Sudisman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Sudisman (lahir di Jember, 1920 - Wafat 1967) adalah pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani. Sudisman dihukum mati karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September.

Masa kecil[sunting | sunting sumber]

Sudisman adalah pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia, ia dilahirkan di Jember, 1920. Sejak muda, ia telah berlaku berani menempuh hidup: sebagaimana Sayuti Melik menempelkan Ijazah AMS-nya (SMA) pada blek untuk jual dendeng, demikianlah pula Sudisman, begitu tamat HBS Surabaya tanpa ragu ia bersumpah di depan seorang gurunya bahwa ia tak akan menggunakan ijazah kolonial itu untuk mencari makan. Ia pun lantas terlibat dalam pengorganisiran buruh.

Karier politik[sunting | sunting sumber]

Sudisman juga dikenal sebagai organisator yang jitu dan cerdik. Seorang jurnalis, Soeryono (1927-2000), yang pernah bekerja di Penghela Rakyat di Magelang dan juga anggota Pesindo menjuluki Sudisman sebagai “the King Maker”, yaitu Amir Syarifuddin dan DN Aidit. Ia juga seorang intelektual yang tekun dan teliti begitulah minimal di mata Joesoef Ishak dan Joesoef pun mengenalnya sebagai orang yang rajin membawa catatan ke mana-mana, dan kebiasaannya tak lain dari mencatat apa-apa yang dikatakan lawan bicaranya. Ia tak ubahnya sebagai “kamus berjalan” yang bisa dimintai bantuannya bila seseorang lupa atau tak mampu mengingat-ingat suatu hal penting yang ingin dikemukakan.

Sejak sebelum pecah perang kemerdekaan 1945, dia aktif di Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) bersama Amir Syarifuddin, Moh. Yamin, Wikana dan A.K. Gani. Pada masa pendudukan Jepang, pada Januari 1943, Sudisman bersama Amir Syarifuddin dan 53 kawannya pun ditangkap. Menurut A.M. Hanafi, Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa pendudukan Belanda dan Jepang, Sudisman adalah Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya. Ia pernah dipenjara di Sragen dan pada akhirnya ia dibebaskan oleh pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya. Sudisman, menurut AM Hanafi juga, adalah anggota PKI, kadernya Pamudji yang dibunuh Jepang di penjara Sragen. Dari penilainan Hanafi, Sudisman adalah seorang yang tahu menghormati kaum Sukarnois. Oleh karena itu, sebagai pejuang Sudisman dikenal sebagai seorang nasionalis yang militan.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]