Satu Tuhan banyak sebutan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tuhan Maha Absolut dan Maha Gaib, sedangkan bahasa manusia terlalu jauh untuk menangkap dan memahami-Nya (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 64).

Satu Tuhan banyak sebutan adalah filsafat yang berawal dari gagasan bahwa pengetahuan dan iman manusia kepada Tuhan merupakan titik awal sekaligus alpha omega (titik akhir), sehingga terdapat sejumlah persoalan mendasar yang muncul, yaitu kedekatan manusia untuk mengenal Tuhan secara benar, Tuhan Yang Absolut perlu dikenal oleh manusia yang serba terbatas, penyembahan Tuhan yang dilakukan manusia agar terbebas dari "konsep Tuhan" yang dikonstruksikan dalam pikirannya sendiri, serta banyaknya sebutan atau nama Tuhan. Persoalan utama adalah hubungan antara "nama" (ism atau name) dan "yang diberi nama" (al-musamma atau the named). Hal ini disebabkan karena Tuhan Maha Absolut dan Maha Gaib, sedangkan bahasa manusia terlalu jauh untuk menangkap dan memahami-Nya. Pernyataan-pernyataan ini perlu dikemukakan untuk menyadarkan manusia bahwa sejauh-jauh bahasa menjelaskan tentang Tuhan, termasuk bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan wahyu Tuhan, di sana tetap terdapat suatu “jarak” antara proposisi kognitif yang dibangun oleh nalar manusia di satu sisi dan hakikat Tuhan yang “tidak terjangkau” di sisi lainnya.

Pemahaman manusia[sunting | sunting sumber]

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Al-Rahman; dengan nama apa pun kamu seru Dia, kepada-Nya nama-nama yang indah (Al-Asmaul Husna)"
––––– Al-Qur'an Surah Al-Isra' ayat ke-110

The Tao that can be tod of
Is not the Absolute Tao;
The Names that can be given
Are not Absolute Names
––––– Lao Zi

Though all the Names (of God) refer to a single Reality, none denotes Its true nature. From this point of view even the Name of Allah, which is called the "all-comprehensive Name" (al-ism al-jami') since it is the referent of all other Names, is said to denote that Reality only in as much as It makes it self known
––––– William C. Chittick

Diperlukan suasana untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan, serta interaksi sosial agar benih iman yang telah tertanam semakin kuat dalam setiap kalbu manusia (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 64).
Setiap manusia berhak merasa mengenal Tuhan, sehingga mereka dapat menyebut nama dan sifat-sifat-Nya ketika berdoa, bersembahyang, atau ketika dalam situasi membahayakan dengan beragam sebutan yang berbeda (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 64).

Berbeda dengan filsafat rasionalisme murni, kepercayaan, pengetahuan, dan kecintaan terhadap Tuhan dalam perenialisme agama merupakan landasan bagi pengembangan epistimologi.[1] Berawal dari komitmen iman untuk menjawab sapaan kasih Tuhan, perenialisme agama melangkah ke fase praktis-implementatif untuk melayani manusia sebagai sesama hamba Tuhan.[2] Sebagaimana diuraikan oleh Komaruddin Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis dalam Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perenial, diperlukan siraman pengetahuan, suasana untuk merasakan kedekatan dengan Tuhan (zikir dan doa), serta interaksi sosial agar benih iman yang telah tertanam semakin kuat dalam setiap kalbu manusia.[3] Dengan kata lain, perjalanan iman yang bermula dari pemahaman dan keyakinan terhadap objek Yang Maha Abstrak kemudian bergerak ke muara kehidupan konkret berupa amal kebajikan, yang akhirnya menerobos batas duniawi yang empiris untuk memasuki hidup di seberang yang meta-empiris.[4]

Persoalan berikutnya, sebagaimana disinggung oleh Hidayat dan Nafis, adalah ungkapan paradoks dan absurd mengenai istilah "mengetahui Tuhan", kalau memang Tuhan Yang Maha Absolut itu tidak terjangkau dan tidak mungkin bisa dipahami oleh manusia.[5] Selain itu, jika Tuhan memang tidak mungkin dijangkau oleh pemahaman manusia, akan lebih masuk akal jika manusia tidak perlu membicarakan dan mencari sesuatu yang tidak mungkin bisa dipahami dan didapatkan.[6]

