Setyono Djuandi Darmono

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Setyono Djuandi Darmono
Chairman Jababeka Group
Informasi pribadi
Lahir 26 April 1949 (umur 68)
Yogyakarta, Indonesia
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Suami/istri Rosylawati Dewi
Anak Permadi Wani Darmono
Sutedja Sidarta Darmono
Andre Widianto Darmono
Pekerjaan Pengusaha

Setyono Djuandi Darmono (lahir di Yogyakarta, 26 April 1949; umur 67 tahun) atau lebih dikenal dengan panggilan S.D. Darmono adalah seorang pengusaha yang merupakan pendiri sekaligus Chairman Jababeka Group. Ia juga dikenal sebagai pejuang kebudayaan Indonesia. Pada 1989 ia mulai membangun Jababeka sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Bersamaan dengan itu, ia memimpin program-program wisata dan pelestarian, termasuk situs Warisan Dunia UNESCO yaitu Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko, serta revitalisasi Kota Tua Jakarta. Namanya dikenal baik di kalangan masyarakat luas maupun pejabat sebagai pengusaha yang multitalenta dan merupakan aset nasional.

Latar belakang dan keluarga[sunting | sunting sumber]

S.D. Darmono adalah anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Darmono Sugiarto dan Elyana Darmono. Saat dilahirkan, keluarganya berada dalam pengungsian akibat agresi militer Belanda pada masa revolusi kemerdekaan. Ia bertumbuh di lingkungan keluarganya yang merupakan pebisnis tekstil di Muntilan. Latar belakang budaya dan pengalaman masa kecilnya membuat S.D. Darmono seorang nasionalis dan menyukai hidup sederhana. Pada tahun 1977 ia menikah dengan Rosylawati Dewi, anak pengusaha dari Blitar, Jawa Timur dan dikaruniai tiga orang anak bernama Permadi Wani Darmono, Sutedja Sidarta Darmono dan Andre Widianto Darmono.

Filosofi[sunting | sunting sumber]

S.D. Darmono menganut nilai-nilai budaya Jawa karena menurutnya budaya Jawa turut melahirkan budaya bangsa yang banyak menghasilkan kata-kata bijak yang memberikan pedoman hidup dalam bentuk nasihat dan etika berperilaku. Budaya Jawa ini pun dijunjung tinggi S.D. Darmono mulai dari kehidupan kesehariannya sampai menjadi dasar dalam pandangan-pandangan usahanya.[1] Salah satu nilai yang dijunjung S.D. Darmono dari budaya Jawa adalah nilai menerima apa adanya dan selalu sabar dalam menghadapi berbagai permasalahan[1] Tokoh yang ia teladani terkait dengan nilai-nilai ini adalah (alm) Presiden Abdurrahman Wahid yang mengutamakan spiritualitas, pluralisme, toleransi tinggi dan gemar berpuasa.

Selanjutnya filosofi yang dipegang S.D. Darmono tidak lain adalah apa yang dipraktikkannya dalam usahanya membangun bisnis, yaitu think big, start small, dan move fast yang telah dituangkannya dalam karya bukunya yang berjudul Think Big, Start Small, Move Fast. S.D. Darmono mempercayai bahwa semakin besar mimpi, semakin besar pula kekuatannya. Kemudian untuk memulai sesuatu, diperlukan adanya perbaikan mentalitas, pembangunan karakter, serta kebajikan. Berikutnya ketika menjalani prosesnya, diperlukan ketangkasan memanfaatkan peluang serta kecepatan membuat perbaikan dan mengubah masalah menjadi kesempatan.

Darmono juga meyakini filosofi giving back.[2] Ia mengakui bahwa segala kemampuan dan kemudahan dalam hidupnya sekarang tidak terlepas dari apa yang diberikan orang lain yaitu keluarga dan orang-orang hebat selama perjalanan hidupnya. Oleh karena itu, ia pun bekerja keras bagi bangsa Indonesia yang dicintainya sebagai bentuk giving back terhadap apa yang diterimanya selama hidupnya. Selain itu, kesederhanaan juga menjadi bagian dari nilai hidup S.D. Darmono. Menurutnya, kita harus bekerja untuk bangsa dan negara sambil tetap hidup sederhana.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Dalam rangka mengecap pendidikan di jenjang yang lebih tinggi, S.D. Darmono berangkat ke Bandung dan mengikuti ujian masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia memiliki impian menjadi sarjana Teknik Sipil. Namun, karena tidak berhasil masuk ITB, akhirnya ia masuk ke Akademi Tekstil Berdikari (ATB) Bandung, yang sekarang menjadi Universitas Bandung Raya (Unbar) setelah melalui proses penyatuan dengan tiga Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mandiri lainnya. Di akademi tersebut, S.D. Darmono menempuh pendidikan dari tahun 1967 – 1970.[3] Di samping belajar di bangku akademi, S.D. Darmono juga mengikuti kursus bahasa asing yaitu bahasa Inggris dan bahasa Belanda.

