Subiakto Priosoedarsono

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari


Subiakto PrioSoedarsono
Lahir Subiakto Priosoedarsono
24 Agustus 1949 (umur 67)
Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia
Tempat tinggal Jakarta, Indonesia
Pekerjaan
  • Ketua Perkumpulan RumahUKM
  • Chairman PT. Brand In Action (d’Brand)
  • Direktur Utama PT. Hotlinetama Sarana (Hotline Advertising)

Subiakto Priosoedarsono (lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 24 Agustus 1949; umur 66 tahun) adalah pembuat slogan ahli dan Direktur Kreatif dari Hotlinetama Sarana, sebuah perusahaan iklan dan slogan untuk merk di Indonesia.[1] Karya karyanya terkenal termasuk slogan untuk perusahaan furnitur LIGNA pada tahun 1990an “Kalau sudah duduk, lupa berdiri,”; Kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla pada tahun 2004 “Bersama Kita Bisa,” ; dan kampanye Gubernur DKI Fauzi Bowo terpilih pada tahun 2007 untuk “Coblos Kumisnya” dan “Serahkan Pada Ahlinya".[1]

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Masa kecil[sunting | sunting sumber]

Masa kecil Subiakto sering berpindah kota, dari Probolinggo tempat kelahirannya, ikut orang tua pindah ke Semarang, Jogja hingga Solo, dan akhirnya ke Jakarta pada saat dia duduk di kelas 2 SMA.[butuh rujukan] Sejak usia kecil, orang tua sudah mengajarkan tanggung jawab kepada Subiakto. Mulai dari mengangkat air satu per satu ember untuk mengisi bak mandi di saat kecil hingga mengisi bak air dengan pompa tangan saat ia tumbuh remaja, termasuk juga mengepel lantai dan menyapu halaman, antar-jemput kakak dan adik perempuannya, hingga membantu biaya sekolah adik-adik dari uang yang dihasilkannya sendiri.[kenetralan diragukan] Semua itu memiliki arti sendiri untuk Subiakto. Memompa air artinya badan menjadi kuat dan berotot seperti binaragawan.[kenetralan diragukan] Mengantar-jemput kakak latihan tari Jawa membuat Subiakto ikut tari Jawa, bahkan terpilih menjadi pemeran Gatot Kaca sejak usia 6 tahun, latihan Pramuka membuatnya disiplin, latihan judo dan jujitsu membuatnya berani menghadapi siapa pun terutama yang mempunyai niat tidak baik. Tidak pernah putus untuk belajar, termasuk belajar selangkah lebih cepat dengan mempelajari pelajaran yang AKAN diajarkan, bukan mengulang yang sudah diajarkan di kelas. Tak heran ia selalu menjadi juara kelas sejak kelas 1 SD dan menjadi ketua kelas.[kenetralan diragukan]

Memang darah seni mengalir deras di tubuh Subiakto. Terlahir sebagai anak kedua dari 5 bersaudara, atau anak laki tertua di keluarga, ayahanda dia adalah pelukis dan pemain piano yang sering mengiringi penyanyi-penyanyi selain menjadi Direktur Bank.[kenetralan diragukan] Kegemarannya ini yang mengantarnya bertemu dengan mami.[kenetralan diragukan] Mami selain sebagai seorang penyanyi, ia pun suka melukis, memasak dan menyulam.[butuh rujukan] Kegemaran melukis ini pun menurun kepada Subiakto yang akhirnya menjadi dasar dari profesi yang dipilihnya dan menjadi awal kariernya di dunia kreatif. Sempat membuat beberapa lukisan yang semua lukisannya dibawa oleh para anggota Subud yang berasal dari berbagai negara.[butuh rujukan]

Subiakto dan kakak serta adik pernah membentuk group musik “Trio Los Alegres” yang sering mengisi acara2 dan tampil rutin di TVRI selama 4 tahun (1968-1972) disamping ngamen di restoran-restoran, seperti Oasis Jakarta.[butuh rujukan] Subiakto dan adiknya Adi, memainkan gitar, mengiringi kakak tertua, Wis, menyanyi.[butuh rujukan] Masa kecil Subiakto juga diisi dengan menari Jawa. Dari sekadar pengamat tari Jawa, dia akhirnya menjadi Gatot Kaca di setiap penampilannya karena dirinya tampil luwes dan cakap dalam gerakan tari Jawa kesatria.[butuh rujukan]