Muhammad dalam sebuah riwayat pernah memberi nasihat kepada seorang sahabat, “Janganlah kamu membicarakan tentang Tuhan, tetapi sebaiknya kamu pikirkan saja tentang ciptaan-Nya”. Hadis tersebut dapat ditafsirkan secara beragam, bisa jadi sahabat yang dihadapi merupakan kelompok awam yang tidak memungkinkan kalau dijelaskan lebih jauh dengan pendekatan filosofis – bukannya paham, justru membuat bingung jika diajak mempelajari agama dengan pendekatan intelektualisme. Nasihat yang disampaikan oleh Muhammad tersebut tepat jika ditujukan kepada kelompok seperti itu, tetapi tidak demikian kepada kaum intelektual. Bagi mereka yang akrab dan terbiasa dengan penalaran yang konsisten dan filosofis, bisa jadi justru kadar imannya semakin meningkat apabila membahas Tuhan – orang seperti ini dianjurkan untuk berpikir tentang Tuhan. Hadis itu juga dapat dipahami bahwa menjadikan Tuhan sebagai objek kajian tidaklah mudah, terlebih kajian tentang Tuhan.[7] Hal ini dikarenakan apa pun yang dihasilkan oleh penalaran manusia tentang Tuhan, termasuk juga hasil pemahaman manusia terhadap kitab suci, tetap terdapat jarak ontologi dan epistemologi antara produk pemahaman manusia di satu pihak dan Tuhan Yang Sesungguhnya di pihak yang lain.[8]

Namun demikian, setiap manusia berhak merasa mengenal Tuhan, sehingga mereka dapat menyebut nama dan sifat-sifat-Nya ketika berdoa, bersembahyang, atau ketika dalam situasi membahayakan dengan beragam sebutan yang berbeda. Tuhan bukanlah milik eksklusif salah satu tradisi; cahaya ilahi tidak dapat dibatasi oleh satu pelita saja, bukan milik Timur atau Barat, melainkan menerangi segenap manusia.[9] Kata Tuhan, Allah, Yahweh, Sang Hyang Widhi, Tian, dan sebutan lainnya, semuanya tetap bersifat simbolisme.[10] Manusia harus dapat membedakan antara “nama” dan “yang diberi nama”, “symbol" dan “the thing symbolized”, "al-ism" dan "al-musamma", "sign" dan "something signified", “predikat” dan “substansi”, dan seterusnya.[8] Menurut Karen Armstrong, keseluruhan gagasan tentang Tuhan berfungsi untuk memotivasi lahirnya rasa tentang misteri kehidupan, bukan untuk meraih solusi yang sejati.[11]

Seperti dikutip oleh Hidayat dan Nafis, Paul Tillich menggunakan ungkapan God is symbol for God, sedangkan Abu Ja’far al-Shadiq mengatakan bahwa kata "Allah" itu berarti Yang Dipuja: Barangsiapa memuja Tuhan (tanpa mengacu kepada substansi-Nya), dia telah kafir. Barangsiapa memuja Tuhan (nama dan substansi-Nya sekaligus), dia telah musyrik. Namun, barangsiapa memuja zat yang mengacu oleh kata "Allah", barulah benar tauhidnya.[12]

Tradisi keagamaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan tradisi keagamaan, nama dan sebutan tentang Tuhan atau tempat dan orang yang dianggap suci memang banyak.[13] Namun, pada dasarnya tidak ada apa pun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan.[14] Ka'bah misalnya, bisa saja dikatakan suci, tetapi kesuciannya tidak intrinsik. Apabila seorang muslim menyucikannya sejajar dengan Tuhan, dia telah jatuh ke dalam kemusyrikan. Keyakinan tersebut tidak jauh berbeda dengan keyakinan orang Arab jahiliah pra-Islam yang juga menyucikan patung – yang dianggapnya sebagai Tuhan.[15] Holy things are not holy in themselves, but they point beyond themselves to the source of all holinees, that which is of ultimate concern, demikian imbuh Tillich.[16]

Berdasarkan tradisi keagamaan, nama dan sebutan tentang Tuhan atau tempat dan orang yang dianggap suci memang banyak. Namun, pada dasarnya tidak ada apa pun yang memiliki kesucian absolut kecuali Tuhan (Nurcholish & Dja'far 2015, hlm. 64).

Ajaran Buddha, dari sekian banyak aliran filsafat dan agama, dinilai konsisten untuk tidak mau memberikan predikat Tuhan secara positif, sehingga kerap dipahami sebagai paham ateisme, meskipun “ateisme” Buddha berbeda dengan pengertian secara umum.[14] Ketika Buddha tidak mau menyebut Tuhan, bukan berarti secara substansial tidak mengakui Tuhan, melainkan justru hendak melakukan tanzih – dalam agama Islam, yaitu penyucian absolut kepada Tuhan, apabila Tuhan diberi label atau nama, hal itu berarti telah "menutup rembulan dengan jari telunjuk". The Buddha tells us that God can only be named in vain, demikian terang Raimundo Panikkar sebagaimana dikutip oleh Erich Fromm.[17]

