Songkok To Bone

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Songkok To Bone biasa juga disebut Songkok Guru, Songkok Pamiring, dan Songkok Nibiring Bulaeng. Mana yang benar dari ketiga nama tersebut? Semuanya benar namun penyebutan ketiga nama tersebut masing-masing mempunyai kisah dan rentang waktu yang berbeda.

Songkok atau peci tradisional Sulawesi Selatan, menjadi penutup kepala “wajib” bagi lelaki Makassar dan lelaki Sulawesi Selatan lainnya dalam setiap acara adat. Namun, pemakaian songkok itu telah meluas dan kerap digunakan dalam acara-acara formal selain adat.

Bentuknya bundar dan kaku karena terbuat dari serat pelepah lontar. Anyaman lontar dipadukan dengan benang sutra berwarna emas yang menutupi bidang seukuran koin di bagian pangkal songkok dan separuh garis kelilingnya. Warna songkok ini lazimnya hitam, cokelat, atau krem.

Wujud songkok guru/ nibiring bulaeng / Songko to bone bentuknya bundar dan kaku. Songkok ini menjadi simbol budaya suku Makassar dan bugis, begitu pun Mandar. Seperti halnya blangkon pada orang Jawa, modelnya pun tak pernah berubah sepanjang zaman.

Awal mula penggunaan Songkok ini adalah ketika dipakai oleh ANRONG GURU Kerajaan Gowa pada saat mengislamkan semua kerajaan Bugis termasuk Bone di zaman raja Gowa Sultan Alauddin.

Menurut orang-orang Gowa atau suku Makassar, Songkok tersebut bernama Songkok Guru atau Nibiring Bulaeng. Mengapa disebut Songkok Guru? Karena pada masa lalu, tidak sembarang orang memakai songkok tersebut, hanya golongan bangsawan dan para Anrong Guru saja yang memakainya. Anrong Guru bisa artikan sebagai sosok ulama atau penyebar agama Islam yang tugasnya melakukan Islamisasi di Tanah Makassar.

Waktu itu, kerajaan-kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan masih menganut animisme dan dinamisme. Oleh 3 Datuk asal Sumatera, yaitu Dato’ ri Tiro, Dato’ Patimang, dan Dato’ ri Bandang melakukan Islamisasi, maka Kerajaan Gowa-Tallo atau biasa disebut Kerajaan Makassar pun memeluk agama Islam. Kerajaan Gowa-Tallo pun mulai memperluas wilayahnya dan menaklukan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan yang kebanyakan bersuku Bugis untuk diislamkan. Para Anrong Guru yang mengislamkan Kerajaan Bone dan kerajaan-kerajaan lainnya memakai songkok, yang kemudian songkok itu diberi nama Songkok Guru.

Sampai sekarang, tidak banyak orang Makassar yang memakai Songkok Guru, sebab mereka meyakini bahwa tidak sembarang orang memakai songkok tersebut, hanya keturunan bangsawan dan para Anrong Guru saja yang boleh memakainya.

Sementara penamaan Songkok Nibiring Bulaeng oleh suku Makassar disebabkan karena songkok tersebut dibalut benang emas di pinggirnya. Kini, Songkok Guru yang merupakan Songkok kebanggaan suku Makassar selain dari Songko Patonro, telah dipakai oleh semua lapisan masyarakat Sulawesi Selatan, asalkan mampu membelinya. Meski begitu, banyak juga orang-orang Makassar yang enggan untuk memakainya meski mampu membelinya. Ini karena mereka berpendapat bahwa songkok tersebut hanya dipakai oleh keturunan bangsawan dan orang-orang penting lainnya, hal ini semata agar nilai kehormatan dan karisma yang memakainya juga sepadan dengan songkok tersebut.

Bukan hanya itu saja, Songkok Guru juga dipakai ketika mengantar undangan hajatan, seperti pernikahan atau sunatan. Para pembawa undangan atau dalam bahasa Makassar disebut “Paerang undangan” akan memakai Songkok Guru lengkap dengan Lipa’ Sa’be. Pemakaian songkok ini dalam membawa undangan sudah menjadi tradisi turun temurun dalam suku Makassar, dan dianggap kurang sopan apabila tidak memakai songkok tersebut.