Sindrom Savant

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sindrom savant adalah kondisi seseorang yang mampu memperlihatkan kapasitas yang ajaib dan mendalam atau kemampuan yang jauh melebihi batas normal. Manusia dengan sindrom savant bisa jadi memiliki kelainan dalam perkembangan saraf, terutama gangguan spektrum autisme, atau bahkan cedera pada otak. Contoh paling dramatis dari sindrom savant adalah individu yang angka tes IQ nya sangat rendah, tetapi memperlihatkan keahlian istimewa dan brilian dalam area tertentu, misalnya hitung cepat, seni, mengingat, atau musik. Meskipun dinamai "sindrom", sindrom savant tidak digolongkan sebuah kelainan mental dalam buku petunjuk medis seperti ICD-10 atau DSM-V.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Terminologi[sunting | sunting sumber]

Istilah idiot savant (bahasa Prancis untuk "idiot terpelajar") pertama kali digunakan untuk menggambarkan kondisi yang ada pada pengidap sindrom savant pada tahun 1887 oleh John Langdon Down,[2] yang terkenal karena penelitiannya mengenai sindrom Down. Istilah idiot savant (idiot terpelajar) kemudian dianggap keliru karena tidak semua kasus yang dilaporkan dari sindrom savant sesuai dengan definisi idiot. Hal ini disebabkan karena penyebutan istilah tersebut awalnya digunakan hanya untuk orang dengan cacat intelektual yang sangat parah. Istilah autis savant juga digunakan sebagai deskripsi gangguan tersebut. Seperti idiot savant, istilah itu kemudian dianggap keliru karena hanya setengah dari para pengidap sindrom savant yang didiagnosis adalah mereka yang terbukti autis. Setelah menyadari perlunya akurasi diagnosis dan upaya untuk tidak melecehkan individu yang mengidap sindrom ini, akhirnya istilah sindrom savant menjadi istilah yang diterima secara luas.[3][4] Oleh karena itu, para pengidap sindrom savant tidak selalu adalah mereka yang mengidap autisme, dan tidak semua orang yang mengidap autisme adalah pengidap sindrom savant.[5]

Tanda dan gejala[sunting | sunting sumber]

Keterampilan dari pengidap sindrom savant biasanya ditemukan dalam berbagai bidang, seperti seni, memori, aritmatika, kemampuan musik, dan keterampilan spasial.[3] Jenis keahlian yang paling umum dari para pengidap sindrom ini adalah keahlian perhitungan kalender.[6][7] Mereka disebut "kalender manusia" karena dapat menghitung hari dalam seminggu untuk tanggal tertentu dengan kecepatan dan akurasi yang tinggi, atau mengingat kenangan pribadi pada tanggal tertentu. Memori tingkat lanjut adalah kunci dari "kekuatan super" dalam kemampuan cerdas yang para pengidap sindrom ini miliki.

Sekitar setengah dari pada pengidap sindrom ini adalah autis. Sedangkan separuh lainnya merupakan mereka yang sering mengalami cedera atau memiliki penyakit pada sistem saraf pusat.[3] Diperkirakan bahwa hingga 10% dari mereka yang mengidap autisme juga mengidap sindrom savant.[3][8][9]

Kemampuan perhitungan hari[sunting | sunting sumber]

Seorang pengidap sindrom savant kaledrikal biasanya merupakan seseorang yang memiliki keahlian dalam menyebutkan tanggal suatu hari dalam seminggu atau bahkan sebaliknya, pada rentang dekade atau milenium tertentu.[7][10] Pada umumnya, seseorang yang unggul dalam melakukan perhitungan kalender dianggap langka karena disebabkan kurangnya motivasi untuk mengembangkan keterampilan seperti itu pada kalangan umum, meskipun banyak matematikawan telah mengembangkan formula yang memungkinkan seseorang dapat memperoleh keterampilan tersebut.[10] Meski begitu, di sisi lain, mereka yang mengidap sindrom savant kalendrikal memiliki kecenderungan untuk tidak tertarik pada keterampilan yang berkaitan dengan unsur sosial kemasyarakatan.[11]

Epidemiologi[sunting | sunting sumber]

