Sendratari Ramayana Prambanan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Panggung Terbuka Sendratari Ramayana Prambanan, pertunjukan panggung terbuka hanya diselenggarakan dari bulan Mei-Oktober.

Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sebuah pertunjukan yang menggabungkan tari dan drama tanpa dialog, diangkat dari cerita Ramayana dan dipertunjukkan di dekat Candi Prambanan di Pulau Jawa, Indonesia.[1][2] Sendratari Ramayana Prambanan merupakan sendratari yang paling rutin mementaskan Sendratari Ramayana sejak 1961.[3][4] Pemilihan bentuk sendratari sebagai penutur cerita pahlawan atau biasa disebut wiracarita Ramayana karena sendratari mengutamakan gerak-gerak penguat ekspresi sebagai pengganti dialog, sehingga diharapkan penyampaian wiracarita Ramayana dapat lebih mudah dipahami dengan latar belakang budaya dan bahasa penonton yang berbeda.[1] Cerita Ramayana adalah perjalan Rama dalam menyelamatkan istrinya Sita (di Jawa biasa disebut Sinta) yang diculik oleh raja Negara Alengka, Rahwana.[1] Sendratari Ramayana Prambanan biasa digelar tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, pementasan di panggung terbuka hanya pada bulan kemarau, di luar itu pementasan diadakan di panggung tertutup.[5]

Epos Ramayana[sunting | sunting sumber]

Dua lembar lontar kakawin Ramayana yang berasal dari pegunungan Merapi-Merbabu, Jawa Tengah dari abad ke-16 M.
Relief di Prambanan menampilkan Sinta tengah diculik Rahwana yang menunggangi raksasa bersayap, sementara burung Jatayu di sebelah kiri atas mencoba menolong Sita

Sendratari Ramayana Prambanan menggunakan sumber cerita dari Serat Rama yaitu cerita Ramayana versi sastra Jawa Baru yang paling populer di kalangan masyarakat.[6] Serat Rama merupakan gubahan Jasadipura I (1729-1802).[6] Menurut Poerbatjaraka Serat Rama macapat merupakan kitab Jawa masa sekarang yang paling baik, namun Poerbatjaraka juga mengkritisi penulis Serat Rama yang dianggap kurang menguasai bahasa Jawa Kuno sehingga sering bagian-bagian yang tidak dipahami dihilangkan dan diganti.[6][7]

Serat Rama berbeda dengan Ramayana versi Walmiki yang dianggap sebagai versi orisinal dari Ramayana. Serat Rama bersumber atau gubahan dari naskah Ramayana tertua di Indonesia yaitu Ramayana Kakawin, yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dalam bentuk syair yang dilagukan (kakawin).[6] Ramayana Kakawin tidak bersumber kepada Ramayana Walmiki melainkan Ravanavadha karangan Bhatti dari India.[6] Pada Ramayana Kakawin dan pada pementasan Sendratari Ramayana Prambanan tidak terdapat kitab atau kanda pertama, Balakanda dan ketujuh, Uttarakanda, sehingga cerita berakhir setelah Shinta melalui api unggun dan terbukti kesuciannya.[6] Poerbatjaraka berpendapat bahwa Ramayana Kakawin dibuat sezaman atau setelah Candi Prambanan berdiri, karena dalam penulisan Ramayana Kakawin penulis membayangkan percandian Siwa berada di depan matanya.[6] Oleh karena itu relief Ramayana di Candi Prambanan tidak bersumber pada Ramayana Kakawin, versi Ramayana Prambanan lebih mirip dengan Hikayat Sri Rama yang ditulis dalam bahasa Melayu.[6] Serat Rama sendiri memiliki perbedaan dengan Ramayana Kakawin, Serat Rama diawali adegan istana dan asal-usul keluarga Rahwana, kisah keluarga Rahwana merupakan kutipan dari Kitab Arjuna Wijaya karya Empu Tantular.[6] Relief cerita Ramayana di Candi Siwa dan Candi Brahma menceritakan mulai dari kelahiran Rama hingga penobatan Kusa, putra Rama sebagai raja di Ayodya.[8] Relief Ramayana pada Candi Siwa terpahat pada 24 bidang dan 42 adegan, sedangkan pada Candi Brahma terpahat pada 21 bidang dan 30 adegan.[8]

