Sidamulya, Jalaksana, Kuningan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sidamulya
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenKuningan
KecamatanJalaksana
Kodepos
45554
Kode Kemendagri32.08.12.2002 Edit the value on Wikidata
Luas-
Jumlah penduduk-
Kepadatan-

Sidamulya adalah desa di kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.

Sejarah Desa Sidamulya[sunting | sunting sumber]

Sebelum menjadi nama Sidamulya seperti sekarang ini, dulu bernama desa Tegaljugul. Nama Tegaljugul berasal dari 2 kata yaitu “Tegal” = Lapangan Luas dan “Jugul” = Utusan…yaitu utusan yang dikirim dari masing-masing desa di wilayah kawasaan Kerajaan Pajajaran untuk mengantar Puteri Dyah Pitaloka yang akan dinikahkan kepada Hayam Wuruk, yaitu Raja Majapahit. Tetapi pada saat itu terjadi Perang Bubat, dan pada saat selesai purang bubat Jugul dari wilayah desa kami bisa pulang dengan selamat. Maka untuk memperingati kejadian tersebut oleh sesepuh desa menamakan desa tersebut dengan nama “Tegaljugul”.

Semua ceritera tersebut di atas berdasarkan ceritera turun temurun dari para sesepuh desa dan belum ada penelitian secara ilmiah. Di dalam perjalanannya nama Desa Tegaljugul berdasarkan hasil musyawarah sesepuh desa diubahlah namanya menjadi Desa Sidamulya sampai sekarang.

Nama Desa Sidamulya terdiri dari dua suku kata berasal dari bahasa Jawa yaitu “Sida = menjadi” dan “Mulya = mulia” jadi desa Sidamulya mengandung pengertian desa yang ingin menjadi mulia diberbagai hal. Nama Desa Sidamulya terus bertahan sampai sekarang ini. Sidamulya adalah sebuah desa kecil di lembah gunung Ciremai yang masuk dalam wilayah kecamatan Jalaksana. Desa Sidamulya sangat terkenal dengan hasil pertanian seperti Bawang Merah, Ubi Jalar, Tomat, Bawang Daun, Saledri, Buncis dan lain-lain. Selain hasil pertanian juga terkenal dengan hasil galian C diantaranya: Batu Pecah dan Pasir. Hampir seluruh wilayah Kabupaten Kuningan, Cirebon, Brebes, Majalengka menggunakan batu pecah dan pasir dari Desa Sidamulya untuk keperluan membangun, sebut saja pembangunan Waduk Darma, Dermaga Pelabuhan Cirebon, Tol Kanci dan lain-lain. Hal itu terjadi karena batu pecah dan pasir dari Desa Sidamulya memiliki kualitas bagus dengan nilai abrasi kecil karena berasal dari letusan Gunung Ciremai beberapa puluh tahun yang lalu.

Desa Sidamulya / Tegaljugul merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah desa lainnya yang tergabung dalam kecamatan Jalaksana dimasa awal (sebelum adanya pemekaran desa dan pemekaran kecamatan). Awal berdirinya kecamatan Jalaksana terdiri dari 21 Desa, dimana masing-masing desa dipimpin oleh seorang anak dari keturunan Kuwu Jalaksana dengan sebutan Buyut. Jadi Sesepuh Jalaksana memiliki 21 buyut yang kemudian diberi wilayah desa dan diberi tugas memimpin desa tersebut. 21 buyut tersebut terkenal dengan sebutan "Buyut Salikur", dimana Buyut yang memimpin desa Tegaljugul adalah Buyut Bodas, disebut Buyut Bodas karena kulit dan rambuntya putih, kalau sekarang dikenal dengan sebutan "Albino". Untuk sejarah lengkapnya bisa dilihat dalam sejarah Desa Jalaksana.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Wilayah desa Sidamulya meliputi Sawah di sebelah Timur dan Selatan, Kebun di sebelah Utara dan Barat. Perbatasan desa Sidamulya adalah:

