Spesialis tanjakan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Marco Pantani adalah seorang spesialis tanjakan

Seorang spesialis tanjakan, adalah pembalap sepeda yang dapat berkendara dengan baik di jalan dengan tanjakan terjal, yang dapat dilakukan di daerah perbukitan atau pegunungan.

Tugas spesialis tanjakan di sebuah balapan[sunting | sunting sumber]

Di tanjakan yang cukup terjal, kecepatan rata-rata akan berkurang, sehingga keuntungan aerodinamika dari drafting akan hinag dan penyesuaian dengan kecepatan kelompok menjadi lebih penting. Spesialis tanjakan akan mempertahankan kecepatannya dan memilih jalur terbaik untuk menanjak, mempermudah pembalap di belakanggya untuk mengikuti. Jika kelompok mempertahankan tempo tinggi, akan sulit bagi seorang pembalap untuk menyerang atau melepaskan diri dari kelompok.

Tugas penting yang lain adalah sebagai penyerang atau penyerang balik. Spesialis tanjakan menggunakan kelebihan mereka untuk menyerang di tanjakan dan menambah jarak dengan lawannya, dan yanta spesialis tanjakan lainnya yang mampu bertahan dengan mereka, atau mempertahankan kecepatan tinggi sehingga pembalap lain tidak dapat mengikut. Pecahan yang sukses dapat membantuk spesialis tanjakan memperoleh kemenangan di lintasan yang berakhir dengan tanjakan gunung, atau yang berakhir dengan lintasan datar apabila pembalap dapat mempertahankan keunggulannya setelah tanjakan. Tahapan tanjakan, bersama dengan individual time trial, merupakan tahapan kunci untuk memenangkan balap tahapan yang panjang.

Jenis penanjak[sunting | sunting sumber]

Penanjak cenderung memiliki banyak ketahanan dan secara khusus mengembangkan otot untuk tanjakan berat yang panjang. Mereka juga cenderung memiliki fisik yang ramping dan ringan, namun beberapa dapat menjadi penanjak yang baik melalui latihan fokus. Ironsnya banyak penanjak yang tidak bagus saat menuruni tanjakan sehingga keuntungan mereka hilang saat mereka mencapai dasar setelah tanjakan.[butuh rujukan]

Spesialis tanjakan tersukses datang dengan bentuk dan spesialisasi yang berbeda. Penanjak dengan fisik yang sanagt kecil seperti José Rujano (48 kg), Leonardo Piepoli (52 kg), Roberto Heras (60 kg), Alberto Contador (61 kg) and Gilberto Simoni (58 kg) berkembang saat ketinggian mulai memusingkan dan tanjakan yang sangat terjal dimana berat mereka yang ringan membuatnya lebih efisien dan mampu melakukan akselerasi berulang. Ketahanan mereka juga membuat mereka menjadi spesialis balap tahapan yang baik. Marco Pantani, juara Tour de France 1998, mampu melakukan serangan demi serangan untuk membuat lawannya cepat lelah.

jenis pengendara lain adalah puncheur yang memiliki kesamaan fisik yang kecil dibandingkan spesialis tanjakan namun memiliki tenaga lebih besar yang memberikan mereka keuntungan di tanjakan pendek namun terjal. Contohnya di beberapa perbukitan seperti Mur de Huy di Flèche Wallonne dan Manayunk Wall di Philadelphia International Championship. Contoh pengendara tersebut termasuk Philippe Gilbert, Paolo Bettini dan Danilo Di Luca, yang mampu melepaskan diri di tanjakan yang lebih pendek untuk memenangkan sebuah tahapan abtau balap satu hari. Namun ketahanan mereka yang lebih sedikit menjadi kelemahan di balap tahapan di mana tanjakan umunya lebih panjang, meskipun dengan kemiringan lebih kecil. Banyak penanjak yang tidak dapat melakukan sprint dengan baik karena badan mereka yang kecil karena tubuh mereka yang kecil tidak memungkinkan mereka bersaing dengan sprinter yang memiliki kekuatan dari massa otot yang lebih besar.

Jenis penanjak terakhir adalah spesialis melepaskan diri yang dapat berkendara dengan agresif dengan banyak serangan dan mempertahankan keunggulan mereka d tanjakan, turunan, dan jalan datar. Contoh terkenal termasuk Laurent Jalabert dan Richard Virenque yang memperoleh gelar Raja Tanjakan di Tour de France dengan pecahan sepanjang hari untuk memeproleh poin di setiap tanjakan. Yang lebih dicatat, Laurent Jalabert memulai kariernya sebagai sprinter namun mengubah dirinya sendiri menjadi jenis pengendara yang lain. Banyak pembalap yang utamanya adalah time-trialist yang juga mampu berkompetisi di semua tanjakan secuali yang paling terjal karena rasio tenaga-berat mereka yang bagus. Juara Tour de France Miguel Indurain, Jan Ullrich dan Bradley Wiggins utamanya adalah time-trialist namun juga salah satu penanjak terbaik pada tahun kemenangan mereka di Tour de France.