Masa Awal Karier[sunting | sunting sumber]

Setelah menyelesaikan SMA pada tahun 1967, Subiakto sempat ingin melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB).[butuh rujukan] Demi untuk bisa mendaftar dan ikut tes seleksi masuk ITB, ia rela berjalan kaki dari rumah ke sekolahnya di Bulungan, Kebayoran Baru yang berjarak 6 km dari rumahnya di Cilandak. Sebagai tambahan, Subiakto berjualan komik di emperan toko Radio Ong di Mayestik. Usahanya tidak sia-sia karena kemudian Subiakto diterima kuliah di ITB.[butuh rujukan] Namun cita-cita melanjutkan ke kampus impiannya terpaksa dibatalkan karena mendahulukan kepentingan keluarga daripada kepentingannya sendiri.[butuh klarifikasi] Akhirnya Subiakto memilih kampus Sekolah Tinggi Seni Rupa Jakarta yang merupakan cabang dari IKIP Rawamangun, Jakarta sambil terus membuat komik.[butuh rujukan]

Tahun 1969 adalah awal karier Subiakto di PT Guru Indonesia sebagai Art Director setelah bakat menggambarnya ditemukan oleh Fred Welhaven, yang secara kebetulan membaca komik buatannya di rumah temannya, yaitu Unov Byersnev.[2]

Kegemaran menggambar Subiakto menjadikannya membuat komik cerita sejak sebelum lulus SMA atau sebelum diterima di ITB.[butuh klarifikasi] Buku komik cerita hasil karyanya antara lain serial Pengemis Arak Sakti, Seruling Gading, serta cerita-cerita remaja seperti Embun Pagi dan Tumbang.[butuh klarifikasi] Hasil dari menggambar buku komik ini digunakan Subiakto untuk membantu orang tua serta mulai membeli mobil-mobil tua untuk dibangun kembali dan dikoleksi.[butuh klarifikasi]

Pada tahun 1972, melalui perkenalannya dengan Soetjipto Sosrodjojo, Subiakto memberikan ide mengenai produk teh dalam botol.[butuh klarifikasi] Diawali dengan pengamatan langsung Subiakto dan Sutjipto Sosrodjojo sambil duduk di daerah Cipete di mana terdapat Sekolah Dasar disamping mesjid Al Ikhlas (sekarang menjadi kompleks sekolah Al Ikhlas).[butuh klarifikasi] Subiakto melemparkan taruhan bahwa anak yang bawa botol beling pasti isinya teh manis.[butuh rujukan] Dan ketika Sutjipto menanyakan satu per satu anak sekolah apa yang dibawa mereka, terbukti Subiakto benar bahwa anak yang membawa botol beling, jawabannya teh manis, yang membawa botol plastik, jawabannya air putih. Hal ini mendasari pembuatan teh dalam botol yang diberi merek Teh Botol Sosro. Subiakto ikut terlibat dalam pembuatan konsep produk dan desain botol.[butuh rujukan]

Sebelum desain logo sempat diselesaikan, sayangnya Subiakto pada tahun 1974 sudah harus berangkat ke Tokyo untuk mempelajari product design di Jepang selama kurang dari 1 tahun sebagai wakil dari Indonesia yang dikirim oleh Jend. Andy Yoesoef yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian.[butuh klarifikasi] Hal ini terjadi karena kekaguman Menteri kepada Subiakto sebagai satu-satunya pembicara paling muda di dalam sebuah seminar tentang Ekspor Produk Indonesia.[butuh rujukan]

Salah satu karya Subiakto selama di Jepang adalah penemuan konsep Lunch Box yang mampu menahan makanan tetap panas. Hidup di Jepang dijalaninya dengan sangat berhemat.[kenetralan diragukan] Meski pun tinggal di Hotel selama di Jepang, sarapannya sepotong roti dengan sarden ikan teri, makan siang di kantor, dan makan malam sepotong roti dengan sepotong paha ayam goreng.[kenetralan diragukan] Namun Subiakto tak putus asa, dia menggunakan bakatnya bernyanyi untuk mendapatkan uang tambahan. Berbekal gitar pinjaman, Subiakto ‘ngamen’ di stasiun dan berhasil mengumpulkan uang untuk membeli 2 kamera Nikon saat pulang kembali ke Indonesia.[kenetralan diragukan]

