Lompat ke isi

Surat dari Iddin-Sin kepada Zinu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Teks bahasa Akkadia dari surat tersebut

Surat dari Iddin-Sin kepada Zinu, yang juga dikenal dengan penamaan teknis TCL 18 111,[1] adalah sebuah surat dari masa Dinasti Babilonia Pertama yang ditulis oleh seorang pelajar bernama Iddin-Sin kepada ibunya, Zinu. Surat ini diperkirakan berasal dari kota Larsa pada abad ke-18 SM, kira-kira sezaman dengan masa pemerintahan Hammurabi (ca 1792–1750 SM).

Dalam surat itu, Iddin-Sin menyampaikan kekecewaannya terhadap pakaian yang ditenun oleh ibunya, yang menurutnya jauh lebih buruk dibandingkan dengan pakaian yang dikenakan oleh teman-teman sebayanya. Ia mengeluhkan bahwa bahkan anak angkat dari salah satu pelayan ayahnya memiliki pakaian yang lebih baik darinya. Surat ini kerap dijadikan contoh yang berharga untuk memahami kehidupan sehari-hari di Mesopotamia kuno, sekaligus sebagai cerminan dari hakikat tabiat manusia yang tampaknya tak pernah berubah seiring berjalannya waktu.

Terjemahan

[sunting | sunting sumber]

Ahli Asiriologi A. Leo Oppenheim menerjemahkan surat ini pada tahun 1967 sebagai berikut:[2][3]

Sampaikan kepada nyonya Zinu, Iddin-Sin mengirim pesan berikut:
Semoga para dewa Shamash, Marduk, dan Ilabrat senantiasa menjagamu dalam kesehatan yang baik, demi diriku.
Tahun demi tahun, pakaian para pemuda di sini semakin indah, sementara engkau membiarkan pakaianku semakin buruk dari tahun ke tahun. Sungguh, engkau terus-menerus membuat pakaianku makin lusuh dan semakin sedikit. Padahal di rumah kita, wol dipergunakan seperti halnya roti, tetapi engkau memberiku pakaian yang hina. Lihatlah, putra Adad-iddinam, yang ayahnya hanyalah pembantu bagi ayahku, memiliki dua set pakaian baru, sementara engkau masih bersusah hati bahkan hanya untuk satu set pakaian bagiku. Meski engkaulah yang melahirkanku, dan ibunya hanyalah mengangkatnya sebagai anak, tetapi ibunya mengasihinya, sedangkan engkau, engkau tidak mencintaiku![2][3]

Sejarah dan latar belakang

[sunting | sunting sumber]
Surat dari raja Babilonia Hammurabi kepada ayah Iddin-Sin, Shamash-hazir

Surat Iddin-Sin ditulis pada masa Kekaisaran Babilonia Kuno pada abad ke-18 SM,[4][5] kira-kira sezaman dengan pemerintahan Hammurabi (ca 1792–1750 SM).[3][6] Iddin-Sin dan ibunya, Zinu, berasal dari kalangan atas di kota Larsa, karena mereka masing-masing adalah putra dan istri dari Shamash-hazir, seorang pejabat tinggi dalam administrasi kota tersebut di bawah kekuasaan Hammurabi.[7][8]

Pada masa itu, sudah menjadi kebiasaan bagi anak laki-laki yang bercita-cita menjadi imam atau juru tulis, bahkan juga bagi anak-anak pejabat negeri, untuk menempuh pendidikan di sekolah asrama tempat mereka mempelajari aksara paku dan sastra.[9] Karena surat ini tidak menjelaskan latar secara rinci, tidak diketahui dengan pasti alasan Iddin-Sin tinggal jauh dari rumah,[3] tetapi banyak yang beranggapan bahwa ia adalah seorang murid di sekolah semacam itu.[5][9][10][11] Iddin-Sin sangat memperhatikan mutu pakaiannya dibandingkan dengan pakaian teman-temannya;[11] sebagaimana halnya manusia di zaman modern, status sosialnya kala itu sebagian bergantung pada penampilan lahiriah yang tampak makmur.[3] Meski tinggal jauh dari rumah, ibunya tetap menjadi penyedia pakaiannya.[12] Karena membutuhkan pakaian baru, Iddin-Sin dalam suratnya berusaha dengan berbagai cara untuk membuat ibunya, yang memegang kendali atas keuangan rumah tangga, merasa bersalah karena belum mengirimkan pakaian baru untuknya.[3]

