Sesetan, Denpasar Selatan, Denpasar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°42′04″S 115°13′12″E / 8.701134°S 115.220131°E / -8.701134; 115.220131

Sesetan
Kelurahan
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KotaDenpasar
KecamatanDenpasar Selatan
Kodepos80223
Luas7,39 km²
Jumlah penduduk49.893 jiwa (2017)[1]
50.303 jiwa (2010)[2]
Kepadatan6.807 jiwa/km²(2010)
Jumlah RW14 Banjar
Jumlah KK7.471
Situs webhttps://sesetan.denpasarkota.go.id/

Kelurahan Sesetan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Provinsi Bali, Indonesia dengan luas wilayah mencapai 7,39 km² (739 ha) dan secara geografis terletak pada ketinggian di atas permukaan laut yang membujur ke utara.[3]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah Kelurahan Sesetan sebagai berikut:[4]

Utara Desa Dauh Puri Klod
Selatan Selat Badung
Barat Kelurahan Pedungan, Kecamatan Denpasar Selatan.
Timur Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Dari beberapa informasi dan cerita tokoh masyarakat serta didukung bukti peninggalan yang ditemukan, diceritakan bahwa pada waktu Pemerintahan Dalem Waturenggong, kira-kira abad ke-15 M, Kelurahan Sesetan sekarang ini masih menjadi satu kesatuan dengan Kelurahan Pedungan. Kelurahan Pedungan awalnya bernama Desa Peduwungan. Nama Peduwungan diambil dari nama sebilah keris sakti. Keris itu dimiliki oleh wakil Dalem Waturenggong di wilayah Badung yang bernama Arya Waringin. Keris sakti dibuatkan tempat yang disebut pelinggih dan diberi nama Pura Peduwungan, yang sekarang terletak di Banjar Kepisah. Dari nama Peduwungan ini akhirnya menjadi Desa Pedungan.

Pada saat itu, mata pencaharian utama penduduk di Desa Peduwungan adalah sebagai petani dan beberapa orang penduduk yang tinggal di Desa Peduwungan melakukan kegiatan pertanian di bagian Timur Desa Peduwungan, yang akhirnya menetap di tempat itu. Karena menurut mereka, tempat di bagian timur itu tempat yang subur dan sangat baik untuk bercocok tanam. Tempat itu diberi nama Kesetan atau Sepihan yang artinya Pecahan dari Desa Peduwungan, kemudian lama kelamaan seiring dengan perjalanan waktu dan karena proses perubahan kata, maka kata Kesetan berubah menjadi Sesetan.[5]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk Sesetan sampai dengan tahun 2016 terdiri dari 25.447 laki-laki dan 24.446 perempuan dengan sex ratio 104. Proyeksi pertumbuhan penduduk sebesar 2,80 % dari tahun 2010.[6]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar lurah[sunting | sunting sumber]

Mulai tanggal 12 Januari 2017, kelurahan Sesetan dipimpin oleh Ni Ketut Sri Karyawati, SKM. M.Kes yang menggantikan suaminya sendiri Nyoman Agus Mahardika, yang menjabat lurah Sesetan dari tahun 2011-2017.[7]

Pembagian Administratif[sunting | sunting sumber]

Penduduk Desa Sesetan hidup dengan berkelompok dalam wadah yang disebut Banjar, yang namanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Banjar tersebut, seperti :

  • Banjar Gaduh karena yang bermukim disini adalah mayoritas keluarga dari Pasek Gaduh.
  • Banjar Lantang Bejuh yang artinya panjang membujur, karena geografi dari Banjar ini panjang membujur.
  • Banjar Pegok yang artinya dalam, karena pada mulanya mereka yang bermukim disini tinggal agak di dalam (jauh dari tempat keramaian).
  • Banjar Suwung Batan Kendal, karena dulu disana ada pohon Kendal (sejenis kepah).
  • Banjar Kaja yang artinya Utara, karena Banjar ini terletak di wilayah paling Utara Desa Sesetan.
  • Banjar Tengah yang artinya di tengah-tengah, karena letak Banjar ini di tengah-tengah Desa Sesetan.