Karier bisnis[sunting | sunting sumber]

Mengawali segala pekerjaan dan kariernya, S.D. Darmono mengikuti program Pelatihan Kerja Lapangan (PKL) di Imperial Chemical Industries (ICI), yang merupakan perusahaan asal Inggris di Bandung.[3] Di situlah ia mendapatkan pengalaman kerja ketika masih duduk di bangku pendidikan. Setelah menyandang gelar Diploma III pada tahun 1969, S.D. Darmono diterima bekerja di ICI.[3] Sebelas tahun bekerja di ICI dan berpengalaman sebagai ICI Market Manager di Manchester, UK selama tahun 1977-1980, akhirnya ia menjadi Kepala Divisi Pemasaran ICI.

Pada saat yang sama, tepatnya tahun 1980, ia melihat peluang bisnis properti yang cukup berprospek ke depannya. S.D. Darmono kemudian menerima tawaran koleganya untuk mendirikan PT Permada Binangun Jaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembang perumahan di Bintaro dengan salah satu perumahan adalah Bumi Bintaro Permai Residence. S.D. Darmono selanjutnya mulai membangun Kawasan Industri Jababeka tepatnya pada tahun [1989]] dengan membentuk konsorsium 21 pengusaha.[3] Pengusaha yang menemaninya antara lain Hadi Rahardja, Sudwikatmono, Rizad Brasali dan Adam Kurniawan.

PT Jababeka Tbk[sunting | sunting sumber]

S.D. Darmono pada ulang tahun Jababeka ke-16

Sejak berdiri pada tahun 1989, PT Jababeka Tbk sebagai pengembang kawasan industri berhasil mengembangkan Kota Jababeka, kawasan industri terbesar di Asia Tenggara menjadi sebuah kota yang terintegrasi atau disebut dengan istilah full integrated township. Pada tahun 1994, PT Jababeka Tbk merupakan pengembang kawasan industri pertama yang go public di Indonesia.[4] Adapun tiga pilar bisnis Jababeka yaitu pengembangan lahan, pembangunan infrastruktur, dan leisure and hospitality.

Proyek 100 kota[sunting | sunting sumber]

Proyek 100 kota adalah proyek pembangunan dan pengembangan 100 kota yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia yang akan menjadi kota mandiri melalui pemanfaatan potensi kota secara maksimal sehingga dapat menggali potensi daerah.[2][5] Saat ini Cikarang sebagai cetak biru proyek 100 kota ini berhasil menciptakan 1 juta lapangan kerja, oleh karena itu diprediksi 100 kota baru di seluruh Indonesia akan menciptakan 100 juta lapangan kerja.[5] Terkait proyek 100 kota ini, istilah one city, one industry atau one city, one factory pun diperkenalkan dengan konsep bahwa satu pabrik saja sudah cukup untuk mengembangkan satu kota baru karena otomatis para rantai pemasok akan ikut pindah semua.

Kota Jababeka[sunting | sunting sumber]

Dengan luas 5,600 hektar, kota Jababeka memiliki kawasan industri, perumahan dan komersial, jaringan transportasi umum, belanja, rekreasi dan tempat hiburan, hingga berbagai infrastruktur seperti dry port, pembangkit listrik, dua tempat pengolahan air bersih, dua tempat pengolahan air limbah serta berbagai fasilitas lainnya.

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Kawasan Industri[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2011, PT Jababeka Tbk mengakuisisi 1,500 hektar lahan di Tanjung Lesung, Banten yang dikembangkan menjadi kota mandiri yang berbasis industri pariwisata. Pada tahun 2015, Presiden Joko Widodo meresmikan kantor Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung yang dikelola oleh PT Banten West Java (TDC / Tourism Development Corporation) sebagai anak usaha PT Jababeka Tbk. KEK ini diharapkan akan memberikan kontribusi pada pendapatan nasional dan daerah serta menciptakan lapangan kerja.[6]

Selain itu, presiden juga telah memasukkan Tanjung Lesung sebagai salah satu di antara sepuluh destinasi wisata terbaik Indonesia yang mesti dipercepat pembangunannya.[7] Dalam rangka mendukung pertumbuhan industri pariwisata ini, pembangunan infrastruktur mulai digarap yaitu berupa pembangunan jalan tol dari Serang ke Tanjung Lesung untuk memudahkan akses ke wilayah tersebut.

