Lompat ke isi

Kakuei Tanaka

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Tanaka Kakuei)
Kakuei Tanaka
田中 角栄
Potret resmi, 1972
Perdana Menteri Jepang
Masa jabatan
7 Juli 1972  9 Desember 1974
Penguasa monarkiShōwa
Sebelum
Pendahulu
Eisaku Satō
Pengganti
Takeo Miki
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir(1918-05-04)4 Mei 1918
Kariwa, Niigata, Kekaisaran Jepang
Meninggal16 Desember 1993(1993-12-16) (umur 75)
Tokyo, Jepang
Partai politikPartai Demokrat Liberal (1955–1993)
Afiliasi politik
lainnya
Demokrat (1947)
Dōshi Club (1947–1948)
Liberal Demokratik
(1948–1950)
Liberal (1950–1955)
Suami/istriHana Sakamoto
AnakMasanori Tanaka
Makiko Tanaka
Tanda tangan
Sunting kotak info
Sunting kotak info L B
Bantuan penggunaan templat ini

Kakuei Tanaka (4 Mei 1918  16 Desember 1993) adalah politikus Jepang dan menjadi Perdana Menteri Jepang ke-64 dan ke-65 dari 7 Juli 1972 hingga 22 Desember 1972 dan dari 22 Desember 1972 hingga 9 Desember 1974.

Tanaka mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Jepang pada tanggal 9 Desember tahun 1974 setelah muncul dugaan keterlibatan Tanaka dalam skandal penjualan pesawat Lockheed L-1011 dan beberapa skandal lainnya.

Kehidupan awal

[sunting | sunting sumber]
Kakuei Tanaka pada tahun 1951

Tanaka berasal dari keluarga biasa dengan 7 adik beradik di Nishiyama, Niigata, Jepang. Ayahnya bekerja di ladang peternakan di Niigita. Tanaka berhenti sekolah ketika berumur 8 tahun dan bekerja di bisnis konstruksi dan pindah ke Tokyo.

Pada tahun 1937, ia juga bekerja pada Shishaku Okochi Masatoshi, ketua Riken Corporation. Pada tahun 1939, Tanaka bergabung dengan militer Jepang dan ditugaskan ke Manchuria tetapi tugasnya hanya sebagai kerani dalam Kavaleri Morioka . Kemudian mengidap pneumonia dan pulang ke Jepang serta tak pernah mendaftar lagi ke militer.

Di Jepang, Tanaka bekerja di perusahaan sipil Sakamoto dan menikah dengan puteri pemiliknya Sakamoto Hana.

Karier Politik

[sunting | sunting sumber]
Kakuei Tanaka pada tahun 1954 sebagai anggota parlemen Nasional Diet Jepang

Tanaka memulai karier politiknya pada tahun 1947 ketika ia bergabung dengan parlemen Nasional Diet. Ketika menjabat di parlemen Nasional Diet, Tanaka bergabung dengan tim dari Doshi Club yang pada akhirnya membentuk koalisi Partai Demokratik dan Tanaka berhasil membentuk sekutu dengan ketua Partai Demokratik, Shigeru Yoshida yang juga menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada tahun 1946 hingga 1947 dan pada tahun 1948 hingga 1954. Hubungan Tanaka dan Shigeru Yoshida cukup hangat Shigeru Yoshida menunjuk Tanaka sebagai Wakil Menteri Kehakiman.

