Suku Duano di Tanjung Solok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Suku Duano Tanjung Solok
Daerah dengan populasi signifikan
Tanjung Jabung Timur331 (2011)
Bahasa
Duano, Melayu, Indonesia
Agama
Islam

Suku Duano Tanjung Solok adalah suku asli yang terletak di Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi yang berpusat di Jalan Trio Perkasa. Suku ini diperkirakan berjumlah 76 KK dan 331 Jiwa (2011) dengan berprofesi sebagai nelayan dikarenakan tempat tinggalnya terletak di tepi muara sungai Batanghari. Selain menetap di Tanjung Solok, masyarakat Suku Duano banyak ditemukan di Sungai Belah, Concong Luar, Concong Dalam, Kuala Enok, Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau dan disekitarnya yang masuk di naungan Provinsi Kepulauan Riau yang dibilang tertinggal di wilayah tersebut. Di Provinsi Jambi selain di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur, masyarakat Suku Duano dapat juga kita temukan di Kampung Nelayan Kuala Tungkal Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Sejarah

Menurut keterangan dari Datuk Mukteng seorang sesepuh Suku Duano asal mulanya Suku Duano ini dari Jeddah (Saudi Arabia), sewaktu rasullullah mengislamkan manusia disana yang belum islam, jadi ada sebagian orang disana takut di sunat, takut mati dipotong kemudian lari, mereka buat perahu 7 buah perahu dan setelah lengkap peralatannya berangkatlah orang tadi dari jeddah sementara yang lain tidak ikut, kemudian siang malam belayarlah orang itu. Karena orang zaman dulu dia tidak suka banyak bicara, jadi kalau kata dia pergi ya pergi. Maka mereka mengadakan permintaan dengan Allah SWT sang pencipta alam semesta, mereka meminta angin yang kuat untuk agar mudah berlayar. Dengan tujuan yang tidak menentu kemana mau dituju, selama 7 hari 7 malam mereka berlayar di lautan lepas hanya dengan mengikut kemana arah angin yang mengemudikan perahu layar mereka. Setelah begitu lama belayar dengan tiada tujuan yang pasti mereka melihat air di laut itu ada yang keruh tidak sama dengan air laut biasa kemudian mereka mengarahkan perahu mereka kesana dan setelah sampai ketempat yang berair keruh tersebut mereka menancapkan pendayung mereka ke bawah, ternyata sampai kepasir, setelah tau bahwa mereka menemukan beting (pulau pasir di tengah laut) mereka langsung memasang pancang dengan pendayung untuk menambat perahu dan beristirahatlah disana. Karena sudah terlalu kelelahan dan akhirnya tertidur di perahu masing-masing, kemudian setelah bangun perahu-perahu mereka tidak bergoyang-goyang lagi seperti semula dan mereka melihat kesekeliling ternya mereka berada di atas amparan pasir yang luas dan perahu-perahu sudah kandas tidak berada di atas air lagi. Karena rasa lelah dan letih belum hilang akibat perjalanan yang terlalu jauh mereka memilih untuk tidur lagi, setelah air pasang kembali mereka masih tertidur kemudian setelah air surut banyak terdengar bunyi burung yang mencari makanan di amparan pasir tersebut, burung-burung itu memakani ikan-ikan kecil dan anak-anak ketam laut, burung itu disebut masyarakat tanjung solok dengan burung pucung (sejenis dengan burung bango hanya saja lebih kecil). Setelah air pasang burung-burung tersebut beterbangan karena sudah tidak bisa mencari makan di amparan pasir tersebut. Mereka juga berpikir ingin mencari daratan karena air sudah mulai pasang kembali, sehingga mereka memutuskan untuk mengikuti kemana arah terbang burung tadi terbang, sebab menurut mereka burung tersebut pasti menuju daerah yang ada pohon-pohonan untuk bertengger, setelah mereka lihat ternyata burung tersebut menuju kearah timur kemudian mereka mengikuti burung tersebut dan akhirnya ditemukanlah pantai yang ada pohon-pohon dan mereka mengambil sebatang pohon untuk dijadikan pancang penambat perahu di amparan pasir yang telah mereka temukan tadi, setelah mengambil sebatang pohon tadi mereka kembali ke amparan pasir tersebut dan ditancapkanlah sebatang pohon yang telah diambil tadi, kemudian mereka mengikatkan potongan kain di atas kayu yang di tancapkan tadi, kain tersebut dinamakan Perca, jadi tempat tersebut terkenal dengan nama ” Pulau Perca ” pada zaman penjajah belanda. Setelah memasang pancang dan bendera tersebut mereka terus melanjutkan perjalanan laut ke daerah lain namun ada juga yang tetap tinggal di Pulau Perca tersebut. Pulau Perca yang dimaksud itu adalah Kampung Laut, karena pemekaran daerah maka sekarang Kampung Laut di bagi menjadi 2 kelurahan yaitu Kelurahan Kampung Laut dan Kelurahan Tanjung Solok di bawah naungan Kecamatan Kuala Jambi, masyarakat suku Duano yang ada di daerah tersebut tepatnya di Jalan Trio Perkasa Kelurahan Tanjung Solok Kecamatan Kuala Jambi Kabupaten Tanjung Jabung Timur sekarang ini.[1]