Karena berasal dari sumber yang berbeda, Sendratari Ramayana yang bersumber dari Serat Rama sedangkan relief Candi Prambanan yang diduga berasal dari Hikayat Sri Rama, pada pementasan terdapat perbedaan cerita terutama di bagian akhir kisah.[6] Bagian akhir cerita pada pementasan Sendratari Ramayana Prambanan pun berbeda dengan Ramayana karya Walmiki, Sendratari Ramayana Prambanan berakhir dengan pertemuan kembali Rama dan Sita[6] Sedangkan pada versi Walmiki, kitab ketujuh menceritakan rakyat Ayodhya masih meragukan kesucian Sita, Rama mengatakan bahwa Sita perlu membuktikan di mata rakyat dengan mengucapkan sumpah.[6] Akhirnya Sita berkata “Demi tak sekalipun terlintas dalam hati saya gambaran laki-laki selain Rama, semoga Dewi Pertiwi mau membukakan pengakuannya dan menelan saya. Demi saya telah mengucapkan kata yang benar di sini, dan belum pernah mengakui suami selain Rama, semoga Dewi Pertiwi membukakan pengakuannya dan menelan saya”, setelah itu bumi terbelah dan muncul Dewi Pertiwi yang memeluk Sita dan membawanya masuk ke dalam bumi.[6] Usaha Rama sia-sia memohon agar Sita dikembalikan, akhirnya Rama menyerahkan takhtanya sebagai raja Ayodhya kepada Kusa dan Lawa, lalu kembali ke khayangan menjadi Dewa Wisnu.[6]

Pementasan perdana[sunting | sunting sumber]

Dokumentasi pemeran utama Sendratari Ramayana, Rama (Tunjung Sulaksono) dan Sinta (Sumaryaning) bersama Charlie Chaplin dan GPH Suryohamijoyo (1961).

Gagasan awal dari Sendratari Ramayana berawal dari ide GPH Djatikoesoemo untuk meningkatkan pariwisata Indonesia di mata dunia.[1] Pada tahun 1960 Djatikoesoemo menyaksikan pertunjukan Royal Ballet of Cambodia yang dipentaskan di depan Angkor Wat dalam perjalannya ke negara-negara sahabat untuk meninjau tempat-tempat yang dapat menjadi sumber inspirasi, setelah kembali ke Indonesia akhirnya Djatikoesoemo beniat untuk mementaskan sebuah pagelaran dramatari yang ditampilkan di depan Candi Prambanan.[1] Proyek pertama Sendratari Ramayana ini ditangani langsung oleh Kementerian Perhubungan Darat, Pos, dan Telekomunikasi, sebagai proyek nasional dengan dana 20 juta rupiah, dan dilaksanakan mulai dari bulan April 1961.[1]