Sayangnya tidak lama kemudian pada 13 Desember 1948, Tanaka terlibat kasus hukum di mana ia dicurigai menerima uang suap sebesar 1 Miliar Yen dari sebuah perusahaan batubara di kyushu yang menyebabkan Tanaka bermasalah dengan hukum hingga ia ditangkap dan ditahan. Kasus ini menyebabkan kubu Shigeru Yoshida memutuskan seluruh hubungan dengan Tanaka dan Tanaka pun kehilangan posisi dan jabatannya di kabinet Shigeru Yoshida. Pada tahun 1949, Tanaka walupun masih bermasalah dengan hukum, Tanaka justru maju dalam pemilihan umum tahun 1949 dan Tanaka juga dibebaskan dari penjara setelah jaminan bahwa ia tidak akan lagi melakukan tindakan yang melanggar hukum. Tanaka terpilih kembali sebagai anggota parlemen Nasional Diet Jepang setelah memenangkan pemilu tahun 1949 dan membuat kesapakan dengan Eisaku Sato yang kala itu menjabat sebagai Ketua Sekretaris Kabinet Perdana Menteri Jepang Shigeru Yoshida untuk keanggotaannya di Partai Demokratik.

Kakuei Tanaka ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan Jepang bersama sang ibu, Fume dan sang istri, Hana pada 18 Juli, 1962

Pada November tahun 1955, Partai Demokratik Jepang dan Partai Liberal Jepang bergabung dan membentuk partai baru yang bernama Partai Liberal Demokratik Jepang. Tanaka yang sebelumnya merupakan anggota Partai Demokratik Jepang juga turut bergabung pada Partai Liberal Demokratik Jepang. Ketika Nobusuke Kishi menjabat sebagai Perdana Menteri jepang pada tahun 1957, Tanaka ditunjuk untuk menduduki posisi Menteri Telekomunikasi dan Kantor Pos.

Karier Tanaka sebagai seorang politisi mulai melejit pada tahun 1960 ketika Hayato Ikeda menggantikan Nobusuke Kishi sebagai Perdana Menteri Jepang. Tanaka yang merupaka pendukung Ikeda sebagai pengganti Nobusuke Kishi, pada akhirnya ditunjuk oleh Ikeda untuk menduduki jabatan Menteri Keuangan dan ketika menjabat sebagai Menteri Keuangan banyak kebijakan-kebijakan perekonomian Tanaka yang berdampak positif hingga memberi dampak peningkatan yang sangat signifikan pada perekonomian Jepang.

Pada tahun 1964, karena alasan kesehatan Hayato Ikeda pada akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Perdana Menteri Jepang dan digantikan oleh Eisaku Satō. Walaupun masih menjabat sebagai Menteri Keuangan pada pemerintahan Perdana Menteri Eisaku Satō, tetapi sayangnya pada Bulan Juni tahun 1965, Perdana Menteri Eisaku Satō melakukan reshuffled pada kabinetnya dan menggantikan Tanaka dengan Takeo Fukuda sebagai Menteri Keuangan yang baru. Namun pada bulan Juli tahun 1971 Perdana Menteri Eisaku kembali menunjuk Tanaka sebagai Menteri Perdagangan dan Industri.

Perdana Menteri Jepang

[sunting | sunting sumber]
Kakuei Tanaka ketika menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada tahun 1972

Pada tahun 1972 akibat dari permasalahan perekonomian yang menyebabkan ketidakstabilan mata uang dan inflasi, serta masalah internal di dalam Partai Liberal Demokratik, Perdana Menteri Jepang Eisaku Satō memutuskan untuk tidak maju kembali sebagai Perdana Menteri Jepang. Satō sebenarnya menginginkan Takeo Fukuda untuk menggantikannya sebagai Perdana Menteri Jepang, tetapi tanpa diduga oleh kubu Satō ternyata popularitas Tanaka semakin melejit di dalam tubuh Partai Liberal Demokratik Jepang, terutama setelah Tanaka mendapat dukungan dari faksi Yasuhiro Nakasone dan Masayoshi Ōhira.[1]