Ciri Khas

Salah satu tradisi unik Suku Duano adalah menangkap atau memutik sumbun yang digelar satu tahun sekali. Sumbun merupakan sejenis kerang yang menjadi santapan favorit masyarakat Duano di Jambi. Kebiasaan menangkap sumbun inilah yang menjadi ciri khas Suku Duano dan banyak mendiami pesisir timur Jambi. Tepatnya di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat. Sumbun secara umum hanya dikenal di China, Kalimantan Barat, perairan di Provinsi Jambi, serta sebagian Kepulauan Riau. Bahkan sumbun yang biasa hidup di perairan berlumpur menjadikan Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi satu dari tiga daerah istimewa penghasil Sumbun. Menangkap Sumbun merupakan tradisi unik anak negeri yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Keunikan khas biota air, khususnya di Provinsi Jambi bisa diperkenalkan lewat tradisi ini. Sumbun biasanya dibuat menu sop, dagingnya lembut dan khas. Menjadi hidangan istimewa warga Duano.[2]

Kondisi Masyarakat

Di Provinsi Jambi terdapat Masyarakat Suku Duano mereka bertempat tinggal di daerah pantai timur Jambi, yaitu di Tanjung Solok, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Masyarakat Suku Duano yang menetap di daerah ini berjumlah 76 Kepala Keluarga (KK), dan 331 jiwa. Suku Duano sudah lama menetap di daerah tersebut mulai dari adanya pelayaran antar pulau mereka sudah menempati Tanjung Solok sampai saat ini. Jika di tinjau dari tingkat pendidikan Suku Duano yang ada di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih buta aksara dan buta huruf. Namun, sekarang anak-anak mereka sudah mulai bersekolah ada yang masih Sekolah Dasar (SD) dan ada juga yang sudah melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Secara Geografis Tanjung Solok menghadap ke laut lepas. Suku Duano yang ada di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini sudah bisa hidup berdampingan dengan masyarakat setempat, hal ini terbukti ada beberapa dari mereka menikah dengan masyarakat suku lain yang menetap di daerah tersebut. Tanjung Solok ditempati oleh berbagai macam suku/etnis diantaranya Suku Bugis, Melayu, Jawa, Sunda, Banjar, Melayu Jambi, Minangkabau, Madura dan termasuklah Suku Duano yang juga menempati daerah tersebut. Suku Duano di Provinsi Jambi termasuk dalam kategori Komunitas Adat Terpencil ( KAT).