S.D. Darmono pada peresmian Kawasan Industri Kendal

Selain Kota Jababeka dan Tanjung Lesung, PT Jababeka Tbk juga mengembangkan beberapa kawasan industri lainnya. Bekerja sama dengan Sembcorp Development Ltd, Singapura, PT Jababeka Tbk sedang mengembangkan Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah yang akan mencakup daerah industri, perumahan, dan komersial. Kawasan lain yang sedang dikembangkan adalah Pulau Morotai yang terletak di Kepulauan Halmahera di Maluku. PT Jababeka Morotai sebagai pelaksana proyek pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Morotai oleh Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.[8]. Adapun sektor bisnis yang menjadi fokus KEK Morotai adalah industri pengolahan ikan, manufaktur, logistik dan pariwisata yang diperkirakan akan menyerap sebanyak 30,000 tenaga kerja.[8]

Peran dan dukungan pemerintah[sunting | sunting sumber]

Dalam proses pengembangan kawasan industri di Indonesia, pemerintah Republik Indonesia memberikan peran dan dukungannya terhadap PT Jababeka Tbk, di antaranya:

  • Pada 2004, bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah duta besar negara-negara sahabat, S.D. Darmono mendirikan President Executive Club (PEC), yang giat membahas inovasi dan upaya percepatan pembangunan, dengan konsep kolaborasi dan kemitraan ABG (Academic, Business & Government).
  • Pemerintah mendukung S.D. Darmono untuk mengembangkan 100 kota baru[6] seperti Jababeka di seluruh Indonesia agar lebih banyak lagi menciptakan lapangan kerja. Sejak saat itu proyek 100 kota pun digaungkan.
  • Pada tahun 2015 pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla mengundang S.D. Darmono ke Istana Merdeka.[9] untuk mendengarkan pengalaman Jababeka dalam mengembangkan kawasan industri dan mencetak kota-kota baru di Indonesia. Menko Perekonomian Sofyan Djalil pun memberikan dukungan dengan mengimbau pemerintah untuk menjadi inisiator dalam mendorong dan memberikan insentif kepada industri-industri untuk pindah ke kota lain sehingga kota-kota baru pun berkembang, baik di Jawa maupun luar Jawa.

Organisasi[sunting | sunting sumber]

Di bidang pendidikan, S.D. Darmono mendirikan President University, dengan dukungan Dr. Ir. Kisdaryono (LAPI-ITB), Professor Don Watt (Vice Chancellor, Curtin University of Technology, Australia), Prof Dr. Juwono Sudarsono (Menteri Pendidikan 1998-1999), Professor Brian Lee (Nanyang Technological University, Singapore). Perguruan tinggi swasta yang memakai bahasa Inggris sebagai medium komunikasi ini mewadahi dosen dan mahasiswa baik domestik maupun internasional. Mahasiswanya datang dari China, Vietnam, Laos, Maladewa; sedangkan dosennya dari Filipina, Canada, Australia, UK, USA dan lain-lain. President University terletak di kawasan industri yang didukung 1,700 perusahaan multinasional dari lebih 30 negara. S.D. Darmono juga pernah menjadi ketua IJIN – Indonesia Japan Investors Network, IABC – Indonesia Australia Business Council, ITBC – Indonesia Taiwan Business Council, dan sebagainya.

Ia juga memimpin organisasi pariwisata, di antaranya sebagai Chairman Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter dan Executive Board of PATA International. Pada 2016 ia berhasil mendapatkan kepercayaan agar pasar pariwisata dunia PATA Travel Mart diselenggarakan di Indonesia dan didukung oleh Menteri Pariwisata, Dr. Ir. Arief Yahya. Proyek-proyek besar yang ditanganinya termasuk Kawasan Industri Kendal (KIK) di Jawa Tengah; Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung dan Kawasan Industri Cilegon di Provinsi Banten, serta Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jababeka Morotai sebagai kawasan industri dan wisata di Morotai, Ternate Utara yang diproyeksikan menyerap 30,000 tenaga kerja.

