Ibrahim ad-Dasuqi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Makam Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi

Ibrahim bin Abdul-Aziz Abul-Majdi (Bahasa Arab: إبراهيم بن عبد العزيز أبو المجد‎) atau lebih dikenal dengan (إبراهيم الدسوقي) Ibrahim Ad Dasuqi (1255 M / 653 H - 1296 M / 696 H, wafat pada umur 41 tahun) adalah seorang tokoh sufi dan pendiri aliran thariqah Dasuqiyyah atau thariqah Burhamiyyah. Beberapa julukannya adalah Abul Ainain, Syaikhul Islam dan Burhanul Millati Waddin

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi adalah “Wali Quthub” yang keempat dan yang terakhir setelah Syaikh Ahmad al Badawi, Syaikh Ahmad Ar rifa’i dan Syaikh Abdul Qadir al Jilani sebagaimana yang diyakini oleh ulama-ulama tasawuf seperti Syaikh Mahmud al-Garbawi dalam kitabnya al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah dan Assayyid Abul-Huda bin Hasan al-Khalidi Asshayyadi dalam kitabnya Farhatul-Ahbab fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab dan kitab Qiladatul-Jawahir fi Zikril Gautsirrifa’I wa Atba’ihil-Akabir.

Transliterasi[sunting | sunting sumber]

Nama Ibrahim Ad Dasuqi juga dilafalkan dengan Ibrahim - Ad Dasuqi, Dasuki, Dusuqi, Dusuki, Disuqi, Disuki atau El Desouki

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Ayahanda dari Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi yaitu, Al-Arif billah Sidi Abdul Aziz yang digelari sebagai Abdul Majdi pada zamannya. Ayahnya juga merupakan sahabat akrab seorang Wali Allah yang amat masyhur pada waktu itu yaitu Sidi Muhammad Bin Harun As-Sanhuri.
Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi juga masih punya silsilah satu nasab dengan tokoh sufi terkenal dari kota Thanta, Syaikh Ahmad al-Badawi, nasabnya bertemu pada kakek Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi yang kesepuluh, yaitu Ja’far az Zaki bin Ali al-Hadi.
Ibunnda dari Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi yaitu, Syarifah Fatimah binti Abdullah bin Abdul Jabar, adalah seorang wanita shalihah dan merupakan saudari sekandung tokoh sufi terkenal Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili.


Nasab Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi dari pihak laki-laki adalah:

  • Ibrahim ad-Dasuqi bin
  • Abdul Aziz Abi al-Majd bin
  • Quraisy bin
  • Muhammad bin
  • Abi an-Naja bin
  • Zainal Abidin bin
  • Abdul Khaliq bin
  • Muhammad Abi at-Thaib bin
  • Abdul Katim bin
  • Abdul Khaliq bin
  • Abi Qasim bin
  • Ja`far az-Zaki bin
  • Ali al-Hadi bin
  • Muhammad al-Jawwad bin
  • Ali ar-Ridha bin
  • Musa al-Kazhim bin
  • Ja`far as-Shadiq bin
  • Muhammad al-Baqir bin
  • Ali Zainal Abidin bin
  • Husain bin
  • Ali dan Fatimah binti
  • Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Kelahiran[sunting | sunting sumber]

Perayaan Maulid Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi di Mesir

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi lahir pada malam terakhir bulan Sya’ban 653 H/1255 M di kota Dusuq, Mesir

Ada sebuah cerita yang beredar di kalangan pengikutnya yang menunjukkan tentang karamah Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi saat dia baru dilahirkan. Ketika itu dia dilahirkan pada malam Syak, yaitu hari yang di ragukan apakah sudah memasuki puasa bulan Ramadhan atau belum. Ketika para ulama ragu akan munculnya bulan sabit yang menunjukkan masuknya bulan Ramadhan, Syaikh Ibnu Harun As-shufi berkata: "Lihatlah anak yang baru lahir ini apakah dia meminum air susu ibunya atau tidak?" Ibunya menjawab, “Dari sejak adzan subuh, ia berhenti meminum air susu ibunya." Berdasarkan hal tersebut Syaikh Ibnu Harun kemudian mengumumkan bahwa hari itu adalah hari pertama bulan Ramadhan.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi menghabiskan masa kecilnya dengan menghafal Al Qur'an dan mempelajari berbagai disiplin ilmu agama seperti bahasa, tafsir, hadits, ushul fiqih dan lain sebagainya dari ulama-ulama di tanah kelahirannya. Dia menekuni fiqih mazhab Syafi'i dan ilmu tasawuf. Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi selain menguasai bahasa arab juga menguasai bahasa asing lain, di antaranya adalah bahasa Suryani dan Ibriyyah, karena dia juga menulis sejumlah kitab dan risalah dalam bahasa Suryaniyyah dan Ibriyyah.