Sampai dengan tahun 2018, Kelurahan Sesetan memiliki 14 lingkungan definitif, yakni :

  1. Lingkungan Kampung Bugis.
  2. Lingkungan Banjar Suwung Batan Kendal.
  3. Lingkungan Banjar Karya Dharma.
  4. Lingkungan Banjar Pegok.
  5. Lingkungan Banjar Taman Sari.
  6. Lingkungan Banjar Taman Suci.
  7. Lingkungan Banjar Lantang Bejuh.
  8. Lingkungan Banjar Dukuh Sari.
  9. Lingkungan Banjar Gaduh.
  10. Lingkungan Alas Arum.
  11. Lingkungan Banjar Tengah.
  12. Lingkungan Banjar Pembungan.
  13. Lingkungan Banjar Kaja.
  14. Lingkungan Banjar Puri Agung [4]

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Gamelan Bungbang[sunting | sunting sumber]

Gamelan Bungbang atau Gamelan Bumbang adalah sebuah barungan (satu set) gamelan bambu yang diklasifikasikan dalam seni karawitan Bali sebagai gamelan anyar (seni tabuh baru). Hal ini dikarenakan gamelan bungbang diciptakan setelah abad ke-20 dan merupakan pengembangan dari gamelan yang sudah ada sebelumnya, terutama pada teknik permainan dan lagu-lagu yang dimainkan. Penciptanya berasal dari Banjar Tengah Desa Pakraman Sesetan, I Nyoman Rembang. Gamelan bungbang diciptakan pada tahun 1985 dan dipentaskan untuk umum pertama kali pada tanggal 16 November 1988 pada saat pawai pembukaan lomba desa di Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Pada awalnya gamelan bungbang bernama timbung kemudian setelah dua tahun, tepatnya tanggal 15 Juni 1987, nama timbung diubah menjadi bungbang yang dikutip dari kakawin Bharatayuda dimana menyebut istilah salunding wayang seperti yang ditulis oleh Jaap Kunt (1968:77) sebagai berikut;

"Tekwan ri Iwah ikang taluktak atarik saksat salunding wayang/pring bungbang muni kanginan manguluwung, yekan tudungnyangiring/gending stri nya pabandung i prasamanng kungkang karengwing jurang/ cenggerat nya walangkrik atri kamanak tanpantarangangsyani " terjemahan bebasnya adalah "Di lembah sungai terdengar derasnya suara tak luk tak bagaikan salunding iringan wayang/sunari (bambu berlubang), berbunyi ketiup angin meraung karena lubang sulingnya miring/seperti lagu rerebongan (lagu iringan wayang putri) yang terjalin ritmis, demikianlah rasanya suara katak-kangkung (enggung) yang terdengar di dalam jurang/memekaknya suara jangkrik ribut ibarat gumanak yang tak henti-hentinya disertai kangsi.[8]

Gamelan bungbang pada awalnya diciptakan untuk mengiringi tari ikan hias. Warna dan gerak-gerik ikan hias dalam aquarium di Hotel Tanjung Sari Sanur, menarik perhatian I Nyoman Rembang untuk menciptakan tarian ikan hias, kemudian ia mencoba memikirkan instrumen apa yang tepat untuk mengiringi tarian ikan hias tersebut. Gamelan bungbang tercipta setelah ia mendengarkan suara butir-butir air yang jatuh dari mulut keran di bak air dalam kamar mandi, yang bunyinya klak, klik, kluk…

