Sekolah alam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini adalah bagian dari seri
Pendidikan di Indonesia
Logo of Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia.svg
Pendidikan anak usia dini

Taman kanak-kanak
Raudatul athfal
Kelompok bermain

Pendidikan dasar (Kelas 1-6)

Sekolah dasar
Madrasah ibtidaiyah
Kelompok belajar Paket A

Pendidikan dasar (Kelas 7-9)

Sekolah menengah pertama
Madrasah tsanawiyah
Kelompok belajar Paket B

Pendidikan menengah (Kelas 10-12)

Sekolah menengah atas
Sekolah menengah kejuruan
Madrasah aliyah
Madrasah aliyah kejuruan
Sekolah menengah agama Katolik
Sekolah menengah teologi Kristen
Kelompok belajar Paket C

Pendidikan tinggi

Perguruan tinggi
Akademi
Institut
Politeknik
Sekolah tinggi
Universitas

Pola Pendidikan

Madrasah
Pesantren
Sekolah alam
Sekolah rumah

Sekolah Alam adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Lendo Novo berdasarkan keprihatinannya akan biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Ide membangun sekolah alam adalah agar bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah.[1] Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin. Namun penawaran Lendo kepada masyarakat yang hendak dituju justru tidak disambut dengan baik. Pada akhirnya konsep sekolah alam diterima dengan baik oleh kelas menengah ke atas.

Dalam pengamatan Lendo, paradigma umum dalam dunia pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%.[2] Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Dari situ Lendo mencoba mengembangkan konsep-konsep sekolah alam.

Pengembangan Gagasan[sunting | sunting sumber]

Lendo terinspirasi oleh gagasan ayahnya tentang integrasi ilmiah ilahiah. Ayahanda Lendo, Zuardin Azzaino adalah seorang pegawai Bank Indonesia yang juga penulis buku. Zuardin berpendapat bahwa integrasi ilmiah ilahiah atau integrasi antara iman dan ilmu pengetahuan-teknologi adalah cara untuk mengembalikan kebangkitan Islam. Selama ini, umat Islam terlena dan membahas fikih saja. Selain itu umat Islam juga perlu untuk kembali memegang teguh akhlak mulia.

Menurut Lendo, tujuan pendidikan dalam Islam adalah mencetak khalifatullah fil ardh. Sehingga, kurikulum sekolah alam juga bertujuan untuk mencetak pribadi yang siap mengemban amanah Allah dalam mengelola bumi ini (khalifatullah fil ardh).

Sebagai seorang khalifatullah atau delegasi Allah, manusia harus:

  1. Mengetahui cara diri menyembah Allah.
  2. Mengetahui cara makhluk dan semesta alam menyembah Allah
  3. Mengetahui cara menjadi pemimpin/khalifah karena Allah.

Alam[sunting | sunting sumber]

Alam pada kata sekolah alam mempunyai dua makna.

  1. Alam; dalam arti pengalaman
  2. Alam; semesta alam, makhluk, dan segala sesuatu yang diciptakan Allah swt

Baik alam sebagai makhluk dan alam sebagai ilmu dan pengalaman berasal dari akar kata yang sama. Sekolah alam percaya bahwa alam dan pengalaman adalah guru terbaik.

Alam dalam arti pengalaman[sunting | sunting sumber]

Pendekatan yang dominan digunakan dalam konsep sekolah alam adalah siswa diajak untuk melalui serangkaian kegiatan (pengamalan dan pengalaman), setelah itu distrukturkan. Hal ini berbeda dengan umumnya pendidikan di Indonesia, di mana siswa mempelajari buku pelajaran dulu, baru kemudian diamalkan.

Maka, pendidikan yang totalitas (total education) menurut sekolah alam akan mampu membawa siswa dalam tahap berikut:

  1. Tambah pengalaman, tambah pengetahuan (ranah IQ)
  2. Tambah pengalaman, tambah tangkas (ranah PQ, physical/power quotient)
  3. Tambah pengalaman, tambah bijak (ranah EI, emotional intelligence)
  4. Tambah pengalaman, tambah iman (ranah SI, spiritual intelligence)

Alam dalam arti semesta alam[sunting | sunting sumber]

Alam semesta memiliki hukum dan konsep tersendiri yang tunduk di bawah kendali-Nya. Misalnya fenomena gravitasi, yang berarti setiap benda yang jatuh pasti menuju ke arah pusat bumi tempat magnet raksasa tersimpan. Sinar matahari yang sesuai dengan kebutuhan semua makhluk hidup. Daur karbon, bitrogen, oksigen, dan air serta fuilditasnya yang bermanfaat bagi kehidupan. Siklus itu terbentuk di bawah kendali Sang Pencipta.

Alam mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi-pribadi tangguh yang siap menjemput kesuksesan dan kemuliaan dalam hidup. Kejadian di alam memberikan contoh dan hikmah kepada kita bagaimana alam dapat mengilhami lahirnya ilmu pengetahuan. Namun tentu semua hanya dapat dimiliki oleh manusia yang mau berpikir dan belajar bersama alam.

Pilar Kurikulum Sekolah Alam[sunting | sunting sumber]

Ada 4 pilar sekolah alam yang dirumuskan oleh Lendo yaitu:

  1. Pengembangan akhlak, dengan metode 'teladan'
  2. Pengembangan logika, dengan metode action learning 'belajar bersama alam'
  3. Pengembangan sifat kepemimpinan, dengan metode 'outbound training'
  4. Pengembangan mental bisnis, dengan metode magang dan 'belajar dari ahlinya' (learn from maestro)

Metode Pembelajaran[sunting | sunting sumber]

Pembelajaran di sekolah alam banyak dilaksanakan di ruang terbuka, dengan memanfaatkan potensi yang ada di dalam lingkungan sekolah. Hal ini sesuai dengan metode belajar bersama alam. Pada prinsipnya, sekolah alam menggunakan metode patut dalam memilih model pembelajaran. Artinya metode apapun yang sesuai dapat digunakan. Sehingga di sekolah alam yang berbeda kita dapat menemukan model pembelajaran yang berbeda pula.

Sekolah alam juga biasanya adalah sekolah inklusi, artinya sekolah yang menyediakan tempat bagi siswa berkebutuhan khusus. Berprinsip pendidikan bagi semua, sekolah alam percaya bahwa dengan menyatukan antara siswa biasa dan siswa berkebutuhan khusus, masing-masing pihak akan dapat saling belajar. Siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan spektrum normal, sementara siswa biasa akan lebih tumbuh rasa empatinya terhadap sesama.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. Suhendi. (2011). Belajar Bersama Alam. Bogor : SoU Publisher
  2. Septriana. (2008). Novobiografi. Bogor : SoU Publisher
  3. Mira Purnamasari Safar. (2020). Sekolah Alam Legacy. Bogor : Salamuda Creative
  4. http://www.perspektifbaru.com/wawancara/695
  5. https://ekoharsono.wordpress.com/2019/01/19/sekolah-alam-yang-mendidik-hati/