Serangan udara di Jepang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Serangan udara di Jepang
Bagian dari Perang Pasifik, Perang Dunia II
Black and white photo of three multi-engined aircraft flying in formation while dropping a large number of bombs
Pesawat pengebom B-29 Superfortress menjatuhkan bom pembakar atas kota Yokohama bulan Mei 1945[1]
Tanggal 18 April 1942 – 15 August 1945
Lokasi Negeri Jepang
Hasil Kemenangan Sekutu
Pihak yang terlibat
 Amerika Serikat
 Britania Raya
 Republik Tiongkok (1912–1949)
 Kekaisaran Jepang
Satuan terlibat
Bendera Amerika Serikat Angkatan Laut Amerika Serikat
Bendera Amerika Serikat Angkatan Darat Amerika Serikat
Bendera Britania Raya Angkatan Laut Britania Raya
Bendera Republik Tiongkok Angkatan Udara Republik Tiongkok
Bendera Kekaisaran Jepang Kekaisaran Jepang
Korban
Amerika Serikat 614 pesawat, lebih dari 3.000 tentara tewas[2] Sekitar 241.000 hingga 900.000 warga sipil terbunuh
103.900 tentara tewas[3]
4.200 pesawat[4]

Pasukan Sekutu banyak melancarkan serangan udara di Jepang selama Perang Dunia II, menyebabkan kerusakan yang luas ke berbagai kota di negara tersebut dan menewaskan antara 241.000 hingga 900.000 orang. Serangan udara atas Jepang telah terjadi sejak tahun-tahun pertama Perang Pasifik yang dipicu oleh serangan Jepang terhadap pangkalan Amerika Serikat di Pearl Harbor. Awalnya serangan ini hanya terbatas dengan Serangan Doolittle pada bulan April 1942 dan serangan skala kecil lainnya pada posisi militer di Kepulauan Kuril sejak pertengahan 1943. Serangan pengeboman strategis mulai dilancarkan sejak bulan Juni 1944 dan terus berlanjut sampai akhir perang pada bulan Agustus 1945. Unit udara taktis sekutu dari angkatan laut dan darat juga menyerang Jepang selama 1945.

Kampanye udara militer Amerika Serikat mulai menggalakkan serangan udara terhadap Jepang sejak pertengahan tahun 1944 dan serangan semakin dilancarkan secara intensif selama bulan-bulan terakhir perang. Sementara rencana serangan tersebut telah disiapkan jauh-jauh hari sebelum Perang Pasifik, tetapi rencana itu tidak bisa dilaksanakan hingga pengebom jarak jauh B-29 Superfortress siap melakukan tugas tersebut. Dari bulan Juni 1944 hingga Januari 1945, beberapa pengebom B-29 yang ditempatkan di India dipindahkan ke pangkalan di Tiongkok untuk membuat serangkaian penyerangan terhadap Jepang, tetapi upaya ini tidak pernah berhasil.

Kampanye pengeboman strategis semakin diperluas sejak November 1944 ketika pangkalan di Kepulauan Mariana telah tersedia, ini merupakan salah satu alasan dari Kampanye Kepulauan Mariana.[1] Serangan ini awalnya hanya berusaha untuk menargetkan fasilitas industri, tetapi sejak Maret 1945 serangan umumnya ditujukan terhadap wilayah perkotaan dikarenakan proses pembuatan senjata dan perlengkapan perang Jepang banyak dilakukan di bengkel-bengkel kecil dan rumah-rumah pribadi. Pesawat yang terbang dari kapal induk Sekutu dan Kepulauan Ryukyu juga semakin gencar menghantam target di Jepang selama tahun 1945 dalam persiapan untuk melaksanakan invasi darat yang direncanakan akan mendarat di Jepang dijadwalkan pada Oktober 1945. Pada pertengahan Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki dikejutkan dan sebagian besar hancur oleh bom atom.

Minimnya jumlah pesawat tempur dan senjata anti-pesawat yang dioperasikan untuk tugas pertahanan di pulau-pulau Jepang membuat pertahanan militer dan sipil Jepang tidak dapat menghentikan serangan Sekutu. Akibatnya, pengebom B-29 dengan mudah mampu menimbulkan kerusakan yang parah pada daerah perkotaan sementara hampir seluruh wilayah negeri Jepang juga menderita sebagai dampak dari serangan udara. Sebenarnya Jepang telah menyiagakan pesawat tempur untuk menghadang serangan udara dari pengebom B-29, tetapi seringkali pesawat-pesawat tempur Jepang terkendala kekurangan bahan bakar dan minimnya kemampuan pilot untuk melakukan tugas penghadangan. Selain itu kurangnya koordinasi dalam militer Jepang membuat operasi pertahanan udara Jepang menjadi tidak efektif. Kemampuan pengebom B-29 yang terbang pada ketinggian yang sulit dijangkau oleh pesawat dan senjata defensif Jepang juga merupakan salah satu pukulan yang cukup berat bagi militer Jepang. Besarnya dampak kerusakan juga disebabkan oleh minimnya layanan pemadam kebakaran yang memadai di wilayah-wilayah perkotaan yang rentan serangan udara. Jepang juga tidak menyediakan tempat perlindungan serangan udara yang cukup untuk warga sipil, sehingga menyebabkan tingginya jumlah korban warga sipil.

Pengeboman Sekutu adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi keputusan pemerintah Jepang untuk menyerah pada pertengahan Agustus 1945. Meskipun telah terjadi perdebatan panjang yang terus berlangsung atas moralitas serangan terhadap kota-kota Jepang. Yang paling kontroversial adalah penggunaan senjata atom yang dierkirakan menjatuhkan korban di pihak Jepang sebanyak 333.000 tewas dan 473.000 luka-luka (mayoritas warga sipil). Ada beberapa perkiraan lain tentang jumlah korban jiwa, namun dipastikan jumlahnya berkisar antara 241.000 sampai 900.000. Selain korban jiwa sebagian besar warga sipil, serangan juga menyebabkan kerusakan yang luas di berbagai kota Jepang dan menyebabkan penurunan besar dalam produksi industri.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Rencana Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]

Video tentang "the Flying Tigers" sukarelawan udara yang dikirimkan ke Tiongkok

Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (yang diserap oleh Pasukan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF) pada Februari 1942)[5] mulai mengembangkan rencana sementara kampanye udara terhadap Jepang selama tahun 1940. Pada tahun itu atase angkatan laut ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tokyo melaporkan bahwa pertahanan sipil Jepang yang lemah. Dari pihak Angkatan Udara Amerika Serikat dibuat proposal untuk merekrut sukrelawan udara Amerika yang bertugas membantu pasukan Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang Kedua.[6]

Kelompok Sukarelawan Amerika pertama ("Harimau Terbang") mulai beroperasi pada akhir 1941 dengan menggunakan pesawat tempur P-40 Warhawk. Lalu grup kedua sukarelawan Amerika juga dibentuk pada akhir 1941 untuk menyerang Jepang dari pangkalan di Tiongkok menggunakan pesawat pengebom menengah Lockheed Hudson dan Douglas A-20 Havoc. Serangan terhadap Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 membuka permusuhan antara AS dan Jepang. Amerika membentuk beberapa unit operasi rahasia, namun unit-unit ini akhirnya dinonaktifkan. Sejumlah kecil personil grup kedua sukarelawan udarayang dikirim dari Amerika Serikat pada November 1941 dialihkan ke Australia setelah pecahnya perang.[7][8]

Sebelum pecahnya perang, USAAF telah merencanakan mengebom Jepang dari pangkalan udara di Pulau Wake, Guam, Filipina dan daerah pesisir Tiongkok.[7] Namun, daerah-daerah tersebut dengan cepat direbut oleh pasukan Jepang, dan kekuatan sebagian besar pengebom berat USAAF di Filipina hancur ketika Pangkalan Udara Clark diserang pada tanggal 8 Desember 1941. USAAF kemudian berusaha untuk mengirim 13 unit pesawat pengebom berat ke China pada bulan Maret dan April 1942, bertujuan untuk menyerang pulau-pulau di wilayah Jepang. Pesawat ini mampu mencapai India, tetapi kekuatan sekutu menghadapi masalah logistik sebagai akibat jatuhnya Burma ke tangan Jepang. Pemimpin Nasionalis Tiongkok Chiang Kai-shek juga enggan mengizinkan mereka untuk mengoperasikan pesawat-pesawat dari wilayah kekuasaannya. Akhirnya 13 unit pengebom berat B-24 Liberator yang dikirim dari Amerika Serikat untuk dioperasikan dari Tiongkok pada bulan Mei 1942 ditugaskan untuk mendukung kekuatan Sekutu di Mediterania.[9]

Pada bulan Juli 1942, komandan grup sukarelawan Amerika, Kolonel Claire Lee Chennault, mengajukan permintaan 100 unit pesawat temour P-47 Thunderbolt dan 30 unit pesawat pengebom menengah B-25 Mitchell, yang ia percaya akan cukup untuk "menghancurkan" industri pesawat Jepang. Namun hal itu tidak dipenuhi untuk saat itu, hingga tiga bulan kemudian Chennault berusaha meyakinkan Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt bahwa hanya dalam waktu enam sampai dua belas bulan dengan kekuatan 105 pesawat tempur modern dan 40 pesawat pengebom (termasuk 12 pengebom berat) maka akan cukup bagi Amerika untuk "menjatuhkan Jepang". Namun markas USAAF menganggap klaim ini sebagai hal yang tidak bisa dipercaya, dan bala bantuan permintaan Chennault tidak pernah dikabulkan.[9]

Pertahanan Jepang sebelum perang[sunting | sunting sumber]

Black and white photo of men and women working on constructing an earthen mound with a doorway cut into it. The doorway is lined with sandbags.
Tempat penampungan serangan udara yang dibangun di Jepang, September 1940