Pada tanggal 5 Juli tahun 1972, Tanaka memenangkan pemilihan kursi sebagai Presiden Partai Liberal Demokratik Jepang dengan perolehan suara 282 banding 190 dari lawannya Takeo Fukuda dan dua hari kemudian pada tanggal 7 Juli tahun 1972, Kakuei Tanaka resmi terpilih sebagai Perdana Menteri Jepang yang baru menggantikan Eisaku Satō. Kakuei Tanaka naik sebagai Perdana Menteri Jepang dengan peringkat popularitas tertinggi dibanding Perdana Menteri Jepang lainnya ketika baru saja terpilih sebagai Perdana Menteri. Beberapa faktor yang membuat Tanaka cukup populer adalah kebijakan-kebijakan perekonomian Tanaka yang membawa pertumbuhan pada perekonomian Jepang dan juga kebijakan-kebijakan Tanaka lainnya yang memberikan dampak yang cukup signifikan pada masyarakat menengah ke bawah.[1]

Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berfoto bersama para jajaran menteri di kabinet pemerintahan Kakuei Tanaka pada 22 Desember 1972
Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka bersama Presiden Amerika Serikat Richard M. Nixon di White House, Washington, D.C., pada bulan Juli tahun 1973

Ketika menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, banyak pemerintahan Kakuei Tanaka banyak membuat gebrakan seperti kebijakan Perekonomian yang ambisius di mana Tanaka memperkenalkan rencana pembangunan infrastruktur besar-besaran di Jepang, termasuk jaringan kereta api cepat dan jalan tol. Rencana ini disebut "Plan for Remodeling the Japanese Archipelago" atau "Rencana Pembangunan Kembali Kepulauan Jepang" dan memberi dampak yang cukup signifikan pada integerasi antar pulau ke pulau di Jepang. Tanaka juga melakukan perombakan pada Kebijakan Sosial dengan memperluas program kesejahteraan sosial, seperti meningkatkan tunjangan pensiun nasional, memperkenalkan perawatan kesehatan gratis untuk lansia, dan memberikan tunjangan anak.

Kebijakan-kebijakan Tanaka yang memberi dampak positif yang sangat signifikan ini, terutama untuk kalangan menengah ke bawah, membuat popularitas Tanaka sebagai Perdana Menteri Jepang semakin meningkat dan membuatnya semakin banyak mendapatkan dukungan atas dampak positif dari pemerintahan Tanaka sebagai Perdana Menteri Jepang. Tidak hanya itu saja, Tanaka juga dikenal sebagai pemimpin yang dinamis dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat. Tanaka juga memiliki kemampuan untuk membangun jaringan politik yang luas dan memungkinkannya untuk membangun citra politik yang baik di berbagai kalangan masyarakat Jepang.

Dalam kebijakan luar negeri Tanaka juga memperluas hubungan diplomasi Jepang dengan negara-negara lainnya, seperti Amerika Serikat, Perancis, Indonesia, Thailand, Singapura, Jerman dan Uni Soviet. Tanaka juga merupakan Perdana Menteri Jepang kedua yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet setelah Ichirō Hatoyama yang merupakan Perdana Menteri Jepang pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet.[2]

Salah satu pencapaiian terbesar dalam hubungan diplomatik pemerintahan Kakuei Tanaka selama menjabat sebagai Perdana Menteri adalah, pemulihan hubungan diplomatik Jepang dan Republik Rakyat Cina pada tahun 1972, bersamaan juga dengan Amerika Serikat, di mana pada tahun yang sama 1972, Amerika Serikat juga memulihkan hubungan diplomatik dengan Republik Rakyat Cina, ditandai dengan kunjungan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon ke ibukota Repulik Rakyat Cina, Beijing pada bulan Februari tahun 1972. Pada Bulan September tahun 1972, Tanaka melakukan kunjungan kenegaraan ke ibukota Repulik Rakyat Cina, Beijing dan menjadi Perdana Menteri Jepang pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Repulik Rakyat Cina. Alhasil hubungan diplomatik antara Jepang dan Repulik Rakyat Cina pun membaik dan perbaikan hubungan diplomatik Jepang dan Repulik Rakyat Cina juga ditandai dengan perjanjian wilayah di Pulau Senkaku.[3]