Surat tersebut juga memperlihatkan bahwa Zinu membuat pakaian Iddin-Sin sendiri dari awal; ia memiliki persediaan wol di rumah dan harus memintalnya, menenunnya, mewarnainya, lalu menjahitnya, sebuah proses yang dapat memakan waktu hingga tiga bulan untuk pakaian biasa, dan sampai setahun penuh untuk pakaian berkualitas tinggi. Kemungkinan besar Zinu membeli wol itu sendiri di pasar setempat, tempat para gembala menjual hasil guntingan domba mereka. Iddin-Sin menulis kepada ibunya karena pekerjaan memintal dan menenun di Mesopotamia lazimnya dilakukan oleh perempuan, meskipun ada juga beberapa pengecualian.[12]

Tidak diketahui apakah Iddin-Sin menulis surat itu dengan tangannya sendiri atau mendiktekan isinya kepada seorang juru tulis. Kalimat pembuka yang berbunyi "Iddin-Sin mengirim pesan berikut" menunjukkan kemungkinan bahwa surat itu didiktekan,[3] tetapi tulisan yang tampak agak canggung serta penggunaan bahasa yang mengandung kesalahan kecil, ciri khas penulis pemula, menunjukkan bahwa ia mungkin menulisnya sendiri dengan gaya tutur yang lebih lisan.[7] Seluruh isi surat bahkan tidak muat pada satu sisi tablet; setelah menulis di bagian depan dan belakang, penulis melanjutkan di sisi kiri, tetapi ruang tetap tidak cukup, sehingga baris terakhir tumpah hingga ke tepi bawah.[8] Kalimat pembuka "Sampaikan kepada nyonya Zinu" muncul karena surat semacam ini biasanya dibacakan oleh seorang juru tulis kepada penerimanya. Bagian yang menyebutkan para dewa serta doa agar mereka menjaga kesehatan Zinu juga merupakan ungkapan baku, hampir semua surat dari masa itu dibuka dengan doa agar para dewa melimpahkan kesehatan dan keberkahan kepada penerimanya.[3]

Surat ini beserta teksnya pertama kali diterbitkan pada tahun 1934 oleh arkeolog Belgia Georges Dossin.[13] Kini, tablet aslinya disimpan di Louvre, Paris.[12]

Tanggapan dan penafsiran

[sunting | sunting sumber]

Surat ini kerap dijadikan contoh dari dokumen yang membuka jendela kecil menuju kehidupan sehari-hari di Mesopotamia kuno.[3][5][14][15] Ahli Asiriologi Jørgen Læssøe menyebut surat ini sebagai sesuatu yang "sangat manusiawi".[15] Sementara itu, Rivkah Harris, seorang Asiriolog lainnya, menilai bahwa surat ini "menangkap dengan hidup semangat seorang anak yang cerdik dan pandai memanipulasi, yang sudah menunjukkan sifat seorang ‘penggila busana’ sejak dini."[10] Sejarawan Don Nardo menulis tentang surat tersebut, "Surat ini membuktikan bahwa kegelisahan murid-murid modern tentang penampilan dan gaya berpakaian di sekolah bukanlah hal baru."[5] Sedangkan William H. Stiebling Jr. melihat surat itu sebagai bukti bahwa "hakikat manusia tidak banyak berubah sejak zaman purba," karena isinya menunjukkan adanya persaingan di antara teman sebaya untuk memiliki pakaian dan perhiasan terbaik. Ia menambahkan pula bahwa "rengekan dan upaya licik anak-anak untuk membujuk orang tua mereka juga tidak pernah berubah sepanjang zaman."[11]