Terletak pada ketinggian 645 m DPL

Sistem Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Desa Sidamulya merupakan pemerintahan Desa yang berada dalam wilayah Kecamatan Jalaksana. Dipimpin oleh seorang Kepala Desa / Kuwu yang merupakan hasil dari pemilihan langsung oleh warga desa dan dibantu oleh Pamong Desa lainnya

Untuk tingkat pemerintahan terendah Desa Sidamulya terdiri dari 5 RK / RW dan 10 RT antara lain:

Dusun I :

RK I terdiri dari RT 1 dan RT 2

RK II terdiri dari RT 3 dan RT 4

Dusun II:

RK III terdiri dari RT 5 dan RT 6

RK IV terdiri dari RT 7 dan RT 8

RK V terdiri dari RT 9 dan RT 10

1. Sejarah Pemerintahan Desa[sunting | sunting sumber]

Bapak Buyut Bodas dikenal sebagai Pupuhu Desa Tegaljugul, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Sejarah Kecamatan Jalaksana pada umumnya. Ceritera yang beredar di kalangan sesepuh bahwa Buyut Bodas merupakan anak bungsu dari 21 bersaudara anak sesepuh desa jalaksana, nama panggilan anak2 tersebut adalah Buyut, dan ke 21 Buyut tersebut dikenal dengan sebutan Buyut Salikur (makam peninggalan ada di Astana Gede). Namun ceritera ini hanya jadi legenda dikarenakan tidak terdokumentasi secara tertulis dalam masing-masing sejarah desa. Desa Tegaljugul / Sidamulya dari zaman dahulu sampai sekarang sudah beberapa kali mengalami pergantian kepala desa. Buyut Bodas / Suradijaya (Pupuhu Desa Tegaljugul), yang kemudian dilanjutkan tapuk kepemimpinan desa dengan jabatan Kuwu / Kepala Desa sebagai berikut :

  1. Kuwu Kidam Mertadiprana (Alm).... s/d 1803, awal pengangkatan tidak terdokumentasi
  2. Kuwu Tinjom Mertadiprana (Alm)1803 s/d 1852 Menjabat 5 periode
  3. Kuwu Mardi (Alm) 1852 s/d 1891 Menjabat 4 periode
  4. Kuwu Kasim (Alm) 1891 s/d 1896 Menjabat 1 periode
  5. Kuwu Arja Perwata (Alm) 1896 s/d 1923 Menjabat 3 periode
  6. Kuwu Rahman (Alm) 1923 s/d 1937 Menjabat 1 periode
  7. Kuwu Sastra Perwata (Alm) 1937 s/d 1957 Menjabat 2 periode
  8. Kuwu Maskar (Alm) 1957 s/d 1968 Menjabat 1 periode
  9. Kuwu Upen Suparno (Alm) 1968 s/d 1999 Menjabat 2 periode
  10. Kuwu Sarkim Yudi Santosa 1999 s/d 2007 Menjabat 1 periode
  11. Kuwu Jaiman (Alm) 2007 s/d 2013 07-07-2012 meninggal dunia
  12. Kuwu Kendi 2013 s/d 2019 menjabat 1 periode TMT 27-12-2013
  13. Kuwu Omon (Elmondes Omon)(Kuwu Ngadeg)

(Update 2 November 2021, kintunan ti Kasepuhan Bp. H. Djadja Sudradjat, sumber Bale Desa Sidamulya... Hatur nuhun)

2. Motto Desa Sidamulya[sunting | sunting sumber]

Kita selalu ingat semboyan Bung Karno "JASMERAH" (jangan sampai melupakan sejarah), itulah yang mendorong semua warga desa Sidamulya untuk tetap mengingat nama "Tegaljugul". Demi tetap mengingat sejarah terbentuknya desa Sidamulya, maka Motto desa saat ini adalah :

"TEGALJUGUL PINUNJUL - SIDAMULYA WALUYA"

Merupakan Motto yang menyemangati pemimpin desa beserta seluruh perangkat desa Sidamulya juga kepada seluruh masyarakat Sidamulya, bahwa desa Tegaljugul yang sudah menorehkan sejarah unggul dalam setiap aspek menjadi semangat untuk mengembangkan Desa Sidamulya, sehingga seluruh masyaraktnya akan WALUYA (mulus, rahayu, berkah, salamet).

