Sugiantoro

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Sugiantoro (lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, 2 April 1977; umur 40 tahun) adalah pemain sepak bola Indonesia. Ia adalah mantan pemain timnas yang dilatih dan dididik oleh program pelatnas PSSI Primavera pada era 1990an. Sekarang ia bermain di klub Persebaya Surabaya.

Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Kehidupan H. Sugiantoro sebagai pemain sepak bola dan sosok manusia bisa dibilang mapan. Namun, libero Persebaya yang akrab disapa Bejo ini masih merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Penghasilan dari menggocek si kulit bundar mencukupi. Itu masih ditambah lagi bisnis sampingan menyewakan peti kemas atau kontainer. Keluarga pun boleh dikata sakinah dan rukun. Tapi, masih ada yang harus dikejar lagi. “Hidup ini tidak cuma sepak bola atau kontainer. Saya ingin membesarkan anak dan melihat kehidupan mereka di kemudian hari,” ungkap ayah tiga anak ini.

Pantas bila Bejo sangat berhasrat mengasuh dan mendidik tiga putra hasil perkawinan dengan Rachmawati hingga sukses. Maklum, masa lalu mantan libero tim Merah-Putih ini penuh onak dan duri, bahkan bisa dikata sengsara. Tiap hari Bejo kecil harus membantu orang tuanya mendorong gerobak dagangan ke Taman Hiburan Rakyat (THR) yang berjarak lima kilometer dari rumahnya. “Banyak hikmah dari masa lalu itu. Bagi saya pribadi, kekuatan fisik sekarang ini tempaan karena membantu orang tua,” tutur pemain yang dua kali merasakan gelar juara Liga Indonesia bersama Persebaya ini. Karier bermain sepak bola dilakoni Bejo dengan penuh cobaan. Selama hampir tujuh tahun namanya jadi pelanggan timnas. Namun, dia sempat kecewa berat karena tak ada balas jasa atau keringanan atas jasanya saat palu vonis skorsing satu tahun diterimanya pada 2004.

Hukuman diterima Bejo akibat insiden pemukulan wasit Subandi. Ketika itu dia pindah dari Persebaya ke PSPS Pekanbaru bersama Uston Nawawi dan Hendro Kartiko. Alasan itulah yang membuat Bejo enggan mengikuti pelatnas timnas 2004. “Tulis besar-besar, saya menjalani skorsing satu tahun penuh tanpa remisi. Bandingkan dengan kemudahan yang diterima teman-teman sesama pesakitan dua atau tiga musim belakangan ini. Karena tak ada penghargaan jasa itulah saya enggan masuk timnas. Bukan saya tak nasionalis,” ucapnya. Bila dibanding libero yang beredar di LI saat ini, Bejo masih berani diadu kemampuannya. Namun, rasa jengah dan kecewa itu sudah tak bisa diobati lagi. “Saya sudah capek, biar pemain-pemain muda yang masih segar dan berambisi yang masuk timnas. Selain itu, saya memang tak mau jauh dengan keluarga,” kata Bejo.

Alasan keluarga itu pula yang membuat pengidola Heri Kiswanto ini tetap memilih Persebaya meski tim ini berlaga di divisi satu 2006. “Saya ingin menebus kesalahan saya saat meninggalkan Persebaya degradasi 2003 dan memilih pindah ke Pekanbaru. Itu alasan kenapa tahun ini saya tetap di Persebaya. Ternyata hujan batu di negeri sendiri masih enak dibanding hujan emas di negeri orang. Kedekatan dengan keluarga tak bisa diganti uang,” jelasnya. Sebagai pemain sepak bola yang mengandalkan fisik, Bejo tahu diri. Dia akan memutuskan gantung sepatu bila usia telah menggerogotinya. Namun, dia tak mematok di usia berapa akan pensiun. “Selama masih mampu, saya tetap main. Tapi, saya punya rencana seusai pensiun ingin jadi pelatih. Saya akan awali melatih di IM, klub yang membesarkan saya,” paparnya.

Profil[sunting | sunting sumber]

  • Nama: H. Sugiantoro
  • Panggilan: Bejo
  • Lahir: Sidoarjo, 2 April 1977
  • Orang tua: Mulyadi/Rotini
  • Istri: Rachmawati
  • Anak: 1. Rachmat Irianto (7), 2. Aisyah Rahma Al Ba’ja (3), Erlisyah Rahma Al Ba’ja (10 bln)
  • Postur: 173 cm/72 kg
  • Idola: Heri Kiswanto

Karier[sunting | sunting sumber]

Karier Klub[sunting | sunting sumber]

Tim nasional[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]