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Masjid Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi, Mesir

Sewaktu memasuki usia remaja dia rajin ber-khalwat kemudian mulailah berdatangan beberapa orang untuk belajar thariqah kepadanya, di antara mereka yang ternama adalah Sayyid Abu Nashr. Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi selalu berada di tempat khalwat-nya sampai ayahnya wafat, yang saat itu dia masih berusia 23 tahun. Murid-muridnya mengharapkan supaya dia meninggalkan tempat khalwat-nya itu sehingga bisa konsentrasi mengajar mereka, maka dibuatkanlah suatu tempat di samping tempat khalwatnya untuk dia mengajar. Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi dan para pengikutnya ini memakai serban berwarna hijau sementara serban yang dipakai oleh Syaikh Ahmad al Badawi dan para pengikutnya berwarna merah dan serban para pengikut Syaikh Ahmad ar Rifa'i berwarna hitam.

Sewaktu Sultan az Zahir mendengar tentang keilmuan Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi serta banyaknya pengikut yang dipimpinnya, sultan segera mengeluarkan maklumat untuk mengangkatnya sebagai Syaikhul Islam. Syaikh Ibrahimpun menerima jabatan itu dan melaksanakan tugasnya tanpa mengambil gajinya untuk keperluan pribadi tetapi membagikan gaji dari jabatan ini kepada para fakir miskin dari kalangan muslimin. Sultan juga membangun sebuah tempat pertemuan untuk Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi dan para muridnya dalam belajar memahami agama. Jabatan ini tetap dipegang oleh Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi sampai wafatnya Sultan az Zahir. Setelah sultan wafat, dia mengundurkan diri dari jabatannya dan meluangkan waktunya bagi para muridnya.

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi adalah seorang yang pemberani tidak mendekat kepada penguasa dan tidak takut akan celaan orang-orang dalam usahanya menyebarkan agama Allah. Syaikh Jalaludin al Karki bercerita, "Bahwasanya Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi pernah berkirim surat kepada Sultan Asyraf Khalil bin Qalawun yang berisi kritikan pedas untuknya. Disebabkan perbuatan zalim sultan kepada rakyatnya. Maka Sultan pun murka dan memanggilnya, tetapi Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi menolak untuk mendatangi panggilan ini dan berkata, ”Aku tetap di sini, siapa yang ingin bertemu denganku, maka dialah yang harus menemuiku.” Sultan pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi karena dia tahu posisinya di mata masyarakat. Akhirnya sultanpun datang kepadanya dan meminta maaf. Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi menyambutnya dengan baik dan memberi kabar gembira akan kemenangannya dalam peperangan melawan tentara salib dan terbuktilah kemenangan itu di kemudian hari."

Thariqah[sunting | sunting sumber]

Thariqah yang didirikan oleh Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi dikenal dengan nama thariqah Burhamiyyah, Burhaniyyah atau Dasuqiyyah. Nama Burhamiyyah (البُرهامية) diambil dari nama dia sebagai pendiri tarekat ini yaitu Ibrahim, nama Burhaniyah (البُرهانية) diambil dari gelar Syaikh Ibrahim yaitu Burhanuddin sedangkan nama Dasuqiyyah (الدسوقية) dinasabkan pada nama tempat kelahiran Dia di kota Dusuq (دسوق)

Berdasarkan UU Nomor 118/76 yang mengatur tentang Majelis Tertinggi Thariqah Sufi di Mesir (المجلس الأعلى للطرق الصوفية) menyatakan bahwa Thuruq al-Burhamiyyah al-Dasuqiyyah merupakan thariqah-thariqah yang legal (mu’tabarah) di Republik Arab Mesir.

Untuk Indonesia, Nahdlatul 'Ulama sebagai ormas Islam terbesar Indonesia telah mengakui thariqah Dasuqiyyah (nama lain dari Thariqah Burhamiyyah) sebagai Thariqah Mu’tabarah yang bernaung dalam organisasi otonomnya yaitu JATMAN (Jam’iyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah an-Nahdliyah) yang sekarang Habib Muhammad Luthfi bin Yahya merupakan Rois ‘Ammnya.

Pada masa sekarang ini terdapat beberapa cabang Thariqah Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi di Mesir yang bernaung dibawah Majelis Tertinggi Thariqah Sufi.

Karya[sunting | sunting sumber]

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi meninggalkan banyak kitab dalam bidang fiqih, tauhid, dan tafsir, tetapi yang paling terkenal adalah kitab yang masyhur di sebut Al-Jawahir atau “Al-Haqaiq”. Dia juga mempunyai karya Qasidah-qasidah dan Mauidzoh-mauidzoh. Sarjana orientalis memindahkan beberapa karyanya ke Jerman dan salah satu puisinya diawetkan dan dipamerkan di British Museum di London.