Sebelum perang pemerintah rencana Jepang dalam melindungi negaranya dari serangan udara lebih terfokus pada keunggulan mereka menetralkan pangkalan udara musuh. Bahkan sebelum perang Jepang memperkirakan ancaman terbesar yang paling dekat bagi pulau-pulau Jepang adalah pesawat Soviet yang berbasis di Timur Jauh Rusia. Militer Jepang merencanakan untuk menghancurkan pangkalan udara yang mampu menjangkau daratan Jepang seandainya pecah perang antara Jepang dan Uni Soviet.[10] Juga ketika Perang Pasifik dimulai, pemerintah Jepang memperkirakan bahwa strategi terbaik melindungi negeri Jepang dari serangan adalah dengan merebut wilayah-wilayah di Tiongkok dan Pasifik yang memungkinkan bagi musuh menjangkau Jepang lewat serangan udara.[11] Sekutu diperkirakan Jepang tidak akan mampu merebut kembali basis-basis penting udara yang direbut. Namun Jepang tetap mengantisipasi kemungkinan membuat serangan skala kecil terhadap pulau-pulau mereka menggunakan pesawat angkatan laut yang diterbangkan dari kapal induk. Sekalipun akhirnya pemerintah Jepang tetap memutuskan tidak akan membangun pertahanan yang lebih kuat untuk mengatasi ancaman serangan udara bagi negaranya. Padahal sebagai negara industri seharusnya Jepang membangun pertahanan bagi pulau-pulaunya, karena kehancuran industri di negara induk Jepang akan berdampak bagi keunggulan militer mereka di medan perang Pasifik yang lebih luas.

Jepang tidak sepenuhnya mengabaikan pertahanan sipil negara mereka. Beberapa unit pertahanan udara berupa baterai anti-pesawat ditempatkan di pulau-pulau penting Jepang selama bulan-bulan awal Perang Pasifik. Komando Besar Pertahanan (GDC) dibentuk pada bulan Juli 1941 untuk mengawasi pertahanan pulau-pulau Jepang, tetapi seluruh unit tempur di daerah ini hanya ditugaskan untuk empat daerah regional militer saja (Utara, Timur, Tengah dan Barat). GDC melaporkan langsung semua perihal diwilayah operasional mereka kepada Departemen Perang. Akibatnya, fungsi GDC ini terbatas pada koordinasi dan komunikasi saja sementara pengambil keputusan utama adalah Markas Besar Kekaisaran Jepang sebagai pemegang kekuasaan militer tertinggi.[12] Pada awal tahun 1942, kekuatan yang dialokasikan untuk pertahanan Jepang terdiri 100 pesawat tempur Angkatan Udara dan 200 pesawat milik Angkatan Laut, sebagian besar merupakan pesawat usang. Selain itu Jepang menyiagakan 500 tentara dan 200 senjata anti-pesawat.[13] Sebagian besar pertahanan dari angkatan darat, laut dan udara ini diposisikan di pulau-pulau penting dengan unit pelatihan yang hanya memiliki kemampuan terbatas untuk melawan serangan Sekutu.[14] Angkatan Bersenjata juga mengoperasikan jaringan pos pengamatan militer dan sipil untuk memberikan peringatan dini serangan udara dan mengembangkan beberapa stasiun radar. Adapun untuk langkah komando dan kontrol pertahanan udara terbagi antara Angkatan Udara dan Angkatan Laut membuat kesulitan tersendiri dalam mengkoordinasikan setiap kegiatan mereka atau berkomunikasi satu sama lain. Akibatnya, pasukan tidak mampu bereaksi dalam menghadapi adanya serangan udara mendadak.[13]

Tempat penampungan serangan udara skala besar yang dibangun di Jepang

Ditengah kecamuk perang Pasifik itu keadaan kota-kota di Jepang sangat rentan terhadap kerusakan yang diakibatkan karena tata ruang dan desain kota-kota di Jepang diketahui sangat lemah serta lemahnya organisasi pertahanan sipil negara. Perkotaan yang umumnya padat dan sebagian besar bangunan dibangun dari bahan yang sangat mudah terbakar seperti kertas dan kayu. Selain itu, fasilitas industri dan militer di daerah perkotaan yang umumnya dikelilingi oleh bangunan pemukiman penduduk yang padat.[15][16] Dalam kerentanan kondisi kota-kota Jepang, keberadaan petugas pemadam kebakaran yang profesional tidak begitu diperhatikan. Tugas-tugas pemadaman sebagian besar masih mengandalkan para relawan dan departemen pemadam kebakaran Jepang masih menggunakan peralatan usang serta para personil mereka tidak terlatih sebagaimana mestinya.[17] Latihan antisipasi serangan latihan udara telah dilaksakan di Tokyo dan Osaka sejak tahun 1928. Pada tahun 1937 pemerintah daerah diwajibkan untuk membekali warga sipil dengan buku petunjuk yang menjelaskan tentang tatacara merespon serangan udara.[18] Sebelum perang Pasifik di beberapa tempat telah dibangun perlindungan dari serangan udara untuk warga sipil dan juga dibangun fasilitas pertahanan udara lainnya.[19]

Serangan awal[sunting | sunting sumber]

Serangan Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Angkatan Udara Tiongkok melakukan serangan tunggal terhadap pulau-pulau Jepang selama Perang Tiongkok-Jepang Kedua. Pada tanggal 19 Mei 1938 dua pesawat Tiongkok menjatuhkan selebaran propaganda di Nagasaki, Fukuoka, Kurume, Saga, dan lokasi lainnya di Kyushu. Selebaran ini tidak memberikan dampak apapun bagi warga sipil Jepang, kecuali menunjukkan bagi pemerintah Jepang bahwa Tiongkok memiliki peluang untuk melakukan serangan udara skala kecil di daerah mereka. Militer Jepang juga salah menilai Tiongkok memiliki pesawat yang tidak mampu melakukan serangan pada radius 1.300 mil (2.100 km) dari basis mereka. Selama tahun 1939 Jepang melakukan tindakan pencegahan terhadap peluang serangan Tiongkok di wilayah barat negara itu.[20]

Serangan Doolitle[sunting | sunting sumber]

Black and white photo of a flat-decked ship at sea. It is carrying aircraft on the rear of its deck, and one plane is flying immediately in front of the ship.
Sebuah B-25 Mitchell lepas landas dari USS Hornet pada tanggal 18 April 1942
Komandan operasi Letnan Kolonel James H. Doolittle, USAAF (depan) memasangkan medali pada bom seberat 500-pon, selama upacara di dek penerbangan USS Hornet, tak lama sebelum melepas pasukannya 16 pengebom B-25 B menuju Jepang. Pesawat-pesawat ini diluncurkan pada tanggal 18 April 1942.

Pesawat USAAF pertama kali membom Jepang pada pertengahan April 1942. Dalam sebuah operasi yang dilaksanakan untuk meningkatkan semangat Amerika Serikat sekaligus untuk membalas serangan Jepang terhadap Pearl Harbor, 16 pengebom menengah B-25 Mitchell didatangkan dari San Francisco ke wilayah yang mampu menjangkau Jepang dengan kapal induk USS Hornet. Pesawat-pesawat ini diluncurkan pada tanggal 18 April, dan melakukan serangan individual dengan terget membom sasaran di Tokyo, Yokohama, Yokosuka, Nagoya dan Kobe. Unit pertahanan udara Jepang terkejut, dan semua B-25 lolos tanpa mampu mereka hadang. Pesawat-pesawat tersebut kemudian melanjutkan penerbangannya ke Tiongkok dan Uni Soviet, meskipun beberapa di antaranya jatuh di wilayah Jepang setelah kehabisan bahan bakar.[21] Serangan dadakan ini menghancurkan sekitar 400 rumah dan menimbulkan korban di pihak Jepang tewas sebanyak 50 orang tewas dan lebih dari 400 yang terluka.[22]

Pada kenyataannya Serangan Doolittle hanya menyebabkan kerusakan kecil yang tak terlalu berarti bagi Jepang, namun serangan itu membawa konsekuensi penting bagi Amerika. Serangan itu telah mengangkat moral di Amerika Serikat sehingga komandan serangan, Letnan Kolonel James H. Doolittle dianggap sebagai pahlawan.[23] Lemahnya pertahanan udara telah membuat malu kepemimpinan militer di Jepang. Segera setelah itu empat kelompok tempur dipindahkan dari Pasifik untuk mempertahankan pulau-pulau penting Jepang. Dalam upaya untuk mencegah serangan angkatan laut lebih lanjut, Angkatan Laut Jepang melancarkan serangan di Samudera Pasifik yang berakhir dengan kekalahan mereka dalam Pertempuran Midway.[24] Militer Jepang juga melakukan Kampanye Militer Zhejiang-Jiangxi untuk merebut lapangan udara di Tiongkok tengah di mana pesawat-pesawat yang terlibat dalam serangan Doolittle hendak mendarat. Serangan ofensif ini memang berhasil mencapai tujuannya tetapi telah mengakibatkankematian 250.000 tentara dan warga sipil Tiongkok. Dimana dari banyaknya dari kematian warga sipil ini akibat kejahatan perang yang dilakukan tentara Jepang.[25] Selain itu Angkatan Darat Jepang juga mulai mengembangkan balon api mampu membawa bom pembakar dari Jepang ke daratan Amerika Serikat.[26]

Pengeboman Kepulauan Kuril[sunting | sunting sumber]