(Bagi para kontributor yang ingin melengkapi silahkan kirim melalui WA Group Tegaljugul. Hatur nuhuh)

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mesjid Desa Sidamulya dan Alun-alun Desa Sidamulya

1. Pertanian[sunting | sunting sumber]

Sebagai daerah pusat pertanian, maka mata pencaharian utama warga Desa adalah bertani, bercocok tanam dan berdagang hasil pertanian. Wilayah pemasaran hasil tani meliputi Pasar Kurucuk, Pasar Cilimus, Pasar Kuningan, Pasar Luragung, Pasar Cirebon, Pasar Karawang, Pasar Tambun (Bekasi). Hasil pertanian unggulan dari Desa Sidamulya antara lain:

  • Bawang Merah: menjadi hasil tani unggulan karena hasilnya bagus dan sangat cocok sekali untuk bawang goreng. Bahkan bawang gorengnya sampai menembus pasar singapura dan malaysia.
  • Bawang Daun : orang Sidamulya biasa menyebut oncang, merupakan salah satu bumbu yang sangat dibutuhkan untuk berbagai masakan seperti : Martabak telor, Sop, Soto, Baso, Nasi Goreng dll.
  • Ubi Jalar (Boled): selain dikonsumsi dalam bentuk ubi rebus dan ubi goreng, Ubi Jalar hasil dari Sidamulya juga menjadi bahan baku utama pembuatan Saus. Bahkan ada wacana dr kang Dede Yusuf akan dijadikan bahan baku pembuatan Mie Instant.
  • Ketela Pohon (Sampeu) : bahan untuk tepung, keripik, gaplek, opak beca, kerupuk sampeu, dll.
  • Hui
  • Kacang Buncis
  • Kacang Panjang
  • Tomat
  • Cesim (Sosin)
  • Padi
  • Cabe Rawit / Sabrang / Cengek
  • Cabe Keriting
  • Cabe Hejo
  • Jagung : Jagung Manis, Baby Corn
  • Hiris
  • Kentang

Desa Sidamulya juga penghasil buah-buahan yang cukup banyak diantaranya:

  • Buah Pisang (Ambon, Raja, Kepok, Muli, Tanduk (Gebray), Hujung, Mas)
  • Buah Kelapa
  • Buah Salam
  • Buah Mengkudu
  • Buah Jambu
  • Buah Alpukat
  • Cengkeh
  • Tembakau

2. Peternakan[sunting | sunting sumber]

Pendudukan Desa Sidamulya, selain bercocok tanam juga memiliki mata pencaharian sebagai peternak. Di antara binatang peliharaan yang dimiliki penduduk baik skala rumahan (perorangan), maupun sekala besar diantaranya: Ternak Ayam Kampung, Ternak Ayam Petelur, Ternak Domba, Ternak Sapi Pedaging. Pada saat menjelang lebaran Iedul Fitri maupun Iedul Adha para peternak ini menjual hasil ternaknya dengan harga bagus dikarenakan permintaan pasar yang meningkat.

3. Mata Pencaharian Sampingan[sunting | sunting sumber]

Sedangkan mata pencaharian sampingan antara lain: Tukang Bangunan, Tukang Ojeg, Tukang Pecah Batu, Penggali Pasir, Tukang Nanggung (Pikul) Sayuran.