Kutipan[sunting | sunting sumber]

Beberapa kutipan nasihat dari Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi:

Karamah[sunting | sunting sumber]

Berkata Imam al-Munawi dalam kitab Al-Kawakibud Durriyyah, "Seekor buaya telah menelan seorang anak di sungai nil, maka ibu sang anak dengan menangis mendatangi Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi. Syaikh lalu menyuruh muridnya untuk memanggil buaya yang memakan anak ibu tersebut. Maka pergilah muridnya kemudian berseru di tepi sungai Nil, ”Wahai sekalian buaya, siapa di antara kalian yang memakan seorang anak maka hendaklah dia muncul dan menghadap Syaikh!“ lalu muncullah buaya tersebut dan berjalan beserta muridnya sehingga sampai kehadapan Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi. Syaikh menyuruh buaya itu untuk mengeluarkan anak yang telah dimakannya dan (dengan izin Allah) buaya itu mengeluarkan anak itu dalam keadaan hidup. Kemudian Syaikh Ibrahim berkata, "Matilah kamu dengan se-izin Allah!“, maka segera buaya itupun mati." Kerangka tulang buaya itu sampai saat ini masih di simpan oleh pengikutnya di samping makamnya di kota dasuq, Mesir.

Syaikh Abdul Wahhab As Sya’rani, berkata: "Tuanku, Sayyidi Ibrahim Ad Dasuqi, memiliki karamah yang banyak, hal-hal yang luar biasa, menguasai rahasia-rahasia malakut, sejak lahir sudah berpuasa, menguasai bahasa Ajami, Suryani, Ibrani, Zinji, seluruh bahasa burung, binatang dan makhluk-makhluk buas lainnya."

Wafat[sunting | sunting sumber]

Makam Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi dan makam saudaranya, Sayyid Syarifuddin Musa Abul Imran, di sebelah kanan

Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi wafat pada tahun 696 H/1296 M, pada usia 43 tahun dalam hitungan kalender Hijriah atau 41 tahun dalam hitungan kalender Masehi. Dia di makamkan di zawiyyah-nya di mana dia selalu beribadah di dalamnya, di kota Dusuq, Mesir.
Berdekatan dengan makamnya ada makam saudara sekaligus penggantinya yaitu Sayyid Musa Abu al-Imran.

Kitab Biografi[sunting | sunting sumber]

Beberapa kitab karya orang-orang shalih yang berbicara tentang riwayat hidup Syaikh Ibrahim Ad Dasuqi, di antaranya adalah:

  1. Farhatul Ahbab Fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab, oleh al-Khalidi Asshayyadi.
  2. Syaikhul Islam Addasuqi Quthbussyari’ah wal-Haqiqah, oleh Rajab Atthayyib al-Ja’fari.
  3. Alamul Aqthab al-Haqiqi Sayyidi Ibrahim Ad-Dusuqi, oleh Abdurrazzaq al-King.
  4. Lisanutta’rif bihalil-Wali As-Syarif Sayidi Ibrahim Ad-Dusuqi ra, oleh Syaikh Ahmad bin Jalaluddin al-Karki.
  5. Al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah, oleh Syaikh Mahmud al-Garbawi.
  6. Abul-Ainain Ad-Dusuqi, oleh Abdul-Al Kuhail.
  7. Qiladatul Jawahir fi Zikril Gautsi wa Atba’ihil Akabir, oleh Syaikh Abul Huda al-Khalidi As-Shayyadi.
  8. Jami’ karamat al-Awliya’, oleh Syaikh Yusuf An-Nabhani.
  9. Al-Arif Billahi Sayyidi Ibrahim Ad-Dusuqi, oleh Sa’ad al-Qadhi.
  10. Biharul-Wilayah al-Muhammadiyyah Fi Manaqib A’lam Asshufiyyah, oleh Dr. Jaudah M. Abul Yazid.
  11. Nailul Khairat al-Malmusah Biziyarati Ahlilbaiti Wasshalihin bi Mishr al-Mahrusah, oleh DR Sa’id abul As’ad.
  12. Atthabaqat al-Kubra, oleh Syaikh Abdul Wahhab As Sya’rani.
  13. dan lain-lain

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. Jami` Karomati al-Auliya` : 1 / 398 , karangan Syeikh Yusuf an-Nabhani, cetakkan Darul Makrifah Bairut 1424 – 2003 .
  2. Al-Khitatu Taufiqiyyah al-Jadidah : jilid 11, halaman 16, karangan Ali Basha cetakkan Hai`ah Masriyyah Ammah.
  3. Thobaqatu Syazuliyyah : halaman 87, karangan Abi Ali Hasan bin Muhammad bin Qasim al-Kuhun al-Fasi al-Maghribi
  4. Syekh Mahmud al-Garbawi dalam kitabnya al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah,
  5. Assayyid Abul-Huda M. bin Hasan al-Khalidi Asshayyadi, kitab Farhatul-Ahbab fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab
  6. Jalāl al-Dīn Aḥmad al-Karkī, A definition of Wali Sīdī 'Ibrahīm al-Dosūqī, Taj 2006, page 8
  7. Fauzi Muḥammad Abu Zaid, Sheikh ul-Islam Ibrahīm al-Dosūqī, Life and belief house, Cairo, 2008, p. 91.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

.