Sebelum penampilan perdana, gladi resik dipentaskan selama 3 malam berturut-turut pada tanggal 23 sampai 25 Juli 1961 dan penduduk Prambanan dan sekitarnya diperkenankan menonton secara cuma-cuma.[9] Pada tahun 1965 kegiatan gladi resik yang dapat dihadiri masyarakat sekitar dihapuskan.[9] Sendratari Ramayana Prambanan bersifat kolosal yang melibatkan banyak penari, produksi pementasan awal di tahun 1961 sendiri melibatkan 865 orang, termasuk anggota panitia, keamanan dan petugas kesehatan.[1][9] Penari utama berjumlah 55 orang, dengan tiap tokohnya diperankan 3 sampai 4 orang agar satu penari tidak perlu menari berturut-turut tiap malamnya.[9] Penari tarian massal berjumlah 400 orang, penabuh gamelan pelok 33 orang, penabuh gamelan slendro 33 orang, penggerong 60 orang, perias 27 orang, perancang kostum 11 orang, dan pelayanan dan sesaji 7 orang.[9] Karcis masuk terjual habis pada pementasan perdana di teater yang berkapasitas 2.000-3.000 penonton.[9] Pementasan perdana dilakukan pada 26 Juli 1961, diresmikan oleh Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan pariwisata (PDPTP), Mayor Jenderal GPH Djatikusumo.[9] Pementasan dibuka dengan pidato pengantar dari Prof. Dr. Soeharso, selaku panitia penyelenggara dan sutradara.[9] Tamu undangan yang hadir dalam peresmian antara lain: Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Gubernur Jawa Tengah Mochtar, Kepala Polisi Jawa Tengah Dr. Sukahar, dan Pembantu Menteri PDPTP Mayor Petut Soeharto.[9] Pementasan berikutnya yang dianggap penting digelar pada 25 Agustus 1961, pementasan ini dihadiri oleh Presiden Soekarno, 5 orang menteri Kabinet RI, 16 duta besar negara sahabat, serta sejumlah undangan VIP lainnya yang berjumlah sekitar 50 orang termasuk aktor Charlie Chaplin.[9] Pada pementasan ini Presiden Soekarno juga menulis pesan dalam prasasti yang berbunyi:

Balet Ramayana Prambanan adalah satu pertjobaan (good effort) untuk membawa seni-pentas Indonesia ke taraf yang lebih tinggi

— Soekarno[10] Sendratari Ramayana Prambanan raih "PATA Gold Award"

Salah satu komentar yang diberikan setelah pementasan berakhir yaitu berasal dari Charlie Chaplin:[9]

Bila dunia tahu akan Festival Ramayana ini, para pengunjung tentu akan datang berbondong-bondong ke Indonesia. Akan saya ceritakan kepada dunia, bahwa di Jawa Tengah terdapat kesenian yang mengagumkan yang membuat saya amat terkesan.

— Charlie Chaplin[9]

Pementasan perdana ini masih menggunakan istilah Ramayana Ballet, namun tokoh seniman Andjar Asmara yang turut hadir pada pementasan ini mengubah istilah Ballet Ramayana dengan Sendratari Ramayana.[9] Pada tahun-tahun berikutnya, digunakan Sendratari Ramayana sebagai nama resmi, selain itu tahun pementasan perdana ini, dianggap tahun kelahiran sendratari di Indonesia.[9]

Melihat pertunjukan perdana sendratari “Ramayana” berarti menyaksikan kelahiran suatu babak baru dalam sejarah senitari kita, yang merupakan impian dari segala keindahan, demikianlah kesan dari pertunjukan ini akan berbekas dalam kenanganku untuk selama-lamanya sebagai sesuatu yang indah dan menakjubkan salah satu puncak kebahagiaan dalam hidupnya tiap tiap pecinta seni.

— Andjar Asmara[9]

Pementasan[sunting | sunting sumber]

Adegan pada episode 1, Rama dan Sita yang ditemani Laksmana ketika pengasingan di Hutan Dandaka

Semula wiracita dipentaskan terbagi menjadi enam episode, yaitu (1) Hilangnya Dewi Sita; (2) Hanuman Duta; (3) Hanuman Obong; (4) Pembuatan Jembatan Menuju Ngalengka; (5) Gugurnya Kumbakarna; dan (6) Ujian Kesetiaan Sita atau Sita Obong.[11] Pembagian enam episode ini berlaku sejak 1961, karena episode 2 dan 4 dirasa kurang menimbulkan klimaks dan tidak menarik perhatian penonton, sejak 1967 enam episode tersebut dipadatkan menjadi empat episode.[12] Episode 1 dsampai 5 diringkas menjadi 3 episode, sedangkan episode 6 tetap utuh dan menjadi episode 4.[12] Tiap awal episode selalu diawali dengan lantunan nyanyian pesindhen yang isinya memberitahukan kepada penonton bahwa pagelaran Ramayana selalu diselenggakan pada bulan purnama.[11] Sebelum dimulainya cerita ditampilkan sebuah prosesi delapan penari pria berbusana prajurit Keraton Surakarta yang mengawal tujuh wanita pembawa sesaji.[11] Setelah berada di tenga lantai pentas, prajurit akan melakukan gerak tari gagah, sementara para wanita pembawa sesaji meletakan sesaji serta dupa di dekat gamelan.[11] Para wanita pembawa sesaji tersebut selanjutnya akan duduk di antara penabuh gamelan dan melanjutkan tugas berikutnya sebagai vokalis atau waranggana, sementara para prajurit keluar pentas.[11] Seorang pembawa acara di belakang panggung akan membacakan isi cerita sesuai dengan episode yang akan ditampilkan dalam bahasa Inggris serta diiringi musik dari gamelan.[11] Tiap episode biasanya dimulai pukul 19.00 dan berakhir pukul 21.00[11]