Suku Duano yang ada di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur secara umum pekerjaan mereka sebagai nelayan penangkap ikan laut. Hasil tangkapan yang diperoleh dalam sehari tidak dapat dipastikan tergantung keadaan cuaca, jika cuaca bagus penghasilan mereka akan banyak banyak begitu juga sebaliknya, sebagian besar Masyarakat Suku Duano melaut bekerja sebagai buruh laut, mereka tidak mempunyai kendaraan dan alat tangkap sendiri sehingga pendapatan mereka tersebut setelah dikurangi dengan ongkos minyak harus dibagi antara pemilik dengan buruh laut. Pembagian hasil tangkapan antara pemilik alat dengan para pekerja dengan cara: semua hasil tangkapan dalam sehari dibagi dua terlebih dahulu antara pemilik alat dengan pekerja, setelah itu baru dibagi lagi dengan berapa orang pekerja dalam satu alat tangkap tersebut, hasil bagian antara beberapa pekerja tadi yang menjadi pendapatan harian setiap pekerja buruh laut Masyarakat Suku Duano, dengan penghasilan menjadi buruh laut yang tidak menentu, namun jarang sekali kita temukan mereka bekerja dalam bentuk usaha lain seperti bertani, berladang, berdagang, wirasuasta dan lain sebagainya.

Tetapi sekarang ada beberapa dari mereka yang sudah mulai bekerja dalam bentuk usaha lain seperti berdagang ikan, udang, dan terasi namun penghasilan yang mereka dapatkan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, pendapatan dari kegiatan berdagang dan mencari ikan di laut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari saja, tidak dapat menyisihkan uang untuk keperluan lain. Misalnya menabung, sementara masyarakat lain yang mempunyai pekerjaan sama dengan mereka bisa hidup lebih layak jika kita bandingkan dengan kehidupan Masyarakat Suku Duano di daerah tersebut.

Berdasarkan uraian diatas maka fokus penelitian ini ialah: (1) kurang lengkapnya alat yang digunakan untuk menangkap ikan seperti perahu, jala, jaring, pancing dan lain sebagainya, (2) budaya kerja masih rendah, kurangnya motivasi sehingga kurangnya keinginan untuk hidup yang lebih baik dan cepat puas dengan apa yang mereka dapatkan, misal jika mereka melaut setelah mendapatkan ikan besar mereka langsung pulang sebelum waktu pulang.[3]

Kondisi Perekonomian

Pekerjaan masyarakat suku duano yang ada di Tanjung Solok ini secara umum adalah sebagai nelayan penangkap ikan dan segala hasil tangkapan laut. Alat-alat yang digunakan seperti Perahu, Pompong/ ketek, jala, jaring, belat dan alat-alat lainnya sebagian besar bukan milik sendiri, Nelayan Suku Duano yang ada di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini hanya sebagai pekerja saja, namun ada juga sebagian kecil yang memiliki alat sendiri. Dari 76 kepala keluarga yang ada dari data sensus tahun 2010 hanya 7 orang yang mempunyai pompong/ketek sendiri sementara nelayan lainnya hanya sebagai buruh/tenaga pekerja saja.

Pengasilan yang mereka dapatkan tergantung dari kondisi alam sebab jika alam tidak bersahabat seperti angin kuat mereka tidak dapat melaut walaupun dipaksakan mereka tidak juga mendapatkan hasil yang sesuai. Pada kondisi seperti inilah mereka selalu mencari celah pencaharian lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka, ada sebagian kecil dari mereka yang berdagang, namun ada juga yang bekerja sebagai tukang rumah dan tukang pompong/ketek, sementara masyarakat yang tidak mempunyai keterampilan selain melaut mereka tetap melaut setelah angin agak teduh. Jika pada musim barat atau musim gelombang tinggi nelayan sangat susah untuk mendapatkan ikan hasil tangkapan laut. pada saat itulah harga ikan meningkat, nelayan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan sebayak mungkin walaupun dengan risiko yang sangat besar. Pada musim barat ikan sangat susah didapat hasil tangkapan laut yang masih dapat diharapkan hanyalah kerang, pada waktu sore hari angin teduh nelayan berlomba-lomba untuk menangkap kerang di pantai sebayak mungkin, namun jika semua cara itu tidak dapat mereka tempuh jalan terakhir adalah meminjam uang ke toke/bos pembeli ikan dan semua hasil tangkapan laut.

