Tari Lima Serangkai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tari Lima Serangkai
Tari Lima Serangkai.jpg
Anak-anak pengungsi gunung api Sinabung berlatih tari tradisional Karo "Tari Lima Serangkai" di desa Ndokum Siroga, kecamatan Simpang Empat, Karo, Sumatra Utara.
MediumTari · Tari Tradisional Karo
Jenis
Budaya awalBudaya Indonesia

Tari Lima Serangkai adalah tari tradisional Suku Karo dari Sumatra Utara yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1956, merupakan jenis tari yang bersifat hiburan dan biasanya ditampilkan pada kegiatan Gendang Guro-guro Aron. Dalam pelaksanaanya tarian ini diiringi dengan Gendang Karo dan dipadukan dari lima jenis tari, yaitu tari Morah-morah, tari Perakut, Tari Cipa Jok, Tari Patam-patam Lance, dan Tari Kabang Kiung.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada zaman dahulu, Tari Lima Serangkai adalah salah satu tari tradisional Suku Karo yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1956. Tarian ini merupakan tari yang bersifat hiburan dan biasanya ditampilkan pada kegiatan Kerja Tahun/Merdang Merdem (pesta tahunan) dan Gendang Guro-guro Aron. Guro-guro artinya senda gurau atau bermain, bisa juga bermaknakan pesta hiburan, sedangkan Aron artinya muda-mudi (usia tidak dibatasi) yang dilakukan dalam satu kelompok kerja berbentuk arisan untuk mengerjakan ladang/kebun.

Makna dan fungsi[sunting | sunting sumber]

Tari Lima Serangkai ini bertemakan pergaulan. Pergaulan yang dimaksud adalah muda mudi Karo, yakni pertemuan ramah tamah sepasang insan manusia yang berkenalan secara adat Karo (ertutur), kemudian secara tutur muda mudi ini dapat berteman dekat (berpacaran) dan akhirnya mereka menjalin hubungan kasih hingga sampai ke jenjang pernikahan. Tari Lima Serangkai ini dilakukan oleh sepasang muda-mudi yang usianya tidak dibatasi tetapi belum menikah. Biasanya penari dalam satu kelompok merupakan siswa-siswi yang tergabung dalam satu sanggar tari.[1]

Ciri khas[sunting | sunting sumber]

Salah satu ciri khusus dari gerakan tari lima serangkai

Tari Lima Serangkai merupakan satu tarian yang diiringi lima gendang yaitu gendang morah-morah, gendang perakut, gendang patam-patam sereng, gendang sipajok dan gendang kabangkiung, yang menghasilkan komposisi pola gerak tari dan gerak tersebut memiliki nilai-nilai estetis dalam penyajiannya. Tari dalam bahasa Karo disebut “Landek.” Pola dasar tari Karo adalah posisi tubuh, gerakan tangan, gerakan naik turun lutut (endek) disesuaikan dengan tempo gendang dan gerak kaki. Pola dasar tarian itu ditambah dengan variasi tertentu sehinggga tarian tersebut menarik dan indah.[1]

Gerakan Tari Lima Serangkai[sunting | sunting sumber]

Keindahan dalam suatu tarian tidak terlepas dari gerakan dan unsur pembentuk, maka unsur gerakan pembentuk Tari Lima Serangkai ada 3 yaitu:

  • Gerak Endek (Gerak naik turun)
  • Gerak Jole (Gerak goyang badan)
  • Gerak Lampir Tan (Gerak kelentikan jari)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Octavia Barus, Risda (02 April 2017). "TARI LIMA SERANGKAI Dalam Perspektif Semiotika". Semiotika Seni. Diakses tanggal 16 Juli 2021.