Episode 1: Hilangnya Sita[sunting | sunting sumber]

Episode 1 terdiri dari 3 babak dan dirinci dalam 57 adegan.[12] Babak pertama menggambarkan istana Alengka, kedatangan dan laporan Sarpakenaka, serta keputusan Rahwana untuk menculik Sita bersama Marica.[12] Babak kedua menceritakan Rama, Sita, dan Laksmana di Hutan Dandaka, Sita digoda Kijang Kencana yang merupakan penjelmaan Marica, lalu Rama pergi memburu kijang, Selanjutnya Sita yang ditinggal Laksmana diculik Rahwana, Jatayu berusaha menolong Sita, dan Rama bertemu Jatayu yang hampir tewas.[11][12] Babak ketiga menggambarkan perang antara Subali dan Sugriwa hingga tewasnya Subali.[12]

Episode 2: Hanuman Duta[sunting | sunting sumber]

Adegan Hanuman membakar negara Alengka.

Episode 2 terdiri dari 7 babak dan dirinci dalam 71 adegan.[12] Babak pertama menggambarkan Gua Kiskenda yang dihadiri Sugriwa, Rama, Laksmana, dan penugasan 4 duta yang dipimpin Hanuman untuk mencari Sita.[12] Babak kedua menceritakan rombongan Hanuman yang tertipu jebakan dan tipu daya Sayempraba hingga buta.[12] Babak ketiga menceritakan Raja Garuda Sempati menyembuhkan Hanuman dan rombongannya lalu memberi petunjuk cara menuju Alengka.[12] Babak keempat menceritakan Sita yang dirayu oleh Rahwana di Taman Argasoka.[12] Babak kelima berisi pertemuan Hanuman dengan Sita di Argasoka dan perang Hanuman dengan Indrajit hingga Hanuman tertawan.[12] Babak keenam Indrajit membawa Hanuman ke hadapan Rahwana, Rahwana yang marah dan memukul Hanuman sampai jatuh, Wibisana memperingatkan Rahwana bahwa tidak layak memperlakukan duta yang tidak berdaya, dan berakhir dengan diusirnya Wibisana dari Alengka.[11][12] Babak ketujuh, Hanuman dihukum dengan cara membakarnya hidup-hidup, namun Hanuman malah mengambil sebagian api yang membakarnya dan berlari kearah tumpukan jerami sebagai tiruan perumahan di Alengka dan membakarnya.[11] Hanuman meninggalkan Alengka untuk melapor kepada Rama.[11]

Episode 3: Gugurnya Kumbakarna[sunting | sunting sumber]

