Lompat ke isi

Shams Tabrizi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Shams-e-Tabrīzī
Patung dada Shams Tabrizi di Khoy, Iran
Lahir1185
Tabriz, Iran
Meninggal1248 (umur 6263)
Khoy, Iran
MakamKhoy, Iran
PekerjaanPenenun, Penyair, Filsuf, Guru,
Musicbrainz: b36dbc2e-b3a6-43f1-9e33-0b1ac19356ca Modifica els identificadors a Wikidata

Shams Tabrizi (bahasa Persia: شمس تبریزی) atau Shams al-Din Muhammad (1185-1248) adalah seorang penyair[1] Persia[2] bermazhab Syafi'i[3] yang dianggap sebagai guru spiritual Jalaluddin Rumi dan disebut dengan penuh penghormatan dalam karya-karya sajak Rumi, khususnya Diwan-i Shams-i Tabrīzī (Kumpulan Karya Shams-i Tabrizi). Riwayat tradisional menyatakan bahwa Shams mengajar Rumi dalam pengasingan di Konya selama empat puluh hari, sebelum melarikan diri ke Damaskus. Makam Shams-i Tabrīzī dinominasikan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Riwayat hidup

[sunting | sunting sumber]

Menurut Sipah Salar, seorang pengikut dan teman dekat Rumi yang menghabiskan waktu empat puluh hari bersamanya, Shams adalah putra dari Imam Ala al-Din. Dalam sebuah karya berjudul Manāqib al-'arifīn (Eulogi Kaum Gnostik), Shams al-Din Ahmad Aflaki menyebutkan nama 'Ali sebagai ayah dari Shams-i Tabrīzī dan kakeknya sebagai Malikdad.[4] Aflaki mendasarkan perhitungannya pada kitab Maqālāt karya Haji Bektash Veli,[5] dan berpendapat bahwa Shams Tabrizi tiba di Konya pada usia enam puluh tahun. Namun, berbagai ahli mempertanyakan keandalan Aflaki.[6]

Shams memulai pembelajarannya di Tabriz. Ia merupakan murid dari Baba Kamal al-Din Jumdi. Sebelum bertemu Rumi, Shams hidup secara berpindah-pindah dan bekerja menenun keranjang dan menjual ikat pinggang untuk mencari nafkah.[7] Terlepas dari pekerjaannya sebagai penenun, Shams menerima julukan “penyulam” (zarduz) dalam berbagai catatan biografi termasuk yang ditulis oleh sejarawan Persia, Dawlatshah Samarqandi. Akan tetapi, hal ini tidak disebutkan oleh Haji Bektash Veli dalam kitab Maqālat, melainkan mencatat bahwa julukan tersebut adalah julukan yang diberikan kepada Imam Isma'ili, Shamsuddin Muhammad, yang bekerja sebagai penyulam ketika hidup secara tanpa nama di Tabriz.[8] Pemindahan julukan tersebut kepada biografi mentor Rumi menunjukkan bahwa biografi Imam ini pasti diketahui oleh para penulis biografi Shams-i Thabrizī. Namun, secara spesifik bagaimana pemindahan ini terjadi, belum diketahui.[6]

Pertemuan dengan Rumi

[sunting | sunting sumber]

Menurut Veli dalam kitab Maqālāt, pada tanggal 15 November 1244 Shams Tabrizi tiba di Konya dan menginap di penginapan terkenal tempat para pedagang gula Konya. Ia memperkenalkan diri sebagai pedagang keliling. Ia kemudian bertemu Rumi, yang saat itu menunggang seekor kuda berwarna hitam.[8]

Pada versi lain disebutkan bahwa Shams Tabriz bertemu Rumi yang sedang membaca di samping setumpuk buku. Shams bertanya kepadanya, “Apa yang sedang kamu lakukan?” Rumi dengan nada mengejek menjawab, “Sesuatu yang tidak bisa kau pahami.” (Ini adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak terpelajar.) Mendengar hal ini, Shams melemparkan tumpukan buku-buku tersebut ke dalam genangan air di dekatnya. Rumi tergesa-gesa menyelamatkan buku-buku itu dan terkejut, saat menemukan semua buku itu sudah kering. Rumi kemudian bertanya kepada Shams, “Apa ini?” Shams menjawab, “Mawlana, inilah yang tidak bisa kau pahami.” (Ini adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh orang yang terpelajar).

Setelah beberapa tahun bersama Rumi di Konya, Shams pergi dan menetap di Khoy. Seiring berlalunya waktu, Rumi terus menulis sajak dan mengatribusikannya kepada Shams sebagai tanda cinta kepada teman dan gurunya yang telah pergi. Dalam puisi Rumi, Shams menjadi pemandu cinta Allah (Pencipta) bagi umat manusia; Shams adalah matahari (Shams berarti “Matahari” dalam bahasa Arab) yang menyinari sebagai pemandu jalan yang benar untuk mengusir kegelapan di hati, pikiran, dan tubuh Rumi di bumi.