Kunjungan ke Indonesia dan Peristiwa Malari tahun 1974

[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Januari tahun 1974, dalam rangka meningkatkan hubungan diplomatik dengan negara-negara di Asia Tenggara, Kakuei Tanaka melakukan kunjungan ke beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kunjungan ini juga dalam rangka pembahasan peningkatan investasi Jepang di Indonesia dengan Presiden Indonesia Jenderal Suharto. Namun, sayangnya kunjungan Tanaka ke Indonesia pada bulan Januari tahun 1974 tidaklah disambut dengan baik oleh mahasiswa-mahasiswa di Indonesia yang menuntut agar investasi Jepang di Indonesia tidak hanya sekadar investasi, tetapi juga investasi dalam bentuk positif seperti melakukan transfer teknologi kepada rakyat Indonesia sehingga investasi Jepang di Indonesia tidak hanya menguntungkan beberapa pihak saja, tetapi juga membawa dampak positif bagi mayoritas rakyat di Indonesia. Alhasil kunjungan Tanaka ke Indonesia pada bulan Januari pun menuai protes dari kelompok mahasiswa yang dipimpin oleh beberapa tokoh Mahasiswa seperti Hariman Siregar, Syahrir, Muhammad Aini Chalid dan Judilherry Justam.

Pada tanggal 14 Januari tahun 1974 ketika Kakuei Tanaka tiba di Bandar Udara International Halim-Perdanakusuma Jakarta menggunakan pesawat Douglas DC-8-50 milik maskapai penerbangan nasional Jepang, Japan Airlines, kerumunan masa dari kalangan mahasiswa sempat berjalan menuju Bandar Udara International Halim-Perdanakusuma guna menghadang kedatangan Tanaka. Namun rencana tersebut berhasil dihalangi oleh aparat keamanan dan rombongan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berhasil melewati kerumunan masa dari kalangan mahasiswa menuju Wisma Negara di Istana Merdeka, tempat menginap Tanaka ketika berkunjung di Indonesia dari 14 Januari hingga 17 Januari tahun 1974.[4]

Pada tanggal 15 Januari tahun 1974, kerumunan masa yang menolak kunjungan Kakuei Tanaka ke Indonesia pun semakin berkecamuk. Mahasiswa yang berdemo dengan melakukan long-march dari Kampus Universitas Indonesia menuju Universitas Trisakti hingga ke Istana Merdeka pun berubah menjadi kekacauaan yang disertai huru-hara hingga berujung pada penjarahan pada toko-toko produk-produk Jepang dan pembakaran produk-produk Jepang seperti mobil-mobil Jepang. Akibat dari situasi di Kota Jakarta yang tidak kondusif ini, alhasil niat Tanaka untuk mengunjungi area Pekan Raya Jakarta di Monumen Nasional dan menaruh karangan bunga di Monumen Nasional serta kunjungan dan peletakan karangan bunga di Taman Makam Pahlawan Kalibata pun harus diurungkan. Peristiwa ini pada akhirnya dikenal dengan nama "Peristiwa Malapetaka 15 Januari" atau "Peristiwa Malari" yang merupakan peristiwa demonstrasi masal pertama pada pemerintahan orde baru.[4]

Kunjungan Tanaka ke Indonesia pada akhirnya hanya sebatas di Istana Merdeka saja, di mana Tanaka melakukan dialogue bilateral dengan Presiden Suharto dan juga Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Selama berada di Jakarta dari tanggal 14 hingga 17 Januari tahun 1974, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka beserta rombongan sama sekali tidak meninggalkan kompleks Istana Merdeka dan hanya menetap di Wisma Negara dan Kompleks Istana Merdeka akibat ketidakamanan situasi di Jakarta pada waktu itu.[4]

Pada tanggal 16 Januari tahun 1974, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka melakukan jumpa pers di Bina Graha Istana Merdeka sebagai konklusi dari kunjungan Tanaka ke Indonesia. Pada jumpa pers tersebut Tanaka menyatakan bahwa politik negara-negara di Asia Tenggara dapat disimpulkan dalam lima prinsip di antaranya adalah membantu pembangunan nasional di negara-negara di Asia Tenggara tanpa menghambat roda perekonomian di negara-negara tersebut yang berjalan sesuai kebijakan masing-masing negara.[5]