Setelah Serangan Doolittle, serangan udara berikutnya terhadap Jepang digelar atas Kepulauan Kuril pada pertengahan tahun 1943. Serangan ini diawali dengan operasi pembebasan Pulau Attu, Alaska bulan Mei 1943 melalui Kampanye Kepulauan Aleut, Pulau Attu kelak dijadikan landasan buat USAAF untuk menjangkau Kuril. Dalam bagian dari mempersiapkan operasi pembebasan Kuril, sebagian Angkatan Udara Amerika terlebih dahulu membebaskan Pulau Kiska di gugusan kepulauan Aleutian. Sementara sebagian kekuatan ANgkatan Udara lainnya melakukan serangkaian serangan terhadap Kuril untuk menekan unit udara Jepang yang ditempatkan di sana. Serangan terhadap Kuril pertama kali dilancarkan di bagian selatan Shumshu dan utara Paramushir dengan kekuatan 8 unit B-25 pada tanggal 10 Juli. Kuril diserang lagi pada 18 Juli oleh 6 pengebom berat B-24 Liberator pengebom berat lalu Amerika Serikat melancarkan serangan tanpa perlawanan terhadap pulau Kiska (Operasi Cottage) berlangsung pada 15 Agustus.[27]

Unit tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS terus membuat serangan berskala kecil di Kepulauan Kuril sampai bulan terakhir perang. Serangan USAAF sempat dipatahkan selama lima bulan misi itu diluncurkan, pada tanggal 11 September 1943 sembilan dari 20 pesawat pengebom B-24 dan B-25 hilang setelah melakukan serangan. Tetapi pesawat PBY Catalina yang dioperasikan oleh Angkatan Laut AS meneruskan aksinya menyerang Kuril. Dalam menanggapi serangan Amerika, Angkatan Laut Jepang membangun Armada di Area Utara-Timur pada bulan Agustus 1943, dan pada bulan November tahun kekuatan tempur Jepang di Kuril dan Hokkaido ditambah sebanyak 260 pesawat. Setelah kedatangan dua skuadron P-38 Lightning untuk mengawal pesawat tempur mereka pada bulan Februari 1944, Angkatan Udara AS kembali elancarkan aksi ofensif terhadap sasaran di Kuril sampai Juni 1945.[28] Serangan ini hanya memberikan dampak kerusakan yang kecil bagi Jepang, yang memberikan kesempatan Jepang mengalihkan sejumlah besar tentara mereka untuk mempertahankan pulau utara mereka dari peluang invasi Amerika Serikat.[29]

Operasi Matterhorn[sunting | sunting sumber]

A black and white map of east Asia. Most of the cities depicted on the map are marked with bomb symbols.
Lokasi pangkalan pengebom B-29 di Tiongkok dan target utama mereka menyerang sasaran di Asia Timur selama Operasi Matterhorn

Persiapan[sunting | sunting sumber]

Pada akhir tahun 1943, Kepala Staf Gabungan angkatan bersenjata Amerika Serikat menyetujui usulan untuk memulai kampanye udara strategis melawan Jepang tanah air mereka dan Asia Timur dengan mengandalkan pengebom berat B-29 Superfortress yang berbasis di India dan kedepannya diharapkan akan mendirikan pangkalan udara di Tiongkok. Strategi ini, yang dinamakan Operasi Matterhorn, yang melibatkan pembangunan lapangan terbang besar dekat Chengdu di daratan Tiongkok yang kelak akan digunakan untuk pangkalan pengisian bahan bakar B-29 dalam perjalanannya dari pangkalan udar di Bengal menyerang sasaran di Jepang.[30]

Chennault seorang perwira penting Angkatan Udara AS di Tiongkok, menganjurkan pangkalan B-29 dibangun dekat Guilin, agar lebih dekat ke Jepang. Tetapi daerah ini dinilai terlalu rentan terhadap serangan balasan Jepang.[31] Keputusan membangun lapangan terbang di Chengdu juga tidak terlalu efektif, karena pulau terdekat Jepang dari Chengdu adalah Kyūshū satu-satunya sasaran yang bisa dijangkau pengebom B-29 diwilayah Jepang. Karena pesawat pengebom ini hanya memiliki radius tempur sejauh 1.600 mil (2,600 km).[32] Pembangunan lapangan udara dimulai pada Januari 1944, dan proyek tersebut melibatkan sekitar 300.000 tenaga wajib militer Tiongkok dan 75.000 pekerja kontrak.[33]

Sebagai kekuatan inti Operasi Matterhorn Komando Pengebom XX ditugaskan, pada bulan Desember 1943 dan awak darat mulai meninggalkan Amerika Serikat menuju India.[34][35] Gugus tugas ke-20 Angkatan Udara AS dibentuk pada bulan April 1944 untuk mengawasi semua operasi B-29. Dalam sebuah langkah belum pernah terjadi sebelumnya, komandan USAAF, Jenderal Henry H. Arnold mengambil komando pribadi unit ini dan menjalankan semua tugasnya dari Pentagon di Washington, DC.[36] Divisi penerbang pengebom 58 adalah satuan tempur utama Komando Pengebom XX, mulai bergerak dari pangkalan mereka di Kansas menuju India antara April hingga pertengahan Mei 1944.[37]

Intelijen Jepang mendeteksi pembangunan pangkalan B-29 di India dan China dan militer mulai mengembangkan rencana untuk menghadapi serangan udara yang datang dari Tiongkok.[38] Tiga brigade udara angkatan udara ditempatkan di Honshū dan Kyūshū kemudian diperluas menjadi divisi udara antara Maret dan Juni (Divisi udara 10, 11 dan 12). Pada akhir Juni unit udara yang mempertahankan pulau-pulau Jepang ditugaskan 260 tentara, dan menarik sekitar 500 pesawat tambahan untuk mengatasi keadaan darurat.[39][40][41] Tambahan baterai anti-pesawat dan unit penyorot juga didirikan untuk melindungi kota-kota besar dan pangkalan militer.[40] Wewenang komando pertahanan utama Jepang diperkuat dengan menempatkan unit militer di distrik militer Barat Timur, Tengah di bawah komando pada bulan Mei.[42] Sementara unit tempur pertahanan angkatan laut Jepang ditempatkan di Kure, Sasebo dan Yokosuka, unit ini juga bertugas untuk komando pertahanan utama pada bulan Juli. Namun antar unit tentara yang ditugaskan di bawah komando pertahanan ini sedikit sekali melakukan kerjasama.[41][43][44] Meskipun telah dilakukan perbaikan disana sini, pertahanan udara Jepang tetap masih belum memadai karena beberapa senjata pesawat dan anti-pesawat tidak dapat dilibatkan secara efektif untuk menghadang pesawat pengebom B-29 pada ketinggian jelajah 30.000 kaki (9.100 m). Jumlah stasiun radar yang mampu memberikan peringatan dini dari serangan juga tidak cukup untuk menjangkau luasnya wilayah yang harus dilindungi dari serangan.[45]

Pemerintah Jepang juga berupaya meningkatkan pertahanan sipil negara itu dalam menanggapi Serangan Doolittle maupun ancaman serangan lebih lanjut. Dalam skala nasional pemerintah membebankan pembangunan fasilitas perelindungan serangan udara buat sipil kepada pemerintah prefektur. Namun di beberapa tempat proyek pembangunan perelindungan ini tidak terlaksana karena kekurangan beton dan baja. Pada bulan Oktober 1943 Kementerian Dalam Negeri Jepang mengarahkan rumah tangga di kota-kota besar untuk membangun tempat perlindungan mereka sendiri, meskipun tempat perlindungan ini hanya berupa parit perlindungan.[19] Sejumlah kecil tempat perlindungan canggih dibangun untuk kantor pusat pertahanan udara dan untuk perlindungan kunci fasilitas telepon. Namun kurang dari dua persen warga sipil yang memiliki akses ke perlindungan udara yang mampu bertahan terhadap serangan bom, bahkan terowongan dan gua-gua alam juga digunakan untuk melindungi warga sipil dari serangan B-29.[46] Menyusul pecahnya perang, Kementerian Dalam Negeri menambah jumlah petugas pemadam kebakaran dengan merekrut relawan tetap relawan yang umumnya tidak mendapatkan pelatihan dan tidak dibekali peralatan yang memadai.[47] Warga sipil juga dilatih untuk menangani kebakaran dan didorong untuk mengutuk untuk menanggapi serangan terhadap negeri mereka dengan bom pembakar dan bom berdaya ledak tinggi.[48]

Black and white photo of women standing on a street passing buckets along a chain of people towards a building on fire. Other people are climbing a ladder from the street into the building.
Warga sipil berpartisipasi dalam sebuah latihan serangan udara pada tahun 1942

Pada musim gugur tahun 1943 pemerintah Jepang telah mengambil langkah lebih lanjut guna mempersiapkan kota-kota besar negara itu menghadapi serangan udara. Markas besar pertahanan udara dibentuk pada bulan November, bulan berikutnya pemerintah melaksanakan program penghancuran sejumlah besar bangunan di kota-kota besar untuk dijadikan penyekat api. Ketika perang berakhir tidak kurang dari 614.000 unit rumah telah dihancurkan untuk dalam program penyekat api ini. Total kerugian Jepang di bidang perumahan rakyat akibat program penyekat api ini mencapai seperlima dari total kehancuran rumah dan gedung pemerintah akibat perang, serta mengakibatkan pengungsian bagi 3,5 juta orang.[49] Pemerintah juga mendorong warganya yang beresiko tinggi terdiri dari orang tua, anak-anak dan perempuan di kota-kota yang diyakini akan diserang untuk pindah ke pedesaan sejak bulan Desember tahun 1943. Dalam program ini termasuk rencana mengevakuasi seluruh murid sekolah berdasarkan sekolah mereka. Pada bulan Agustus tahun 1944, 330.000 murid telah dievakuasi dalam kelompok sekolah mereka dan 459.000 lainnya telah pindah ke pedesaan bersama keluarga mereka.[48] Tak banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk menghentikan fasilitas industri agar tidak terlalu rentan terhadap serangan, karena fasilitas industri masih sangat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan logistik perang maupun sipil.[50]