Tidak ada statistik yang pasti secara objektif tentang berapa banyak orang yang mengidap sindrom savant. Pengidap sindrom ini pada umumnya "sangat jarang"[4] karena mereka pada umumnya hanya ditemui pada satu orang dari sepuluh orang yang mengidap autisme di mana mereka memiliki keterampilan cerdas dalam berbagai level.[3] Sebuah penelitian di Inggris tahun 2009 yang meneliti 137 orang tua dari anak-anak yang mengidap autisme menemukan bahwa 28% orang tua tersebut percaya bahwa anak-anak mereka memenuhi kriteria sebagai pengidap sindrom savant. Mereka menganggapnya begitu karena anak mereka dianggap memiliki keterampilan atau kekuatan "yang tidak biasa, bahkan untuk orang normal".[12] Sebanyak 50 kasus sindrom savant kemudian secara mendadak telah dilaporkan.[13][14]

Di Finlandia, laki-laki dengan sindrom savant melebihi jumlah para pengidap perempuan dengan kira-kira dengan perbandingan 6:1,[15] sedikit lebih tinggi dari disparitas rasio jenis kelamin untuk gangguan spektrum autisme sebesar 4,3:1.[16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Wahlsten, Douglas (2019-03-14). Genes, Brain Function, and Behavior: What Genes Do, How They Malfunction, and Ways to Repair Damage (dalam bahasa Inggris). Academic Press. hlm. 197. ISBN 978-0-12-812833-6. 
  2. ^ Demetre, D. C. (2011-03-29). "What is Savant Syndrome?". sciencebeta.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-03-29. 
  3. ^ a b c d e Treffert, Darold A. (2009-05-27). "The savant syndrome: an extraordinary condition. A synopsis: past, present, future". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 364 (1522): 1351–1357. doi:10.1098/rstb.2008.0326. ISSN 0962-8436. PMC 2677584alt=Dapat diakses gratis. PMID 19528017. 
  4. ^ a b "Savant Syndrome". web.archive.org. 2012-10-25. Archived from the original on 2012-10-25. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  5. ^ "Savant Syndrom". SSM Health Treffert Center. Diakses tanggal 29 Maret 2022. 
  6. ^ Cowan, Richard; Frith, Chris (2009-05-27). "Do calendrical savants use calculation to answer date questions? A functional magnetic resonance imaging study". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 364 (1522): 1417–1424. doi:10.1098/rstb.2008.0323. ISSN 0962-8436. PMC 2677581alt=Dapat diakses gratis. PMID 19528025. 
  7. ^ a b Kennedy, Daniel P.; Squire, Larry R. (2007-8). "An analysis of calendar performance in two autistic calendar savants". Learning & Memory. 14 (8): 533–538. doi:10.1101/lm.653607. ISSN 1072-0502. PMC 1951792alt=Dapat diakses gratis. PMID 17686947. 
  8. ^ "The Autistic Savant - Wisconsin Medical Society". web.archive.org. 2019-07-13. Archived from the original on 2019-07-13. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  9. ^ "12 Incredible Savant Syndrome Statistics - HRF". web.archive.org. 2020-09-25. Archived from the original on 2020-09-25. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  10. ^ a b "Calendrical savants: Exceptionality and practice - UCL Discovery". web.archive.org. 2021-08-29. Archived from the original on 2021-08-29. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  11. ^ Cowan, Richard; Frith, Chris (2009-05-27). "Do calendrical savants use calculation to answer date questions? A functional magnetic resonance imaging study". Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences. 364 (1522): 1417–1424. doi:10.1098/rstb.2008.0323. ISSN 0962-8436. PMC 2677581alt=Dapat diakses gratis. PMID 19528025. 
  12. ^ "The link between autism and extraordinary ability | Genius locus | The Economist". web.archive.org. 2009-04-19. Archived from the original on 2009-04-19. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  13. ^ "Monica Yant Kinney: An artist is born after car crash - Page 2 - Phil…". archive.ph. 2013-01-31. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  14. ^ "'A ski accident left me with advanced mental abilities': US woman tells her extraordinary story". web.archive.org. 2020-09-25. Archived from the original on 2020-09-25. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  15. ^ Extraordinary people – What makes them tick (PDF). Sydney: University of Sydney. 1999. hlm. 18–20. Archived from the original on 2020-09-25. Diakses tanggal 2022-03-29. 
  16. ^ Newschaffer, Craig J.; Croen, Lisa A.; Daniels, Julie; Giarelli, Ellen; Grether, Judith K.; Levy, Susan E.; Mandell, David S.; Miller, Lisa A.; Pinto-Martin, Jennifer (2007-04-01). "The Epidemiology of Autism Spectrum Disorders". Annual Review of Public Health. 28 (1): 235–258. doi:10.1146/annurev.publhealth.28.021406.144007. ISSN 0163-7525.