Sejarah optik

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Sejarah mencatat salah satu peletak dasar fisika optik adalah seorang serjana muslim yang bernama Ibnu Haitham atau dikenal dibarat dengan nama Alhazen, Avennathan, Avenethan. Belaiu mengecap pendidikannya di Basrah dan Baghdad penguasaan matematikanya oleh Max Mayerhof, seorang sejarahwan menganggap mengunggli Euclides dan Ptolemeus.

Setelah selesai kedua kota tersebut, Ibnu Haitham meneruskan pendidikannya ke Mesir dan bekerja di bawah Khalafah al-Hakim, dari daulah Khilafah Fatimiyyah. Belajar yang dilakukannya secara oktodidak yang justru membuatnya tidak hanya mahir atau menguasai fisika optik saja, tapi juga beberapa bidang ilmu pengetahuan ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, filsafat dan farmakologi. Diapun mengunjungi Spanyol untuk melengkapi karya ilmiahnya. Tidak kurang dari 200 karya ilmiah mengenai bebagai bidang sepanjang hidupnya. Tlisan mengnai mata sudah menjadi rujukan penting dalam penelitian sains di Barat. Penelitian pada cahaya telah mengilhami ahli sains Barat seperti Boger, Becon, dan Kepler dalam menciptakan taleskop dan mikroskop. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan berbagai data penting mengenai cahaya.

Karya utama mengenai tentang optik naskah aslinya dalam bahasa Arab hilang, tapi yang diterjemahkan dalam bahasa Latin masih ditemukan. Ibnu Haitam mengoreksi konsep Euclides dan Ptolemeus tentang penglihatan. Menurut kedua ilmuwan Yunani itu mata mengerimkan berkas-berkas cahaya visual ke objek penglihatan sehingga sebuah benda bisa terlihat. Sebaliknya, menurut Ibnu Haitham, etinalah pusat penglihatan dan benda dapat terlihat karena memantulkan sinar atau cahaya ke mata. Kesan yang ditimbulkan cahaya pada retina dibawa ke otak melalui saraf-saraf optik.

Beberapa buku lainnya mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya, Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Menurut Ibnu Haitham cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Dalam kajiannya, dia juga jaya menghasilkan kedudukan cahaya seperti pembiasan cahaya dan pembalik cahaya.

Untuk semua eksperimen lensa dia membuat lensa dan cermin cekung melalui mesin bubut yang ia miliki dengan melakukan percobaan kaca yang dibakar maka tercetuslah teori lensa. Teori itu telah dipergunakan oleh saintis Itlia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama. Eksperimennya tergolong berhasil pada saat itu menemukan titik fokus sebagai tempat pembakaran yang terbaik pada saat itu ia berhasil mengawinkan cermin-cermin cembung dan cermin-cermin cekung. Sinar yang masuk dikonsentrasikan pada titik fokus sehingga menjadi titik bakar. Teorinya telah membawa penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimiankan pada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton hingga sekarang ini.

Ibnu Haitham juga banyak melalakukan eksperimen mengenai kamera obskura atau metode kamar gelap, gerak rekilinear cahaya, sifat bayang, penggunaan lensa, dan beberapa fenomena optikal lainnya. Kamar gelap atau kamera obskura dikakukan oleh Ibnu Haitham pada saat terjadi gerhana bulan. Kala itu, mengintip citra matahari yang setengah bulat pada sebuah dinding yang berhadapan dengan lubang kecil yang terbuat dari tirai penutup jendela.

Buku tentang optik, Kitab al-Manazir diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh F.Risner dan diterbitkan oleh Bisle pada tahun 1572 M. Karyanya bersama karya-karya optik lainnya sangat mempengaruhi ilmuwan Barat seperti Boger, Becon, Johanes Kepler, dan Pol Witelo. Diyakini, banyak karya-karya monumental dari mereka diilhami oleh hasil karya eksperimen Ibnu Haitham.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]