Makam Shams Tabrizi

Menurut riwayat tradisi Sufi kontemporer, Shams Tabrizi menghilang secara misterius: ada yang mengatakan bahwa ia dibunuh oleh murid dekat Jalaluddin Rumi yang cemburu dengan hubungan dekat antara Rumi dan Shams, tetapi menurut banyak bukti, ia meninggalkan Konya dan meninggal dunia di Khoy di mana ia dimakamkan. Sultan Walad, putra Rumi, dalam matsnawi Walad-Nama, hanya menyebutkan bahwa Syam secara misterius menghilang dari Konya tanpa rincian lebih lanjut.[9][10]

Makam Shams Tabrizi di Khoy, yang terletak di samping monumen menara di taman peringatan, telah dinominasikan sebagai Pusat Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.[11]

Wacana Shams Tabrīzī

[sunting | sunting sumber]
Tomb of Shams Tabrizi

Maqalat-e Shams-e Tabrizi (Wacana Shams-i Tabrīzī) adalah sebuah buku prosa Persia yang ditulis oleh Shams.[12] Maqalat tampaknya ditulis pada tahun-tahun terakhir Syam, karena ia menyebut dirinya sebagai orang tua. Secara keseluruhan, buku ini mengandung interpretasi mistik Islam dan berisi nasihat-nasihat spiritual.

Beberapa kutipan dari Maqalat memberikan wawasan ke dalam pemikiran Shams:

  • Berkah adalah kelebihan, bisa dikatakan, kelebihan dari segala sesuatu. Jangan puas dengan menjadi seorang faqih (ahli agama), katakanlah saya ingin lebih - lebih dari menjadi seorang sufi (mistikus), lebih dari menjadi seorang mistikus - lebih dari setiap hal yang ada di hadapan Anda.
  • Orang yang baik tidak pernah mengeluh tentang siapa pun; ia tidak mencari-cari kesalahan.
  • Kegembiraan itu seperti air jernih yang murni; kemanapun ia mengalir, bunga-bunga indah akan tumbuh... Kesedihan itu seperti banjir hitam; kemanapun ia mengalir, ia akan membuat bunga-bunga layu.
  • Dan bahasa Persia, bagaimana hal itu bisa terjadi? Dengan begitu banyak keanggunan dan kebaikan sehingga makna dan keanggunan yang ditemukan dalam bahasa Persia tidak ditemukan dalam bahasa Arab.[13]
  • Makna Kitab Allah bukanlah teksnya, melainkan manusianya yang memberi petunjuk. Dia adalah Kitab Allah, dia adalah ayat-ayatnya, dia adalah kitab suci[14]