Sebelum pulang, Subiakto dipanggil oleh atasannya ke ruangannya. Masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas, berisi 1 meja bundar dengan 4 buah kursi dan Zein Garden di pojokan.[kenetralan diragukan] Ia menyampaikan pesan bahwa tidak ada gunanya menciptakan kreasi kalau tidak mampu menjualnya. Seorang Creative Director yang handal, harus pernah menjadi seorang Salesman meskipun hanya 1 tahun.[kenetralan diragukan] Dan itu yang dilakukan oleh Subiakto, menjadi Salesman dalam 1 tahun merangkap Creative Director di Media Network Consolidated pada tahun 1976.[butuh rujukan]

Pada tahun 1978, Subiakto membentuk Luberizki Advertising yang merupakan inhouse agency milik Sakura Film dan bekerja sebagai Creative Director.[butuh rujukan] Di sinilah Subiakto mendapat kesempatan belajar dengan metode multitasking yang akhirnya mendapat kesempatan menyutradarai pembuatan iklan TVC pertama kali berawal dari ketidaksengajaan.[butuh rujukan] Dimulai dengan director film untuk Sakura Film yang tidak mendapatkan ‘feel’ dalam membuat iklan tentang Indonesia, membuat Subiakto mengambil alih pembuatan iklan.[kenetralan diragukan] Kebetulan Subiakto sudah memiliki dasar memotret sebelumnya sehingga pekerjaan directing tidak terlampau menyulitkan. Pasti masih banyak yang ingat iklan Sakura Film ‘Rancak Banar’ yang merupakan iklan TV pertama Subiakto.[butuh rujukan]

Masa Memulai Karier[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1980, Subiakto bersama Bati Subakti mendirikan B&B Advertising di mana konsentrasi Subiakto pada bagian Creative, Client Service, Production dan Operasional sedangkan Bati pada bidang Media. Dari sini lahirlah iklan-iklan yang fenomenal seperti Ligna “Kalau Sudah Duduk, Lupa Berdiri”, Polytron “The Winning Theme”, Digitec “Memang Moi”, Engran “Sarapan Kedua”, Kopi Gelatik, KingKong Obat Nyamuk “Kingkong Lo Lawan”, Mayora Permen Kopiko “Gantinya Ngopi”.[3]

Cerita di balik pembuatan Permen Kopiko pada tahun 1986 tidak kalah menariknya. Diawali dengan kebutuhan Yogi Hendra Atmadja untuk memenuhi mesin permen yang mampu memproduksi 2 juta pieces per harinya, namun baru terisi 300 ribu pieces dengan merek Chelsea. Meski Chelsea pernah mendominasi pasar permen pada saat itu, namun karena kontrak Mayora dengan Chelsea akan habis, Yogi harus putar otak mencari permen baru untuk mengisi mesin.

Meski dari hasil FGD yang mendapatkan bahwa konsep kopi dalam bentuk permen tidak diterima oleh masyarakat karena ekspektasi orang terhadap kopi masih ingin mendapatkan hangat serta aromanya, Subiakto tetap bersikukuh menyarankan Yogi untuk memproduksi permen kopi yang positioning-nya adalah kopi berbentuk permen yang ditujukan untuk heavy user atau peminum kopi dengan nama Kopiko dengan tagline “Gantinya Ngopi” Subiakto pula lah yang menciptakan karakter tulisan Kopiko serta packaging-nya.

Tak disangka, permen kopi ini mendapat tanggapan yang sangat baik di pasar, bahkan dalam 3 bulan pak Yogi terpaksa harus menghentikan iklan karena kapasitas produksi yang tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Dengan kata lain, produk sangat diterima dengan baik, meski saat di FGD sempat mendapat penolakkan dibandingkan permen rasa jahe atau menthol yang sudah ada di pasar dan diterima oleh konsumen.