Fisik dan fisiologis penanjak[sunting | sunting sumber]

Fisiologis telah mengaitkan keuntungan pada badan kecil dalam bersepeda mendaki, dengan cara menghitung skala antara massa tubuh dan kuas permukaan tubuh dibandingkan dengan tinggi badan (lihat Hukum luas kubus). Secara hipotesis saat tinggi pembalap meningkat, luas permukaan tubuh berubah terhadap tinggi sedangkan massa tubuh bertambah seiring dengan volume tubuh. Hubungan luas permukaan tidak hanya berlaku pada luas permukaan tubuh keseluruhan, namun juga luas permukaan paru-paru dan pembuluh darah, yang merupakan faktor utama dalam menentukan kekuatan aerobik. Dari hal tersebut, pembalap sepeda yang memiliki massa tubuh 50% lebih besar hanya memiliki kekuatan aerobik 30% lebih besar. Pada tanjakan terjal sebagian besar energi pembalap digunakan untuk mengangkat beratnya sendiri, sehingga pembalap dengan berat badam lebih memiliki kelemahan kompetitif. Selain itu juga menjadi batasan bagi yang bertubuh sangat kecil karena, bersama dengan faktor yang lain, mereka juga harus mengangkat berat sepedanya. Pertambahan kekuatan proporsional dengan kemiringan jalan dan kecepatan pembalap di sepanjang tanjakan. Pada tanjakan 5%, setiap meter jalan dibutuhkan mengangkat tubuh setinggi 5 cm. Daya (watt) setara sengan perubahan energi potensial gravitasi (joule) per satuan waktu (detik). Untuk pembalap seberat 60 kilogram (130 lb), tanbahan tenaga yang dibutuhkan adalah 30 watt per meter/detik pada kecepatan rata-rata (sekitar 8 watt per km/jam).

Faktor skala juga dihitung untuk untuk kerugian relatif pembalap kecil pada jalan menurun, meskipun ini merupakan pengaruh fisika, buka fisiologi. Pembalap yang lebih besar, dengan gaya gravitasi yang sama, akan memiliki momentum lebih besar karena massa tubuh yang lebih besar pula. Sebagai tambahan, pengaruh gaya gesek aerodinamis hanya meningkat seperempat dibandingkan dengan pertambahan luasr permukaan tubuh. Sehingga, jika menurun hanya bergantung pada gaya gravitasi, tidak termasuk kayuhan, pembalap yang lebih berat akan memiliki momentum lebih besar, sehingga akan tercipta energi kinetik lebih besar, dan mengalami pengurangan kecepatan yang tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan pembalap yang lebih kecil.

Meskipun faktor tersebut terlihat saling menghilangkan, penanjak masih memiliki keuntungan pada lintasan dengan tanjakan dan turunan panjang: Memiliki beberapa kilometer/jam lebih tinggi pada tanjakan tang lambat dan memakan waktu lama lebih bernilai dibandingkan dengan turunan yang cepat dan singkat. Setiap pembalap, dapat meningkatkan kecepatan menanjaknya dengan meningkatkan kekuatan aerobik dan mengurangi berat badan dan dapat meningkatkan kecepatan menurunnya melalui pengendalian sepeda yang lebih baik dan kemauan menerima risiko jatuh lebih besar. Satu dari beberapa pembalap elit yang menggunakan kemampuan menurun sebagai keuntungan kompetitif adalah Paolo Savoldelli, yang berjulukan "sang elang".

Teknologi sepeda[sunting | sunting sumber]

Perkembangan terkini dari komponen sepeda memberikan pembalap cangkupan yang lebih luas terhadap pilihan transmisi, memungkinkan spesialis tanjakan untuk menggunakan gigi rendah untuk menanjak lebih optimal namun masih memiliki gigi tinggi supaya dapat tetap menyesuaikan kecepatan dengan pembalap lain di jalur datar. Pendaki legendaris seperti Lucien Van Impe harus mengayuh sepeda dengan gigi tinggi dalam waktu yang lama; penanjak sekarang mampu menyesuaikan transmisi mereka untuk bersaing dan menanjak dengan jumlah kayuhan per menit yang cukup. Batasan minimal berat sepeda yang ditetapkan UCI adalah 68 kilogram (150 lb). meskipun banyak pabrikan sepeda dapat membangun sepeda lebih ringan dari batasan tersebut, namun UCI ingin mempertahankan semangan lebih mengutamakan tenaga manusia dibandingkan dengan peralatannya.[1]

Raja tanjakan di balap tahapan[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar balap tahapan memiliki kategori khusus untuk penanjak terbaik, umumnya dengan memberikan poin pada puncak tanjakan penting di balapan. Contohnya di Tour de France, penanjak terbaik atau Raja Tanjakan, mendapat hadiah jaket polka dot (Prancis: maillot à pois rouges). Sedangkan di Giro d'Italia, penanjak terbaik mendapatkan jaket hijau (Italia: maglia verde).

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Owen Mulholland, John Wilcockson. Uphill Battle: Cycling's Great Climbers. VeloPress, 2003.