Di bidang kebudayaan, S.D. Darmono aktif dalam Tidar Heritage Foundation, serta sebagai Chairman PT TWC Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), yaitu badan pengelola situs Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko. Kegiatannya adalah mempromosikan budaya Indonesia yang lebih toleran. Dia juga menginisiasi proyek digitalisasi Candi [Borobudur]] sebagai Warisan Dunia UNESCO, didukung oleh sineas terkenal kelas dunia dari Austria, Dr. Titus Leber. Hasilnya adalah karya multimedia dengan 48,000 hi-res photo images yang diterbitkan dalam CD Borobudur Paths to the Enlightenment. Selain sebuah serial CD, proyek ini juga menghasilkan buku-buku yang sangat penting dalam upaya pelestarian Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Ratu Boko. Untuk Candi Prambanan dihasilkan rekor dunia sendratari Ramayana Prambanan dengan penari terbanyak di dunia yang masuk dalam Guinness Book of World Record.

Untuk bidang sosial, S.D. Darmono menginisiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat Cikarang (LPPM-C). Lembaga ini menjembatani lingkungan industri yang berkembang pesat dan masyarakat setempat di seputar kawasan yang dikembangkan. Hasilnya adalah lingkungan yang terjaga, masyarakat yang toleran, kerukunan dan kesehatan yang produktif. Beberapa programnya adalah pembentukan Jababeka Multicultural Center dan Jababeka Botanic Gardens.

Untuk memenuhi kebutuhan di masa depan, S.D. Darmono juga menyiapkan sarana perawatan dan pelayanan warga lanjut usia (lansia) dalam bentuk Senior Living @D’Khayangan, bekerja sama dengan Long Life Japan. Dalam penyiapan generasi muda, ia mendirikan Sekolah Menengah Atas Presiden yang memadukan kurikulum patriotis seperti SMA Taruna Nusantara dan sekolah internasional yang berbasis asrama. Persiapan pendidikan ini juga dilakukan untuk SMP Presiden, dan SD & TK Presiden, serta Sekolah Berkebutuhan Khusus yang semuanya berkembang di Kota Jababeka, Cikarang Baru.

Tahun penting[sunting | sunting sumber]

1989 – Mendirikan PT Jababeka Tbk, pionir pengembangan kawasan industri swasta
1983 – Mendirikan PT Jababeka Infrastruktur, pionir perusahaan infrastruktur swasta
1994 – Mendirikan Jababeka Golf & Country Club, yang dapat mengakomodir turnamen golf, didesain oleh Nick Faldo, pemain golf kelas dunia
1995 – Mendirikan PT Banten West Java, sebuah korporasi pengembangan turisme atau Tourism Development Corporation untuk mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung yang menargetkan jutaan turis mancanegara
2001 – Mendirikan President University, universitas bertaraf internasional pertama yang menarik banyak mahasiswa asing
2004 – Mendirikan President Executive Club dan Tidar Heritage Foundation
2007 – Membangun pelabuhan swasta pertama di Indonesia
2008 – Ditunjuk sebagai Chairman PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan and Ratu Boko, salah satu 7 Keajaiban Dunia– termasuk dalam Warisan Dunia UNESCO
2008 – Mulai mengembangkan Medical City dan Indonesia Movieland
2009 – Ditunjuk sebagai Chairman Indonesia Australia Business Council (IABC), sekarang sebagai Member of Board of Advisor
2010 – Terpilih sebagai Chairman Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter dan Executive Board of PATA International
2011 – Ditugaskan untuk mempersiapkan Pulau Morotai sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
2012 – Mengembangkan Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah, bekerja sama dengan Sembcorp, sebuah perusahaan publik Singapura
2012 – Mendirikan dan menjabat sebagai Presiden Indonesia Japan Investor Network (IJIN)
2013 – Ditunjuk untuk mengembangkan kembali Kota Tua Jakarta (PT Jakarta Old Town Revitalization Corporation) oleh Gubernur Jokowi (sekarang Presiden Republik Indonesia)
2015 – Mendirikan dan menjabat sebagai Chairman Indonesia Taiwan Business Council (ITBC), sebuah asosiasi yang menjembatani pebisnis Indonesia dan Taiwan dengan pemerintah Indonesia dan Taiwan, didukung oleh Kadin Indonesia dan Taipei Economic and Trade Office (TETO) di Indonesia

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Karya buku[sunting | sunting sumber]

  • Menembus Batas: Pemikiran, Pendapat, dan Visi Setyono Djuandi Darmono (2006)
  • Memberdayakan Usaha Kecil Menengah untuk Menciptakan Lapangan Kerja – Peranan Kawasan Industri dalam Pemberdayaan UKM (2006)
  • Think Big, Start Small, Move Fast (2009)
  • One City One Factory: Mewujudkan 100 Kota Baru (2015)

Referensi[sunting | sunting sumber]