Episode 3 terdiri dalam 4 babak dan dirinci dalam 42 adegan.[12] Babak pertama menggambarkan usaha Rama bersama bala tentara keranya untuk membangun jembatan yang menghubungkan India Selatan dengan Alengka.[12] Babak kedua berisi kedatangan Anggada sebagai utusan ke Alengka, Rahwana yang hendak membunuh Anggada dicegah oleh Kumbakarna dan berakhir dengan diusirnya Kumbakarna.[12] Babak ketiga menggambarkan perang antara tentara Alengka dengan pasukan kera, Indrajit melepaskan panah Nagapaksa yang berwujud ular dan melumpuhkan pasukan kera.[11][12] Nagapaksa dalam Sendratari Ramayana Prambanan ditampilkan dengan wujud lima orang penari wanita yang mengenakan busana seperti ular.[11] Wibisana membalas dengan panah Garuda dan berhasil menawar efek dari Nagapaksa.[12] Panah Garuda ditampilkan dengan wujud sejumlah penari dengan kostum burung garuda.[11] Adegan selanjutnya pertarungan antara Indrajit dengan Laksmana.[12] Babak keempat menggambarkan pertarungan antara Kumbakarna dan Sugriwa, Sugriwa yang tedesak dibantu oleh Laksmana, Laksmana akhirnya menewaskan Kumbakarna, para bidadari menyambut arwah Kumbakarna.[12]

Episode 4: Api Suci Sita[sunting | sunting sumber]

Episode 4 terdiri dalam 4 bakan dan dirinci dalam 48 adegan.[12] Babak pertama menggambarkan Rahwana yang merayu Sita, namun Sita tetap menolak, Rahwana menunjukan kepala yang mirip dengan Rama dan Laksmana, Sita lalu pingsan.[11][12] Babak kedua berisi perang antara pihak Rama dan Rahwana, Rahwana turun ke medan perang dan tewas di tangan Rama.[12] Babak ketiga Rama menobatkan Wibisana sebagai raja Alengka, kehadiran Sita ditolak oleh Rama, Sita dianggap sudah tidak suci karena telah disentuh Rahwana.[11] Sita membuktikan kesuciannya dengan percobaan masuk ke kobaran api, Sita akhirnya ditolong oleh dewa api, Batara Brama, Sita turun dari gundukan api percobaan dimbimbing oleh Brama dan menemui Rama.[11] Adegan diakhiri dengan Rama, Sita, Laksmana, serta pembesar bala tentara kera meninggalkan pentas.[11]

Terdapat perbedaan Sendratari Ramayana dengan pewayangan Jawa.[11] Perbedaan pada episode 4 ini adalah kematian Rahwana, dalam pewayangan Jawa Rahwana tidak bisa mati karena memiliki aji Pancasona yang khasiatnya apabila tubuhnya menyentuh tanah, ia pasti akan hidup kembali.[11] Ketika panah sakti Rama mengenai tubuh Rahwana, Hanuman mengejarnya serta menghimpit tubuh Rahwana dengan gunung yang besar sehingga Rahwana tidak dapat bergerak lagi. Sendratari Ramayana Prambanan melakukan perubahan mengenai hal ini, Rahwana bisa ditewaskan oleh Rama.[11]

Cerita utuh[sunting | sunting sumber]

Sejak tahun 1996 pagelaran Sendratari Ramayana menyajikan pula dalam bentuk cerita utuh.[11] Penyajian cerita utuh ini ditangani oleh Yayasan Roro Jonggrang serta grup-grup tari lainnya seperti Kasanggit dan Cahya Gumelar.[11] Penampilan cerita utuh menghabiskan waktu dua jam, keempat episode dipadatkan serta diawali adegan sayembara memperebutkan Sita yang dimenangkan oleh Rama. Yayasan Roro Jonggrang dapat menampilkan cerita secara episode maupun cerita utuh, sedangkan untuk grup hanya diperbolehkan menampilkan cerita utuh.[13] Grup lain yang tampil di panggung ini bergiliran, selain Yayasan Roro Jonggrang grup lainnya antara lain: Cahya Gumelar, Kasanggit, Guwawijaya, Sekar Puri, Wisnu Murti, dan OMM.[11]

Karakterisasi tari[sunting | sunting sumber]

