Sekura

Sekura adalah tradisi pesta topeng yang berasal dari masyarakat Lampung Barat yang diadakan untuk meramaikan perayaan Idulfitri. Pesta ini bertujuan untuk menggambarkan kegembiraan dan mempererat hubungan masyarakat. Terdapat dugaan bahwa pesta ini sudah diadakan sebelum masuknya Islam di Lampung Barat, tetapi terdapat dugaan lain yang menyatakan pengadaan pesta ini bersamaan dengan masuknya islam ke wilayah tersebut.
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Topeng yang digunakan pada Sekura melambangkan bentuk kebebasan berekspresi dan berkreasi. Dalam sejarah kebudayaan Indonesia, kata topeng dikenal dengan berbagai nama, seperti atapukan, partapukan, dan lapel. Informasi tersebut tercatat pada prasasti Wahara Kuti atau prasasti Jaha yang bertahun 762 Shaka (840 Masehi), prasasti Bebetin 818 Shaka (896 Masehi), dan Prasasti Gurun Pai Desa Pandak Badung.[1] Soekomo, 1993 pada Pesta Sakura Di Kabupaten Lampung Barat: Tinjuan Sejarah dan Budaya menyatakan bahwa dalam Nagara Krtagama, diketahui bahwa Raja Hayam Wuruk pada waktu belia terkenal sebagai penari yang baik dalam sandiwara topeng yang para pemainnya menggunakan kedok atau topeng. Dana, 2010 menyatakan dapat dikatakan bahwa suku-suku di Indonesia telah mengenal topeng sejak abad ke-9 masehi dan terus berkembang ke abad seterusnya.
Asal-usul Sekura berakar kuat dalam tradisi masyarakat pesisir Lampung Barat dan diperkirakan telah ada sejak sebelum maupun sejak masuknya pengaruh Islam di wilayah tersebut — terdapat perbedaan penafsiran di kalangan peneliti dan informan lokal mengenai waktu munculnya tradisi ini. Pada abad ke-20 dan 21, Sekura mengalami proses revitalisasi dan transformasi: selain tetap menjadi pesta rakyat pasca-Idulfitri, Sekura juga dikembangkan menjadi tarian topeng yang dipentaskan di festival budaya dan program pelestarian seni daerah.[2][3]
Bentuk dan unsur pertunjukan
[sunting | sunting sumber]Ciri khas Sekura adalah penggunaan topeng (topeng sekura) oleh peserta yang menari atau berparade. Topeng dapat terbuat dari kayu, kain, atau bahkan lukisan wajah, dan masing-masing topeng menampilkan karakter serta ekspresi berbeda—dari yang lucu/jenaka sampai yang garang. Penampilan Sekura biasanya berwarna-warni: kostum mencolok, properti pengiring, iringan musik tradisional, serta kadang disertai tarian-tarian khas seperti variasi Sekura Kamak atau Sekura Helau. Selain aspek hiburan, topeng dan gerak memiliki makna simbolik terkait solidaritas, kebersamaan, dan ekspresi sosial. [2]
Waktu penyelenggaraan dan fungsi sosial
[sunting | sunting sumber]Tradisi Sekura lazimnya dilaksanakan mulai hari-hari pertama sampai minggu pertama bulan Syawal (1–6/7 Syawal) dan dilaksanakan bergilir antar pekon. Fungsi sosialnya meliputi: perayaan hari raya (ungkapan syukur), media rekonsiliasi dan saling memaafkan, hiburan komunitas, serta pengikat solidaritas sosial antarwarga. Dalam beberapa dekade terakhir, Sekura juga berperan sebagai daya tarik pariwisata budaya lokal. [4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Imaludin, Iim (5 November 2014). Bunga Rampai Eksistensi Ragam Budaya Lampung (PDF). Bandung: CV. MAWAR PUTRA PERDANA. hlm. 144. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 Susantri, Ahmad (2019). "TARI SEKURA SEBAGAI MEDIA PELESTARI TOPENG SEKURA DARI LIWA LAMPUNG BARAT". Joged. 13 (2): 158–170. doi:10.24821/joged.v13i2.3599. ISSN 2655-3171.
- ↑ Thomas, Karen Kartomi (2014). "The Indigenous Performing Arts in a Sumatran Province: Revival of Sakura Mask Theater, 1990–2012". Indonesia (97): 111–125. doi:10.5728/indonesia.97.0111. ISSN 0019-7289.
- ↑ "Platform Event Daerah- CeritaKEN". eventdaerah.kemenparekraf.go.id. Diakses tanggal 2025-10-10.