Serangan dari Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Komando Pengebom XX mulai menerbangkan misi menghadapi Jepang pada pertengahan Juni 1944. Serangan pertama terjadi pada malam 15/16 Juni ketika 75 unit pengebom B-29 dikirim untuk menyerang pabrik besi dan baja kekaisaran di Yawata bagian utara Kyūshū. Serangan ini menymbangkan sedikit kerusakan dengan mengorbankan tujuh unit pesawat pengebom B-29, namun serangan ini mendapat perhatian besar dari warga AS karena diliput dengan antusias oleh media. Bagi warga sipil Jepang serangan ini menjadi sebuah ancaman besar karena perang kini telah berlangsung di tanah air mereka sendiri.[51][52] Militer Jepang mulai memperluas kekuatan tempur mereka di pulau-pulau utama setelah serangan terhadap Yawata, pada bulan Oktober sekitar 375 unit pesawat ditugaskan mengisi divisi pertahanan udara. Hingga akhir maret 1945 kekuatan divisi tersebut masih belum berubah.[41] Dari tempatnya di Pentagon, Jenderal Henry H. Arnold membebastugaskan komandan Komando Pengebom XX Brigadir Jenderal Kenneth Wolfe tak lama setelah serangan di Yawata, karena Wolfe tidak mampu membuat serangan lebih lanjut terhadap Jepang karena kekurangan stok bahan bakar di pangkalan Tiongkok. Pengganti Wolfe adalah Mayor Jenderal Curtis LeMay, seorang veteran serangan bom Angkatan Udara AS melawan Jerman.[53]

Four 4-engined World War II-era aircraft sitting on the ground at an airstrip. Groups of people are working near each aircraft.
Pengebom B-29 dalam persiapan menyerang Yawata pada tanggal 15 Juni 1944

Serangan lanjutan pengebom B-29 yang diluncurkan dari Tiongkok umumnya gagal mencapai tujuan serangan. Serangan kedua yang terjadi pada tanggal 7 Juli ketika 17 unit B-29 menyerang Sasebo, Omura dan Tobata, namun hanya memberikan kerusakan kecil. Lalu dan pada malam 10/11 Agustus 24 unit Superfortress menyerang Nagasaki. Kegagalan serangan lain terhadap Yawata terjadi pada tanggal 20 Agustus di mana kekuatan 61 unit B-29 dicegat oleh lebih dari 100 pesawat tempur Jepang. Dua belas dari enam puluh satu Superfortresses yang mencapai wilayah sasaran berhasil ditembak jatuh target ditembak jatuh, termasuk satu yang hancur dalam serangan bunuh diri pilot Jepang.[54] Guna mengobarkan semangat juang rakyat dan tentaranya militer Jepang mempropagandakan bahwa mereka telah menembak jatuh 100 pesawat pengebom selama rangkaian serangan ini dan salah satu pengebom B-29 yang jatuh dipamerkan di Tokyo.[55]

Kinerja Komando Pengebom XX baru membaik setelah LeMay menerapkan program pelatihan dan peningkatan organisasi unit pemeliharaan B-29 selama bulan Agustus dan September. Pada tanggal 25 Oktober LeMay memerintahkan sebuah serangan terhadap kota Ōmura yang berhasil menghancurkan pabrik pesawat kecil milik Jepang di kota itu. Namun serangan berikutnya pada tanggal 11 November kembali berakhir dengan kegagalan. Kota ini diserang lagi oleh 17 unit pengebom pada tanggal 19 Desember dan empat hari kemudian pada tanggal 21 November melibatkan 61 unit B-29. Markas Komando Pengebom XX membuat sembilan kali serangan terhadap Jepang, terakhir kali diluncurkan pada tanggal 6 Januari 1945 ketika 28 unit B-29 membom Ōmura. Selama periode yang sama komando juga melakukan sejumlah serangan terhadap sasaran-sasaran musuh di Manchuria, Tiongkok dan Formosa dari pangkalan di China. Sementara target menyerang Asia Tenggara dilancarkan dari India. Misi terbang terakhir komando ini digelar dari India ketika dilancarkannya serangan di Singapura pada tanggal 29 Maret. Selanjutnya semua unit komando dipindahkan ke Kepulauan Mariana.[56]

Secara keseluruhan, Operasi Matterhorn dinyatakan tidak berhasil. Sebanyak sembilan serangan dilakukan terhadap Jepang melalui pangkalan di Tiongkok hanya berhasil menghancurkan pabrik pesawat Omura. Sementara Komando Pengebom XX kehilangan 125 unit B-29 dalam semua operasi mereka dari pangkalan di India dan China. Dari keseluruhan pesawat B-29 yang hilang tersebut hanya 22 atau 29 unit saja yang dihancurkan oleh pasukan Jepang, sebagian besar di antara kerugian tersebut terjadi akibat mengalami kecelakaan terbang.[57][58] Serangan demi serangan tersebut memiliki dampak terbatas pada moral warga sipil di Jepang tetapi hal itu memaksa militer Jepang untuk memperkuat pertahanan udara pulau-pulau penting dengan mengorbankan pertahanan mereka di wilayah lain yang sedang mereka duduki. Hasil ini tidak sebanding dengan alokasi sumber daya yang besar dari sekutu terhadap operasi. Selain itu, adanya pengalihan beberapa pesawat logistik yang diterbangkan antara India dan Tiongkok untuk mendukung upaya Komando Pengebom XX kemungkinan telah mencegah Angkatan Udara AS dari melakukan operasi yang lebih berhasil terhadap posisi Jepang. Sejarah resmi USAAF menilai bahwa kesulitan mengangkut logistik yang memadai ke India dan Tiongkok menjadi faktor utama di balik kegagalan Operasi Matterhorn, meskipun masalah teknis dengan B-29s dan pengalaman dari awak mereka juga mejadi penghalang tingkat keberhasilan kampanye.[59] Kondisi cuaca yang secara umum sangat di atas wilayah Jepang juga membatasi efektivitas pesawat pengebom Superfortres, kesulitan akibat cuaca yang dialami kru pesawat yang berhasil mencapai sasaran mereka seringkali tidak mampu menjatuhkan bom secara tepat karena angin kencang atau terhalang awan.[32]

Serangan awal dari Kepulauan Mariana[sunting | sunting sumber]

Black and white photo of a middle-aged man wearing military uniform pointing a stick at a map of the Tokyo region of Japan
Brigadir Jenderal Haywood S. Hansell berpose dengan peta wilayah Tokyo pada bulan November 1944

Pasukan dari Korps marinir Amerika Serikat dan Angkatan Darat Amerika Serikat berhasil merebut pulau-pulau Jepang Guam, Saipan dan Tinian di Kepulauan Mariana antara bulan Juni hingga Agustus 1944.[60] Para insinyur USAAF dan Angkatan Laut AS kemudian membangun enam lapangan udara di pulau-pulau tersebut untuk menampung ratusan pesawat B-29.[61] Pangkalan udara ini diharapkan lebih mampu mendukung kampanye udara intensif melawan Jepang daripada pangkalan sebelumnya di Tiongkok karena kini AS bisa dengan mudah menyediakan pasokan lewat laut dan letaknya 1,500 mil (2,400 km) dari selatan Tokyo. Dari pangkalan yang strategis ini pesawat-pesawat pengebom B-29 dengan mudah menyerang daratan Jepang lalu kembali tanpa pengisian bahan bakar.[1] Pesawat Jepang beberapa kali melancarkan serangan terhadap Saipan ketika pangkalan udara sedang ini dibangun.[62] Komando Pengebom XXI Angkatan Udara mulai tiba di Kepulauan Mariana selama Oktober 1944. Komando ini dipimpin oleh Brigadir Jenderal Haywood S. Hansell, yang selama ini berpartisipasi dalam operasi Kedelapan Angkatan Udara melawan Jerman. Pesawat pengebom B-29 yang dikendalikan oleh Komando Pengebom XXI terbang enam misi latihan terhadap sasaran-sasaran di Pasifik Tengah selama bulan Oktober dan November dalam persiapan untuk serangan pertama mereka di Jepang.[63] Pada tanggal 1 November satu unit pesawat F-13 (varian B-29) dari skuadron 3 melakukan misi terbang pengintaian di atas Tokyo. Pesawat tersebut adalah pesawat pertama Anerika Serikat yang melakukan penerbangan di atas kota Tokyo semenjak Serangan Doolitle. Selanjutnya beberapa sorti F-13 diterbangkan di atas kota itu untuk misi mengumpulkan data intelijen pada pabrik pesawat terbang dan fasilitas pelabuhan di daerah Tokyo-Yokosuka.[64]

Lokasi Pangkalan Udara Angkatan Udara Amerika Serikat di Pulau Mariana

Komando Pengebom XXI pada serangan awal terhadap Jepang memusatkan perhatiannya pada industri pesawat terbang di negara itu.[65] Serangan pertama digelar dengan nama sandi Operasi San Antonio I, dilancarkan terhadap instalasi pesawat Musashino di pinggiran Tokyo pada tanggal 24 November 1944. Hanya 24 dari 111 unit B-29 yang dikirim bertugas menyerang target utama, sedangkan yang lainnya menjatuhkan bom terhadap fasilitas pelabuhan serta industri dan daerah perkotaan. Misi Amerika ini dicegat oleh 125 pesawat tempur Jepang tetapi pencegat hanya berhasil menembak jatuh satu B-29.[1] Serangan ini menyebabkan beberapa kerusakan pada instalasi pesawat dan menurunkan kepercayaan warga sipil Jepang atas pertahanan udara negara mereka.[66] Sebagai balasan, ANgkatan Udara dan Laut Jepang meningkatkan serangan udara mereka terhadap pangkalan B-29 di Kepulauan Mariana sejak 27 November 1944 serangan ini terus dilanjutkan hingga bulan Januari 1945 dan berhasil menghancurkan 11 Superfortress dan merusak 43 lainnya, sementara Jepang kehilangan sekitar 37 pesawat mereka.[67] Angkatan Darat Kekaisaran Jepang juga meluncurkan balon api untuk menyerang Amerika Serikat pada bulan November. Tetapi kampanye tersebut hanya menyebabkan kerusakan kecil dan akhirnya tidak dihentikan pada bulan Maret 1945. Dari jumlah 9.000 balon yang telah dikirim hanya 285 balon saja dilaporkan berhasil mencapai perbatasan Amerika Serikat.[68]

