Lompat ke isi

Solifluksi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Solifluction seperti garland terbentuk di Taman Nasional Swiss
Kemungkinan lobus solifluksi di Acidalia Planitia di Mars seperti yang terlihat oleh HiRISE.
Lapisan solifluksi di dekat Eagle Summit, Alaska

Solifluksi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan serangkaian proses yang menyebabkan massa tanah bergerak menuruni lereng akibat pengaruh pembekuan dan pencairan (freeze–thaw).[1] Dalam pengertian modern, solifluksi termasuk dalam proses gerakan massa berupa pemborosan massal (mass wasting) yang berlangsung secara bertahap. Pengertian ini berbeda dari definisi awal yang diperkenalkan oleh Johan Gunnar Andersson pada tahun 1906.[2][3]

Asal dan perkembangan konsep

[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, solifluksi diartikan sebagai pergerakan material yang jenuh air (material hasil pelapukan dan runtuhan batuan yang mengandung air dalam jumlah sangat tinggi) di wilayah periglasier. Namun, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa banyak bentuk pergerakan lambat di daerah periglasier tidak selalu memerlukan kondisi jenuh air. Pergerakan tersebut lebih berkaitan dengan siklus pembekuan dan pencairan tanah.[2][3] Seiring dengan perkembangan pemahaman tersebut, istilah solifluksi kemudian digunakan untuk mencakup berbagai proses pergerakan lambat yang dipicu oleh aktivitas freeze–thaw, dan tidak lagi mencakup pergerakan periglasier yang berlangsung cepat.[2] Pada solifluksi periglacial lambat, massa tanah bergerak secara bertahap tanpa adanya permukaan gelincir yang jelas seperti pada longsoranya tidak ditemukan bidang gelincir yang jelas,[4] sehingga proses seperti aliran permukaan (skinflow) dan pelepasan lapisan aktif (active layer detachment) tidak termasuk di dalamnya. Solifluksi periglasier lambat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu frost creep, needle ice creep, gelifluction dan plug-like flow.[2]

Solifluksi lambat berlangsung dengan kecepatan yang jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan proses geokimia maupun beberapa proses erosi lain. Meskipun demikian, solifluksi terjadi pada wilayah yang luas, terutama di daerah pegunungan dan dataran rendah yang mengalami kondisi periglasier.[3] Karena proses ini berkaitan erat dengan suhu rendah dan kondisi lembap, keberadaan solifluksi digunakan sebagai petunjuk untuk menafsirkan kondisi iklim masa lalu.[2]

Endapan yang dihasilkan oleh solifluksi periglacial lambat umumnya berupa diamikton (diamicton), yaitu campuran sedimen dengan ukuran butir yang beragam dan perlapisan yang buruk atau bahkan tidak berlapis sama sekali. Jika perlapisan masih dapat dikenali, biasanya ditandai oleh keberadaan lapisan tanah organik yang tertimbun (paleosol). Beberapa endapan solifluksi menunjukkan pola perlapisan yang lebih jelas, berupa lapisan bergantian antara diamikton dan lapisan berpori terbuka (open-work beds). Lapisan berpori ini umumnya merupakan sisa lobus atau lembaran berbatas batu yang telah tertimbun. Salah satu ciri umum endapan solifluksi adalah orientasi fragmen batuan yang sejajar dengan arah lereng.[4]

Bentuk lahan

[sunting | sunting sumber]

Solifluksi menghasilkan bentuklahan khas berupa lobus dan lembaran solifluksi. Pada lobus solifluksi, sedimen membentuk kenampakan menyerupai lidah karena bagian tertentu bergerak lebih cepat ke arah bawah lereng.[5] Sebaliknya, pada lembaran solifluksi, sedimen bergerak relatif seragam di seluruh permukaan lereng[6]

Solifluksi ekstraterestrial

[sunting | sunting sumber]

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa proses yang menyerupai solifluksi mungkin juga terjadi di planet Mars. Kenampakan berbentuk lobus yang diamati di permukaan Mars menunjukkan banyak kesamaan dengan lobus solifluksi yang ditemukan di wilayah Svalbard di Bumi. Hal ini mengindikasikan bahwa proses serupa mungkin masih aktif atau pernah terjadi dalam beberapa juta tahun terakhir.[7][8]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Harkema, M. R.; Nijland, W.; de Jong, S. M.; Kattenborn, T.; Eichel, J. (2023-07-15). "Monitoring solifluction movement in space and time: A semi-automated high-resolution approach". Geomorphology. 433: 108727. doi:10.1016/j.geomorph.2023.108727. ISSN 0169-555X.
  2. 1 2 3 4 5 Matsuoka, Norikazu (2001-10-01). "Solifluction rates, processes and landforms: a global review". Earth-Science Reviews. 55 (1): 107–134. doi:10.1016/S0012-8252(01)00057-5. ISSN 0012-8252.
  3. 1 2 3 French, Hugh M. (2007). The periglacial environment (Edisi 3rd ed). Chichester, England ; Hoboken, NJ: John Wiley and Sons. ISBN 978-0-470-86588-0.
  4. 1 2 Bertran, Pascal; Texier, Jean-Pierre (1999-05-01). "Facies and microfacies of slope deposits". CATENA. 35 (2): 99–121. doi:10.1016/S0341-8162(98)00096-4. ISSN 0341-8162.
  5. "Earth Science World Image Bank". www.earthscienceworld.org. Diakses tanggal 2026-01-09.
  6. Sugden, David E. (1971). "The Significance of Periglacial Activity on Some Scottish Mountains". The Geographical Journal. 137 (3): 388–392. doi:10.2307/1797276. ISSN 0016-7398.
  7. Mangold, Nicolas (2005-04-01). "High latitude patterned grounds on Mars: Classification, distribution and climatic control". Icarus. Mars Polar Science III. 174 (2): 336–359. doi:10.1016/j.icarus.2004.07.030. ISSN 0019-1035.
  8. Johnsson, A.; Reiss, D.; Hauber, E.; Zanetti, M.; Hiesinger, H.; Johansson, L.; Olvmo, M. (2012-03-01). "Periglacial mass-wasting landforms on Mars suggestive of transient liquid water in the recent past: Insights from solifluction lobes on Svalbard". Icarus. 218 (1): 489–505. doi:10.1016/j.icarus.2011.12.021. ISSN 0019-1035.