Sindrom Serotonin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Sindrom serotonin adalah kumpulan gejala yang berpotensi mengancam jiwa akibat dari kadar serotonin yang terlalu banyak. Sindrom ini disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang bekerja di reseptor serotonin (serotonergik).[1] Serotonin (5-hidroksitriptamin atau 5-HT) adalah senyawa neurotransmiter golongan monoamin yang mengatur siklus tidur, suasana hati, sistem pernapasan, sistem pencernaan, dan nyeri.[2] Sindrom serotonin dapat terjadi pada penggunaan terapi tunggal obat serotonergik, baik dalam dosis terapi yang sesuai maupun overdosis, atau karena interaksi dua obat serotonergik yang bekerja dengan mekanisme berbeda.[1]

Beberapa obat yang memengaruhi kadar serotonin adalah antidepresan, antipsikotik, analgesik, sedatif, antimigrain, dan antimuntah. Dari beberapa jenis obat tersebut, obat yang diketahui menyebabkan sindrom serotonin meliputi golongan prekursor serotonin, obat yang bekerja dengan cara memengaruhi pelepasan serotonin, agonis serotonin, penghambat monoamin oksidase, dan obat yang bekerja dengan cara menghambat pengambilan kembali (reuptake) serotonin. Beberapa senyawa kimia, seperti buspiron, litium, dan asam amino triptofan juga dapat menyebabkan sindrom serotonin. Triptofan biasanya ditemukan di susu, yogurt, keju, kacang, daging merah, cokelat, telur, dan biji bunga matahari.[2]

Sindrom serotonin sering terjadi pada orang yang baru pertama kali meminum obat yang meningkatkan senyawa serotonin. Gejala dan keparahan yang terjadi pada setiap orang bisa berbeda. Gejala biasanya muncul dalam 24 jam pertama setelah kadar serotonin di darah meningkat karena penggunaan obat yang telah disebutkan. Seseorang dikatakan mengalami sindrom serotonin jika mengalami 3 gejala, meliputi gangguan kesadaran, gangguan neuromuskular, dan hiperaktivitas otonom, seperti hipertensi dan jantung yang berdebar-debar. Pada kasus ringan, gejala yang paling sering muncul adalah hipertensi ringan, denyut jantung meningkat, gemetaran, hiperefleks, keringat berlebihan, sentakan otot (mioklonus), dan pelebaran pupil. Pasien bergejala sedang biasanya merasakan gejala-gejala tersebut dan disertai kondisi hipertermia (40 0C), peningkatan bunyi usus, agitasi, dan sentakan bola mata (klonus okular). Kasus berat biasanya menyertakan sebagian besar gejala di atas dan hipertermia yang lebih berat (41,1 0C), perubahan drastis pada denyut jantung dan tekanan darah, penurunan kesadaran berupa delirium, dan kekakuan otot (rigiditas). Beberapa kasus dapat berujung pada komplikasi seperti kejang, mioglobinuria, rabdomiolisis, asidosis metabolik, gagal ginjal, sindrom distres pernapasan, pembekuan darah intravaskular, gagal napas, koma, bahkan kematian.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Volpi-Abadie, Jacqueline; Kaye, Adam M.; Kaye, Alan David (2013). "Serotonin Syndrome". The Ochsner Journal. 13 (4): 533–540. ISSN 1524-5012. PMC 3865832alt=Dapat diakses gratis. PMID 24358002. 
  2. ^ a b Buckley, N. A.; Dawson, A. H.; Isbister, G. K. (2014-02-19). "Serotonin syndrome". BMJ (dalam bahasa Inggris). 348 (feb19 6): g1626–g1626. doi:10.1136/bmj.g1626. ISSN 1756-1833.