Serangan Amerika berikutnya di Jepang dilaporkan tidak berhasil. Komando Pengebom XXI menyerang Tokyo tiga kali antara tangal 27 November hingga 3 Desember dua penyerangan tersebut dilakukan terhadap instalasi pesawat Musashino sementara satu kali yang lain menargetkan kawasan industri dengan mengerahkan bom cluster pembakar M-69 yang khusus dikembangkan untuk merusak daerah perkotaan Jepang.[69] Pabrik Pesawat yang diserang pada tanggal 27 November dan 3 Desember hanya mengalami rusak ringan dikarenakan adanya angin kencang dan awan sehingga mencegah pengeboman bisa dilakukan secara tepat. Serangan bom pembakar dilakukan pada malam 29/30 November dengan mengerahkan 29 unit Superfortress, namun hanya berhasil membakar sepersepuluh mil persegi. Sehingga ketiga serangan tersebut juga dinilai tidak berhasil.[70].

Black and white photo of flaming wreckage falling towards the ground. The wing of a plane is visible at the left-hand side of the photo.
Sebuah B-29 jatuh dan terbakar setelah mendapatkan serangan langsung dari senjata anti pesawat di atas Jepang

Empat dari lima penyerangan Komando Pengebom XXI berikutnya dilakukan terhadap sasaran di Nagoya. Dua serangan pertama dilancarkan pada 13 dan 18 Desember menggunakan taktik ketepatan pengeboman, serangan ini berhasil menghancurkan instalasi industri pesawat di kota sasaran.[71]

Serangan ketiga adalah sebuah serangan pembakar yang dilancarkan pada siang hari yang dilakukan setelah pihak Angkatan Udara mengerahkan 100 unit B-29 yang bersenjatakan bom M-69 dengan sasaran kota Nagoya. Serangan ini dilakukan untuk menguji efektifitas senjata M-69 pada sebuah kota di Jepang. Hansel menentang perintah tersebut karena ia lebih yakin bahwa serangan dengan taktik ketepatan pengeboman lebih memberikan hasil yang menggembirakan, sementara melakukan taktik pembakaran pada siang hari merupakan sebuah taktik yang kontraproduktif. Namun secara garis besar operasi ia menyetujui operasi setelah ia mengetahui bahwa tidak terjadi pergeseran secara umum dalam taktik yang dilaksanakan.[72] Kendati terjadi perubahan pada penggunaan persenjataan, pada tanggal 22 Desember diluncurkan sebuah serangan yang awalnya direncanakan sebagai serangan presisi pada fasilitas pabrik pesawat milik Jepang. Serangan melibatkan 78 pengebom tersebut hanya mengakibatkan kerusakan kecil akibat kondisi cuaca buruk.[73] Beberapa hari berikutnya pada tanggal 27 Desember Komando Pengebom XXI melakukan serangan yang tak begitu merusak terhadap fasilitas pabrik pesawat Musashino di Tokyo. Pada tanggal 3 Januari 1945, 97 unit pengebom B-29 dikirim untuk melakukan serangan bom di daerah Nagoya. Serangan ini memicu terjadinya kebakaran dibeberapa wilayah perkotaan, namun kebakaran itu dengan cepat bisa dikendalikan.[74]

Jenderal Henry H. Arnold merasa kecewa dengan hasil yang tidak menggembirakan yang dicapai Komando Pengebom XXI. Ia berharap Komando agar bisa memperoleh hasil berupa kemajuan yang segera. Selain itu, Arnold juga menganggap rencana Hansell untuk strategi pengeboman presisi sudah tidak sesuai lagi dengan pandangan dari markas Angkatan Udara keduapuluh yang ingin lebih menekankan pada serangan daerah. Akhirnya pada penghujung Desember 1944 Arnold memutuskan untuk membebaskan Hansell dari komandonya. Melihat keberhasilan LeMay dalam meningkatkan kinerja Komando Pengebom XX, Arnold berpikir bahwa LeMay bisa memecahkan persoalan di Komando Pengebom XXI. Maka akhirnya posisi Arnold diganti dengan Hansell yang mendapatkan keputusan Arnold pada tanggal 6 Januari, tetapi tetap dalam posisinya di Komando Pengebom XX sampai pertengahan Januari.[75] Selama periode ini, Komando Pengebom XXI berhasil melakukan serangan bom presisi pada fasilitas pabrik pesawat Musashino di Tokyo dan pabrik Pesawat Mitsubishi di Nagoya masing-masing pada 9 dan 14 Januari. Sebuah serangan lain terhadap pabrik pesawat Kawasaki dekat Akashi pada 19 Januari bisa dikatakan lebih berhasil sesuai rencana Hansell meskipun demikian Komado Pengebom XXI terpaksa merelakan kehilangan sebanyak 77 unit pengebom B-29.[76] Selama iga bulan pertama operasi Komado Pengebom XXI, komando itu telah kehilangan rata-rata 4,1% dari pesawat yang dikirim pada setiap serangan.[77]

Markas Besar Kekaisaran Jepang terlambat mengadopsi program pertahanan sipil. Baru pada akhir Januari 1945 rencana pertahanan sipil untuk melawan serangan udara Amerika dilaksanakan. Dalam program ini tanggung jawab untuk mengatasi kebakaran akibat serangan udara ditugaskan pada dewan masyarakat yang memberikan bantuan bagi unit pemadam kebakaran profesional. Warga sipil diarahkan mengamati pemadaman kebakaran mulai dari pukul 10:00. Sementara posisi Jepang di Kepulauan Bonin yang biasanya mampu memberikan peringatan satu jam dari serangan Amerika dan sirene serangan udara dibunyikan di kota juga mulai terancam oleh serangan.[78]

Serangan pertama yang dilancarkan di bawah kepemimpinan LeMay mencapai hasil yang beragam. Komando Pengebom XXI menerbangkan enam misi utama antara 23 Januari dan 19 Februari dengan sedikit keberhasilan, meskipun sebuah serangan pembakar terhadap Kobe pada 4 Februari mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada kota tersebut dan pabrik-pabrik utamanya.[79] Selain itu, sementara prosedur perawatan perbaikan yang diterapkan oleh LeMay mengurangi jumlah pesawat B-29 yang harus kembali ke pangkalan selama penyerangan karena masalah teknis, Komando tersebut mengalami tingkat kerugian sebesar 5,1% dalam operasi ini.[80] Dari 19 Februari hingga 3 Maret, Komando Pengebom XXI melancarkan serangkaian serangan pengeboman presisi terhadap pabrik pesawat yang berusaha memaksa tinggal satuan udara Jepang sehingga mereka tidak dapat ikut serta dalam Pertempuran Iwo Jima. Namun, serangan ini dibuat frustrasi oleh angin kencang dan tutupan awan dan sedikit kerusakan yang terjadi. Sebuah serangan bom api yang dilancarkn terhadap Tokyo oleh 172 pesawat B-29 pada 25 Februari dianggap berhasil karena membakar atau merusak sekitar satu mil persegi wilayah urban kota.[81] Serangan ini merupakan tes efektivitas pengeboman berskala besar.[82]

Serangan bom api[sunting | sunting sumber]

LeMay mengubah taktik[sunting | sunting sumber]

Perencana USAAF mulai menilai kelayakan kampanye pengeboman api terhadap kota-kota Jepang pada tahun 1943. Fasilitas industri utama Jepang rentan terhadap serangan tersebut karena terkonsentrasi di beberapa kota besar dan proporsi produksi yang tinggi terjadi di rumah-rumah dan pabrik kecil di daerah perkotaan. Perencana memperkirakan bahwa serangan bom pembakar di enam kota terbesar di Jepang dapat menyebabkan kerusakan fisik pada hampir 40 persen dari fasilitas industri dan mengakibatkan hilangnya 7,6 juta waktu kerja selama sebulan. Diperkirakan juga bahwa serangan tersebut akan membunuh lebih dari 500.000 orang, menyebabkan sekitar 7,75 juta orang kehilangan tempat tinggal dan memaksa hampir 3,5 juta orang dievakuasi.[83] USAAF menguji keefektifan bom pembakar pada bangunan bergaya Jepang di Lapangan Eglin dan "Desa Jepang" di Dugway Proving Ground.[84] Militer Amerika juga berusaha mengembangkan "bom kelelawar", dengan menggunakan bom pembakar yang terpasang pada kelelawar yang dijatuhkan oleh pesawat untuk menyerang kota-kota di Jepang, namun proyek ini ditinggalkan pada 1944.[85]

Mengingat hasil buruk dari kampanye pengeboman presisi dan keberhasilan serangan 25 Februari di Tokyo, LeMay memutuskan untuk memulai serangan bom api di kota-kota utama Jepang pada awal Maret.[86] Hal ini sesuai dengan arahan penargetan Arnold untuk Komando Pengebom XXI, yang menetapkan bahwa daerah perkotaan diberi prioritas tertinggi kedua untuk serangan setelah pabrik pesawat. Pengarahan tersebut juga menyatakan bahwa serangan bom api harus dilakukan begitu bom M-69 telah diuji dalam pertempuran dan jumlah B-29 yang tersedia cukup untuk melancarkan kampanye intensif.[87] LeMay tidak meminta persetujuan khusus Arnold sebelum melancarkan kampanye pengebomannya, namun, melindungi komandan USAAF dari kritik jika serangan tersebut tidak berhasil. Namun, Kepala Staf Angkatan Udara XX, Brigadir Jenderal Lauris Norstad, menyadari perubahan taktik dan memberikan dukungan.[88] Keputusan untuk menggunakan taktik pengeboman api menunjukkan peralihan dari fokus USAAF sebelumnya dalam pengeboman presisi, dan diyakini oleh para pejabat senior dalam militer dan Pemerintah AS untuk dibenarkan karena kebutuhan untuk segera mengakhiri perang.[89]