Pada tahun 1989, Subiakto terpaksa harus meninggalkan B&B Advertising atas permintaan Yogi karena akan diberikan account besar dari Mayora apabila Subiakto mendirikan agency sendiri. Syarat Yogi “Kalau Pak Biakto kembali dalam waktu 3 hari dengan kartu nama Agency barunya, maka account kopi ini jadi milik Anda” Maka lahir lah Hotline Advertising yang namanya didapat dari buku logo yang belakang hari diketahui logo dari sebuah kaus di Jepang. Dan Hotline Advertising pun mendapatkan kopi Torabika dari Mayora versi Gito Rolies sebagai Client pertamanya, diikuti dengan Biskuit Roma, BengBeng, ChokiChoki, serta Kalbe Promag, Procold, Conce “Concenya Mannnaaa?”

Lahirnya ToraBika tak bisa lepas dari keterlibatan Subiakto yang menerima tantangan dari Yogi Hendra Atmadja untuk menciptakan kopi baru yang kental. ToraBika dibuat oleh Subiakto yang berasal dari gabungan kopi Toraja (Robusta) dan Arabika. Ketika dilakukan promo, kopi ToraBika berhadiah gula pasir, terkadang gulanya hilang. Kemudian Subiakto mengusulkan kepada Yogi kemungkinan untuk menggabungkan kopi dan gula dalam 1 kemasan yang akhirnya disetujui Yogi dan diberikan nama ToraBika Duo.

Tak berhenti disana, Subiakto sebagai Creative Director membidani kelahiran brand-brand besar yang ada di Indonesia, seperti Indomie “Indomie Seleraku”, Supermie, Sarimi, Extra Joss “Ini Biangnya Buat Apa Botolnya”, McDonald “Manalagi Selain di McD”, Obat Nyamuk Tiga Roda, Matrix Satelindo/Indosat, BuKrim, Shinzui, Tropical Minyak Goreng 2x Penyaringan, Kartu As Telkomsel, Panasonic, Citilink, dll.

Sebagai Campaign Director, Subiakto telah mengantar Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI periode tahun 2004-2009 dengan tagline “Bersama Kita Bisa” dan Fauzi Bowo menjadi Gubernur DKI periode tahun 2007-2012 dengan tagline “Serahkan Pada Ahlinya” dan iklan TVC yang tak mudah untuk dilupakan “Coblos Kumisnya”[4]

Hotline Advertising menjadi salah satu periklanan lokal terbesar selain Matari Advertising pada masanya. Memiliki sekitar 180 orang yang terbagi atas 6 Business Team untuk Advertising dan Media Dept, ditambah PR, Event, Production dan Jingle Dept. Meski diawali hanya oleh 3 orang, yaitu pak Bi, 1 sekretaris dan 1 office boy, Hotline setara dengan Agency yang berkuatan 12 orang artist berkat bantuan 3 buah desktop Apple Macintosh.

Dalam perjalanan berkembangnya Hotline Advertising, 3 anak Subiakto pun sangat mendukung melalui masing-masing bidangnya. Tya Subiakto melalui jingle-jinglenya, Dion Subiakto serta Sati Subiakto melalui Event.

Banyak cerita menarik di balik kelahiran brand-brand besar di atas. Banyak cerita yang perlu diketahui oleh para pelaku usaha. Namun setelah berkarya lebih dari 45 tahun, Subiakto merasa lebih nyaman dinobatkan sebagai Praktisi Branding. Menurut dia, iklan adalah salah satu cara dalam membangun BRAND. Ada banyak hal penting lain dalam membangun BRAND. Apalagi sekarang media sosial berkembang sangat pesat bersamaan dengan berkembangnya teknologi komunikasi.

Kehadiran Subiakto di media sosial seperti twitter dengan akun @Subiakto, Facebook, Path serta Instagram membuat Subiakto berkenalan dengan banyak teman-teman yang akhirnya menyalurkan kegemarannya, yaitu SHARING. Sharing apalagi kalau bukan tentang Brand.

Hal ini pula yang mendasari Subiakto mendorong teman-teman untuk sharing ilmu secara gratis dengan mendirikan Akademi Berbagi pada tahun 2010. Diawali dengan permintaan salah satu followernya, Subiakto bersedia memberikan kelas gratis khusus untuk copywriting dan memintanya untuk mengumpulkan 20 orang lainnya bertempat di kantor Hotline Advertising. Atas bantuan Dwita Y. Soewarno 20 kelas pertama Akademi Berbagi berjalan setiap Jumat sore dengan beragam tema dan pengajar. Karena kepindahan kantor Hotline dari Wolter Monginsidi Kebayoran dan kembali ke gedung di Jl RS Fatmawati yang tidak memiliki kelas besar, akhirnya Akademi Berbagi berjalan sendiri di luar kantor Hotline.