Sebagai Tukang Bangunan, selain membangun di desa sendiri, juga sudah terkenal ke luar daerah. Bahkan pada zaman dahulu penyelesaian Waduk Darma juga berkat partisipasi dari tukang bangunan dari Tegaljugul / Sidamulya.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Masing-masing daerah memiliki kebudayaan atau ciri khas yang mungkin saja tidak dimiliki oleh daerah lain. Kebudayaan tersebut akan menjadi ciri tersendiri dan jatidiri bagi suatu daerah, sehingga menjadi kebanggaan bagi daerah yang bersangkutan. Begitu juga desa Tegaljugul memiliki ciri khas budaya tersendiri, diantara kebudayaan yang ada diantaranya :

  1. Babalang
  2. Kesenian
  3. Gotong-Royong
  4. Budaya Antri
  5. Kaulinan
  6. Tatanen

1. Babalang[sunting | sunting sumber]

Babalang adalah suatu tradisi atau kebudayaan yang hidup dan berkembang di Desa Tegaljugul dari zaman dahulu sampai sekarang. Babalang adalah suatu kegiatan membantu / ikut serta menyumbangkan tenaga sesuai dengan keahlian masing-masing pada acara hajatan (khitanan, pengantin dll), kegiatan membangun/memperbaiki rumah.

Bagi seorang ibu yang pandai memasak, maka ia akan babalang di dapur membantu koki yang sudah ditunjuk untuk menyediakan makanan dalam acara hajatan. Sedangkan ibu-ibu yang lainnya akan membagi tugas masing-masing sesuai dengan kabisanya, sehingga terbagi menjadi beberapa kelompok yang satu sama lainnya saling berkaitan dan saling menunjang.

Sementara Bapak-bapak akan mengerjakan pekerjaan lain yang sifatnya lebih berat dan membutuhkan tenaga yang besar seperti membuat panggung, membuat hawu salome, membelah kayu bakar, ngabedahkeun balong, menyiapkan air bersih dan lain-lain. Tradisi babalang ini mengandung makna yang sangat positif karena merupakan bentuk lain dari gotong-royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

2. Kesenian[sunting | sunting sumber]

Kesenian yang ada di Desa Sidamulya / Tegaljugul relatif beragam rupa dan bentuknya, namun sayangnya yang masih bertahan hingga kini hanya tinggal sedikit lagi. Saat ini banyak kesenian yang punah karena dikalahkan oleh kesenian modern seperti HP, Game Online, PS, Permainan Dinding, Film DVD, Kartun di TV dan masih banyak lagi. Diantara kesenian khas Tegaljugul adalah:

  1. Pencak Silat: Seni Pencak Silat merupakan seni unggulan di desa Tegaljugul, pada masa dipimpin oleh kasepuhan Bapak Imong Mintarja (Alm) nama kelompoknya adalah Sirung Karuhun, merupakan salah satu kelompok Pencak Silat yang diperhitungkan di Kabupaten Kuningan dalam setiap kompetisi. Kini namanya berubah menjadi Putera Ciremai, karena terlambat mendaftarkan nama SIrung Karuhun ke Dinas Kebudayaan yang ternyata sudah dipakai kelompok lain. Dahulu pencak silat seperti pohon hidup enggan mati tak mau, dikatakan punah tetapi masih ada tetapi aktivitasnya tidak kelihatan. Seni Pencak Silat pernah mencapai puncak prestasi pada zaman almarhum Pak Kumis / Pa Imong / Pa Mintarja (alm) yaitu orang tua Abah Udi yang kini menjadi pewaris Putera Ciremai. Seni Pencak Silat sebaiknya dimasukan dalam kurikulum bermuatan daerah mulai dari Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi agar tidak punah seperti kesenian lainnya. Kini alhamdulillah, berkat semangat para sesepuh di antara Abah Udi, Abah Amin dan sesepuh lainnya, Pencak Silat Putera Ciremai telah membuktikan prestasinya yang luar biasa di beberapa perlombaan hingga menjadi juara.
  2. Wayang Golek: kesenian ini merupakan kesenian unggulan dari Desa Tegaljugul yang pertama kali diperkenalkan oleh almarhum Bapak Guru. Generasi penerus wayang golek ini ada dua yaitu Dalang Sukra dan Dalang Raskam, yang pernah ke Sumedang hanya Pak Dalang Sukra. Hanya sayangnya setelah Bapak Dalang Sukra Muda meninggal tidak ada lagi yang bisa melanjutkan.
  3. Calung: Seni calung sekarang tinggal namanya, tidak ada yang meneruskan sejak ketua kelompok calungnya Mang Kudil meninggal. Hilangnya penerus Calung terkait dengan sudah tidak ada yang mau mementaskan dalam acara hajatan, perayaan maupun kegiatan Agustus. Seni calung ini bagusnya dimasukkan ke dalam kurikulum bermuatan lokal di Sekolah Dasar.
  4. Rudat / Genjring: adalah seni bela diri yang dikolaborasikan dengan seni genjring. Kesenian ini sekarang sudah punah, tidak ada generasi penerus yang melanjutkan. Sebenarnya kalau Rudat saya hanya tahu namanya saja, tapi kalau Genjring saya masih melihat kesenian ini waktu masih kecil. Seni genjring biasanya selalu dimainkan saat bulan puasa, baik saat bermain pasosore saat ngabuburit maupun saat bangun saur. Seni genjring yang sekarang ada di masjid atau tajug hanya diaktifkan setahun sekali pada saat bulan puasa, sedangkat rudatnya sudah tidak ada.
  5. Gembyung: suatu kesenian yang berhubungan dengan kegiatan muludan, dahulu ketika saya masih kecil kesenian gembyung diadakan di masjid. Peralatan gembyung itu berbentuk hampir seperti genjring tapi lebih besar, dimainkan oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat sambil membacakan barjanji. Seni gembyung kini sudah punah tinggal namanya saja.
  6. Reog: Sekarang seni reog tinggal sebuah nama, tidak ada generasi penerus. Terkadang meski ada mantan pemain reog yang masih ada, namun karena jarang dianggap akhirnya ditinggalkan.

