Sembilan Sadu Perdana

Sembilan Sadu Perdana adalah sembilan tokoh ternama dalam sejarah, kitab suci, dan legenda, yang dipandang sebagai wujud nyata nilai-nilai kewiraan Abad Pertengahan, sehingga perlu diselami riwayat hidupnya oleh siapa saja yang bercita-cita menjadi kesatria. Semuanya disebut prabu, tanpa memandang gelar mereka semasa hidup. Di Prancis, mereka disebut Les Neuf Preux atau "Sembilan Prawira",[1] mengacu kepada keunggulan-keunggulan yang membuat mereka patut diteladani, yaitu keberanian dan kepemimpinan selaku prajurit. Di Italia, mereka dikenal dengan sebutan i Nove Prodi.
Sembilan Sadu Perdana terdiri atas tiga tokoh pagan (Hektor, Aleksander Agung, Yulius Kaisar), tiga tokoh Yahudi (Yosua, Daud, Yudas Makabe), dan tiga tokoh Kristen (Raja Arthur, Karel Agung, Godefroy de Bouillon).
Asal-usul
[sunting | sunting sumber]




Sembilan Sadu Perdana pertama kali dicuatkan pada permulaan abad ke-14 oleh Jacques de Longuyon di dalam bukunya, Voeux du Paon (terbit tahun 1312).[2] Pemilihan sembilan tokoh itu, sebagaimana dikemukakan oleh Johan Huizinga, menyingkap keterkaitan yang erat dengan ragam sastra roman kewiraan. Sembilan tokoh yang dibagi menjadi tiga kelompok tiga sekawan ini dipandang sebagai suri teladan kewiraan di mintakat tradisi kepercayaannya masing-masing, yaitu agama pagan, agama Yahudi, dan agama Kristen. Kelompok ciptaan Jacques de Longuyon ini dengan segera menjadi sebuah tema umum di bidang kesusastraan dan seni rupa Abad Pertengahan, serta mendapatkan tempat permanen di dalam benak khalayak ramai. "Kehausan akan simetri" pada Abad Pertengahan[3] mendorong munculnya sembilan tokoh srikandi sebagai pengimbang, yakni neuf preuses, yang kadang-kadang ditambah jumlahnya, kendati tokoh-tokoh yang dipilih bervariasi. Eustache Deschamps memilih "sekawanan srikandi yang terkesan aneh"[3] dari khazanah fiksi dan sejarah, antara lain Pentesileya, Tomiris, dan Semiramis. Kesusastraan dan serendeng dewangga menghadirkan delapan belas Sadu-Sadwi Perdana di gugus terdepan kirab lawatan agung Raja Inggris, Henry VI, ke kota Paris pada tahun 1431.[3] "Sepuluh Sadu Perdana"[4] dicuatkan oleh Eustache Deschamps, dengan menambahkan Bertrand du Guesclin, kesatria Bretanye yang berjasa memulihkan marwah Prancis yang sempat tercoreng dalam Pertempuran Crécy tahun 1346 dan Pertempuran Poitiers tahun 1356. Raja Prancis, François I, sesekali suka berparade di istana dalam balutan busana "model kuno" untuk menciptakan kesan seolah-olah dirinya adalah salah seorang dari Neuf Preux.[3]
Kodeks Ingeram dari tahun 1459 menampilkan lambang-lambang kebesaran Sembilan Sadu Perdana pada senarai panjang lambang kebesaran yang dinisbatkan kepada tokoh-tokoh panutan, yakni sebagai lambang kebesaran tiga "tokoh unggulan Yahudi", tiga "tokoh terbaik pagan", dan tiga "tokoh terbaik Kristen", disejajarkan bersama lambang-lambang kebesaran yang dinisbatkan kepada tiga perwira Raja Daud (digembar-gemborkan sebagai "lambang kebesaran pertama"), tiga orang Majus, "tiga prabu terhalim", "tiga prabu terlalim" (Nebukadnezar, Antiokhos Epifanes, dan Nero), "tiga penyabar" (Alfonso Bijaksana, Ayub, dan Santo Estatius), "tiga raja terurapi" (Prancis, Denmark, Hongaria), dan "tiga adiwangsa" (Raja Prancis, Louis XI, yang digelari "Louis Arif" selaku Dauphin, Raja Hongaria, László I, dan Adipati Brunswick-Lüneburg, Otto III, dari wangsa Welf).
