Semenanjung Korea

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Korean Peninsula
Lokasi Semenanjung Korean
Peta Semenanjung Korean

Semenanjung Korea (Hangul: 한반도 Han bando di Korea Selatan, 조선반도 Choson bando di Korea Utara) adalah sebuah semenanjung di Asia Timur, yang memanjang sekitar 1.100 kilometer ke arah selatan daratan Asia kontinental hingga Samudra Pasifik dan dikelilingi Laut Jepang (di Korea dikenal dengan nama "Laut Timur") di timur, Laut China Timur di selatan, dan Laut Kuning di barat. Semenanjung Korea saat ini terbagi menjadi dua negara: Korea Selatan dan Korea Utara. Sebelum perpecahan yang membentuk kedua negara tersebut setelah berakhirnya Perang Dunia II, Korea adalah sebuah entitas politik tunggal selama berabad-abad lamanya yang wilayahnya mencakup wilayah kira-kira di sekitar Semenanjung Korea.

Perbatasan Semenanjung Korea di utara umumnya dianggap sebagai perbatasan politik antara Korea Utara dan Republik Rakyat Tiongkok (1.416 km) dan Rusia (19 km). Perbatasan ini terbentuk secara alami melalui Sungai Yalu (Amnok) dan Sungai Tumen. Menggunakan definisi ini, Semenanjung Korea mempunyai wilayah seluas 220.000 km².

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sebanyak 70 persen wilayah Semenanjung Korea adalah pegunungan dan tanah yang bisa diusahakan untuk lahan pertanian lebih kecil. Jajaran pegunungan berbaris di wilayah sebelah utara dan timur, dengan puncak tertinggi adalah Gunung Baekdu (2.744 m) di wilayah perbatasan dengan Republik Rakyat Tiongkok.

Panjang garis pantai semenanjung Korea adalah 8.460 kilometer, dimana bentukan yang tidak rata dan mempunyai banyak teluk ditemukan di sebelah selatan semenanjung. Pulau-pulau kecil berjumlah 3.579 dimana sebagian besar juga terdapat di wilayah selatan dan barat semenanjung.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Iklim Semenanjung Korea berbeda jauh dari wilayah utara sampai selatan. Wilayah selatan memiliki iklim yang relatif hangat dan basah seperti kepulauan Jepang. Hal itu disebabkan oleh arus hangat seperti Arus Hangat Korea Timur (East Korea Warm Current). Semenanjung Korea sebelah utara menghadapi iklim yang lebih dingin dan dipengaruhi iklim dari daratan Asia, sama seperti Manchuria. Curah hujan rata-rata per tahun di lembah Sungai Yalu mencapai 600 mm, lebih sedikit dibanding rata-rata curah hujan tahunan di wilayah pesisir sebelah selatan, yaitu 1500 mm[1]. Selain itu ada perbedaan 20 °C pada bulan Januari (musim dingin) antara bagian utara dan selatan.

Seluruh bagian semenanjung pada umumnya dipengaruhi oleh pola iklim yang sama, seperti monsoon Asia Timur di pertengahan musim panas dan kadang-kadang terjadi topan di musim gugur. Sebagian besar hujan jatuh di bulan-bulan musim panas. Musim dingin sangat dingin dengan suhu rata-rata di bulan Januari di bawah minus derajat selsius, kecuali Pulau Jeju. Sebagian besar wilayah semenanjung menerima hujan salju pada musim dingin.

Beberapa tahun belakangan, sering pada musim semi dan jarang pada musim gugur, Semenanjung Korea menderita badai pasir kuning (hwangsa) yang diterbangkan angin dari gurun gobi di daratan Cina, dan melanda sebagian besar Asia Timur Laut.

Biogeografi[sunting | sunting sumber]

Survei dari flora Korea telah menemukan 3000 lebih spesies, dan 500 diantaranya adalah endemik Korea. Wilayah tumbuh-tumbuhan dikategorikan menjadi wilayah yang bertemperatur hangat, sedang dan dingin. Wilayah bertemperatur hangat meliputi sebagian pesisir korea bagian selatan termasuk pulau Jeju. Spesies tanamannya ditandai dengan jenis yang berdaun lebar. Wilayah sedang mendominasi sebagian besar wilayah Korea. Tanaman di wilayah ini didominasi oleh jenis pinus Korea dan pepohonan berdaun gugur. Vegetasi wilayah bertemperatur dingin mendominasi wilayah sebelah utara yang terdapat banyak gunung tinggi, dengan pengecualian pada gunung Hallasan di pulau Jeju. Contoh spesies yang dominan adalah larch dan juniper, jenis cemara.

Geologi[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar bebatuan Korea ditaksir berasal dari zaman precambrian, namun batuan dari zaman Paleozoik, Mesozoik, and Cenozoik juga dapat ditemukan.

Tidak terdapat gunung berapi aktif di semenanjung Korea. Gunung Baekdu dan Halla sejak lama tidak pernah aktif lagi. Sepanjang semenanjung juga banyak ditemukan sumber-sumber air panas. Rata-rata 2 kali gempa tercatat per tahunnya, tapi sedikit yang mempunyai dampak besar.

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ KOIS 2003, p. 17.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ KOIS 2003, p. 17.

Handbook of Korea, 11th ed, KOIS (Korea Overseas Information Service), Publisher, Seoul:Hollym,2003, ISBN 1-56591-212-8

Lihat pula[sunting | sunting sumber]