3. Gotong-Royong[sunting | sunting sumber]

Gotong-Royong : kegiatan ini sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang terkenal dengan jiwa kebersamaan. Kegiatan gotong-royong di desa Tegaljugul lebih kental dan merambah berbagai kegiatan baik bersifat kepentingan individu (membuat rumah, ngajahul, membuat kolam, dll), maupun kepentingan bersama (membangun mesjid, sekolah, mushala, pos ronda dan lain-lain).

4. Budaya Antri[sunting | sunting sumber]

Budaya Antri, salah satu budaya yang mencerminkan jiwa orang Tegaljugul yaitu  mau ANTRI, Budaya ANTRI ini sangat terlihat terutama dalam hal : pembagian jatah air untuk nyiram tanaman (ngaboyor) saat musim kemarau (halodo) dikarenakan air tidak mencukupi maka untuk menyiram tanaman digilir untuk masing-masing desa mendapat jatah 1 hari dan desa lain tidak boleh mengganggu,  pembagian giliran mengantar penumpang (ojeg), pembayaran rekening listrik. dan lain-lain.

5. Kaulinan[sunting | sunting sumber]

Permainan anak-anak saat ini telah tergeser oleh kemajuan zaman dan kemajuan Teknologi. Dulu, anak-anak biasa Tajong / Maenbal di lapangan sekarang bisa bermain bola di PS, tidak kehujanan, tidak kena debu, tapi anak laki-laki menjadi malas. Semasa kanak-kanak permainan yang biasanya ditampilkan untuk anak-anak adalah:

  1. Boy-boyan (ucing-ucingan / ucing sumput kata orang Bandung)
  2. Eleng-elengan :
  3. Jajangkungan : egrang
  4. Maen Pinci : main kelereng
  5. Bebeletokan : Senjata perang-perangan dari bambu, pelurunya buah salam mentah, boled bisa juga koran yang dikasih air.
  6. Momobilan tina awi/kulit jeruk :
  7. Jiglong :
  8. Pawey Obor :
  9. Dorji :
  10. Kasti :
  11. Tajong :
  12. Kukudaan tina palapah Cau:
  13. Damdaman :
  14. Congklak :
  15. Bebeslakan (katapel) :
  16. Tatarucingan :
  17. Peperangan :
  18. Dadagangan (anjang-anjangan):
  19. Tok Lele (ti Linda) :
  20. Susumpitan (ti Dabon) :
  21. Adu Karet (ti Dabon) :
  22. Adu Gambar (ti Dabon) :
  23. Sosorodotan : biasanya di atas batu besar (kalau pulang suka dimarahin karena celana belakang sobek)
  24. Ban-banan : menggunakan ban motor bekas diputar menggunakan bambu atau kayu sambil menirukan suara motor ngeng…ngeng…ngeng…