Penggolongan
[sunting | sunting sumber]Sembilan Sadu Perdana terdiri atas tiga kelompok tiga sekawan berikut ini:
Tiga sekawan pagan
[sunting | sunting sumber]Tiga sekawan Yahudi
[sunting | sunting sumber]Tiga sekawan Kristen
[sunting | sunting sumber]Di ranah seni budaya
[sunting | sunting sumber]Kesusastraan
[sunting | sunting sumber]Sembilan Sadu Perdana juga merupakan subjek populer bagi pagelaran pesta dandan istana pada zaman Renesans di Eropa. Dalam sandiwara karya William Shakespeare, Sia-Sia Berjerih Demi Asmara, tokoh-tokoh jenaka berusaha menggelar pesta dandan semacam itu, tetapi malah menimbulkan kekacauan. Nama-nama Sadu Perdana yang disebutkan di dalam sandiwara tersebut mencakup nama dua tokoh yang tidak termasuk dalam daftar Sembilan Sadu Perdana yang asli, yaitu Herkules dan Pompeyus Agung. Aleksander, Yudas Makabe, dan Hektor juga ditampilkan ke atas pentas sebelum lakonnya berubah kalau-balau.[5] Sembilan Sadu Perdana juga disinggung dalam sandiwara Henry IV, babak ke-2, yakni ketika Doll Tearsheet terkagum-kagum menyaksikan keberanian Falstaff saat bertarung melawan Pistol Si Pembawa Duaja sehingga mengatakan bahwa Falstaff "seprawira Hektor menak Troya, setara lima Agamemnon, dan sepuluh kali lebih baik daripada Sembilan Sadu Perdana".[6]
Don Quixote menyinggung Sembilan Sadu Perdana dalam jilid pertama bab ke-5, saat berkata kepada si petani (yang berusaha membuatnya mengungkap jati diri), "aku tahu bukan saja aku ini setara dengan orang-orang yang tadi kusebut namanya, tetapi juga dengan kedua belas Menak Prancis, bahkan dengan kesembilan Sadu Perdana, sebab jasa-jasaku melampaui segala jasa yang pernah mereka perbuat, baik bersama-sama, maupun seorang demi seorang".[7]
Seni rupa
[sunting | sunting sumber]Sampai dengan abad ke-17, Sembilan Sadu Perdana belum juga turun ke ranah budaya rakyat jelata. Kenyataan ini tampak pada gambar Sembilan Sadu Perdana yang sezaman dengan sandiwara jenaka Shakespeare, dilukis pada permulaan abad ke-17, menghiasi ambang-ambang tiang Griya North Mymms, sebuah rumah dengan model yang terbilang baru ketika dibangun oleh keluarga Coningsby pada tahun 1599 di Hertfordshire, Inggris.[8]
Museum The Cloisters di Kota New York menyimpan beberapa bagian penting dari serendeng dewangga buatan awal abad ke-15 yang menampilkan lima dari kesembilan Sadu Perdana, yaitu Raja Arthur, Yoshua, Daud, Hektor, dan Yulius Kaisar.[9]
I Nove Prodi, fresko karya Maestro del Castello della Manta, salah seorang empu seni lukis yang tidak diketahui namanya, dilukis sekitar tahun 1420 pada tembok sala baronale di Castello della Manta, Saluzzo, Italia. Fresko tersebut juga menampilkan sosok-sosok Sembilan Sadwi Perdana.
Griya Montacute memiliki arca-arca Sembilan Sadu Perdana yang berjajar di sebelah atas muka gedung yang menghadap ke timur. Arca-arca tersebut tampak mengenakan perlengkapan perang prajurit Romawi.