Serangkaian puisi mistik, yang sarat dengan sentimen pengabdian dan kecenderungan kepada pemikiran 'Alawi yang kuat, telah dikaitkan dengan Shams-i Thabīzī di seluruh dunia Islam Persia. Para sarjana seperti Gabrielle van den Berg mempertanyakan apakah puisi-puisi tersebut benar-benar ditulis oleh Shams-i Tabrīzī. Namun, para ahli mutakhir mengembangkan pertanyaan bahwa nama Shams-i Tabriz digunakan untuk lebih dari satu orang. Van den Berg berpendapat bahwa identitas ini kemungkinan adalah nama pena Rumi. Namun ia mengakui bahwa, meskipun ada sejumlah besar puisi yang diatribusikan kepada Shams, yang terdiri dari repertoar pengabdian kaum Isma'ili dari Badakhshan, sebagian besar dari puisi-puisi tersebut tidak dapat ditemukan di dalam kompilasi karya-karya Rumi yang ada. Sebaliknya, seperti yang diamati oleh Virani, beberapa di antaranya terdapat dalam “Taman Mawar Shams” (Gulzār-i Shams), yang ditulis oleh Mulukshah, seorang keturunan tokoh Ismailiyah, Pir Shams, dan juga dalam karya-karya lainnya.[15]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Murtaz̤avī, Manūchihr (1981). زبان دىرىن آذرباىجان (dalam bahasa Persia). بنىاد موقفات دکتر محمود افشار سپرده بدانشگاه تهران،.
    • Murtaz̤avī, pizhūhish va nigārish-i Manūchihr (2004). Zabān-i dīrīn-i Āz̲arbāyijān (Edisi Chāp-i 2.). Tihrān: Bunyād-i Mawqūfāt-i Duktur Maḥmūd Afshār. hlm. 49. ISBN 964-6053-61-0.
    • Jones-Williams, transl. from the French by J. (1968). Pre-Ottoman Turkey : a general survey of the material and spiritual culture and history c. 1071-1330 (Edisi 1. publ.). London: Sidgwick & Jackson. hlm. 258. ISBN 9780283352546. He may also have met the great Persian mystic Shams al-Din Tabrizi there, but it was only later that the full influence of this latter was to be exerted on him.
    • Jenkins, Everett (1998). The diaspora : a comprehensive reference to the spread of Islam in Asia, Africa, Europe, and the Americas, Vol 1. Jefferson, N.C.: McFarland. hlm. 212. ISBN 978-0-7864-0431-5. The Persian mystic Shams al-Din Tabrizi arrived in Konya (Asia Minor)
    • Arakelova, Victoria; A. Doostzadeh; S. Lornejad (2012). On the modern politicization of the Persian poet Nezami Ganjavi. Yerevan: Caucasian Centre for Iranian Studies. hlm. 162. ISBN 978-99930-69-74-4. In a poem from Rumi, the word buri is mentioned from the mouth of Shams Tabrizi by Rumi. Rumi translates the word in standard Persian as biyā (the imperative "come"). This word is also a native word of the Tabrizi Iranian dialect which is mentioned by Persian Sufi, Hafez Karbalaie in his work Rawdat al-Jenān. In the poem of Baba Taher, the word has come down as bura (come) and in the NW Iranian Tati dialects (also called Azari but should not be confused with the Turkish language of the same name) of Azerbaijan, in Harzandi Tati it is biri and in Karingani Tati it is bura (Kiya 1976). Shams Tabrizi was an Iranian Shafi'ite like the bulk of the Iranian population of Azerbaijan during the pre-Mongol and post-Mongol era.
  2. Lornejad, Siavash; Doostzadeh, Ali (2012). On the modern politicization of the Persian poet Nezami Ganjavi. Yerevan series for Oriental studies. Yerevan: Caucasian Centre for Iranian Studies. ISBN 978-99930-69-74-4. OCLC 837580343.
  3. Aflākī, Sams ad-Dīn Aḥmad (2024). Die Ruhmestaten der Erkenner Gottes: Manāqeb Al-ʿĀrefīn (dalam bahasa Arab). De Gruyter, Incorporated. ISBN 978-3-11-139279-0.
  4. Vaziri, Mostafa (2015-07-08). Rumi and Shams’ Silent Rebellion: Parallels with Vedanta, Buddhism, and Shaivism (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-1-137-53080-6.
  5. 1 2 Virani, Shafique N. (2007-04-19). The Ismailis in the Middle Ages: A History of Survival, a Search for Salvation (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press, USA. ISBN 978-0-19-531173-0.
  6. Sharif, M. M. (1983). A History of Muslim Philosophy (dalam bahasa Inggris). Royal Book Company.
  7. 1 2 Veli, Hacı Bektaş (2007). The Maqālāt of Hajji Bektash Veli: Four Gates-forty Stations : the Stages of Spiritual Journey (dalam bahasa Inggris). NKM. ISBN 978-9944-116-31-2.
  8. "Shams Tabrizi". Iran Territory (dalam bahasa American English). 2016-07-22. Diakses tanggal 2018-08-24.
  9. "Rumi: Mystical Friendship – Humanity Healing Network". Humanity Healing Network (dalam bahasa American English). 2016-07-22. Diakses tanggal 2018-08-24.
  10. "CHN | News". Diarsipkan dari asli tanggal 11 October 2007. Diakses tanggal 2007-11-04. 3 Timurid Skeletons Discovered near Minaret of Shams-e Tabrizi
  11. Franklin Lewis, Rumi Past and Present, East and West, Oneworld Publications, 2000
    Shams al-Din Tabrizi, Maqalat-e Shams-e Tabrizi, ed. Mohammad-Ali Movahhed (Tehran: Sahami, Entesharat-e Khwarazmi, 1990) Note: This is a two-volume edition
  12. Shams al-Din Tabrizi, Maqalat-e Shams-e Tabrizi, ed. Mohammad-Ali Movahhed (Tehran: Sahami, Entesharat-e Khwarazmi, 1990). Note: This is a two volume edition. Actual quote: زبان پارسی را چه شده است؟ بدین لطیفی و خوبی، که آن معانی و لطافت که در زبان پارسی آمده است و در تازی نیامده است»
    Also found in: William Chittick, "Me and Rumi: The Autobiography of Shams-i Tabrīzī", Annotated and Translated. (Louisville, KY: Fons Vitae, 2004)
  13. Virani, Shafique N. (2007). The Ismailis in the Middle Ages: A History of Survival, A Search for Salvation. New York: Oxford University Press. doi:10.1093/acprof:oso/9780195311730.001.0001. ISBN 978-0-19-531173-0. p. 93.
  14. Virani, Shafique N. The Ismailis in the Middle Ages: A History of Survival, A Search for Salvation (New York: Oxford University Press), 2007, p. 52.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]
  • Browne, E.G. A Literary History of Persia. Cambridge: University Press, 1929.
  • Tabrizi, Shams-i. Me & Rumi: The Autobiography of Shams-i Tabrīzīi, edited by William C. Chittick. Louisville: Fons Vitae, 2004.
  • Maleki, Farida. Shams-e Tabrizi: Rumi's Perfect Teacher. New Delhi: Science of the Soul Research Centre, 2011. ISBN 978-93-8007-717-8
  • Rypka, Jan. History of Iranian Literature, edited by Karl Jahn. Dordrecht: Reidel, 1968.

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]