Untuk memaksimalkan keefektifan serangan bom api, LeMay memerintahkan B-29 untuk terbang pada altitudo rendah 5.000 feet (1.500 m) dan mengebom pada malam hari; ini merupakan perubahan signifikan dari taktik standar Komando, yang berfokus pada pengeboman siang hari pada altitudo tinggi. Karena pasukan pesawat tempur malam Jepang lemah dan baterai anti pesawat kurang efektif pada malam hari, LeMay juga memerintahkan agar mencopot sebagian besar senjata defensif B-29; dengan mengurangi bobot pesawat melalui cara ini, mereka bisa mengangkut lebih banyak bom.[82] Perubahan ini tidak populer bagi awak pesawat Komando Pengebom XXI, karena mereka percaya bahwa lebih aman untuk menerbangkan pesawat bersenjata berat pada altitudo tinggi.[90]

Kampanye pengeboman api Maret[sunting | sunting sumber]

Black and white aerial photo of an urban area comprising several large buildings separated by large fields of rubble. Streets and rivers are visible.
Pemandangan udara Tokyo setelah perang

Serangan bom api pertama dalam kampanye ini—bernama sandi Operasi Meetinghouse[91]—dilancarkan terhadap Tokyo pada malam hari 9/10 Maret, dan terbukti menjadi satu-satunya serangan udara yang paling merusak dari perang tersebut.[92] Komando Pengebom XXI melakukan upaya maksimal, dan pada sore hari tanggal 9 Maret, 346 pesawat B-29 meninggalkan Marianas menuju Tokyo. Mereka mulai tiba di kota pada pukul 02.00, waktu Guam tanggal 10 Maret, dan 279 pengebom menjatuhkan 1.665 ton bom.[93] Serangan tersebut menyebabkan kebakaran besar massal yang menghancurkan pertahanan sipil Tokyo dan menghancurkan 16 square mile (41 km2) bangunan, mewakili tujuh atau beberapa persen wilayah kota kota.[94] Kepolisian Tokyo dan pemadam kebakaran memperkirakan bahwa 83.793 orang tewas dalam serangan udara tersebut, 40.918 lainnya terluka dan lebih dari satu juta orang kehilangan rumah mereka; perkiraan kematian pascaperang dalam serangan ini berkisar antara 80.000 sampai 100.000 orang.[95][96] Kerusakan pada produksi perang di Tokyo juga cukup besar.[95] Perlawanan Jepang terhadap serangan ini relatif lemah; 14 pesawat B-29 hancur akibat kesalahan tempur atau mekanis dan tambahan 42 pesawat rusak akibat tembakan anti pesawat.[97] Setelah serangan terhadap Tokyo, pemerintah Jepang memerintahkan evakuasi semua anak sekolah kelas tiga sampai enam dari kota-kota utama, dan 87 persen dari mereka telah pergi ke pedesaan pada awal April.[48]

Komando Pengebom XXI menindaklanjuti pengeboman api Tokyo dengan serangan serupa terhadap kota-kota besar lainnya. Pada 11 Maret, 310 pesawat B-29 dikirim ke Nagoya. Pengeboman tersebut tersebar di wilayah yang lebih luas daripada yang terjadi di Tokyo, dan serangan tersebut menyebabkan sedikit kerusakan. Namun, 205 square mile (530 km2) bangunan terbakar habis dan tidak ada pesawat B-29 yang hilang dikarenakan pertahanan Jepang. Pada malam hari tanggal 13/14 Maret, 274 pesawat Superfortresses menyerang Osaka dan menghancurkan 81 square mile (210 km2) kota dengan kehilangan dua pesawat. Kobe adalah target berikutnya dalam kampanye pengeboman api, dan diserang oleh 331 pesawat B-29 pada malam 16/17 Maret. Akibatnya badai api menghancurkan 7 square mile (18 km2) kota (setara dengan setengah luasnya), menewaskan 8.000 orang dan menyebabkan 650.000 orang kehilangan tempat tinggal. Tiga pesawat B-29 hilang. Nagoya diserang lagi pada 18/19 Maret dan pesawat B-29 menghancurkan 295 square mile (760 km2) bangunan. Hanya satu pesawat Superfortress yang tertembak jatuh selama serangan ini, dan seluruh anggota awak pesawatnya diselamatkan setelah pesawat mendarat di atas permukaan laut. Serangan ini menandai berakhirnya kampanye pengeboman api pertama karena Komando Pengebom XXI telah menghabiskan persediaan bom pembakarnya.[98][99] Operasi utama Komando selanjutnya adalah serangan presisi malam yang tidak berhasil di pabrik mesin pesawat Mitsubishi yang dilakukan pada malam hari 23/24 Maret; selama operasi ini lima dari 251 pesawat yang dikirim tertembak jatuh.[100] Pesawat B-29 juga mulai menjatuhkan selebaran propaganda di Jepang selama bulan Maret. Selebaran ini meminta warga sipil Jepang untuk menggulingkan pemerintah mereka atau menghadapi penghancuran.[101]

USAAF menilai bahwa kampanye pengeboman api sangat berhasil, dan mencatat bahwa kerugian Amerika selama serangan ini jauh lebih rendah daripada yang terjadi selama penyerangan presisi. Dengan demikian, Kelompok Target Gabungan (JTG), yang merupakan organisasi berbasis di Washington, D.C. yang bertanggung jawab untuk mengembangkan strategi untuk kampanye udara terhadap Jepang, mengembangkan rencana kampanye dua tahap terhadap 22 kota di Jepang. Namun, JTG juga merekomendasikan bahwa serangan pengeboman presisi pada fasilitas industri yang sangat penting terus berlanjut bersamaan dengan penyerangan wilayah tersebut. Sementara kampanye ini dimaksudkan untuk membentuk bagian persiapan invasi Sekutu ke Jepang, LeMay dan beberapa anggota staf Arnold percaya bahwa hal itu saja akan cukup untuk memaksa negara tersebut menyerah.[102][103]

Pemerintah Jepang prihatin dengan hasil serangan pengeboman api Maret karena penyerangan tersebut menunjukkan bahwa militer Jepang tidak dapat melindungi wilayah udara negara tersebut. Selain kerusakan fisik yang luas di kota-kota yang ditargetkan, serangan tersebut juga menyebabkan meningkatnya absensi karena warga sipil takut meninggalkan rumah mereka untuk bekerja di pabrik-pabrik yang mungkin dibom.[104] Pertahanan udara Jepang diperkuat sebagai respons terhadap serangan bom api, namun tetap tidak memadai; 450 pejuang ditempatkan untuk tugas defensif pada April.[105]

Penghancuran kota-kota utama Jepang[sunting | sunting sumber]

Color map of three different urban areas. The urban areas are marked in grey, with red areas being super-imposed over this to show the portion of the city destroyed by bombing.
Daerah di kota-kota utama Jepang yang hancur akibat serangan udara selama Perang Dunia II