Sejarawan Stephen Bertman memandang surat ini dengan nada yang lebih ringan, ia menyebutnya lucu dan menggambarkan Iddin-Sin sebagai anak yang manja.[14] Dengan menggunakan surat Iddin-Sin kepada Zinu, bersama dua surat pribadi lainnya sebagai contoh, Bertman pada tahun 2003 merenungkan mengapa tulisan pribadi dari masa lampau dapat begitu menyentuh hati: "Menariknya, dalam satu atau lain cara, semuanya berbicara tentang kepemilikan benda-benda duniawi. Barangkali di sanalah letak kekuatan mereka, saat kita membaca surat-surat itu, kita sadar bahwa benda-benda rapuh yang begitu berarti bagi para penulisnya kini telah tiada, sebagaimana mereka pun telah sirna; dan suatu hari nanti, kita dan segala yang kita cintai pun akan turut lenyap."[14]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Oppenheim 1967, hlm. 85.
  2. 1 2 Oppenheim 1967, hlm. 84–85.
  3. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Mellor & Podany 2005, hlm. 44.
  4. Læssøe 2015, hlm. 33.
  5. 1 2 3 4 Nardo 2007, hlm. 165.
  6. Huehnergard 2018, hlm. 692.
  7. 1 2 Moran 2011, hlm. 447.
  8. 1 2 Huehnergard 2018, hlm. 693.
  9. 1 2 Læssøe 2015, hlm. 32.
  10. 1 2 Harris 2000, hlm. 19.
  11. 1 2 3 Stiebling 2016, hlm. 100.
  12. 1 2 3 Lassen 2011.
  13. Huehnergard 2018, hlm. 694.
  14. 1 2 3 Bertman 2003, hlm. 178.
  15. 1 2 Læssøe 2015, hlm. 32–33.
  • Bertman, Stephen (2003). Handbook to Life in Ancient Mesopotamia. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-019-518364-1.
  • Huehnergard, John (2018). "Reading Ancient Mail". Journal of the American Oriental Society. 138 (4): 691–707. doi:10.7817/jameroriesoci.138.4.0691. JSTOR 10.7817/jameroriesoci.138.4.0691.
  • Harris, Rivkah (2000). Gender and Aging in Mesopotamia: The Gilgamesh Epic and Other Ancient Literature. Norman: University of Oklahoma Press. ISBN 0-8061-3539-5.
  • Læssøe, Jørgen (2015) [1963]. People of Ancient Assyria: Their Inscriptions and Correspondence. Diterjemahkan oleh Leigh-Browne, F. S. Oxford: Routledge. ISBN 978-1-138-81385-4.
  • Lassen, Agnete (16 October 2011). "What not to weave?". The Iris Project. Diakses tanggal 14 March 2022.
  • Mellor, Ronald; Podany, Amanda H. (2005). The World in Ancient Times: Primary Sources and Reference Volume. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-522220-3.
  • Moran, William L. (2011). "A Boy to His Mother". Dalam Pritchard, James B. (ed.). The Ancient Near East: An Anthology of Texts and Pictures. Princeton: Princeton University Press. ISBN 978-0-691-14725-3.
  • Nardo, Don (2007). The Greenhaven Encyclopedia of Ancient Mesopotamia. New York: Greenhaven Press. ISBN 978-0-7377-3441-6.
  • Oppenheim, A. Leo (1967). Letters from Mesopotamia: Official, Business, and Private Letters on Clay Tablets from Two Millennia. Chicago: University of Chicago Press. OCLC 2019753.
  • Stiebling, William H. (2016) [2009]. Ancient Near Eastern History and Culture (Edisi 2nd). Oxford: Routledge. ISBN 978-0-321-42297-2.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]