Solah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Solahadalah istilah pedalangan wayang kulit purwa gagrak Surakarta yang berarti gerak. Semua gerakan wayang yang terjadi sat pertunjukan wayang kulit purwa, baik yang terdiri dari satu wayang atau lebih. Solah juga dapat menunjukkan karakter wayang yang sedang dimainkan dalang (gerakan khusus ciri khas suatu tokoh wayang). Misalnya gerak raksasa kan berbeda dengan gerak wayang kesatriya. Suatu contoh, solah (gerakan khas) tokoh Raksasa alasan (denawa Repatan) meliputi gerak sempok, nyawur, nyaut, glundung, salto, nyakot, dan lainnya. Berbeda dengan Harimau (macan/simo) yang mempunyai gerak, nubruk (menerkam), mlumpat, dan nglethak. Solah tokoh Gatutkaca selain berjalan, ulap-ulap, cancut, mlintir gumbolo (kumis), juga memiliki gerakan terbang. Wayang yang tergolong besar, seperti tokoh Bima misalnya, akan mempunyai solah yang sangat khas, bahkan tidak banyak gerak, bila gerak volume gerakannnya besar. Misalnya, apabila wayang jangkahan seperti Gatutkaca memerlukan puluhan langkah untuk berjalan pada jagadan wayang, Bima hanya perlu tiga hentakan langkah untuk berjalan dari jagadan ujung kanan hingga ke ujung kiri. Semakin besar wayangnya biasanya gerakannya semakin sedikit (minimalis) begitu pula dengan raksasa besar (buto Raton) sangat berbeda gerakannya dengan raksasa rucah.

Berdasarkan pengelompokan wayang, perbedaan solah itu akan sangat nampak, misalnya solah putren (wayang perempuan), katongan, putran, jangkahan, dugangan, bambangan, bayen, setanan, rempakan, kewanan akan berlainan. Putren sendiri solahnya bermacam-macam. Misalnya, Srikandi dengan Sembadra solahnya bertolak belakang, yang satunya gesit suka perang hampir seperti pria sedangkan yang Sembadra lebih luwes, pendiam, hati-hati, klemar-klemer. Begitu pula setanan; dari berbagai macam bentuk; pocong misalnya, solahnya akan berbeda dengan Banaspati, Genruwo, Klenting mungil dan lainnya.

Betapa sulitnya bekal yang harus dikuasai seorang dalang dalam pertunjukan wayang. Satu hal seperti solah ini saja sudah memerlukan keahlian khusus untuk menguasai karakter semua wayang yang dimainkannya, sehingga gerakan wayang satu sama lainnya akan berbeda, dan yang paling penting solah adalah ekpresi karakter tokoh wayang. Dalang diharapkan paham betul terhadap karakter setiap wayang yang dimainkannya, sehingga penjiwaan akan mampu menghidupkan wayang di atas kelir seolah punya "nyawa".

Contoh dalang yang mampu memainkan wayang dengan hidup adalah almarhum Ki Gondo Darman, dalang dari Tambakboyo, Mantingan, Ngawi.Dia sangat bisa memberikan ruh pada tokoh Semar. Semua gerakan Semar akan nampak seperti manusia.