Panikkar menyebut bahwa silence (diam) adalah bahasa tertinggi, yang melampaui bahasa ucapan dan pikiran, untuk menyapa Tuhan agar terhindar dari sikap mereka-reka tentang-Nya.[18] Ibnu Arabi juga mengakui munculnya paradoks ketika seseorang ingin mendekati Tuhan. Tuhan dalam keabsolutan-Nya berada di luar konsepsi manusia, sedangkan manusia sendiri tidak mungkin terbebaskan dari bahasa konseptualisasi ketika berkomunikasi dengan Tuhan – dalam bahasa Ibnu Arabi adalah al-ilah al-mu'taqad atau the conceived God (Tuhan sebagaimana yang dibayangkan dan yang diyakini manusia).[19]

Dengan demikian, nama, sebutan, dan sifat Tuhan bukanlah Tuhan yang sesungguhnya.[13] Hal itu merupakan Tuhan yang ada dalam pikiran manusia, Tuhan yang dikonsepsikan oleh manusia, Tuhan yang berhasil dijangkau melalui nalar intelaktual dan keyakinan manusia yang terbatas.[20] Pun demikian, dengan beragam nama, sebutan, dan sifat tersebut, segala sesuatu yang dikomunikasikan kepada-Nya tidak “terhalang” sama sekali.[21] Dia dapat dijangkau oleh siapa pun, apa pun agama atau keyakinannya, dengan nama dan sebutan apa pun juga.[22] Hal ini disebabkan karena Tuhan Maha Cinta dan Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu yang diinginkan oleh umat-Nya serta Maha Tahu yang dibutuhkan oleh umat manusia.[19]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kuswanjono (2006), hlm. 18
  2. ^ Kuswanjono (2006), hlm. 42
  3. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 23–24
  4. ^ Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 64
  5. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 28
  6. ^ Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 65
  7. ^ Darwin (2015), hlm. 39
  8. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 66
  9. ^ Armstrong (2011), hlm. 191
  10. ^ Pals (2011), hlm. 343
  11. ^ Armstrong (2019), hlm. 127
  12. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 32
  13. ^ a b Sujarwa (2001), hlm. 39–40
  14. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 67
  15. ^ Engineer (1999), hlm. 178–179
  16. ^ Hidayat & Nafis (2003), hlm. 33
  17. ^ Fromm (2012), hlm. 17
  18. ^ Fromm (2012), hlm. 17–18
  19. ^ a b Nurcholish & Dja'far (2015), hlm. 68
  20. ^ Davies (2012), hlm. 11
  21. ^ Kuswanjono (2006), hlm. 42–44
  22. ^ Fuller (2010), hlm. 55

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Buku

  • Armstrong, Karen (2000). The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam. New York: Harper Collins. ISBN 978-000-2555-23-4. 
  • Armstrong, Karen (2000). Islam: A Short History. New York: Modern Library Chronicles. ISBN 978-081-2966-18-3. 
  • Armstrong, Karen (2011). Masa Depan Tuhan: Sanggahan terhadap Fundamentalisme dan Ateisme. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-4335-89-5. 
  • Armstrong, Karen (2016). Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-4339-69-5. 
  • Armstrong, Karen (2019). Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan dalam Agama-Agama Manusia. Bandung: Mizan. ISBN 978-602-4410-48-3. 
  • Darwin (2015). Filsafat dan Cinta yang Menggebu. Yogyakarta: The Phinisi Press. ISBN 978-602-7250-62-8. 
  • Davies, Paul (2012). Membaca Pikiran Tuhan: Dasar-Dasar Ilmiah dalam Dunia yang Rasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9483-87-4. 
  • Engineer, Asghar Ali (1999). Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9289-01-8. 
  • Fromm, Erich (2011). Manusia Menjadi Tuhan: Pergumulan Tuhan Sejarah dan Tuhan Alam. Yogyakarta: Jalasutra. ISBN 978-602-8252-70-6. 
  • Fuller, Graham E. (2010). Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? Sebuah Narasi Sejarah Alternatif. Bandung: Mizan. ISBN 978-979-4338-55-1. 
  • Kuswanjono, Arqom (2006). Ketuhanan dalam Telaah Filsafat Perenial: Refleksi Pluralisme Agama di Indonesia. Yogyakarta: Badan Penerbitan Filsafat Universitas Gadjah Mada. ISBN 978-979-2536-82-9. 
  • Nurcholish, Ahmad; Dja'far, Alamsyah Muhammad (2015). Agama Cinta: Menyelami Samudra Cinta Agama-Agama. Jakarta: Elex Media Komputindo. ISBN 978-602-0265-30-8. 
  • Pals, Daniel L. (2011). Seven Theories of Religion: Tujuh Teori Agama Paling Komprehensif. Yogyakarta: Ircisod. ISBN 978-602-9789-08-9. 
  • Sujarwa (2001). Manusia dan Fenomena Budaya: Menuju Perspektif Moralitas Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-979-9075-69-7. 

Buku lama

  • Hidayat, Komaruddin; Nafis, Muhammad Wahyudi (2003). Agama Masa Depan: Perspektif Filsafat Perenial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]