Sembilan Sadwi Perdana
[sunting | sunting sumber]Pada penghujung abad ke-14, Sembilan Sadwi Perdana dimunculkan sebagai pengimbang Sembilan Sadu Perdana, kendati biasanya tidak diperinci satu per satu, dan ditampilkan mirip srikandi-srikandi Amazon tanpa nama. Bertahun-tahun kemudian, sembilan tokoh "Wanita Aditama dari Segala Zaman dan Bangsa" dipilih dari khazanah kitab suci, sejarah, dan legenda untuk disandingkan dengan Sembilan Sadu Perdana, kendati daftar nama wanita yang dipilih biasanya tidak dibakukan, dan acap kali bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, dari satu sastrawan ke sastrawan lain, maupun dari satu seniman ke seniman lain.

Eustache Deschamps menambahkan neuf preuses (sembilan srikandi) ke dalam daftar neuf preux, antara lain Pentesileya, Tomiris, dan Semiramis. Bersama Sembilan Sadu Perdana, srikandi-srikandi itu dikisahkan berada di gugus terdepan arak-arakan Raja Henry VI saat menyambangi Paris pada tahun 1431, dan digambarkan di dalam buku Le Jouvencel (terbit tahun 1466). Meskipun demikian, daftar nama kesembilan srikandi itu tidak bersifat tetap, dan tidak selalu dibagi menjadi tiga sekawan pagan, tiga sekawan Yahudi, dan tiga sekawan Kristen. Sembilan Sadwi Perdana di dalam daftar yang disusun Bupati Pratyantadesa Saluzzo, Tommaso III,[10] adalah Deifile, Sinope, Hipolite, Menalipe, Semiramis, Lampeto, Tamaris, Teuta, Pentesile.
Serangkai lukisan panel buatan Siena dari abad ke-15, yang dinisbatkan kepada Empu Seni Lukis Cerita Griselda dan seniman-seniman lain, dan yang sekarang sudah tidak lengkap dan tersebar di berbagai tempat, menampilkan sosok-sosok Sembilan Sadu Perdana dan Sembilan Sadwi Perdana. Lukisan-lukisan yang tersisa disatukan kembali dalam sebuah pameran pada tahun 2007 di Galeri Nasional, London.[11]
Pada zaman Renesans di Jerman, Hans Burgkmair membuat serangkai gambar cukil kayu yang masing-masing menampilkan tiga dari "Delapan Belas Sadu-Sadwi Perdana". Selain Para Sadu Perdana, ditampilkan pula tiga Sadwi Perdana Pagan (Lukresia, Veturia, dan Virginia), tiga Sadwi Perdana Yahudi (Ester, Yudit, dan Yael), dan tiga Sadwi Perdana Kristen (Santa Helena, Santa Brigita dari Swedia, dan Santa Elisabet dari Hongaria. Hans Burgkmair adalah seniman yang dekat dengan kalangan Humanis Renesans Augsburg, yang mungkin merupakan pihak yang berjasa memilih kesembilan tokoh wanita tersebut. Selain Veturia, ibu Koriolanus, yang berusaha menyelamatkan kota Roma dari gempuran anaknya, kedua srikandi pagan lainnya adalah suri teladan kemurnian, bukan keteladanan di medan laga, melainkan keteladanan dalam menjaga kesucian diri. Sebaliknya dua dari tiga Sadwi Perdana Yahudi, yakni Yudit dan Yael, justru masyhur karena berjuang seorang diri untuk membunuh musuh bangsa Israel. Yudit digambarkan dengan satu tangan memegang pedang dan tangan lain memegang kepala Holofernes, sementara Yael digambarkan memegang patok kemah yang ia pasakkan ke kepala Sisera. "Kekuatan kaum hawa" dan kekerasan perempuan merupakan tema yang diminati seniman-seniman Jerman pada masa itu. Lucas van Leyden, Albrecht Altdorfer, dan seniman-seniman Jerman lainnya membuat gambar-gambar cetak yang memperlihatkan tindakan Yael memasakkan patok kemah ke kepala Sisera.[12]
Ketiga waliyah Kristen, yang sangat populer di Jerman pada masa itu, adalah wanita-wanita yang berumah tangga. Brigita menjadi abdis sesudah menjanda. Selain itu, sama seperti tiga Sadu Perdana, Elizabet dari Hongaria adalah salah seorang leluhur dari induk semang Burgkmair, yakni Kaisar Maximilian I, dan Helena adalah seorang Parameswari Romawi. Berbeda dari tiga Sadwi Perdana Yahudi dan tiga Sadwi Perdana Pagan, yang digambarkan saling tatap, seolah sedang bercakap-cakap satu sama lain, ketiga Sadwi Perdana Kristen justru digambarkan menundukkan pandangan, mungkin melambangkan sifat anteng yang dianggap sebagai salah satu keutamaan wanita.[13] Sembilan Sadwi Perdana versi Burgkmair tidak begitu luas dikenal dan diikuti orang.