Kepindahan kantor Hotline didasari pada perkembangan industri periklanan masa depan yang lebih mengutamakan networking dan memanfaatkan internet.

Selanjutnya, keberpihakan Subiakto terhadap brand dan produk lokal sejak awal kariernya mendasari langkah dirinya melakukan sharing Branding untuk pelaku UKM terutama menjelang MEA di awal 2016.[5] Untuk menyelenggarakan sharing Branding untuk UKM di seluruh Indonesia, pak Bi membentuk manajemen edukasi dengan nama BukanAkademi sejak awal tahun 2014.[6] Tugas utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai pentingnya BRAND bagi produk lokal agar bisa bersaing di pasar MEA. Subiakto mengenalkan pentingnya pengalaman pertama dalam membangun Brand. Subiakto juga mengenalkan Komunal Brand sebagai salah satu ‘pagar’ bagi brand-brand lokal di daerah.

Trivia[sunting | sunting sumber]

  • Salah satu karya yang pernah ia buat, yaitu jingle iklan produk kopi buatan Mayora Indah yakni Torabika versi Alm. Gito Rollies juga diparodikan di program talkshow komedi Ini Talk Show dan Ini Sahur dengan memplesetkan kalimat "Kopi Torabika" menjadi "Kopi Dapet Minta" ataupun "Kopi Dolaemong" beserta variasi kata-kata lainnya. Kalimat tersebut digubah oleh Sas Widjakarno yang pernah terkenal lewat acara komedi Reaksi yang ditayangkan RCTI tahun 1998 dan film layar lebar Petualangan Sherina pada tahun 2000 (untuk "Kopi Dapet Minta" dan Haruka Nakagawa salah satu personel Idol Group AKB48 & JKT48 (untuk "Kopi Dolaemong"). Parodi tersebut diciptakan oleh Sule Sutisna.
  • Jingle "Indomie Seleraku" tak hanya dibuat oleh Subiakto sendiri, penulisan lirik ditulis oleh penulis lagu ternama era 70an - 80an alm. Aloysius Riyanto anggota dari Favorite's Group

Jabatan Formal[sunting | sunting sumber]

  1. Ketua Perkumpulan RumahUKM
  2. Chairman PT. Brand In Action (d’Brand)
  3. Direktur Utama PT. Hotlinetama Sarana (Hotline Advertising)

Pengalaman[sunting | sunting sumber]

  1. 2014  : Founder BukanAkademi
  2. 2014 : Founder RumahUKM
  3. 2010  : Pencetus Ide Akademi Berbagi
  4. 2004 – Present : Chairman PT Brand In Action
  5. 1989 – Present : Direktur Utama PT Hotlinetama Sarana
  6. 1980 – 1989 : Founder & Creative Director B&B Advertising
  7. 1977 – 1980 : Account Director & Creative Director Luberizki Advertising
  8. 1976  : Account Executive & Creative Director Media Network Consolidated
  9. 1969 – 1976  : Art Director PT Guru Indonesia

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

  1. 1985 : Institute of Business Management – MBA Program, Jakarta
  2. 1976 – 1978 : Advertising Course – LPWI/ISWI, Jakarta
  3. 1974 : Product Design in JK Design Centre – Tokyo, Japan
  4. 1972 : Bachelor of Fine Art – Sekolah Tinggi Seni Rupa Jakarta
  5. 1967 : Senior High School – SMAN IX Jakarta

Organisasi[sunting | sunting sumber]

  1. 1993 : Founder ITKP – Institut Teknologi Komunikasi Periklanan
  2. 1976 : Founder and Lecturer GSP – Group Studi Periklanan

Referensi[sunting | sunting sumber]

<references>

  1. ^ a b (Inggris) Indonesia’s ‘Mad Man’ Spins Slogans
  2. ^ Merdeka.com: Awal Karier Subiakto Priosoedarsono
  3. ^ Iklan-iklan buatan Subiakto di [Beritasatu.com]
  4. ^ Slogan Kampanye di [Beritasatu.com]
  5. ^ "Ngebon", "Personal Branding" ala Subiakto Priosoedarsono di [Kompas.com]
  6. ^ Subiakto Priosoedarsono di [Cielsbm.org]