Segitiga Emas Jakarta

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Segitiga Emas Jakarta adalah sebuah daerah berbentuk segitiga imajiner yang terletak di Provinsi DKI Jakarta, yang membentang dari Jakarta Pusat hingga Jakarta Selatan. Sebagian besar aktivitas bisnis, keuangan, dan diplomatik terjadi di daerah yang juga merupakan pusat kota ini. Daerah tersebut merupakan distrik bisnis pusat terbesar di Jakarta, dengan sebagian besar gedung pencakar langit tertinggi di Jakarta berada di sini.[1] Segitiga ini dibentuk oleh beberapa jalan utama Jakarta, yakni Jalan M. H. Thamrin (Jembatan Dukuh Atas s.d. Bundaran Bank Indonesia)-Jalan Jenderal Sudirman (Jembatan Dukuh Atas s.d. Bundaran Senayan), Jalan H. R. Rasuna Said (Jembatan Menteng s.d. Persimpangan Kuningan), dan Jalan Jenderal Gatot Subroto (Simpang susun Semanggi s.d. Persimpangan Kuningan). Ada beberapa kelompok bangunan komersial di sini, seperti Sudirman Central Business District (45 hektar), Mega Kuningan (54 hektar), Rasuna Epicentrum (53.6 hektar) dan Kuningan Persada (17 hektar).[2] Segitiga Emas Jakarta adalah salah satu distrik bisnis pusat yang paling cepat berkembang di kawasan Asia-Pasifik.[3]

Pemandangan panorama gedung-gedung pencakar langit di kawasan Segitiga Emas Jakarta

Sejarah dan Geografi[sunting | sunting sumber]

Selama Tahun 1960-1965, perkembangan Kota Jakarta berubah drastis sejak Presiden RI yang pertama, Soekarno, yang sekaligus merupakan seorang arsitek dan perencana kota, membangun ulang Jakarta menjadi Ibukota yang modern yang diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi "mercusuar" dari sebuah bangsa baru yang kuat. [4] Selama tahun 1950-an, poros perkembangan Jakarta diperluas ke arah selatan dari Medan Merdeka menuju Kebayoran Baru sebagai pusat kota Jakarta, menggantikan poros Medan Merdeka-Senen-Salemba-Jatinegara yang sudah berkembang pesat sejak Abad ke-18.

Sejumlah proyek infrastruktur terkenal dari Soekarno selama paruh pertama tahun 1960-an adalah pembangunan Jalan Raya yang lebar, seperti, Jalan M. H. Thamrin, Jalan Gatot Subroto, dan Jembatan Semanggi. Jalan HR. Rasuna Said dibangun pada tahun 1970-an dan disaat yang bersamaan, Jalan Sudirman dan Jalan Gatot Subroto membentuk formasi Segitiga Emas.Selama periode tersebut, pembangunan dimulai dari sebelah utara Jembatan Semanggi di Jalan Jendral Sudirman.

Penggunaan istilah "Segitiga Emas" untuk distrik bisnis pusat (CBD) Jakarta dipopulerkan pada tahun 1990-an. [2] Tiga titik yang membentuk area segitiga emas adalah:

Segitiga Emas Jakarta memiliki sejumlah ruas jalan utama, seperti Jalan M. H. Thamrin, Jalan Jendral Sudirman, Jalan Gatot Subroto, Jalan HR Rasuna Said, Jalan K.H Mas Mansyur, dan Jalan Satrio. Secara administratif, kawasan Segitiga Emas terletak di Kecamatan Menteng dan Tanah Abang di Jakarta Pusat dan Kecamatan Setiabudi, dan Mampang Prapatan di Jakarta Selatan.

Kawasan-kawasan Penting[sunting | sunting sumber]

Jalan Gatot Subroto 3.jpg

Banyak pusat komersial yang telah dikembangkan secara bertahap sebagai klaster dalam kawasan Segitiga Emas Jakarta, seperti Bundaran Hotel Indonesia, Sudirman Central Business District (SCBD), dan Mega Kuningan. Sebagian besar gedung pencakar langit di Jakarta terletak di kawasan ini.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Stasiun Istora Mandiri, salah satu stasiun pemberhentian dari MRT Jakarta Jalur Utara–Selatan yang melayani kawasan Segitiga Emas.
Halte Bundaran Senayan, salah satu halte pemberhentian Transjakarta Koridor 1 yang melewati Jalan Jendral Sudirman yang merupakan salah satu jalan utama di kawasan Segitiga Emas.

Kawasan Segitiga Emas Jakarta dilayani oleh Transjakarta Koridor 1, 6, dan 9. Banyak rute yang dioperasikan oleh Kopaja, MetroMini, dan Mayasari Bakti. Stasiun KRL Sudirman, Cikini, dan Gondangdia adalah salah satu stasiun KRL yang terletak di kawasan Segitiga Emas. Terdapat Stasiun Sudirman Baru (BNI City) sebagai pemberhentian Kereta Bandara Soekarno-Hatta. MRT Jakarta Jalur Utara-Selatan juga melewati kawasan ini dengan 6 stasiun bawah tanah di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Kawasan ini juga akan dilayani oleh LRT Jabodebek Lintas Cibubur dan Lintas Bekasi yang direncanakan akan dimulai soft launching pada 17 Agustus 2022, bertepatan dengan HUT ke-77 Proklamasi RI.[5] Berikut adalah daftar layanan transportasi publik yang melayani kawasan Segitiga Emas:

Jalur Bus[sunting | sunting sumber]

Jalur Kereta Api[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Segitiga Emas Jakarta Tetap Primadona". Kompas. Diakses tanggal 2017-08-10.  More than one of |work= dan |newspaper= specified (bantuan)
  2. ^ a b "Segitiga Emas Jakarta Tetap Jadi Patokan Kawasan Perkantoran". Detik. Diakses tanggal 2017-06-20.  More than one of |work= dan |newspaper= specified (bantuan)
  3. ^ "Where are the fastest evolving Central Business Districts in Asia Pacific?". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-07-09. Diakses tanggal 2017-06-20. 
  4. ^ Post, The Jakarta. "Sukarno'€™s vision of a modern capital". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-05-28.  C1 control character di |title= pada posisi 9 (bantuan)
  5. ^ Siap-siap! 17 Agustus, LRT Jabodebek Akan Soft Launching! | Liputan 6, diakses tanggal 2022-05-28