Sembilan Sadu Perdana London
[sunting | sunting sumber]Sembilan Sadu Perdana London adalah buku yang ditulis oleh Richard Johnson pada tahun 1592 dengan meminjam tema Sembilan Sadu Perdana, dan diberi anak judul Memerikan Olah Yuda Nan Berprabawa, Sila-Sila Darma Perwira, Dan Prakarsa Manah Berbudi Nan Patut Dikenang; Elok Bagi Para Bangsawan, Tidak Dursila Bagi Para Penegak Hukum, Lagi Sungguh Berguna Bagi Para Cantrik. Isinya menyanjung-nyanjung sembilan warga terkemuka kota London yang berasal dari kalangan cantrik atau rakyat jelata.
Kesembilan warga London tersebut adalah Sir William Walworth, Sir Henry Pritchard, Sir Thomas White, Sir William Sevenoke, Sir John Hawkwood, Sir John Bonham, Christopher Croker, Sir Henry Maleverer asal Cornhill, dan Sir Hugh Calverley.
Istilah "Sembilan Sadu Perdana" kemudian hari dijadikan sebutan bagi sembilan penasihat pribadi Raja William III, yaitu Devonshire, Earl Dorset, Earl Monmouth, Edward Russell, Carmarthen, Pembroke, Nottingham, Marlborough, dan Lowther.
Baca juga
[sunting | sunting sumber]Rujukan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Larousse Dictionnaire de la Langue Francaise Lexis, 1993: Brave, Vaillant
- ↑ Johan Huizinga, Musim Gugur Abad Pertengahan, (tahun 1919) 1924:61.
- 1 2 3 4 Huizinga 1924:61.
- ↑ Bandingkan dengan konsep "Kesepuluh Musai".
- ↑ "Love's Labor's Lost - Entire Play | Folger Shakespeare Library". www.folger.edu (dalam bahasa Inggris Amerika). Diakses tanggal 16 Juni 2023. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ↑ Shakespeare, William, Henry IV, Part 2, Babak ke-2, Adegan ke-4.
- ↑ Chapter V – In which the narrative of our knight's mishap is continued
- ↑ "North Mymms Park – A short history. Chapter 3 – Wall Paintings". Diarsipkan dari asli tanggal 14 Mei 2011. Diakses tanggal 13 September 2005.
- ↑ "King Arthur: Tapestry Fragment from the Series, Five Worthies and Attendant Figures (with 32.130.3a, b) | All | The Cloisters | Collection Database | Works of Art | The Metrop..."
- ↑ le chevalier errant, Bibliothèque nationale, Paris, mss. Fr. 12559, fol. 125v; naskah dipertanggal 1403-04
- ↑ Lukisan Artemesia di Milan Diarsipkan 26 Januari 2016 di Wayback Machine., Lukisan Daud di NGA Washington Diarsipkan 25 September 2008 di Wayback Machine., Lukisan Aleksander Agung di Birmingham
- ↑ H Diane Russell (penyunting), Eva/Ave; Women in Renaissance and Baroque Prints, hlmn. 36-39, National Gallery of Art, Washington, 1990, ISBN 1-558-61039-1
- ↑ (covers all Burgmair section)H Diane Russell;Eva/Ave; Women in Renaissance and Baroque Prints; Nos. 1, & for Jael: 91, 92 National Gallery of Art, Washington, 1990; ISBN 1-55861-039-1
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Media tentang Sembilan Sadu Perdana di Wikimedia Commons- "Sembilan Sadu Perdana" di Heraldica.org.