Srinthil (tembakau)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Srinthil adalah jenis tembakau berkualitas paling tinggi yang tumbuh di kawasan lereng Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Perahu. Ciri umum dari jenis ini dapat ditengarai dari aromanya yang khas, harum mirip aroma buah salak. Untuk mendapatkan kualitas maksimal, srinthil harus tumbuh dengan cuaca yang bagus, utamanya jika kemarau panjang. Tembakau srintil dihasilkan dari daun paling atas pada tanaman tembakau. Biasanya dipetik paling akhir. Sewaktu masih di pohon, tak ada yang bisa mengetahui lembaran daun itu akan menjadi srintil atau bukan. Petani baru mengetahui telah memanen srintil setelah daun tembakau yang dikeram seperti membusuk, mengeluarkan cairan yang menyebarkan aroma harum. Dari sekitar 400 hektare ladang tembakau biasanya dapat dihasilkan 300 keranjang tembakau srintil. Setiap keranjang rata-rata berisi 40 kilogram. Di wilayah Kabupaten Temanggung sebagai pusatnya budidaya tembakau, harga terendah tembakau srinthil mencapai Rp60.000,- per kilogram. Jadi, petani setempat akan serasa mendapatkan berkah bila tanaman srinthil mereka dapat dipanen. Pengaruhnya adalah daya beli masyarakat yang meningkat. Untuk membeli sebuah sepeda motor baru saja, mereka cukup menjual satu keranjang srinthil. Atau jika ingin memiliki mobil minibus, maka petani cukup menjual delapan keranjang srintil.[1][2][3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Legoksari dan Tembakau Srintil". Kompas. Diakses tanggal 18 Maret 2019. 
  2. ^ "MITOLOGI MUNCULNYA SRINTIL, TEMBAKAU TERBAIK DAN TERMAHAL DI DUNIA". Boleh Merokok. Diakses tanggal 18 Maret 2019. 
  3. ^ "Tembakau Srintil Tembus Rp1 Juta Per Kilo". Jawapos. Diakses tanggal 18 Maret 2019.