Awal kampanye pengeboman utama ditunda karena Komando Pengebom XXI digunakan untuk menyerang lapangan udara di selatan Jepang dari akhir Maret sampai pertengahan bulan Mei untuk mendukung invasi Okinawa, sebuah pulau hanya beberapa ratus mil selatan pulau asal. Sebelum pendaratan pada 1 April, Komando mengebom lapangan udara di Kyushu di Ōita dan Tachiarai serta pabrik pesawat di Ōmura pada 27 Maret, dan menyerang Ōita dan Tachiarai lagi pada 31 bulan tersebut. Tidak ada pesawat B-29 yang hilang dalam penyerangan ini.[106] Dari 6 April, Jepang melakukan serangan udara kamikaze berskala besar terhadap armada invasi Sekutu, di mana pesawat bunuh diri merusak atau menenggelamkan banyak kapal perang dan kapal angkut. Sebagai bagian dari balasan Sekutu terhadap serangan ini, Komando Pengebom XXI melakukan serangan besar terhadap lapangan udara di Kyushu pada tanggal 8 dan 16 April, meskipun serangan pertamanya dialihkan untuk menyerang daerah permukiman di Kagoshima setelah lapangan udara diketahui tertutup oleh awan. Dari tanggal 17 April sampai 11 Mei, ketika pesawat B-29 dibebaskan untuk tugas-tugas lain, sekitar tiga perempat upaya Komando Pengebom XXI ditujukan untuk menyerang lapangan udara dan target lainnya dalam dukungan langsung bagi Pertempuran Okinawa; ini termasuk 2.104 serangan mendadak terhadap 17 lapangan udara. Penyerangan ini mengakibatkan Komando menderita 24 pesawat B-29 hancur dan 233 rusak dan gagal untuk sepenuhnya menekan serangan kamikaze dari lapangan udara yang ditargetkan.[107][108]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d Wolk (2004), p. 72
  2. ^ Kerr (1991), p. 276
  3. ^ 大東亜戦争に於ける地域別兵員数及び戦没者概数 Ministry of Health and Welfare, 1964.
  4. ^ Coox (1994), p. 417
  5. ^ Roosevelt, Franklin D. "Executive Order 9082 Reorganizing the Army and the War Department". Document Archive. The American Presidency Project. Diakses tanggal 28 December 2011. 
  6. ^ Tillman (2010), pp. 31–32
  7. ^ a b Tillman (2010), p. 32
  8. ^ Romanus and Sunderland (1953), p. 24
  9. ^ a b Tillman (2010), pp. 32–33
  10. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Air Defense Operations Record, p. 1
  11. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Air Defense Operations Record, pp. 1–2
  12. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Operations Record, pp. 2–4
  13. ^ a b Chun (2006), pp. 24–27
  14. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Air Defense Operations Record, p. 7
  15. ^ Craven and Cate (1953), pp. 610, 623
  16. ^ Frank (1999), p. 48
  17. ^ Tillman (2010), pp. 142–143
  18. ^ Havens (1978), p. 155
  19. ^ a b Zaloga (2010), p. 25
  20. ^ Li and Li (1998), p. 265
  21. ^ "America Hits Back: The Doolittle Tokyo Raiders". Factsheets. National Museum of the US Air Force. 
  22. ^ Coox (1994), p. 394
  23. ^ Tillman (2010), p. 7
  24. ^ Chun (2006), pp. 84, 88–91
  25. ^ Hoyt (1987), pp. 277–279
  26. ^ Horn (2005), pp. 205–206
  27. ^ Coles and Olson (1951), pp. 387–391
  28. ^ Tillman (2010), pp. 273–275
  29. ^ Coles and Olson (1951), p. 401
  30. ^ Correll (2009), pp. 62–63
  31. ^ Craven and Cate (1953), pp. xiii, 65
  32. ^ a b Haulman (1999), p. 10
  33. ^ Bell (2014), pp. 45–46
  34. ^ Craven and Cate (1953), pp. 75–79
  35. ^ Tillman (2010), p. 41
  36. ^ Tillman (2010), p. 45
  37. ^ Tillman (2010), pp. 43–44
  38. ^ Kerr (1991), pp. 60–61
  39. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Operations Record, p. 17
  40. ^ a b Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Air Defense Operations Record, p. 11
  41. ^ a b c Craven and Cate (1953), p. 172
  42. ^ Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980), Homeland Operations Record, p. 19
  43. ^ Zaloga (2010), p. 52
  44. ^ Coox (1994), p. 408
  45. ^ Kerr (1991), pp. 61–64
  46. ^ Zaloga (2010), p. 27
  47. ^ Tillman (2010), pp. 142–146
  48. ^ a b c Dear and Foot (2005), p. 484
  49. ^ Havens (1978), pp. 158–159
  50. ^ Havens (1978), p. 158
  51. ^ Correll (2009), p. 63
  52. ^ Craven and Cate (1953), p. 102
  53. ^ Spector (1984), pp. 490–491
  54. ^ Tillman (2010), pp. 53–56
  55. ^ Hoyt (1987), p. 363
  56. ^ Tillman (2010), pp. 58–65
  57. ^ Tillman (2010), p. 65
  58. ^ Correll (2009), p. 65
  59. ^ Craven and Cate (1953), pp. 165–175
  60. ^ Tillman (2010), p. 68
  61. ^ Tillman (2010), pp. 71–75
  62. ^ Fagg (1983), p. 305
  63. ^ Tillman (2010), pp. 77–79
  64. ^ Craven and Cate (1953), pp. 555–556
  65. ^ Craven and Cate (1953), pp. 553–554
  66. ^ Craven and Cate (1953), pp. 559–560
  67. ^ Craven and Cate (1953), pp. 581–582
  68. ^ Horn (2005), pp. 205–207
  69. ^ Frank (1999), pp. 54–56
  70. ^ Kerr (1991), pp. 108–109
  71. ^ Craven and Cate (1953), pp. 564–565
  72. ^ Kerr (1991), pp. 117–118
  73. ^ Craven and Cate (1953), p. 564
  74. ^ Kerr (1991), pp. 118–119
  75. ^ Craven and Cate (1953), pp. 566–568
  76. ^ Craven and Cate (1953), pp. 565–568
  77. ^ Tillman (2010), p. 99
  78. ^ Havens (1978), pp. 159–161
  79. ^ Craven and Cate (1953), pp. 568–570
  80. ^ Tillman (2010), pp. 99–100
  81. ^ Craven and Cate (1953), pp. 570–573
  82. ^ a b Haulman (1999), p. 22
  83. ^ Wolk (2010), pp. 112–113
  84. ^ Craven and Cate (1953), pp. 610–611
  85. ^ Glines (1990)
  86. ^ Wolk (2004), p. 73
  87. ^ Kerr (1991), pp. 145–146
  88. ^ Wolk (2010), p. 124
  89. ^ Huston (1995), pp. 171, 173
  90. ^ Dorr (2002), p. 36
  91. ^ "March 9, 1945: Burning the Heart Out of the Enemy". Wired. Condé Nast Digital. 9 March 2011. Diakses tanggal June 8, 2014. 
  92. ^ Wolk (2010), p. 125
  93. ^ Frank (1999), pp. 64–66
  94. ^ Tillman (2010), pp. 149–153
  95. ^ a b Kerr (1991), p. 207
  96. ^ Ferguson (2007), p. 573
  97. ^ Frank (1999), pp. 66–67
  98. ^ Frank (1999), pp. 68–69
  99. ^ Hastings (2007), p. 330
  100. ^ Frank (1999), p. 69
  101. ^ Szasz (2009), p. 534
  102. ^ Craven and Cate (1953), pp. 623–627
  103. ^ Frank (1999), p. 304
  104. ^ Tillman (2010), pp. 156–157
  105. ^ Coox (1994), pp. 414–415
  106. ^ Craven and Cate (1953), p. 631
  107. ^ Craven and Cate (1953), pp. 632–633
  108. ^ Frank (1999), p. 72