Karakterisasi gerak tari Sendratari Ramayana Prambanan mengacu pada karakterisasi gerak pada wayang orang.[14] Awal perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan didominasi gaya tari Surakarta, sedikit teknik gerak tari gaya Yogyakarta yang mengisi namun tetap lebih dominan gaya Surakarta.[14][15] Pelaksanaan teknis serta penyajian gaya Yogyakarta dan Surakarta agak berbeda, Gaya Surakarta lebih dekat dengan gaya romantik, sedangkan gaya Surakarta lebih dekat dengan gaya klasik.[15] Dominasi gaya Surakarta pada awal perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan disebabkan koreografer yang ikut dalam proyek awal berasal dari Surakarta, salah satu pimpinan proyek pementasan sendiri adalah GPH Soerio Hamidjojo yang merupakan ahli tari dan karawitan di Surakarta.[15] Selain itu salah satu pelatih adalah RT Atmokesowo yang juga merupakan ahli tari di Surakarta.[15] Sejak tampilnya penari muda dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Yogyakarta, perlahan pengaruh gaya Yogyakarta dan daerah lain masuk ke dalam Sendratari tersebut.[15] Hasilnya dapat dikatakan saat ini di Jawa Tengah tedapat tiga gaya sendratari, yaitu gaya Prambanan, gaya Surakarta, dan gaya Yogyakarta.[14][15]

Teater[sunting | sunting sumber]

Panggung terbuka Candi Prambanan yang sebelumnya dibuat pada pertama kali pementasan tahun 1961 masih berada di dalam kompleks Candi Prambanan, sehingga kemudian dibuat panggung terbuka baru yang berada di luar zona candi.[1] Panggung terbuka yang baru memiliki kapasitas 991 tempat duduk, terletak di sebelah barat kompleks Candi Prambanan, di sebelah barat Kali Opak.[16] Tribun penonton menghadap ke timur sehingga ketiga candi utamam Candi Siwa, Candi Wisnu, dan Candi Brahma menjadi latar belakang panggung.[16] Pada malam hari candi akan disorot dengan lampu berteganggan tinggi untuk menghasilkan efek latar yang megah.[16] Pertunjukan panggung terbuka hanya bisa diselenggarakan pada musim kemarau berkisar bulan MeiOktober, pentas dimulai dari pukul 19.30 sampai 21.30 bergantung kondisi cuaca.[1][5] Gedung pertunjukan tertutup bernama Trimurti terletak di sebelah selatan panggung tertutup, dapat menampung 300 sampai 400 penonton, Sendratari Ramayana di gedung Trimurti disajikan dalam format cerita penuh dari sejak Rama mengikuti sayembara sampai dengan pertemuan kembali Rama dengan Sinta.[1]

Kategori kelas: A. Kelas VIP; B. Kelas khusus; C. Kelas utama; D. Kelas 1; E. Kelas 2; F. Kelas 3; G. Pintu masuk penonton; H. Pintu masuk penari; I. Tangga masuk penari utama; J. Tempat gamelan.[16]

Busana dan rias[sunting | sunting sumber]

Rahwana mengenakan busana yang hanya dikenakan oleh para raja, antara lain: penutup kepala yang disebut mekutha dan motif batik parang rusak barong besar

Sendratari Ramayana Prambanan memiliki desain busana yang masih mengacu pada wayang wong gaya Surakarta, namun lebih sederhana agar penari leluasa bergerak.[17][18] Salah satu contohnya atribut berupa hiasan kepala mengacu pada relief Ramayana di Candi Prambanan.[17] Tentara kera menggunakan cat untuk warna kulit.[17] Warna merah baik pada selendang atau sampur dan rias pada muka, dikenakan para raksasa atau tokok-tokoh kasar.[11] Rama pada pentas Sendratari Ramayana Prambanan mengenakan dua macam pakaian.[18] Pada episode pertama saat mengembara di hutan ia mengenakan topong berwarna hitam menggambarkan rambut yang digelung ke atas, begitu pula Laksmana.[18] Pada episode kedua dan selanjutnya Rama memakai mahkota yang biasa dikenakan seorang raja.[18] Kain yang dikenakan sebagian besar menggunakan motif batik parang, selain itu juga digunakan motif batik kawung.[17] Penggunaan motif batik parang masih mengacu ketentuan di istana, pada motif batik parang rusak barong besar hanya dikenakan oleh raja, motif batik parang rusak gendreh yang berukuran sedang dikenakan oleh para ksatria halus, sedangkan motif batik parang rusak klithik dikenakan oleh para putri.[17] Pada adegan Kumbakarna maju ke medan perang, ia mengenakan kain putih yang disampirkan di pundaknya sebagai lambang kesucian dan ksatria yang berbudi luhur, hal ini menggambarkan bahwa Kumbakarna maju ke medan perang untuk membela negara Alengka, bukan untuk Rahwana.[11] Tata rias umumnya tidak banyak berbeda dengan riasan wayang orang, riasan dianggap tidak banyak mempengaruhi gerak tari, gerak muka, dan mimik dalam panggung terbuka yang berukuran besar, karena penonton yang duduk jauh dari panggung sulit melihat mimik penari secara detail.[18] Tata rias menentukan penggambaran suatu tokoh, di Indonesia muka Rama dan Laksmana berwarna kuning natural, sedangkan di Myanmar, Thailand, Kamboja, dan Malaysia muka Rama berwarna hijau kebiru-biruan, untuk Laksmana berwarna kuning.[18]