6. Tatanen[sunting | sunting sumber]

Tatanen merupakan budaya orang Tegaljugul untuk menanam tanaman baik di sawah maupun di darat. Tatanen ini merupakan mata pencaharian utama warga desa Tegaljugul, dari hasil Tani inilah mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kegiatan Tatanen tersebut ada sebuah tradisi yang disebut MUPUHUNAN, tentang Mupuhunan ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

MUPUHUAN

BAGI petani di Desa Tegaljugul khususnya dan beberapa daerah wilayah Kabupaten Kuningan, memiliki kebiasaan yang jarang dilakukan oleh petani di daerah lain pada saat musim tanam baik itu menanam bawang, padi, boled, dan semua proses tanam-menanam. Kebiasaan tersebut dikenal dengan istilah Mupuhunan.

Menurut Bapak Sardi (Alm), Mupuhuan sebenarnya asal katanya adalah Mupuhu-an berasal dari kata puhu (awal, ujung paling besar), bila diterjemahkan secara bebas Mupuhunan bisa diartikan mengawali kegiatan menanam (tandur;-Sunda) baik nanam padi, bawang, kacang, boled dan lain-lain. Karena kesulitan mengucapkan maka kata Mupuhuan terpeleset menjadi Mupuhunan. Kebiasaan seperti ini, sebenaranya merupakan warisan leluhur yang sudah jarang dilakukan oleh umumnya petani di desa Tegaljugul maupun di Kabupaten Kuningan.

Bapak Sardi sendiri, masih melaksanakan kebiasaan itu karena merasa terdorong untuk melestarikan tradisi leluhurnya yang dianggap mengandung nilai-nilai filosopi di dalam tradisi Mupuhunan tersebut. Memang, ada beberapa makna dalam tradisi ini, satu diantaranya mengajarkan petani agar tertib ketika mengawali proses menanam.

Pada saat melaksanakan tradisi Mupuhunan, yang petama kali dilakukan oleh petani yakni mengambil segenggam bibit padi dari lokasi persemaian. Selanjutnya bibit padi itu disemprot air melalui mulut petani sebanyak tiga kali. Setelah itu padi dibuat menjadi tiga sampai tujuh bagian. Menanam padi pertama yang dilakukan petani Desa tegaljugul tidak sembarangan, tapi terlebih dahulu petani membaca do’a seperti membaca lafadz bismillah, syahadat dan sholawat dengan tujuan agar padi yang ditanam itu hasilnya menggembirakan.

Selain berdo’a, lanjut biasanya petani pun membaca mantra dengan menggunakan bahasa Sunda yang antara lain berbunyi, Seja titip ka nu kagungan bumi, nu kagungan poe tujuh, sim abdi putuna Sang Kuwu Cirebon Girang seja melak Nyi. Pohaci, nyaeta akarna kawat, tangkalna beusi, daunna waja.

Boh bilih aya nu ngaganggu ti sisi ti gigir, neda pangjagakeun, pangraksakeun, siang sinareng wengina. Margi upami ieu pepelakan aya nu ngagunasika, tangtos Susuhunan Pangeran Cirebon bendu.

Usai membaca do’a dan mantra, bibit padi yang sudah dibagi tiga sampai tujuh bagian itu mulai ditanam di sawah. Setelah mupuhun selesai, baru bibit padi secara keseluruhan di tanam di sawah sesuai luasnya lahan tersebut.

Kebiasaan petani di Desa Tegaljugul, sebenarnya tidak saja sebatas mupuhunan, tapi ada tradisi disebut nyawen, yakni melaksanakan ritual saat padi tumbuh besar. Begitu pula tradisi saat panen atau mengangkut padi dari sawah. Tapi sekarang tradisi Mupuhunan sudah jarang dilakukan orang.