Untuk memainkan satu lagu dengan gamelan ini diperlukan banyak penabuh, sekitar 35 hingga 40 orang. Instrumen pokok dari gamelan bungbang adalah alat-alat musik pukul berbentuk setengah kulkul (kentongan) yang terbuat dari bambu yang ukurannya bervariasi mulai dari 90 cm untuk yang paling panjang dan 10 cm untuk yang paling pendek. Bambu yang digunakan adalah bambu petung untuk nada-nada rendah (jegogan) serta bambu jajang untuk nada-nada madya dan tinggi (pemade dan kantil). Dalam memainkan gamelan bungbang, teknik yang digunakan hampir sama dengan teknik memainkan gamelan pada umumnya di Bali yaitu menonjolkan permainan melodi dan kekotekan (terjalin). Dalam memainkan gamelan bungbang semua pemain atau penabuh dituntut untuk menguasai atau menghafal lagu secara keseluruhan, dikarenakan setiap penabuh hanya membawa atau memainkan satu buah instrumen bungbang sehingga antara penabuh yang satu dengan yang lain akan saling melengkapi dan saling ketergantungan. Seiring berjalannya waktu, sekaa gong atau kelompok yang masih mempertahankan dan dapat memainkan gamelan bungbang hanya dapat ditemui di Banjar Tengah Sesetan yaitu Sekaa Gong Wirama Duta.[9][10][11]

Omed-omedan[sunting | sunting sumber]

Omed-omedan adalah upacara yang diadakan oleh pemuda-pemudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan, Denpasar yang diadakan setiap tahun.[12] Omed-omedan diadakan setelah Hari Raya Nyepi, yakni pada hari ngembak geni untuk menyambut tahun baru saka.[12] Omed-omedan berasal dari bahasa Bali yang artinya tarik-tarikan.[13] Asal mula upacara ini tidak diketahui secara pasti, namun telah berlangsung lama sejak nenek moyang dan dilestarikan secara turun temurun.[13] Omed-omedan melibatkan sekaa teruna teruni atau pemuda-pemudi yang berumur 17 hingga 30 tahun dan belum menikah.[14] Prosesi omed-omedan dimulai dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan.[14] Usai sembahyang, peserta dibagi dalam dua kelompok, laki-laki dan perempuan.[14] Kedua kelompok tersebut mengambil posisi saling berhadapan di jalan utama desa.[14] Dua kelompok Setelah seorang sesepuh memberikan aba-aba, kedua kelompok saling berhadapan.[14] Peserta upacara ini terdiri dari 40 pria dan 60 wanita.[13] Sisa peserta akan dicadangkan untuk tahap berikutnya.[13] Cara omed-omedan ini adalah tarik-menarik menggunakan tangan kosong antara pria dan wanita dan disirami air.[13] Upacara ini dilakukan hingga jam 17.00 waktu setempat.[13]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prodeskel Kemendagri
  2. ^ Penduduk Indonesia Menurut Desa 2010
  3. ^ Data Wilayah Kemendagri
  4. ^ a b "Sejarah Sesetan". Diakses tanggal 1 Januari 2018. 
  5. ^ "Situs Resmi Kelurahan Sesetan Denpasar Selatan". sesetan.denpasarkota.go.id. Diakses tanggal 2019-03-12. 
  6. ^ Kecamatan Denpasar Selatan dalam angka 2017, hal 27
  7. ^ Bali, Nusa. "Istri Gantikan Suami Jadi Lurah Sesetan". www.nusabali.com. Diakses tanggal 2019-04-22. 
  8. ^ "Aspek Musikologis Gêndér Wayang dalam Karawitan Bali". Diakses tanggal 17 Februari 2019. 
  9. ^ "Gamelang Bungbang". Diakses tanggal 2019-02-17. 
  10. ^ "Banjar Tengah Upayakan Regenerasi Penabuh Bungbang, Alat Musik Ciptaan Maestro I Nyoman Rembang". Tribun Bali. Diakses tanggal 2019-02-17. 
  11. ^ "Bungbang Adi Karya Sang Maestro.flv", Youtube.com, 2010-01-19, diakses tanggal 2019-02-17 
  12. ^ a b "Upacara omed-omedan: Ritual Ciuman Unik Khas Bali". travelesia.co. Diakses tanggal 6 Juni 2014. 
  13. ^ a b c d e f "Upacara Med Medan". wisatadewata.com. Diakses tanggal 6 Juni 2014.22.00. 
  14. ^ a b c d e "Omed-omedan, tradisi ciuman di depan umum". balivillarupiah.com. Diakses tanggal 6 Juni 2014.23.00. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]