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Sampai saat ini pengelola Sendratari Ramayana Prambanan telah berganti tiga kali.[19] Pengelola pertama adalah panitia nasional yang langsung ditangani oleh Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata.[19] Pada tanggal 28 Mei 1964 Paku Alam VIII membentuk Yayasan Roro Jonggrang yang bertugas mengelola serta menyelenggarakan Sendratari Ramayana Prambanan. Pada tahun 1988, pengelolaan Sendratari Ramayana Prambanan diambil alih oleh PT. Taman Wisata Candi Borobudur, dan Prambanan yang bekerja sama dengan Yayasan Roro Jonggrang sebagai direktur seni pementasan sendratari.[19] Setelah selesainya restorasi Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Wahana, serta Candi Sewu dan Candi Boko yang letaknya di luar kompleks Prambanan, pada tahun 1992 nama Perseroan diubah menjadi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.[19] Semula Sendratari Ramayana yang dipentaskan di panggung tertutup digelar dalam empat episode tiap bulan Mei-Oktober selama empat malam berturut-turut, yaitu pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin.[19] Sedangkan di panggung tertutup dipentaskan tiap Selasa sepanjang tahun dalam bentuk cerita utuh.[19] Pada tahun 1990, pementasan di panggung terbuka ditingkatkan menjadi 2 x 4 malam dengan tetap empat episode; sedang di panggung tertutup pementasan ditingkatkan menjadi tiap Selasa, Rabu, dan Kamis.[19]

Saat ini pementasan di panggung tertutup diadakan pada bulan Mei-Oktober tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, dan biasanya pada saat bulan purnama akan diselenggarakan selama empat malam berturut-turut.(borob) Pada panggung tertutup dilaksanakan tiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, sepanjang tahun di luar bulan Mei-Oktober.[5] Sendratari Ramayana Prambanan meraih penghargaan Pacific Asia Travel Association (PATA) Gold Awards 2012, pada 21 April 2012 dalam “PATA Annual Report Conference" yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia.[20]

Episode Api Suci kolosal[sunting | sunting sumber]