Pada tanggal 17 Januari tahun 1974, Kakuei Tanaka mengakhiri kunjungannya di Indonesia, namun sayangnya situasi dan kondisi di kota Jakarta masih belum kondusif dan huru-hara serta demonstrasi masih terjadi di seluruh penjuru kota Jakarta. Alhasil karena situasi dan kondisi yang masih belum stabil, Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka harus diterbangkan menggunakan Helikopter Aérospatiale Alouette III milik Angkatan Darat dari Wisma Negara menuju Bandar Udara Internasional Halim-Perdanakusuma, di mana pesawat Douglas DC-8-50 milik maskapai penerbangan nasional Jepang, Japan Airlines telah menunggu guna menerbangkan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka beserta rombongan dari Indonesia, di mana Presiden Indonesia Jenderal Soeharto juga turut melepas keberangkatan Tanaka dari Indonesia di apron Bandar Udara Internasional Halim-Perdanakusuma.[5]

Skandal dan Pengunduran diri sebagai Perdana Menteri Jepang

[sunting | sunting sumber]

Pada bulan Oktober 1974, majalah populer Bungei Shunju mengedarkan artikel hingga menyebabkan penyelidikan terpaksa dilakukan. Tanaka didapati telah melanggan geisha dan menggunakan namanya untuk urusan jual beli tanah di Tokyo. Selain itu Tanaka juga diselidiki akan keterlibatan Tanaka dalam skandal penjualan pesawat Lockheed L-1011 kepada maskapai penerbangan terbesar kedua di Jepang pada saat itu, All Nippon Airways, di mana Tanaka dicurigai telah menerima uang suap dari Lockheed atas penjualan tersebut melalui seorang perantara bernama Yoshio Kodama.

Komisi Diet telah memanggil bendahara keuangan, Aki Sato sebagai saksi. Sato dan Tanaka ada hubungan intim selama beberapa tahun dan Aki Sato memanipulasi hubungan intim tersebut. Tanaka terpaksa meletakkan jabatan dan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Jepang pada tanggal 9 Desember tahun 1974.

Faksi Tanaka mendapat sokongan dari Takeo Miki yang dilihat bersih yang kemudian menggantikan posisi Kakuei Tanaka sebagai Perdana Menteri Jepang ke-66.

Jatuh dari kuasa dan Pasca Menjabat Sebagai Perdana Menteri

[sunting | sunting sumber]
Mantan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka bersama seorang ilmuwan Amerika Serikat Stanford Ovshinsky dan Momoko Ito dan Anggota Parlemen Nasional Diet Ichirō Ozawa

Pada tanggal 6 Februari 1976, wakil ketua Lockheed Corporation memberi tahu subkomite Senat AS bahwa Tanaka selaku Perdana Menteri Jepang telah dibayar dan disogok sebagai ganjaran pembelian pesawat Lockheed L-1011 oleh maskapai terbesar kedua Jepang pada saat itu, All Nippon Airways, melalui seorang perantara bernama Yoshio Kodama. Sekretaris Negara Amerika Serikat, Henry Alfred Kissinger mencoba menutup skandal itu agar hubungan dua negara tidak retak. Miki Takeo mendesak Diet agar mendapatkan maklumat lanjut dari Senat Amerika Serikat. Pada tanggal 27 Juli Tanaka telah ditahan tetapi dibebaskan dengan uang jaminan US$690.000.[6]

Pada tanggal 12 Oktober 1983, setelah pengadilan skandal Lockheed, Tanaka didapati bersalah dan dipenjara 4 tahun. Tanaka mencoba mengajukan banding.[7] Pada tahun 1985, Tanaka kehilangan kekuasaan. Noburo Takeshita membentuk 'kelompok studi' bernama Soseikai dan kelompok ini memenangkan lebih dari 40 faksi dari 120 anggota Diet.