7. Makanan Tradisional[sunting | sunting sumber]

Desa Sidamulya selain menghasilkan Sayuran dan buah-buahan yang terkenal, memiliki juga makanan khas yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi yang datang dari kota. Makanan khas tersebut diproduksi menggunakan alat sederhana dengan cita rasa yang luar biasa. Meskipun ada beberapa makanan yang kini tinggal nama dikarenakan pembuatnmya sudah meninggal dunia dan tidak ada penerusnya. Legenda makanan tradisonal antara lain : Bu Sami (alm) dan masih banyak lagi yang sudah lupa namanya. Makanan khas antara lain :

  1. Ampyang
  2. Cuhcur
  3. Opak deang
  4. Opak goreng
  5. Opak Beca
  6. Wajit waluh
  7. Wajit ketan
  8. Jalabria
  9. Papais Enten
  10. Papais Gojod
  11. Pia-pia
  12. Gemet
  13. Ronge-ronge
  14. Raginang
  15. Dedeblag
  16. Ulen
  17. Kupat
  18. Leupeut
  19. Tangtang Angin
  20. Sagon Tipung
  21. Sorabi
  22. Goreng Dage
  23. Salundreng
  24. Kiripik Sampeu
  25. Kiripik Gadung
  26. Sayur Asin
  27. Jampang ngora dicoel kana sambel badag
  28. Makanan Legenda (Goreng Kasir, Goreng Lege, Goreng Gaang, Goreng Keuyeup, Cangkilung)

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Untuk mencapai Desa Sidamulya sangat mudah, dikarenakan banyaknya transportasi yang bisa dipergunakan. Apabila menggunakan kendaraan pribadi bisa dijangkau dari Alun-alun Desa Jalaksana kurang lebih 2 KM (2.000 meter) ke arah Barat. Meskipun jalan menanjak namun sudah dihotmix dan sangat nyaman. Segarnya udara pegunungan akan sangat terasa sepanjang perjalanan. Hanya memerlukan waktu 10 menit saja sudah sampai di Alun-alun desa Sidamulya.

Apabila menggunakan kendaraan umum tinggal turun di Alun-alun Jalaksana dan melanjutkan dengan naik ojeg yang banyak menunggu di pangkalan ojeg alun-alun Jalaksana.

Pada saat arus mudik maupun arus balik lebaran Iedul Fitri, Desa Sidamulya merupakan salah satu desa yang dilalui jalur alternatif jurusan Cirebon - Ciamis atau sebaliknya.

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Desa Sidamulya sendiri memiliki wisata alam yang sangat bagus diantaranya: Mungkal Bodas, Blok Bunut, Muhara, Pereng, Kebon Poek, Cinangsi, Batu Gede, Wisata Agro dan "Setu Tegaljugul" yang terletak di pereng.

Dari Sidamulya juga mudah sekali untuk mengakses tempat rekreasi lainnya seperti: Lembah Gunung Ciremai, Pemandian Cibulan, Lembah Cilengkrang, Sidomba, Balong Dalem dan lain-lain.

Setu Tegaljugul[sunting | sunting sumber]

Tempat Mandi, Mancing dan ngabuburit
Setu Tegaljugul yang indah dan sejuk

Tahun 2016 merupakan babak baru kemajuan pertanian di Desa Sidamulya karena mulai beroperasinya Setu Tegaljugul yang terletak di sebelah selatan Desa Sidamulya tepatnya di daerah sawah kidul (pereng). Setu yang merupakan embung air ini memiliki fungsi ganda, selain sebagai cadangan air di musim kemarau untuk mengairi wilayah sawah bugang dan cikuya, juga sebagai wahaya rekreasi murah bagi penduduk desa. Bahkan menjelang lebaran setu tersebut dibedahkeun dan penduduk desa diperbolehkan untuk mengambil ikannya.

(Editor: Rastono, Web: [1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • (Indonesia) [2]