Pada 15 Oktober 2012, Sendratari Ramayana Prambanan mementaskan episode Api Suci secara kolosal yang mendapat penghargaan Guinness World Records sebagai pentas tari kolosal Ramayana yang paling banyak melibatkan penari sejumlah 230 penari dan 30 pengrawit, serta sendratari yang paling lama dan rutin digelar sejak tahun 1961.[3][21] Penghargaan diserahkan Lucia Sinigagliesi, Client Service Director perwakilan dari Guinness World Records.[22] Pementasan episode ini diadakan pada malam hari di panggung terbuka, dengan durasi kurang lebih 25 menit.[21] Persiapan pementasan ini memakan waktu dua bulan, disutradari oleh Timbul Haryono yang juga merupakan ketua Yayasan Roro Jonggrang.[21][23] Alasan pemilihan episode Api Suci adalah untuk mengakomodir banyaknya penari dalam satu panggung.[21] Penari yang terlibat antara lain, 12 pemain utama dan pembantu, 48 raksasa, 56 kera, 16 penari, 28 setan, dan 70 pemeran api.[23] Penampilan dengan jumlah penari terbanyak dalam satu panggung ini baru pertama kali dilakukan sejak 1961, biasanya dalam satu panggung penari hanya berjumlah 100-150 orang.[23]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j Soedarsono, R.M. dan Narawati, Tati (2011). "Sejarah Sendratari Ramayana Prambanan". Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 260. ISBN 979-420-752-7. 
  2. ^ "Sendratari Ramayana". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  3. ^ a b "Sendratari Ramayana Prambanan Tercatat dalam Rekor Dunia Guinness". Universitas Gadjah Mada. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  4. ^ (Inggris) "'Ramayana' ballet breaks world records". Jakarta Post. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  5. ^ a b c (Inggris) "Ramayana Ballet at Prambanan". Borobudur, Prambanan & Ratu Boko. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  6. ^ a b c d e f g h i j k l m n Moehkardi (2011). "Epos Ramayana". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 1-30. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  7. ^ Sumarsih. "Kandungan Filosofis Dalam Serat Rama". Pusat Data Wayang Indonesia. Diakses tanggal 13 Mei 2014. 
  8. ^ a b "Mengikuti Kisah Ramayana Melalui Relief Prambanan". Kedaulatan Rakyat. Diakses tanggal 15 Mei 2014. 
  9. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Moehkardi (2011). "Pementasan Perdana dan Tanggapannya". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 106-122. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  10. ^ "Sendratari Ramayana Prambanan raih "PATA Gold Award"". Antara. 17 April 2012. Diakses tanggal 15 Mei 2014. 
  11. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z Soedarsono, R.M. dan Narawati, Tati (2011). "Pagelaran Sendratari Ramayana Prambanan Empat Episode di Panggung Terbuka Prambanan". Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 274-310. ISBN 979-420-752-7. 
  12. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w Moehkardi (2011). "Pembagian lakon". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 60-73. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  13. ^ Nayati, Widya (2012). "Investarisasi Perlindungan Karya Budaya Sendratari Ramayana Provinsi DIY". Yogyakarta: Pusat Studi Kebudayaan UGM bekerja sama dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. 
  14. ^ a b c Soedarsono, R.M. dan Narawati, Tati (2011). "Karakterisasi Gerak Tari Sendratari Ramayana Prambanan". Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 269-271. ISBN 979-420-752-7. 
  15. ^ a b c d e f Moehkardi (2011). "Tari Jawa Gaya Surakarta dan Gaya Yogyakarta". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 46-48. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  16. ^ a b c d Moehkardi (2011). "Panggung terbuka". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 56-60. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  17. ^ a b c d e Soedarsono, R.M. dan Narawati, Tati (2011). "Karakterisasi Busana dan Rias". Dramatari di Indonesia, Kontinuitas dan Perubahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 271-273. ISBN 979-420-752-7. 
  18. ^ a b c d e f Moehkardi (2011). "Tata busana dan tata rias". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 103-105. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  19. ^ a b c d e f g Moehkardi (2011). "Perkembangan Sendratari Ramayana Prambanan". Sendratari Ramayana Prambanan Seni dan Sejarahnya. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia bekerja sama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko. hlm. 123-151. ISBN 978-979-91-0332-1. 
  20. ^ (Inggris) "Long running Prambanan Ramayana Ballet wins PATA Gold Award 2012". Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Diakses tanggal 3 Mei 2014. 
  21. ^ a b c d "Sendratari Ramayana Prambanan Tercatat dalam Rekor Dunia Guinness World Records". National Geographic Indonesia. Diakses tanggal 15 Mei 2014. 
  22. ^ "Sendratari Ramayana Prambanan Raih Rekor Dunia". Republika Online. Diakses tanggal 15 Mei 2014. 
  23. ^ a b c "Sendratari Prambanan Pecahkan Rekor Dunia". Kompas.com. Diakses tanggal 15 Mei 2014. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]