Koperasi belum ada sehingga mereka belum dapat menikmati layanan dari koperasi, pernah ada rencana ingin mendirikan koperasi hanya saja selalu menjadi kendala adalah modal. Modal yang sangat minim sehingga keinginan untuk mendirikan koperasi hanya menjadi impian saja, selain itu sumber daya manusia (SDM) untuk mengelola koperasi masih sangat minim. Dengan kondisi perekonomian masyarakat suku duano seperti ini perhatian pemerintah daerah masih saja belum maksimal, ada bantuan yang digulirkan pihak pemerintah melalaui dinas kelautan dan perikanan seperti bantuan alat bak penampung ikan untuk masyarakat Suku Duano namun masih saja tidak mengenai sasaran dan tidak dapat meringankan beban perekonomian yang mereka derita selama ini. Bantuan yang diberikan tidak dapat memberi manfaat lebih misal masyarakat lain mendapat bantuan 10 unit sedangkan masyarakat suku duano hanya mendapatkan 1 unit saja, sehingga mereka merasa kurang diperhatikan oleh pihak pemerintah daerah.

Secara umum masyarakat suku duano yang menetap di tanjung solok kabupaten tanjung jabung timur memiliki tingkat perekonomian yang masih berada pada golongan kelas bawah, namun ada juga sebagian kecil dari mereka yang mempunyai tingkat perekonomian yang sudah baik mereka ini adalah para toke/bos ikan dan segala hasil tangkapan laut, masyarakat suku duano yang bekerja sebagai buruh laut pendapatan mereka tergantung dari hasil tangkapan yang mereka dapat sekali melaut, cara pembagian hasil tangkapan laut antara pemilik pompong/ketek dan pekerja/buruh laut ini sebagai berikut:

Misal: sekali melaut mendapatkan hasil 100.000,00, dengan pekerja 2 orang buruh laut, hasil Rp. 100.000,00 ini dibagi dua terlebih dahulu sebagian untuk pemilik pompong/ketek dan sebagian lagi baru di bagi oleh pekerja/buruh laut. Jika mereka berdua maka dibagi dua dan begitu seterusnya.

Sebagian besar masyarakat suku duano yang menempati daerah Tanjung Solok hanya menumpang dan tidak memiliki hak milik atas tanah, namun ada sebagian kecil dari mereka yang memiliki hak milik atas tanah yang mereka tempati, sampai saat ini belum ada kejelasan dari pihak pemerintah tentang status tempat tinggal mereka sekarang. Pernah mereka mengusulkan kepada pihak pemerintah daerah untuk pembebasan tanah di daerah Parit 2 Tanjung Solok sebagai lokasi perkampungan mereka namun sampai pada saat ini belum juga ada realisasinya dari pihak Pemerintah Daerah.[4]

Kondisi Pendidikan

Perkembangan Pendidikan anak masyarkat suku duano jika dibandingkan dulu dengan sekarang sudah ada kemajuan/peningkatan, hal ini dapat dilihat dari minat anak-anak mereka untuk sekolah sudah ada dan dorongan dari orang tua juga sudah ada. Sebelumnya anak-anak suku duano dididik hanya dengan tradisi turun temurun dari generasi tua ke generasi muda tentang cara menjadi nelayan, mulai dari membuat alat penangkap ikan seperti membuat jala, jaring, membuat pancing dan alat-alat lainya, bakan hanya itu saja yang diajarkan melainkan sampai dengan memakainya untuk menangkap ikan, hal ini sudah mereka ajarkan sejak dari masa kecil samapai usia produktif. pada masa itu mereka sangat buta dengan pendidikan formal, namun sekarang hal itu masih tetap mereka ajarkan secara turun temurun kepada anak cucu mereka tetapi pendidikan formal juga mereka berikan kepada anak cucu mereka, anak masyarakat suku duano yang ada di tanjung solok kabupaten tanjung jabung timur ini yang di jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) 4 orang, Sekolah Dasar (SD) 42 orang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 17 orang dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 8 orang (2011), untuk perguruan tinggi (PT) memang belum ada, kendala utama dari orang tua untuk melanjutkan pendidikan anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah tingkat perekonomian keluarga yang sangat rendah, sehinga anak-anak mereka sering terputus di tengah jalan ada yang baru kelas dua SMP sudah berhenti sekolah karena tidak ada biaya, ada juga yang sudah masuk SMA namun tidak sampai selesai. Pada saat ini anak masyarakat suku duano yang putus sekolah berdasarkan data yang dikumpulkan sebagai berikut:

Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) 13 orang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 orang, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 orang (2011). Jika kita lihat dari fakta di lapangan, kondisi pendidikan anak masyarakat suku duano yang ada di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur ini sangat memperihatinkan, hal ini terbukti dengan angka putus sekolah yang sangat tinggi, angka putus sekolah ini dipicu oleh banyak hal diantaranya: budaya keluarga, yang dimaksud dengan budaya keluarga disini adalah keinginan dari orang tua untuk mendidik dan menjadikan anaknya sebagai aset dimasa depan sangatlah kurang bahkan hampir tidak ada, selain itu tingkat perekonomian keluarga juga sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat anak putus sekolah pada masyarakat suku duano ini, selain itu lingkungan sosial budaya masyarakat itu sendiri masing sangat kental terhadap prinsif-prinsif dahalu yang mengatakan bahwa ” orang suku duano walaupun sekolah tinggi tetap saja jadi penangkap ikan ”. Prinsip ini masih digunakan oleh sebagian besar orang tua masyarakat suku duano, sehingga anak-anak mereka selalu terhambat untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Selain hal tersebut diatas ada kendala lain yang berpengaruh terhadap tingginya tingkat putus sekolah anak masyarakat suku duano, kendala lain itu adalah keinginan dari anak itu sendiri. Keinginan dari anak untuk memiliki pendidikan yang baik dan berprestasi masih sangat rendah, sehingga mereka sering mendapat ejekan dari anak-anak lain. Hal ini membuat anak-anak masyarakat suku duano malas masuk sekolah sehingga membuat nilai mereka turun dan akan berpengaruh terhadap proses penaikan kelas, jika mereka tidak naik kelas maka mereka akan berhenti sekolah dengan sendirinya. Hal ini yang terjadi terus-menerus di dunia pendidiakan anak masyarakat suku duano.

Pada anak masyarakat Suku Duano yang sudah dapat menyelesaikan jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 orang, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 5 orang dan Sekolah Dasar (SD) 11 orang (2011).[5]

Referensi

  1. ^ http://sukuduano.blogspot.co.id/2011/04/sejarah-suku-duano-tanjung-solok.html Sejarah Suku Duano Tanjung Solok Tanjung Jabung Timur
  2. ^ http://regional.liputan6.com/read/2514744/tradisi-unik-suku-duano-di-tepi-sungai-jambi Diarsipkan 2016-05-26 di Wayback Machine. Tradisi Unik Suku Duano di Tepi Sungai Jambi
  3. ^ http://sukuduano.blogspot.co.id/2011/10/kondisi-masyarakat-suku-duano-di.html Kondisi Masyarakat Suku Duano di Tanjung Solok Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada saat ini
  4. ^ http://sukuduano.blogspot.co.id/2011/04/kondisi-perekonomian-masyarakat-suku.html Kondisi Perekonomian Masyarakat suku Duano Tanjung Solok Tanjung Jabung Timur
  5. ^ http://sukuduano.blogspot.co.id/2011/04/kondisi-pendidikan-masyarakat-suku.html Kondisi Pendidikan Masyarakat suku Duano Tanjung Solok Tanjung Jabung Timur