin Luther. 2004. Orang Karo Di antaraOrang Batak.Jakarta: Pustaka Sora Mido.
  4. "Regina" (Sabtu, 19 April 2025). "Silsilah, Partuturan dan Tarombo Marga Tarigan". Ebatak | Ensiklopedia Batak. Diakses tanggal Senin, 1 September 2025.
  5. 1 2 3 4 5 6 7 8 (Indonesia)Ginting, Nalinta. 1984. Turi-turin Beru Rengga Kuning: Turi-turin Adat Budaya Karo.Deli Tua: Toko Buku Kobe.
  6. 1 2 3 4 5 6 (Indonesia)Tarigan, Henry Guntur dan Jago Tarigan. 1979. Bahasa Karo.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.