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Bell, Raymond E. (Fall 2014). "With Hammers and Wicker Baskets : The Construction of U.S. Army Airfields in China During World War II" (PDF). Army History (93): pp. 30–53. 
  • The Bulletin of the Atomic Scientists (1995). "Editor's Note: Dehousing". The Bulletin of the Atomic Scientists 51 (3): p. 2. 
  • Cahill, William M. (Spring 2012). "Imaging the Empire: The 3d Photographic Reconnaissance Squadron in World War II". Air Power History 50 (1): pp. 12–19. 
  • Carter, Kit C.; Mueller, Robert (1991). U.S. Army Air Forces in World War II: Combat Chronology (PDF). Washington, D.C.: Center for Air Force History. 
  • Chun, Clayton K.S. (2006). The Doolittle Raid 1942: America's first strike back at Japan. Oxford: Osprey Publishing. ISBN 1-84176-918-5. 
  • Coles, Harry L.; Olson, James C. (1951). "The North Pacific". Di Craven, Wesley Frank and Cate, James Lea. The Pacific: Guadalcanal to Saipan August 1942 to July 1944. The Army Air Forces in World War II. Volume IV. Chicago and London: The University of Chicago Press. OCLC 256471288. 
  • Coox, Alvin D. (1994). "Air War Against Japan". Di Cooling, B. Franklin. Case Studies in the Achievement of Air Superiority. Washington, D.C.: Center for Air Force History. ISBN 0-912799-63-3. 
  • Correll, John T. (March 2009). "The Matterhorn Missions" (PDF). Air Force Magazine: pp. 62–65. ISSN 0730-6784. 
  • Craven, Wesley; Cate, James (editors) (1953). The Pacific: Matterhorn to Nagasaki. The Army Air Forces in World War II. Volume V. Chicago: The University of Chicago Press. OCLC 256469807. 
  • Dear, I.C.B; Foot, M.R.D. (editors) (2005). The Oxford Companion to World War II. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-280670-3. 
  • Dorr, Robert F. (2002). B-29 Superfortress Units of World War 2. Oxford: Osprey Publishing. ISBN 978-1-84176-285-2. 
  • Dower, John W. (1986). War Without Mercy : Race and Power in the Pacific War. London: Faber. ISBN 0-571-14605-8. 
  • Dower, John W. (1999). Embracing Defeat: Japan in the Aftermath of World War II. London: Allen Lane. ISBN 0-7139-9372-3. 
  • Fagg, John E. (1983). "Aviation Engineers". Di Craven, Wesley Frank and Cate, James Lea. Services Around the World. The Army Air Forces in World War II. Volume VII. Chicago and London: The University of Chicago Press. OCLC 222565066. 
  • Ferguson, Niall (2007). The War of the World. History's Age of Hatred. London: Penguin Books. ISBN 978-0-14-101382-4. 
  • Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980). Japanese Monograph No. 17: Homeland Operations Record. War in Asia and the Pacific. Volume 12: Defense of the Homeland and End of the War. New York City: Garland Publishing. ISBN 0-8240-3296-9. 
  • Foreign Histories Division, Headquarters, United States Army Japan (1980). Japanese Monograph No. 157: Homeland Air Defense Operations Record. War in Asia and the Pacific. Volume 12: Defense of the Homeland and End of the War. New York City: Garland Publishing. ISBN 0-8240-3296-9. 
  • Frank, Richard B. (1999). Downfall. The End of the Imperial Japanese Empire. New York City: Penguin Books. ISBN 0-14-100146-1. 
  • Frank, Richard B. (2005). "Ending the Pacific War 'No alternative to annihilation'". Di Marston, Daniel. The Pacific War Companion : From Pearl Harbor to Hiroshima. Oxford: Osprey. ISBN 978-1-84603-212-7. 
  • Frank, Richard (2013). "The Bomb's Long Aftermath". Wartime (61): pp. 16–21. 
  • Francis, Timothy Lang (November 1997). ""To Dispose of the Prisoners" : The Japanese Executions of American Aircrew at Fukuoka, Japan, during 1945". Pacific Historical Review 66 (4): pp. 469–501. doi:10.2307/3642234. 
  • Giangreco, D.M. (2009). Hell to Pay : Operation Downfall and the invasion of Japan, 1945–47. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 978-1-59114-316-1. 
  • Glines, C.V. (October 1990). "The Bat Bombers". Air Force Magazine 73 (10). ISSN 0730-6784. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 May 2008. 
  • Grayling, A.C. (2007). "Judgement". Among the Dead Cities: The History and Moral Legacy of the WWII Bombing of Civilians in Germany and Japan. New York City: Walker Publishing Company. ISBN 0-8027-1565-6. 
  • Hall, R. Cargill (1998). Case Studies in Strategic Bombardment. Washington, D.C.: Government Printing Office. ISBN 0-16-049781-7. 
  • Hastings, Max (2007). Nemesis : The Battle for Japan, 1944–45. London: HarperPress. ISBN 978-0-00-726816-0. 
  • Haulman, Daniel L. (1999). "Hitting Home: The Air Offensive Against Japan" (PDF). The U.S. Army Air Forces in World War II. Washington, D.C.: Air Force Historical Studies Office. 
  • Havens, Thomas R.H. (1978). Valley of Darkness : The Japanese People and World War Two. New York City: Norton. ISBN 0-393-05656-2. 
  • Hein, Carola (2003). "Rebuilding Urban Japan After 1945". Di Hein, Carola et al. Rebuilding Urban Japan After 1945. Houndmills, United Kingdom: Palgrave Macmillan. ISBN 0-333-65962-7. 
  • Horn, Steve (2005). The Second Attack on Pearl Harbor : Operation K and other Japanese Attempts to Bomb America in World War II. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 1-59114-388-8. 
  • Hoyt, Edwin P. (1987). Japan's War: The Great Pacific Conflict. London: Arrow Books. ISBN 0-09-963500-3. 
  • Hoyt, Edwin P. (2000). Inferno: The Firebombing of Japan, March 9 – August 15, 1945. Lanham, Maryland: Madison Books. ISBN 1-56833-149-5. 
  • Ienaga, Saburō (1978). The Pacific War, 1931–1945. New York: Pantheon Books. ISBN 978-0-394-73496-5. 
  • Johnson, James Turner (1999). "Bombing, ethics of". Di Chambers, John Whiteclay II. The Oxford Companion to American Military History. New York City: Oxford University Press. pp. 85–86. ISBN 0-19-507198-0. 
  • Kerr, E. Bartlett (1991). Flames Over Tokyo: The U.S. Army Air Force's Incendiary Campaign Against Japan 1944–1945. New York City: Donald I. Fine Inc. ISBN 1-55611-301-3. 
  • Li, Xiaobing; Li, Hongshan (1998). China and the United States: A New Cold War History. Lanham, Maryland: University Press of America. ISBN 0-7618-0978-3. 
  • MacArthur, Douglas (1950). MacArthur in Japan: The Occupation Phase. Reports of General MacArthur. Washington, D.C.: United States Army Center for Military History. OCLC 569643004. 
  • McCurry, Justin (11 August 2005). "The Day the Bomb Fell" (PDF). The Lancet 366 (9484): p. 441. doi:10.1016/S0140-6736(05)67041-9. 
  • Meilinger, Phillip S. (1999). "The B-29 Air Campaign Against Japan". Di Dennis, Peter. 1945 : War and Peace in the Pacific : Selected Essays. Canberra: Australian War Memorial. ISBN 0-642-56548-1. 
  • Miller, Donald L. (2008). Eighth Air Force : The American Bomber Crews in Britain. London: Aurum. ISBN 978-1-84513-336-8. 
  • Miller, Donald L.; Commager, Henry Steele (2001). The Story of World War II. New York: Simon and Schuster. ISBN 978-0-7432-2718-6. 
  • Mitter, Rana (2014). China's War with Japan, 1937–1945 : The Struggle for Survival. London: Penguin Books. ISBN 978-0-14-103145-3. 
  • Morison, Samuel Eliot (2002) [1960]. Victory in the Pacific. History of United States Naval Operations in World War II. Champaign: University of Illinois. ISBN 0-252-07065-8. 
  • Polmar, Norman (2004). The Enola Gay: The B-29 That Dropped the Atomic Bomb on Hiroshima. Washington, D.C.: Smithsonian National Air and Space Museum. ISBN 1-57488-859-5. 
  • Romanus, Charles F.; Sunderland, Riley (1953). Stillwell's Mission to China. United States Army in World War II. Washington, D.C.: United States Army Center of Military History. OCLC 318174861. 
  • Royal Navy (1995). War with Japan. Volume VI Advance to Japan. London: Her Majesty's Stationery Office. ISBN 0-11-772821-7. 
  • Russ, John (2001). "VLR!: VII fighter command operations from Iwo Jima, April–August 1945". Air Power History 48 (3): pp. 16–25. 
  • Russell, Edmund (2001). War and Nature: Fighting Humans and Insects with Chemicals from World War I to Silent Spring. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-79937-6. 
  • Spector, Ronald H. (1984). Eagle Against the Sun: The American War with Japan. London: Cassell & Co. ISBN 0-304-35979-3. 
  • Stephens, Alan (2006) [2001]. The Royal Australian Air Force: A History. Melbourne: Oxford University Press. ISBN 0-19-555541-4. 
  • Szasz, Ferenc Morton (2009). ""Pamphlets Away": The Allied Propaganda Campaign Over Japan During the Last Months of World War II". The Journal of Popular Culture 42 (3): pp. 530–540. doi:10.1111/j.1540-5931.2009.00694.x. 
  • Takai, Kōji; Sakaida, Henry (2001). B-29 Hunters of the JAAF. Aviation Elite Units. Oxford: Osprey Publishing. ISBN 1-84176-161-3. 
  • Tanaka, Yuki; Young, Marilyn B. (editors) (2009). Bombing Civilians: A Twentieth Century History. New York City: The New Press. ISBN 978-1-59558-547-9. 
  • Tillman, Barrett (2010). Whirlwind: The Air War Against Japan 1942–1945. New York City: Simon & Schuster. ISBN 978-1-4165-8440-7. 
  • United States Strategic Bombing Survey, Medical Division (1947). The Effects of Bombing on Health and Medical Services in Japan. United States Strategic Bombing Survey. OCLC 13475684. 
  • United States Strategic Bombing Survey, Morale Division (1947). The Effects of Strategic Bombing on Japanese Morale. United States Strategic Bombing Survey. OCLC 9941656. 
  • Wolk, Herman S. (April 2004). "The Twentieth Against Japan" (PDF). Air Force Magazine: pp. 68–73. ISSN 0730-6784. 
  • Wolk, Herman S. (2010). Cataclysm : General Hap Arnold and the Defeat of Japan. Denton, Texas: University of North Texas Press. ISBN 978-1-57441-281-9. 
  • Yorifusa, Ishida (2003). "Japanese Cities and Planning in the Reconstruction Period: 1944–55". Di Hein, Carola et al. Rebuilding Urban Japan After 1945. Houndmills, United Kingdom: Palgrave Macmillan. ISBN 0-333-65962-7. 
  • Zaloga, Steven J (2010). Defense of Japan 1945. Fortress. Oxford: Osprey Publishing. ISBN 1-84603-687-9. 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Preston, Richard (1991). Men in Arms: A History of Warfare and Its Interrelationships With Western Society (5th ed.). Holt Rinehart & Winston. ISBN 978-0-03-033428-3. 
  • Dower, John W. (28 February 1995). "The Bombed: Hiroshimas and Nagasakis in Japanese Memory". Diplomatic History 19 (2): pp. 275–295. doi:10.1111/j.1467-7709.1995.tb00658.x. 
  • Hadley, Gregory (2007). Field of Spears : The Last Mission of the Jordan Crew. King's Lynn, United Kingdom: Paulownia Press. ISBN 978-0-9555582-1-4. 
  • Halsey, William F.; Bryan, Joseph (1947). Admiral Halsey's Story. London: Whittlesey House. OCLC 747307493. 
  • Hoyt, Edwin P. (1982). Closing the Circle: War in the Pacific: 1945. New York City: Van Nostrand Reinhold Company. ISBN 0-442-24751-6. 
  • Kennett, Lee B. (1982). A History of Strategic Bombing. New York City: Scribner. ISBN 0-684-17781-1. 
  • LeMay, Curtis; Yenne, Bill (2007). Superfortress: The Boeing B-29 and American airpower in World War II. Yardley, Pennsylvania: Westholme Publishing. ISBN 1-59416-039-2. 
  • Lindqvist, Sven (2000). History of Bombing. New York City: Diane Publishing Company. ISBN 0-7567-6454-8. 
  • Mann, Robert A. (2009). The B-29 Superfortress: A Comprehensive Registry of the Planes and Their Missions. Jefferson, North Carolina: McFarland. ISBN 978-0-7864-4458-8. 
  • Overy, Richard (1980). The Air War 1939–1945. London: Europa. ISBN 0-905118-53-7. 
  • Pape, Robert (1996). Bombing to Win: Air Power and Coercion in War. Cornell Studies in Security Affairs. Ithaca, New York: Cornell University Press. ISBN 0-8014-8311-5. 
  • Robertson, Gordon Bennett, Jr. (2006). Bringing the Thunder: The Missions of a World War II B-29 Pilot in the Pacific. Mechanicsburg, Pennsylvania: Stackpole Books. ISBN 0-8117-3333-5. 
  • Schaffer, Ronald (1988). Wings of Judgement: American Bombing in World War II. New York City: Oxford University Press. ISBN 0-19-505640-X. 
  • Sherry, Michael S. (1987). The Rise of American Air Power: The Creation of Armageddon. New Haven, Connecticut: Yale University Press. ISBN 0-300-03600-0. 
  • Wetterhahn, Ralph (2004). The Last Flight of Bomber 31: Harrowing Tales of American and Japanese Pilots Who Fought World War II's Arctic Air Campaign. Boston: Da Capo Press. ISBN 0-7867-1360-7. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]