Sejarah Tembok Besar Tiongkok

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Rute Tembok sepanjang sejarah

Sejarah Tembok Besar Tiongkok dimulai ketika benteng dibangun oleh berbagai negara selama zaman Musim Semi dan Musim Gugur (771–476 BC)[1] dan Negara Perang (475–221 BC) dihubungkan oleh kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang, untuk melindungi Dinasti Qin yang baru didirikannya (221–206 BC) terhadap serangan oleh suku-suku bangsa nomaden dari Asia Dalam. Tembok-tembok ini dibangun dari tanah yang dimampatkan, dibangun menggunakan sistem kerja paksa, dan pada tahun 212 BC membujur dari Gansu ke pantai Manchuria selatan.

Dinasti-dinasti kemudian menggunakan kebijakan-kebijakan yang berbeda terhadap pertahanan perbatasan utara. Han (202 BC – 220 AD), Qi Utara (550–574), Jurchen Jin (1115-1234), dan khususnya Ming (1369–1644) termasuk di antara mereka yang membangun kembali, mengoperasikan kembali, dan memperluas Tembok, meskipun mereka jarang mengikuti rute Qin. Han memperpanjang benteng terjauh ke barat, Qi membangun sekitar 1,600 kilometer (0,994 mi) tembok baru, sementara Sui mengerahkan lebih dari satu juta orang dalam upaya pembangunan tembok mereka. Sebaliknya, Tang (618–907), Song (960–1279), Yuan (1271–1368), dan Qing (1644–1911) sebagian besar tidak membangun tembok perbatasan, melainkan memilih solusi lain untuk ancaman bangsa-bangsa Asia Dalam seperti kampanye militer dan diplomasi.

Meskipun merupakan sebuah pencegah yang berguna terhadap serangan, pada beberapa periode sepanjang sejarahnya, Tembok Besar gagal menghentikan musuh, termasuk pada tahun 1644 ketika Qing Manchu berpawai melewati gerbang Lintasan Shanhai dan menggantikan dinasti yang paling bersemangat membangun tembok, Ming, sebagai penguasa Tiongkok.

Tembok Besar Tiongkok yang terlihat saat ini sebagian besar berasal dari Dinasti Ming, karena mereka membangun kembali banyak tembok dengan batu dan bata, sering memperpanjang garisnya melalui medan yang menantang.[2] Beberapa bagian masih dalam kondisi yang relatif baik atau telah direnovasi, sementara yang lain telah rusak atau dihancurkan karena alasan-alasan ideologis,[3] didekonstruksi untuk bahan bangunan mereka,[3] atau hilang karena lekang oleh waktu.[4] Untuk waktu yang lama menjadi sebuah objek yang menjadi daya tarik bagi orang asing, tembok ini sekarang menjadi sebuah simbol nasional yang dihormati dan objek wisata yang populer.[5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Great Wall of China even longer than previously thought: Survey measures the wall at 21,196 km long". CBC News. June 6, 2012. 
  2. ^ Lovell 2006, hlm. 8.
  3. ^ a b Waldron 1990, hlm. 218.
  4. ^ Owen, James (March 19, 2012). "'Lost' Great Wall of China Segment Found? Google Earth, carbon dating suggest wall network even bigger than thought". National Geographic Daily News. National Geographic Society. Diakses tanggal March 17, 2014. 
  5. ^ "The Great Wall". World Heritage List. World Heritage Centre, United Nations Educational, Scientific and World Organization (UNESCO). 

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

Templat:Tembok Besar Tiongkok