Ironisnya walaupun telah terbukti terlibat dalam beberapa skandal yang dianggap menyalahi aturan, popularitas Kakuei Tanaka dapat dikatakan masih cukup tinggi, terutama dikalangan masyarakat menengah ke bawah Jepang yang merasa sangat diuntungkan oleh kebijakan-kebijakan perekonomian Kakuei Tanaka. Tidak sedikit pula pendukung Tanaka yang menganggap bahwa kejatuhan Tanaka dari kekuasaan merupakan suatu konspirasi untuk menjegal dan melucuti karier politik Kakuei Tanaka, terutama akibat pemulihan hubungan diplomatik Jepang dan Republik Rakyat Cina yang dianggap oleh para pendukung Tanaka tidak dipandang positif oleh negara-negara barat yang merupakan sekutu Jepang seperti Amerika Serikat.[6]

Tanaka terlibat dengan masalah minum alkohol dan tekanan perasaan dan sakit stroke setelah Takeshita menang. Pada tanggal 1 Januari 1987 wajahnya didapati lumpuh sebelah dan berat badan bertambah mendadak. Ia juga mengidap kencing manis pada tahun 1989 dan meninggal akibat pneumonia di Rumah Sakit Universitas Keio pada tanggal 16 Desember 1993 jam 2.04 siang.

Anak perempuan Kakuei Tanaka, yaitu Makiko Tanaka juga mengikuti jejak Tanaka untuk berkarier di dunia Politik Jepang. Makiko Tanaka juga terpilih sebagai anggota parlemen Nasional Diet Jepang, mewakili daerah asal ayahnya Prefektur Niigata pada tahun 1993 dan menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet Junichiro Koizumi pada tahun 2001. Sebelumnya ketika Kakuei Tanaka masih menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang, Makiko Tanaka juga sering mendampingi sang ayah dalam beberapa acara kenegaraan dan kunjungan-kunjungan kenegaraan guna menggantikan peran sang ibu, Hana Tanaka, sebagai ibu negara atau first lady, dikarenakan sang ibu, Hana Tanaka memiliki masalah kesehatan yang menyebabkannya sering berhalangan mendampingi Kakuei Tanaka dalam acara-acara resmi kenengaraan atau kunjungan kenegaraan ketika Kakuei Tanaka menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang.[8]

Tanda Kehormatan

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 "Tanaka's hold on Japanese politics strong as ever as bribery trial ends". Christian Science Monitor. ISSN 0882-7729. Diakses tanggal 2025-06-24.
  2. "Chapter 3. Diplomatic Efforts Made by Japan". mofa.go.jp.
  3. "今も熱く語られる政治家「田中角栄」の功罪". 日本経済新聞 (dalam bahasa Jepang). 2014-01-13. Diakses tanggal 2025-06-24.
  4. 1 2 3 "Peristiwa Malari pada 15 Januari 1974 dan Tuntutan Mahasiswa yang Terabaikan". kompas.com. 2022/01/15.
  5. 1 2 Arsip Nasional RI (2022-01-14), Kunjungan Perdana Menteri Kakuei Tanaka Ke Indonesia, diakses tanggal 2025-06-24
  6. 1 2 "Tanaka Kakuei | Japanese Prime Minister, Political Scandal | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). 2025-04-30. Diakses tanggal 2025-06-24.
  7. 1 2 "Filipino recipients of Japanese decorations and Japanese recipients of Philippine decorations". Official Gazette of the Republic of the Philippines. Diarsipkan dari asli tanggal May 15, 2018. Diakses tanggal May 19, 2023.
  8. "Modern Japan - Famous Japanese - Tanaka Makiko". www.japan-zone.com. Diakses tanggal 2025-06-24.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Didahului oleh:
Satō Eisaku
Perdana Menteri Jepang
1972–1974
Diteruskan oleh:
Miki Takeo